Ketika Bunuh Diri Hanya Satu-Satunya Opsi, Inilah Perjuanganku Bertahan Hidup

Reflections & Inspirations

photo credit: Mi Major

2K
Neraka, karena rasanya semua hal begitu layak untuk dibenci.

Tanggal 20 Agustus 2017, aku sempat berpikir serius untuk mencoba bunuh diri.


Mengetikkan kalimat di atas saja sudah membuatku gemetaran.

Tapi benar begitu adanya.

Agustus menjadi bulan yang begitu mengerikan. Aku semakin merasa bahwa aku tidak suka dengan pekerjaanku, yang membuat performaku semakin tidak maksimal saat bekerja di kantor. Apalagi bidang pekerjaanku, di kantor konsultan pajak, pada dasarnya adalah pekerjaan dengan tekanan deadline yang cukup ketat.

Setiap hari selama Agustus aku bangun pagi dengan pikiran yang kalut dan hati yang amat gentar untuk berangkat ke kantor, dan saat aku sedang tidak di kantor, aku merasa tidak ingin melakukan apa-apa selain tidur di kasur kamarku. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mencemaskan segala yang terjadi dalam hidupku, lalu tidur untuk melupakannya sejenak, kemudian bangun lagi untuk mencemaskan segalanya lagi, dan begitu seterusnya.

Sepanjang bulan Agustus, aku begitu benci dengan hidupku, hingga pikiranku merembet ke segala hal lainnya yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dikhawatirkan oleh orang dengan kondisi mental “normal”.

Tidak berhenti dengan membenci kehidupanku yang terasa begitu sampah dan sia-sia ini, akupun, dalam otakku, mulai membenci dunia sekitarku. Lingkungan kantor, keramaian sekitar, berita-berita tentang negara ini yang aku coba hindari tapi tetap akhirnya terekspos lewat media sosial, dan segala apa yang ada di sekitarku. Bahkan hobiku seperti membaca buku, menulis, jogging, dan menonton siaran olahragapun tidak menarik sama sekali. Energiku dihabisi oleh kecemasan dan depresiku.

photo credit: BetterHelp

Mengutip perkataan seseorang, depresi adalah kondisi di mana kita tidak peduli segala sesuatu lagi, sementara kecemasan (anxiety) adalah kondisi di mana kita peduli terlalu banyak hal sampai-sampai cemas berlebihan, dan orang yang memiliki kedua masalah mental tersebut benar-benar merasa hidupnya di neraka.

Neraka, karena rasanya semua hal begitu layak untuk dibenci

Kurasa kondisi mentalku tidak pernah sejelek ini sejak dua hingga tiga tahun yang lalu, ketika depresiku mencapai kondisi paling parah yang pernah aku rasakan.


Puncaknya terjadi pada hari Minggu, 20 Agustus 2017, ketika aku seharian benar-benar tidak ingin bergerak dari kasurku

photo credit: paradigmmalibu

Sejak bangun pagi, hari itu hanya kuhabiskan dengan pikiran-pikiran buruk, untuk kemudian tidur lagi, bangun lagi dengan pikiran-pikiran buruk, dan begitu seterusnya.

Tak kusadari jam dinding di rumah menunjuk pada pukul 6 sore. Aku bangun, mandi, dan memutuskan untuk keluar rumah sejenak, menyetir mobil. Saat aku sudah berada di mobil, aku tiba-tiba memikirkan hal yang pernah aku coba lakukan beberapa tahun lalu.

Memberhentikan mobil di tengah-tengah rel kereta. Aku tahu rel kereta terdekat dari rumah yang melewati jalan raya. Aku berpikir untuk ke sana. Akupun mulai menyetir mobil, beranjak dari rumahku, dengan otak yang begitu gelisah. Antara takut mati dan ingin berhenti hidup. Perjalanan 5 menit dari rumahku menuju luar kompleks perumahan benar-benar momen yang begitu mengerikan di kepalaku.

Keluar kompleks perumahan, pertempuran di kepalaku berhenti sejenak, di mana akal sehatku menang, entah syukur atau tidak. Aku mengenyahkan pikiran mencoba bunuh diri, lalu mengarahkan mobil ke kafe langganan terdekat dari rumahku. Sesampainya aku di sana, aku berpikir sejenak.

Aku menarik nafas.

Aku masih hidup.

Tapi aku tidak tahu bagaimana aku akan menghadapi hari-hari ke depan dengan kondisi mental seperti ini.

Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau menyesal karena tidak mengikuti suara-suara di kepalaku yang menyuruhku berhenti hidup.

Malam itu, di sana, aku berusaha melakukan segalanya untuk menguatkan pikiranku bahwa aku masih layak untuk melanjutkan hidup. Kucoba berdoa mohon kekuatan. Kucoba menelan antidepresan yang sempat aku pikir sudah tak berguna lagi karena pemulihanku yang sudah cukup baik sampai bulan sebelumnya. Kucoba tuliskan perasaan-perasaan kacauku saat itu, untuk kemudian di-counter dengan balasan-balasan yang aku anggap lebih logis dan jernih. Kucoba uraikan apa yang aku anggap sebagai masalah-masalah yang saat itu sedang aku hadapi dan bagaimana aku bisa mulai menghadapinya. Kucoba hubungi beberapa orang yang kupercaya untuk mencari-cari alasan mengapa aku masih layak hidup. Kucoba tonton beberapa event olahraga kesukaanku untuk mencari pelarian dan menghiburku.

Segala upaya itu berhasil, untuk malam itu

Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil kantor yang bisa kukerjakan, lalu pulang dan berupaya tidur sepulas-pulasnya.

Besoknya aku masih bangun dengan perasaan campur aduk. Gentar menghadapi hari itu, syukur karena masih hidup, sesal (juga) karena masih hidup.


Hari yang baru saja lewat itu mungkin akan aku ingat-ingat terus dalam hidupku, karena hari itu penuh pembelajaran akan kondisiku

Bahwa sudah beberapa waktu aku mulai, dalam hatiku, sombong karena kondisiku yang sudah banyak pulih sehingga aku mulai tidak mendengarkan nasihat psikiater maupun orang tuaku.

Bahwa aku merasa sudah berhasil mengalahkan musuh terbesar dalam hidupku tanpa sadar bahwa sang musuh masih bisa kembali menyerang ketika aku mulai lengah.

Baca juga: Tak Bisa Dibeli, Hanya Bisa Diraih. Loyalitas Relasi, Begini Cara Meraihnya

Bahwa kondisi mentalku menuntutku untuk tidak menghadapi segalanya seorang diri, karena aku masih amat sangat mudah untuk goyah.

Bahwa masalah-masalahku tidak akan selesai bila hanya digelisahkan, dan kenyataannya sampai hari ini aku masih sanggup menghadapi segala yang aku takutkan beserta dengan konsekuensinya.

photo credit: End Your Depression
Dan diingatkan sekali lagi bahwa berani hidup, dengan segala kerumitannya, lebih menantang daripada berani mati dan mencari jalan pintas atas penyelesaian segala masalah.

Kejadian hari itu menghajarku dan menantangku untuk menghadapi hari-hariku dengan melawan kekhawatiranku dan menyerahkannya kepada Tuhan.

Kalau aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang dan seterusnya sampai waktunya hidupku di bumi ini selesai, itu hanyalah karena kekuatan Tuhan, yang terus memberiku alasan untuk hidup, termasuk lewat orang-orang di sekitarku, yang entah kenapa masih peduli kepadaku.

Baca juga: Menjalani Hidup tanpa Refleksi Diri? Kamu Kehilangan 5 Hal Berharga Ini!

Cerita tentang perjalananku bersama depresi akan terus berlanjut hingga waktu yang aku tidak tahu kapan, dan aku akan terus belajar menikmatinya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Bunuh Diri Hanya Satu-Satunya Opsi, Inilah Perjuanganku Bertahan Hidup". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Christan Reksa | @christanreksa

A worthless mediocre

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Cerita tentang perjalananku bersama depresi akan terus berlanjut hingga waktu yang aku tidak tahu kapan, dan aku akan terus belajar menikmatinya.