Ketika Pemimpin Mengalami Kejatuhan Moral, Berikan Pertolongan dengan Memahami 4 Hal Berikut ini

Reflections & Inspirations

[Image: mysterywallpaper.blogspot.com]

4.7K
Tidak ada seorang pun, termasuk pemimpin, yang merencanakan "kejatuhan"nya. Para pemimpin jatuh di atas panggung, dalam kesendirian. Mereka yang jatuh tak boleh dibiarkan tetap sendiri. Apa yang dapat kita lakukan?

Apa yang seharusnya kita lakukan ketika seorang pemimpin mengalami “kejatuhan”?

Kejatuhan, dalam arti pemimpin tersebut memilih untuk hidup tak berintegritas. Integritas adalah kesediaan memilih pikiran dan tindakan berdasarkan nilai-nilai kebenaran daripada keuntungan pribadi.

Seorang pemimpin disebut “jatuh” ketika ia mengarahkan pandangan pada keuntungan pribadi dan mengabaikan nilai-nilai kebenaran.

Ekspresi dari “kejatuhan” itu bisa sangat beragam: keserakahan, pemuasan hawa nafsu, pelanggaran hukum serius, ketidakjujuran, manipulasi, dan barangkali juga kombinasi beberapa hal tersebut.

Empat hal berikut perlu kita ingat ketika seorang pemimpin mengalami "kejatuhan" - alias terbukti melakukan pelanggaran moral yang serius:


Pertama, Pemimpin Jatuh di Atas Panggung

Beberapa orang mengalami “kejatuhan” di atas panggung sehingga nampak jelas dan menjadi percakapan bagi orang lain. Sedangkan beberapa orang lain mengalami “kejatuhan” di belakang panggung, sehingga tak nampak bagi orang lain, walaupun tak tersembunyi dari Allah.

Nah, dalam kerangka berpikir seperti ini, maka siapa yang tidak pernah “terjatuh”?

Di hadapan Allah yang Mahatahu itu tak sangguplah kita menutupi-nutupi segala yang terjadi dalam hidup ini, termasuk dalam pikiran. Barangkali selain di dalam pikiran, “kejatuhan” di belakang panggung tak banyak meninggalkan risiko di mata orang lain. Tak ada orang yang mengetahui hal itu, apalagi mempercakapkannya. Inilah salah satu keuntungan menjadi orang biasa yang tak dimiliki oleh para pemimpin. Para pemimpin seringkali tak punya pilihan selain tampil di depan panggung. Keberhasilannya menjadi bahan percakapan, demikian pula kegagalannya. Itulah yang membuat “kejatuhan” seorang pemimpin berbeda. Mereka “jatuh” di atas panggung.



Kedua, Yang Tak Jatuh di Atas Panggung: Lebih Baik?

[Image: renbri.blogspot.com]

Beberapa orang merasa lebih baik dari orang lain hanya karena mereka tidak "jatuh" di atas panggung, kemudian merasa berhak untuk mengarahkan telunjuk pada yang "jatuh" di atas panggung.

Salah satu godaan besar bagi kita ketika seorang pemimpin “jatuh” adalah mengarahkan telunjuk padanya sembari berkata, ”Nah, ternyata kamu seperti itu, khan. Terbuka sekarang segala kebusukanmu!” Pada saat yang bersamaan, apakah kita bersedia mengarahkan jari dan memeriksa diri sendiri? Saya tahu, kita bisa saja kecewa dengan “kejatuhan” seorang pemimpin. Namun, kekecewaan bukanlah alasan untuk menumpahkan keputusasaan kita terhadap kegagalan diri sendiri dalam bentuk kemarahan pada mereka yang “jatuh” di atas panggung. Di hadapan Tuhan, mereka yang “jatuh” di atas panggung tak menjadi lebih buruk daripada kita yang “jatuh” di belakang panggung.

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh



Ketiga, Hakikat “Kejatuhan” Sama, Akibat Sosial Berbeda

[Image: ributrukun.com]

Hakikat "kejatuhan" di depan maupun di belakang panggung adalah sama, namun dapat membawa akibat sosial yang berbeda. Hal ini bergantung pada status pelaku dan jenis perbuatannya. Status pelaku dan jenis perbuatan akan menentukan seberapa besar dampak kerusakannya. “Kejatuhan” seorang pemimpin yang mempunyai reputasi internasional tentu beda dampaknya dengan yang hanya dikenal pada tingkat lokal.

Semakin tinggi sebuah pohon, maka bukan saja semakin kencang angin bertiup, namun juga semakin besar potensi kerusakan apabila pohon itu roboh.

Seberapa parah dampak kerusakan ini juga ditentukan oleh jenis “kejatuhan” seorang pemimpin. Ketidakjujuran finansial akan menghasilkan dampak sosial yang berbeda dengan perselingkuhan. Perkelahian fisik akan menghasilkan dampak sosial yang berbeda dengan pelecehan seksual.



Keempat, Kebangkitan Sejati: Memulihkan Diri, Bukan Hanya Reputasi

Keinginan untuk bangkit setelah mengalami “kejatuhan” bisa berasal dari kesadaran akan akibat dari perbuatan itu sendiri, namun tak boleh hanya berhenti di sini, karena ada jebakan untuk hanya memulihkan reputasi bukan diri.

Godaan terbesar pasca kejatuhan adalah keinginan untuk segera memulihkan reputasi. Reputasi adalah bagaimana orang lain menilai kehidupan kita. Keinginan untuk memulihkan reputasi adalah hal yang wajar. Siapa yang dapat hidup dengan nama yang buruk dan menjadi bahan percakapan di sana sini? Namun, pemulihan reputasi seharusnya adalah akibat dari pemulihan diri.

Tanpa pemulihan diri, pemulihan reputasi hanya pencitraan saja. Pencitraan tak menolong, bahkan menghambat pemulihan diri yang sesungguhnya.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah ini


[Image: ributrukun.com]

Tidak ada pemimpin yang merencanakan “kejatuhan”nya. Mereka “terjatuh” dalam kesendirian dan tak boleh dibiarkan tetap seorang diri. Tangan yang terulur mereka butuhkan.

Apabila tak sanggup mengulurkan tangan, biarlah tangan ini terkatup, mendoakan.



Baca Juga:

7 Rahasia di Balik Kemenangan Fenomenal Joseph Schooling: Pentingnya Membangkitkan Jiwa Kepemimpinan Anak Sejak Dini

Perselingkuhan di Depan Mata: Diam, Tegur, atau Masa Bodoh?

4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Soal Kompetisi




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Pemimpin Mengalami Kejatuhan Moral, Berikan Pertolongan dengan Memahami 4 Hal Berikut ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar