Ketika Cinta Tak Sempurna, Lalu Bagaimana Menjalaninya tanpa Lara?

Love & Friendship

buzzerg.com

8.2K
Adakah cinta sejati? Kok kayaknya ada jurang yang begitu dalam yang memisahkan cinta sejati dengan cinta sehari-hari. Jika jatuh cinta berjuta rasanya, mengapa kok hanya rasa pahit yang menggigit?

Darling Harbour, Sydney. Malam hari. Saya sedang melepas lelah setelah aktivitas seharian. Di tengah gemerlap lampu pelabuhan yang eksotis itu, saya dihampiri seorang gadis yang saya kenal di ibukota New South Wales ini. Tegur sapa biasa berlanjut dengan obrolan seputar hidupnya di negara orang, kuliah dan tentu saja tentang pacarnya. Sampai titik ini, tanpa terasa, ia menceritakan perjalanan relasi dengan pacarnya. Ceritanya mengalir pelan, sepelan langkah kaki kami di sekitar air yang gemeriapan tertimpa cahaya lampu dari café-café yang berderet.


Gadis itu, sebut saja, Blue, memang sedang gloomy. Serentetan kesedihan menyergapnya. Papa yang dicintainya baru berpulang ke rumah Bapa. Diagnosa dokter mengejutkannya. Ia dinyatakan terkena penyakit langka yang bakal menurun ke anak-anaknya kelak jika menikah. Di tengah sedu sedan sendiri, seperti jatuh tertimpa tangga raksasa, pacarnya memilih logika ketimbang nurani. Blue ditinggal sendiri.

Suhu winter yang dingin tidak sanggup mengalahkan dinginnya suasana malam itu. Mulut saya ikut membisu. Simpati saja tidak cukup. Blue butuh solusi. Celakanya, saat itu otak saya ikut membeku. Saya terbawa perasaan. Yang bisa saya tawarkan hanya berdoa.

HANYA? Tiba-tiba nurani saya berteriak lantang. Doa bukan HANYA. Doa adalah SEGALANYA! Itulah yang saya lakukan di Darling Harbour yang semakin sunyi. Sesepi suasana hati. Di tengah dinginnya musim dingin, pelan tapi pasti, meluncurlah serangkaian permohonan saya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Saya berdoa agar Blue dihiburkan dengan sukacita sejati. Saya memohon agar Blue disembuhkan dari sakitnya. Saya pun meminta Tuhan menyediakan pacar baru yang bisa menerima Blue apa adanya.

Doa malam itu saya akhiri dengan ucapan, “Your time and Your Way, Lord !"

Setelah mengusap air matanya, Blue pamit. Saya antar dia sampai di depan gedung apertemennya sebelum kami berpisah. Tanpa terasa mata saya membasah. Sambil berjalan pulang, saya merenungkan kembali makna cinta.

Adakah cinta sejati? Kok kayaknya ada jurang yang begitu dalam yang memisahkan cinta sejati dengan cinta sehari-hari. Jika jatuh cinta berjuta rasanya, mengapa kok hanya rasa pahit yang menggigit? Jika cinta begitu berarti, mengapa sakitnya tuh sampai di sini? Jika jatuh cinta begitu berdesir, mengapa hati ini terasa getir?

Perasaan mengharu biru ini mengingatkan saya akan peribahasa yang populer : "Why the person who broke you can’t be the one who fixes you.” Status WA teman saya di Kanada justru terasa lebih menggetarkan: “What do you do when the one who broke your heart is the only one who can fix it” yang ia kutip dari Courtney Lynn.

Aha! Perasaan itu muncul menggantikan kesedihan saya. Eureka Effect mengguyuri saya seperti kesegaran air yang membuat Archimedes menemukan hukumnya yang terkenal. Ada Pribadi yang tidak saja ahli memperbaiki hati. IA mampu memberi kita hati baru!

Sambil berjalan pulang, saya teruskan doa saya agar hati Blue yang mengharubiru digantikan dengan langit yang biru.

Saat sekeliling kita terhalang, mengapa tidak mengarahkan mata ke langit yang membentang? Kala asa kita terbatas, mengapa kita tidak mendongak ke atas bertemu dengan Pribadi yang Tak Terbatas? Saat cinta tak sempurna, mengapa tidak belajar menjalaninya bersama Sang Pencipta Cinta? Solusi yang tampak sederhana ini teryata punya makna dan berdaya guna.

Beberapa tahun kemudian, saya bertemu kembali dengan Blue. Wajahnya tidak lagi sendu, namun memerah dadu saat berkata, “Kak Xavier, terima kasih untuk waktu dan doanya.” Dengan ceria Blue menceritakan bahwa penyakitnya bisa diobati dan—ini yang terpenting—Sang Pencipta Cinta mempertemukannya dengan belahan jiwa yang tidak hanya mengandalkan logika tetapi juga rasa dan etika.

Menjelang Lebaran yang lalu, saya bersama keluarga menyusuri lagi Darling Harbour. Kami ingin menghabiskan malam menyaksikan Opera House yang bertaburan cahaya dalam rangka Vivid Sydney. Kenangan bersama Blue memberikan pencerahan sekali lagi, bahwa doa orang benar yang dengan sungguh-sungguh keluar dari hati, Tuhan akan menjawabnya. Seturut waktu dan kehendak-Nya.


Baca Juga :

Buat Kamu yang Percaya Jodoh di Tangan Tuhan, Lima Panduan ini Akan Menuntunmu ke Orang yang Tepat

Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, Ini Penting Buatmu

Kalijodo, Jodoh Kali Ya? Inilah 3 Penghambat Utama yang Menyebabkan Jodoh Tak Kunjung Datang

Belum Juga Menemukan Pasangan Hidup? Jangan Menyerah, 8 Langkah Ini Akan Memberikan Harapan Baru


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Cinta Tak Sempurna, Lalu Bagaimana Menjalaninya tanpa Lara?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar