Ketika Hubungan Mertua dan Menantu Tak Seindah Bayangan, 4 Hal Ini Jadikan Pegangan

Marriage

[image: Woman's Day]

2.4K
Perbedaan latar belakang, karakter, keunikan, dan kebiasaan itu perlu dipahami oleh setiap pribadi yang ada didalamnya. Jika tidak saling memahami keunikan ini, ketegangan bisa terjadi antara orangtua atau mertua dan anak-menantu.

Pasangan yang baru menikah tentu mendambakan kehidupan yang bahagia, tetapi sering kali realita tidak sesuai harapan. Arifin dan Ririn, sebut saja demikian, menikah hampir lima belas tahun. Mereka mula-mula bekerja di kota besar dan tinggal di sebuah rumah kontrakan. Keduanya berjuang keras dalam membangun kehidupan bersama. Setelah beberapa tahun lamanya, pernikahan mereka dikaruniai seorang anak.

Namun, karena penghasilan yang pas-pasan, mereka sepakat untuk melahirkan anak di kampung halaman sang suami. Kedua orangtua sang suami pun menyambut gembira rencana mereka. Harapan mereka, kehadiran sang cucu bisa memberi kekuatan dan penghiburan di masa tua.

Ternyata realitanya tak seindah yang dibayangkan. Di satu sisi memang ada kebahagiaan yang sudah lama dirindukan. Namun di sisi lain, mulailah timbul berbagai persoalan.

Persoalan mulai muncul ketika tiba waktunya Arifin dan Ririn harus kembali bekerja. Mereka tidak sampai hati meninggalkan anak semata wayang kepada orangtua. Akan tetapi, kalau dibawa tentu akan merepotkan dan mereka tidak akan bisa bekerja dengan baik.

Setelah digumulkan dengan baik, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidak kembali ke kota tempat mereka bekerja. Mereka pun mencoba membangun kehidupan bersama dari nol lagi di kota kelahiran sang suami dengan berwirausaha. Untuk sementara, mereka terpaksa tinggal bersama dengan kedua orangtua yang kebetulan sudah pensiun. Maka, sekalipun tidak sepenuhnya, mereka bisa mendampingi sang cucu pada saat pasangan ini bekerja.

Semula semuanya berjalan baik. Walaupun pendapatan yang dihasilkan tidak lagi seperti waktu bekerja di kota besar, tetapi mereka bisa hidup dengan berkat yang Tuhan karuniakan. Namun dengan berjalannya waktu, mulailah timbul gesekan-gesekan karena adanya berbagai perbedaan prinsip, karakter, maupun kebiasaan dalam kehidupan.

[image: Quality Assurance Communication]

Disengaja maupun tidak, jika berbagai gesekan ini tidak dibicarakan dan diselesaikan dengan baik, pada gilirannya pasti akan timbul konflik tersembunyi. Demikian pula yang dihadapi Arifin dan Ririn dengan kedua orangtuanya. Konflik tersembunyi tersebut menyebabkan kehidupan yang ada di antara mereka yang semula baik, menjadi kaku dan tidak harmonis. Masing-masing merasa tertekan dan menghindari konflik terbuka, agar nama baik keluarga jangan sampai tercoreng.

Kondisi demikian tentu tidak sehat. Setelah konsultasi intensif dengan berbagai pihak yang memahami keadaan mereka, semuanya pun berjiwa besar dan secara terbuka membicarakannya dengan baik, mencari jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak.

Akhirnya sebagai jalan keluar, mereka semua sepakat untuk berpisah rumah tinggal, tetapi masih berdekatan, sehingga bisa saling memantau keberadaan satu sama lain.

Belajar dari pengalaman yang saya dapatkan sepanjang pelayanan saya, ada empat hal penting yang perlu diperhatikan. Hal yang menjadi kunci, bagaimana hidup dan tinggal bersama antara mertua dan menantu, jika hal itu harus dilakukan.



Pertama: Suatu pernikahan yang ideal, seharusnya mandiri sejak memulai rumah tangga.

Mandiri yang dimaksud adalah hidup terpisah dari orang ketiga. Apakah itu orangtua, mertua, saudara, maupun orang lain. Bisa rumah milik sendiri yang sudah dipersiapkan, maupun kontrak atau sewa jika belum punya tempat tinggal sendiri.

Dengan demikian, rumah tangga yang dibangun murni hasil rancangan dan cita-cita bersama antara kedua suami-istri. Walaupun ada berbagai macam tantangan, mereka akan menghadapinya bersama-sama dan tumbuh berkembang dalam pertumbuhan yang sehat.

Di dalam suka duka kehidupan, mereka bisa berjuang bersama secara baik. Meskipun kadang kala ada kesulitan, pergumulan, dan penderitaan yang harus dihadapi, tidak ada orang yang tahu selain mereka berdua. Sebab hadirnya orang ketiga bisa memengaruhi tumbuh berkembangnya rumah tangga yang baru dibentuk. Tidak jarang, kehadiran orang itu bisa merusak kehidupan keluarga. Mereka merusak suasana dengan membicarakan kelemahan serta kekurangan yang ada pada pasangan tersebut.

Baca Juga: 6 Perisai Pertahanan Ketika Tinggal di Pondok Mertua Indah



Kedua: Tidak semua pernikahan dimulai dengan ideal.

Sebaiknya, sedari awal suatu pernikahan yang dibangun sudah mandiri. Namun, realitanya, banyak di antara yang menikah memulainya dari nol. Mereka harus berjuang dengan apa yang ada pada mereka saat menikah. Ada yang harus kontrak atau sewa rumah dulu sebelum punya rumah sendiri. Ada pula yang terpaksa kumpul dengan orangtua atau mertua, bahkan saudara. Atau malah ada yang harus tinggal bersama adik-adiknya, karena orangtua sudah meninggal.

Kondisi pernikahan yang demikian tentu bebannya cukup berat. Bagi yang harus menyewa atau kontrak, setiap bulan harus menyisihkan uang untuk persediaan jika masa sewanya berakhir. Bagi yang harus tinggal bersama dengan saudaranya karena suatu keharusan, beban itu lebih berat lagi.

Baca Juga: Banyak Orang Berpikir Seperti Saya : Uang, Rumah dan Mobil adalah Syarat Terciptanya Keluarga Bahagia. Ternyata Saya Salah!



Ketiga: Hal yang harus dilakukan ketika rumah tangga yang masih baru harus menghadapi beban berat.

Kalau memulai dari nol tidak bisa dihindari, pertama-tama mereka harus bijak dalam mengatur keuangan yang ada. Bersyukur dengan berkat yang Tuhan karuniakan, berapa pun yang mereka dapatkan. Manfatatkan karunia Tuhan yang ada secara efisien serta bertanggung jawab.

Walaupun di tengah keterbatasan, mereka tetap perlu belajar bersyukur kepada Sang Pencipta Kehidupan, sehingga mengalami kebahagiaan. Membawa segala pergumulan yang dihadapi dalam dialog secara terbuka dengan komunikasi yang sehat. Berusaha bekerja sama dalam menghadapi setiap persoalan.

[image: Giro Elder Law]

Dalam kehidupan bersama, rahasia keluarga perlu dijaga agar tidak dibeber keluar secara sembarangan. Kecuali kepada orang yang dapat dipercaya, agar dapat menolong menemukan solusinya. Letakkanlah semuanya di bawah kendali dan pengharapan kepada Tuhan. Niscaya beban seberat apa pun menjadi ringan, karena saling pengertian dan saling memercayai semua pribadi yang ada di dalamnya.

Sedangkan bagi yang terpaksa tinggal bersama orangtua atau mertua, masalahnya lain lagi. Pasangan suami-istri harus bijak menempatkan diri dalam hidup dan tinggal bersama mereka.

Baca Juga: Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan



Keempat: Bagaimana sebaiknya sikap kita bila harus tinggal bersama mertua atau orangtua?

Tinggal bersama orang ketiga, baik itu orangtua sendiri atau mertua dalam membangun mahligai rumah tangga baru sebenarnya bukanlah sesuatu yang sehat. Namun, tidak bisa dipungkiri jika hal itu bisa terjadi karena keterpaksaan.

Terpaksa karena belum memiliki rumah sendiri atau karena ekonomi yang belum mapan. Atau karena pernikahan yang dilaksanakan terburu-buru karena peristiwa mengharuskannya. Bisa juga terjadi karena kondisi orangtua yang memaksanya, karena kondisi kesehatan kedua orangtua atau mertua memerlukan pendampingan dan perhatian khusus.

Apa pun alasannya, jika hal itu terjadi, harus dibudayakan adanya saling pengertian dan tenggang rasa dari semua pihak terkait. Perlu diketahui, baik orangtua atau mertua maupun anak-menantu, masing- masing memiliki kebiasaan sesuai latar belakang dan keunikannya sendiri. Di samping itu, mereka tentu memiliki karakter berbeda juga.

Perbedaan latar belakang, karakter, keunikan, dan kebiasaan itu perlu dipahami oleh setiap pribadi yang ada didalamnya. Jika tidak saling memahami keunikan ini, ketegangan bisa terjadi antara orangtua atau mertua dan anak-menantu.

Sikap yang harus dibangun oleh keluarga baru yang menumpang sepatutnya tetap menaruh hormat kepada orangtua atau mertua. Berusahalah menjalin komunikasi yang baik dengan mereka secara timbal balik. Apabila ada hal-hal yang menjadi pergumulan, sampaikan dengan baik secara terbuka. Terimalah saran dan nasihat untuk dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk masa depan maupun kebaikan bersama.

Jangan diam seperti petapa dan menyembunyikan sesuatu yang menjadi ganjalan dalam kehidupan bersama. Apakah itu kebiasaan, keunikan, maupun ketidaksukaan tertentu yang ada, komunikasikanlah secara tulus.

Sampaikan dengan baik, sopan, terbuka, tetapi bijaksana. Jangan bersikap kasar. Ingat, anak-menantu tinggal bersama orangtua atau mertuanya sebagai penumpang sementara.

Perlu diketahui bahwa orangtua sering kali sensitif dengan ungkapan tdak sopan yang melukai hatinya. Ini akan merusak hubungan mesra yang ada antara anak-menantu dan orangtua atau mertua. Jika bisa mengomunikasikannya dengan baik, mereka akan mengerti dan memahaminya. Hal ini juga untuk menghindari hal-hal yang menimbulkan ketersinggungan.

Baca Juga: Tinggal Serumah dengan Mom[ster] in Law? Inilah 8 Rahasia Saya untuk Bertahan dan Lulus Sebagai Menantu Perempuan Kesayangan Mama Mertua



Di lain sisi, bagaimana sebaiknya sebagai orangtua atau mertua mengambil sikap?

Sebaliknya, orangtua atau mertua sebaiknya mengambil jarak. Setiap hal yang ingin diungkapkan perlu disampaikan dengan hikmat. Tidak sembarangan seperti yang sering kita lihat dalam dunia sinetron, semena-mena dalam menyampaikan unek-unek. Misalnya, menyatakan bahwa mereka belum bisa mandiri.

[image: Italiano Sveglia]

Jangan serta merta campur tangan untuk masalah yang dihadapi keluarga baru dari anak-menantunya. Walupun sebagai orangtua telah mengenal anaknya dengan baik, tetapi untuk menantu tentu belum memahami sepenuhnya kebiasaan dan keunikannya.

Hal yang kadang dilupakan oleh orangtua atau mertua ialah bahwa sekalipun anak-menantunya tinggal bersama, tetapi mereka sudah menikah dan mandiri secara hukum. Maka urusan rumah tangga mereka adalah urusan mereka berdua, bukan lagi wilayah orangtua atau mertua.

Lalu, bagaimana jika mereka menghadapi problem berat dalam kehidupan mereka? Biarlah mereka belajar mencari jalan keluar berdua. Kalau melihat anak atau menantu perlu topangan, hal itu bisa disampaikan secara bijaksana sebagai saran atau masukan untuk dipertimbangkan.

Namun, keputusan harus diambil oleh mereka berdua sebagai keluarga baru yang perlu tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Orangtua atau mertua tidak boleh memaksakan pendapatnya.

Apa yang menurut orangtua atau mertua baik, belum tentu baik untuk anak-menantu saat ini. Jika kedua hal tersebut bisa dilakukan, maka masalah ketegangan antara mertua dan menantu bisa diminimalkan. Sangat penting pula untuk senantiasa mendukung mereka dalam doa kepada Sang Pencipta agar mereka mampu tumbuh berkembang dan akhirnya mandiri dalam kehidupan.

Baca Juga: Relasi Harmonis Mertua dengan Menantu: Mustahil? Inilah Rahasia yang Terkuak dari Mertua yang Berhasil Menjadikan Menantu-menantunya bak Malaikat



Semoga bermanfaat bagi mereka yang karena sesuatu hal terpaksa harus tinggal bersama orangtua atau mertua.



Awal Oktober 2017,

Stefanus Semianta





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Hubungan Mertua dan Menantu Tak Seindah Bayangan, 4 Hal Ini Jadikan Pegangan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Stefanus Semianta | @stefanussemianta

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar