Anak Terserang Kawasaki: Perjalanan Melelahkan, Namun Memberikan 5 Pelajaran Berharga Ini

Reflections & Inspirations

Kawasaki

688
Saya meyakini bahwa apa yang dialami Nielsen saat ini akan menjadi berkat dan Nielsen akan tumbuh menjadi anak yang luar biasa.

Bulan Februari 2013, anak kami yang kedua, didiagnosa penyakit Kawasaki setelah demam tinggi yang tak kunjung turun selama 4 hari. Penyakit yang sangat awam buat kami telah memberi banyak pelajaran berharga tentang kehidupan, terutama untuk saya sebagai seorang ibu. Kamis, 31 Januari 2013, Nielsen demam dengan gejala batuk. Dokter mendiagnosa infeksi saluran pernafasan. Hari Sabtu, Nielsen masih panas, sehingga saya memutuskan untuk cek darah yang hasilnya baik meskipun trombositnya sudah di ambang nilai rujukan. Minggu malam, suhu tubuh Nielsen mencapai 40°C dan kami membawanya ke UGD. Diagnosa dokter jaga adalah Infeksi Saluran Pernafasan dan disarankan untuk opname namun karena tidak ada kamar yang kosong maka kami pulang.


photo credit: Chicago Tribune

Keesokan harinya, suhu tubuh Nielsen sudah kembali normal. Setelah 4 hari istirahat di rumah, hari Jumat Nielsen kembali sekolah. Pulang sekolah, di bagian lehernya timbul rash seperti biang keringat dan semakin banyak menjelang sore terutama di punggung namun suhu badannya normal. Saya membawanya lagi ke dokter dan dokter memperkirakan ada 2 kemungkinan: pertama, Exanthem Xubitum biasanya setelah panas keluar rash. Atau, apabila nanti demam lagi, maka mengarah ke Campak atau Rubella, atau bahkan Kawasaki - meski kasusnya jarang sekali.

Malamnya, Nielsen panas lagi. Rash-nya semakin banyak dan Nielsen mulai rewel karena rash tersebut membuatnya gatal. Minggu malam, suhu tubuh Nielsen mencapai 40°C dan kami kembali ke UGD. Dokter jaga menyimpulkan Nielsen terkena Campak. Selasa pagi, saya kontak dokternya Nielsen karena panas Nielsen masih turun naik dan obat turun panasnya sudah habis 1 botol. Sewaktu dia melihat Nielsen, dia meragukan kalau itu Campak dan dia khawatir mengarah ke Kawasaki. Nielsen dirujuk untuk cek darah kembali.

Hasil lab menunjukkan trombosit Nielsen sudah naik dari hasil minggu lalu, namun CRP-nya positif menunjukkan adanya infeksi di dalam tubuh. Rabu pagi, saya kontak dokter lagi karena saya khawatir dengan kondisi Nielsen yang amat sangat rewel. Badannya sudah mulai kurus dan dia juga tidak berhenti menggaruk-garuk seluruh badannya. Kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Dokter menyarankan agar Nielsen diopname saja karena dia sangat khawatir sakitnya mengarah ke Kawasaki.

Baca juga: Dalam Suka maupun Duka, Sehat ataupun Sakit, Hingga Maut Memisahkan: 3 Kisah Cinta Sejati untuk 14 Februari

Rabu, jam 3 siang, kami mendapat panggilan dari rumah sakit sudah ada kamar kosong. Kamis pagi, 14 Februari, Valentine’s day, pagi-pagi jam 6, dokternya Nielsen sudah datang membawa hadiah kecil untuk Nielsen sekaligus membawa kabar buruk untuk kami. Hasil tes semalam mengkonfirmasi dugaan penyakit Kawasaki. Nilai CRP yang tinggi, trombosit yang sudah di angka 556 dan LED 101. Sementara gejala fisik pun mendukung; panas tinggi yang tak kunjung turun, bibir pecah-pecah, dan mata merah tanpa kotoran. Dokter sudah yakin Nielsen terkena penyakit Kawasaki. Obat satu-satunya untuk penyakit ini adalah Immunoglobulin. Satu botol kecil harganya Rp2.7 juta dan untuk Nielsen yang waktu itu beratnya 10kg, dia membutuhkan 8 botol. Obat akan mulai diberikan malam itu secara bertahap, 2 botol per hari hingga 4 hari.

Sabtu pagi, setelah 2 hari berturut-turut obat masuk, suhu tubuh Nielsen mulai normal dan rash-nya sudah memudar. Nielsen sudah kelihatan lebih ceria dan nafsu makannya mulai meningkat kembali. Saya senang melihat perkembangan tersebut walaupun Nielsen masih sangat rewel dan terbangun di malam hari. Namun, Minggu pagi, suhu tubuh Nielsen meningkat dan tidak kunjung turun. Suhunya hampir mencapai 40°C, maka diputuskan untuk tes darah lagi karena khawatir ada infeksi lain. Malamnya, hasil tes menunjukkan kemungkinan adanya infeksi bakteri dan dokter menyarankan pemberian antibiotik dosis tinggi. Selasa, Nielsen sudah boleh pulang.


photo credit: Consumer HealthDay

Rabu sore, Nielsen panas lagi. Saya kontak dokternya, dia bilang itu biasa. Coba dipantau saja. Keesokan harinya, Kamis, Nielsen sudah tidak panas namun saya lihat perutnya Nielsen membesar. Tapi, giliran saya yang sakit. Sejak hari Selasa, saya kena diare. Mungkin karena tidur dan makan tidak teratur, juga stres dan kelelahan. Akhirnya karena sudah agak parah, saya panggil dokter ke rumah.

Dokter tersebut sudah mendengar kasus Nielsen yang terkena Kawasaki dari teman saya. Dia menyarankan untuk bawa Nielsen ke Jakarta untuk dicek ulang untuk memastikan karena di sana memang ada dokter yang ahli. Malam itu, jam 10 malam saya mendapat tiket ke Jakarta untuk berangkat keesokan paginya. Sesampainya di sana, setelah menjalani beberapa prosedur yang biasa diterapkan untuk menegakkan diagnosa Kawasaki, hasil tes darah Nielsen menunjukkan positif Kawasaki. Perut yang membesar ternyata livernya bengkak dan hasil echo jantung menunjukkan selaput jantungnya bengkak dan mengandung air.

Baca juga: Dari Lumpuh, Pneumonia, ke Kanker Stadium 4. Ini tentang Yo dan 3 Sakitnya

Dokter menyarankan pemberian Immunoglobulin lagi yang ternyata harus dilakukan sekaligus dalam 12 jam, bukan bertahap seperti yang dilakukan di Semarang. Justru karena pemberian bertahap itu malah membuat penyakit ini semakin resistan. Sabtu malam, obat dimasukkan secara estafet. Sambil menunggu obat masuk, saya menulis surat untuk dokter yang merawat Nielsen di Semarang dengan hati yang penuh amarah. Selain membeberkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan RS di Semarang, saya juga meminta pertanggung jawaban dari dokter tersebut. Saya pikir, surat ini akan saya kirim sepulang dari Jakarta nanti. Setelah 3x24 jam sejak obat masuk, suhu tubuh Nielsen masih di atas 37.5°C Saya mulai takut karena dari beberapa artikel yang saya baca, jika penyakit Kawasaki tidak merespon treatment yang diberikan, kemungkinan terburuk dapat terjadi, kematian.

Saya mulai berserah pada Tuhan dan mengganti sikap hati saya dari pesimis pada suatu pengharapan yang positif. Saya memutuskan bahwa apa yang dialami Nielsen saat ini akan menjadi berkat dan Nielsen akan tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Saya mohon Tuhan sembuhkan Nielsen karena saya tidak tega melihat dia menderita sementara dia tidak bisa cerita bagian mana yang sakit. Jumat, dokter menyarankan pemberian Gamma Globulin lagi. Akhirnya, setelah dipantau 3x24 jam, hari Senin tanggal 4 Maret 2013, Nielsen diperbolehkan pulang.

Sungguh, perjalanan fisik dan mental yang melelahkan bagi saya, namun suatu perjalanan iman yang membuat saya belajar banyak hal:

photo credit: I Had Cancer

Pertama, saya belajar mengenai kekuatan cinta seorang ibu. Seandainya saya ini hanya pengasuh Nielsen, pastilah saya sudah minta berhenti karena saya tidak tahan dengan kerewelan Nielsen dan secara fisik sangatlah melelahkan karena Nielsen tidak mau ditemani siapa-siapa selama itu.

Kedua, ternyata kita harus bersyukur dalam setiap keadaan. Saya sangat bersyukur waktu itu saya diare, sehingga saya harus panggil dokter yang akhirnya menyarankan saya untuk cek Nielsen ke Jakarta.

Ketiga, ketika ternyata kita mengambil keputusan yang salah, ada tangan Yang Maha Kuasa yang turut bekerja untuk membawa kebaikan bagi kita.

Keempat, penyertaan Tuhan sempurna. Selama saya di Jakarta berdua dengan Nielsen, Tuhan menyertai dan menguatkan saya dengan banyaknya perhatian yang kami terima dari keluarga dan sahabat kami di Jakarta dan bahkan dari orang-orang yang tidak kami kenal yang datang berdoa untuk kami.

Kelima, mengampuni itu melepaskan beban hati. Saya memutuskan untuk tidak mengirimkan surat yang saya buat untuk dokter Nielsen yang di Semarang yang waktu itu saya buat dengan penuh emosi dan amarah. Dan saya memutuskan untuk mengampuni dia. After all, we are human, we all make mistakes.

Baca juga: Jangan Biarkan Sakit Meruntuhkan Semangat Hidupmu. Dua Hal ini Memberi Kekuatan untuk Bertahan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Terserang Kawasaki: Perjalanan Melelahkan, Namun Memberikan 5 Pelajaran Berharga Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Peila Silvie | @peilasilvie

A wife to a humble man and a mom to 2 amazing boys who loves to write, read, cook, bake and sing.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar