Adakalanya Mencintai Berarti Merelakan Yang Tercinta Hidup Bersama Orang Lain

Love & Friendship

[Image: pinterest.com]

4.3K
Keikhlasan tak mengubah masa lalu, namun ia pasti meringankan langkah menuju masa depan.

“Tadi kami bertiga, tapi satu teman lupa passport-nya. Kami tinggal berdua yang pulang,” pria itu berkata sambil mengarahkan pandangan ke saya, ketika mengatur posisi duduknya di penerbangan berbiaya rendah sore itu. Beberapa detik kemudian, bau keringat pria itu menyergap hidung saya, seolah menjadi penanda sebagian jati dirinya.

Ia nampak kebingungan mengenakan seatbelt-nya. Kebingungan yang juga menunjukkan sebagian lagi jati dirinya. Saya pun memperagakan bagaimana menggunakan alat pengaman itu sambil bertanya, ”Mau pulang ke mana?”

“Paciran, Lamongan, Tanjung Kodok, tahu?” jawab pria itu menyodorkan beberapa jawaban, sepertinya dengan harapan saya mengenal salah satu di antaranya.

“Ya, saya pernah ke Tanjung Kodok beberapa kali,” jawab saya.

Percakapan awal itu ternyata adalah sebuah pintu menuju masa lalu; keramahan dan kepedulian sederhana bisa jadi kunci pembuka kehidupan seseorang.

***

“Dua tahun sudah saya kerja di Port Klang. Kini saya mau pulang. Sudah lama tak jumpa anak-anak. Kangen,” ringkasan kata-kata yang memberikan deskripsi identitas secara jelas.

“Bapak akan kembali ke Malaysia untuk bekerja lagi?”

Ia dengan tangkas menjawab, ”Iya, tentu. Kalau saya kerja di sini, setiap bulan saya bisa mengirim sekitar dua juta rupiah untuk anak-anak sekolah. Kalau saya kerja di Indonesia, tak mungkinlah saya bisa sekolahkan anak-anak. Apalagi anak-anak sekarang sudah mau SMP dan SMA.”

Mendengar jawabannya, saya tiba-tiba tersadar, ada yang tak pernah ia sebutkan sejak tadi. Ia bercerita tentang pekerjaannya, anak-anaknya, tapi mengapa tak pernah tentang istrinya? Tentang ibu dari dua anaknya?

“Anak-anak Bapak tinggal dengan ibunya di Lamongan?”

Pria itu terdiam, tak langsung menjawab seperti sebelumnya.

Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela kecil di pesawat.

Tak ada jawaban.

Pramugari kemudian mengulurkan formulir isian bea cukai untuk kami berdua. Pria itu menunjukkan formulirnya sambil meminta, “Bisakah tolong isikan ini untuk saya?”

Saya mengambil pena dan segera mengisikan formulir itu. Ketika saya melihat passport-nya untuk mengisi beberapa hal, saya terkejut melihat tahun kelahiran yang tertera. Usianya ternyata tak berbeda jauh dengan saya. Kami hanya berselisih beberapa tahun saja. Lalu, apa yang membuatnya nampak begitu tua?

Segera setelah menyelesaikan isian formulir itu, saya memintanya untuk membubuhkan tanda tangan. Sambil membubuhkan tanda tangan, ia memberikan jawaban yang tertunda, ”Tiga belas tahun lalu, waktu anak kedua saya berumur 3 bulan, istri saya berangkat untuk bekerja di Malaysia. Saya tidak setuju, tapi kami sangat butuh uang banyak. Apa boleh buat, pekerjaan saya juga tak jelas. Selama tiga tahun, ia selalu kirim uang untuk saya dan anak-anak,” tuturnya sambil tersenyum.

“Oh, jadi sekarang Bapak menyusul istri untuk bekerja di Malaysia demi masa depan anak-anak,” saya lontarkan dugaan saya.

“Ya, Pak. Saya bekerja untuk masa depan anak-anak. Tapi saya tak menyusul istri saya,” jawabnya dengan nada bergetar.

Saya merasa ada sesuatu di balik getaran suaranya.

“Setelah tiga tahun, istri saya tidak lagi mengirim uang untuk saya dan anak-anak. Saya menulis surat, tetapi tak pernah ada jawaban. Saya bahkan menelepon tempatnya bekerja, tetapi juga tak ada lagi istri saya di sana. Akhirnya, setelah lima tahun ada teman sekampung yang pulang dari Malaysia bawa kabar kalau istri saya menikah lagi dengan orang India,” tuturnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Tak tega melihatnya meneteskan air mata, saya segera menyahut, “Maaf, Pak. Saya merasa tidak enak hati karena telah menanyakan hal ini.”

“Tidak apa-apa. Toh, peristiwa itu sudah terjadi. Tak mudah menerimanya. Saya sempat mabuk-mabukan dan main perempuan karena sakit hati. Bertahun-tahun saya tidak bekerja dan hidup hanya dari menjual barang-barang yang ada di rumah. Anak-anak tak saya urus lagi, karena tiap melihat mereka saya teringat ibunya. Hancur hidup saya,” tuturnya dengan nada agak keras, mengundang beberapa penumpang pesawat mengarahkan pandangan pada kami.

Saya menaruh telunjuk saya di bibir agar pria itu mengurangi volume suaranya. Seperti tersadar, ia nampak malu ketika menengok kiri dan kanan. Dengan suara yang lebih pelan, pria itu melanjutnya kisahnya, ”Saya tak pernah mengira istri saya tega berkhianat dan meninggalkan saya. Sampai suatu saat saya dapat nomor HPnya. Saya telepon beberapa kali tak pernah dijawab. Akhirnya saya kirim SMS untuk bertanya mengapa ia tega menikah lagi. Hanya satu jawaban dari istri saya. Saya masih ingat jawabannya: 'saya ingin hidup yang lebih baik.’"

Hidup yang lebih baik. Sebuah jawaban yang terdengar klise, namun tentu saja amat menyakitkan bagi pria ini.

“Setelah bertahun-tahun hidup tak keruan, saya baru sadar. Istri saya pasti sudah punya hidup yang lebih baik. Lha kok, hidup saya malah jadi lebih buruk? Tak punya uang, anak-anak tak terurus. Akhirnya, saya mantapkan hati. Saya harus ikhlas. Saya ikhlaskan istri menikah lagi,” tuturnya tegar.

Saya terdiam mendengar rangkaian kata-katanya. Tak sepenuhnya bisa saya mengerti bagaimana ia bisa mencapai titik ikhlas itu.

“Saya pergi bekerja di Malaysia agar hidup saya lebih baik dan punya uang untuk sekolah anak-anak. Dua tahun ini, anak-anak gembira karena saya bekerja walau di negeri orang. Saya gembira karena punya uang untuk membayar sekolah anak-anak,” tuturnya mantap.

“Apakah selama di Malaysia, Bapak tidak ingin bertemu dengan istri?” tanya saya.

“Tidak, Pak. Saya tidak ingin menganggu rumah tangga orang lain. Saya ikhlas. Semoga istri saya dapat hidup yang lebih baik. Hidup saya dan anak-anak juga lebih baik sekarang,” jawabnya sambil tersenyum. Kembali, ia mengarahkan padangannya ke jendela, sambil berbisik,

”Kalau kita ikhlas, hidup lebih enteng, Pak. Kalau hidup lebih enteng, kerja pun jadi semangat."

Keikhlasan tak mengubah masa lalu, namun ia pasti meringankan langkah menuju masa depan.



Baca Juga:

Ketika Cinta itu Pergi, Percayalah yang Lebih Baik akan Datang

Mencintai Dia yang Tak Mencintaimu Bukanlah Hal yang Memalukan. 4 Hal Ini akan Menegaskan, Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Bukanlah Akhir Dunia

5 Cara untuk Berhenti Mencintai Ia yang Tak Dapat Dimiliki



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Adakalanya Mencintai Berarti Merelakan Yang Tercinta Hidup Bersama Orang Lain". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar