Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat Ini!

Singleness & Dating

[Image: trusted-wills.co.uk]

84.5K
Mencari pasangan hidup untuk melengkapi diri kita, bukan sekadar soal kecocokan semata.

Suatu hari, seorang perempuan marketing sebuah produk langganan datang kepada saya. Memang, Ia biasa datang secara berkala menemui saya, menawarkan barang-barang untuk saya order. Namun, kali ini nampaknya maksud kedatangannya agak berbeda dari biasanya. Biasanya Ia datang dengan membawa gambar-gambar produk, kali ini Ia menunjukkan 2 foto pria yang berbeda kepada saya. Ternyata hari itu Ia datang dengan membawa kegalauan hati. Ia diperhadapkan dengan dua pilihan, Ia harus memilih salah satu, dan karena itu Ia butuh saran dan masukan. Manakah, dari antara 2 sosok pria yang ada di foto yang Ia tunjukkan kepada saya, yang harus Ia pilih untuk menjadi teman hidup, pendamping di sepanjang sisa umurnya.

Mulailah Ia mencurahkan isi hatinya.

Pria pertama, sebut saja namanya A. Perawakannya cukup tampan dan gagah. Sebagai seorang pria dewasa yang bertanggung jawab, A adalah seorang pekerja keras. Ia berambisi untuk menikahi seorang wanita dalam kemapanan dan memberikan yang terbaik untuk keluarga yang akan dibangunnya nanti. Mungkin baginya, kemapanan adalah modal terpenting untuk menuju keluarga yang bahagia. Dan, karena saat itu Ia merasa belum cukup mapan, maka ketika perempuan ini menanyakan kejelasan status hubungan mereka, kapan Ia akan melamar, kapan rencana menikah, pria tersebut hanya membalas dengan tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala. Pertanda bahwa Ia belum berani memberikan keputusan yang pasti. Sangat terpukullah perempuan ini mendengar jawaban yang penuh ketidakpastian itu

Sementara sosok pria lainnya, B, selama ini telah menjadi sahabat dekat perempuan tersebut. Pria kedua ini berperawakan biasa saja, tidak setampan A. Kemampuan ekonomi B pun tidak jauh berbeda dengan A: cukup pas-pasan. Ternyata selama ini B telah menyimpan perasaan terhadap sahabat perempuannya, dan akhirnya di kesempatan ketika sahabatnya merasa terpukul karena ketidakpastian hubungan dengan A, B pun mengungkapkan perasaannya. Tidak berhenti di situ, B juga mengungkapkan keinginannya untuk menjalin hubungan lebih lanjut yang lebih serius hingga ke pelaminan. "Wah, berani mati juga nih orang!" demikian pikir saya dalam hati.

Dengan gundah gulana perempuan ini menyampaikan unek-uneknya kepada saya. Selama bercerita, wajahnya terlihat penuh pertimbangan seakan terus memikirkan, "Siapa yang harus kupilih?” Berdasarkan sedikit cerita yang telah saya dengar darinya, saya memberanikan diri ikut andil menyatakan pilihan. Saya berikan nilai plus untuk A. Menurut saya, akan lebih baik mengarungi bahtera rumah tangga bila kita telah siap dengan “perbekalan”, baik material maupun spiritual khususnya, yang akan diperlukan untuk menempuh “perjalanan” panjang nantinya. Namun, tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Pendapat saya ternyata berseberangan dengan pendapat suami. Ia justru langsung menjatuhkan pilihan terhadap B dengan tersenyum-senyum, tanpa memberikan alasan.

Karena tergesa-gesa dengan pekerjaan, akhirnya perempuan marketing yang sedang dilanda kegalauan itu pergi meninggalkan kami, dengan menyisakan tanda tanya besar di pikiran saya.

Tak lama setelah kejadian itu, saya mulai memikirkan kembali pilihan suami saya terhadap si pria B waktu itu. Mulailah tereka ulang di pikiran, kenangan-kenangan lama tentang kapan pertama kali saya mengenal suami, bagaimana keadaannya ketika pertama kali saya menerima dia sebagai salah satu kandidat calon suami, dan seperti apa kehidupannya selama kami menjalin hubungan yang lebih serius ketika itu. Akhirnya saya menyadari, rupanya kisah percintaan kami tak jauh berbeda dengan kisah percintaan sang perempuan marketing tadi. Satu hal yang paling saya ingat ketika kami mulai bertekad menjalin hubungan yang lebih serius, saya melihat dia sebagai seorang sosok pejuang keras yang sederhana. Dengan mengendarai sepeda motor butut - yang katanya punya sejarah tersendiri buat dirinya, mengenakan kaos agak pudar yang dipakai sekenanya, dipadukan dengan sandal jepit kuno - yang menurut saya lebih layak dipakai oleh kaum manula, Ia tetap percaya diri menunaikan kewajiban 'wakuncar' (waktu kunjung pacar)nya. Bahkan dengan penampilan yang apa adanya itu Ia berani meminang saya dengan gagah perkasa. Wow, luar biasa bukan?

Baca juga: 4 Kesalahan Terbesar yang Pria Lakukan sebelum Melamar Wanita

Saya kembali diingatkan berbagai macam alasan mengapa saya akhirnya memutuskan untuk memilih dia sebagai pendamping hidup saya. Dan, 3 hal ini lah yang menjadi bahan pertimbangan saya waktu itu:


1. You are My Superhero

[Image: finerminds.com]

Semua tau Spiderman, Batman, Superman kan, ya? Tokoh-tokoh yang di belakang namanya diberi predikat “-man” itu biasanya identik dengan seorang laki-laki yang sangat dikagumi dan dinanti-nanti oleh banyak orang, khususnya para perempuan. Biasanya tokoh jagoan ini selalu hadir di saat yang tepat untuk menunaikan perannya sebagai seorang pahlawan, seorang penyelamat. Seorang superhero rela berjuang mati-matian, bahkan mempertaruhkan nyawa, demi memperjuangkan cinta.

Saya mulai menyadari bahwa kehadiran suami saya, atau calon suami di waktu itu, adalah seperti sedang melakoni skenario dari Allah yang memang telah terancang dengan sempurna sebagai penggenapan atas janjiNya, yaitu mempertemukan kami berdua tepat pada waktunya. Pertemuan memang dirancangkan Allah, namun perjuangan untuk menjalani dan memelihara hubungan adalah satu hal tersendiri.

Saya teringat ketika Ia mau menerima apa adanya keadaan saya dan keluarga saya yang penuh dengan “keaiban” dengan lapang dada, bahkan Ia selalu mendukung dan menopang di kala jiwa saya merasa begitu lemah hingga membuat saya punya semangat hidup hingga sekarang. Saya sungguh terharu atas pengorbanannya, dan salut untuk penerimaan tulus yang Ia berikan kepada saya.

Tak semua calon pasangan hidup bisa menerima kehidupan keluarga kita, diperlukan kerendahan hati untuk dapat sampai ke tahap itu.

Banyak juga saya jumpai sepasang suami istri yang secara kasat mata mungkin terlihat bersatu padu, namun dalam kenyataan kehidupan pernikahannya, mereka tetap memiliki “kubu” di masing-masing pihak keluarga. Maka tak heran bila di acara resepsi pernikahan sering kita jumpai mempelai (atau keluarga mempelai) yang membedakan secara terang-terangan antara kotak sumbangan untuk pihak wanita dan pihak pria.

Oleh sebab itulah, saya meyakini bahwa segala sesuatu yang boleh terjadi di dalam kehidupan kita tak lepas dari rancangan Tuhan. Semua telah dirancangkanNya sempurna, indah pada waktuNya.



2. Complementarity, Not Compatibility

[Image: gizmodo.com]
Mencari pasangan hidup untuk melengkapi diri kita, bukan berdasarkan kecocokan semata.

Siapa sih yang ga ingin punya pasangan sesuai kriteria yang ada di imajinasi kita? Apa salahnya kalau kita berusaha mencari, mencari, dan terus mencari yang terbaik, sesuai dengan kriteria kita itu? Yah, memang tidak ada salahnya sih. Tapi coba kita kembali berpikir sesuai dengan realita yang ada. Bukankah setiap individu dilahirkan dengan keunikan dan karena itu, memiliki kelebihan (dan kekurangan) sendiri-sendiri? Dengan saudara sekandung, bahkan saudara kembar sekalipun, yang dengannya kita banyak memiliki kemiripan, tetap saja ada perbedaan. Apalagi dengan pasangan hidup, tentunya tidak akan pernah lepas dari yang namanya perbedaan.

Saya dan suami memiliki kepribadian yang amat berbeda; perbedaan yang justru kini amat saya syukuri. Saya, yang memiliki kepribadian sanguinis - suka blak-blakan, yang karena saking “terbuka”nya mungkin, akhirnya dipersatukan dengan orang bertipe plegmatis seperti suami saya - orang yang lebih cenderung tenang dan memilih diam jika memang tak perlu bicara, yang saking “tertutup”nya, jarang sekali terdengar suaranya bila kita sedang berada di suatu kerumunan orang. Meskipun kami berbeda kepribadian, namun hingga saat ini, kami dapat berkomunikasi dengan cukup baik.

Beda sikap, cara pandang, cara berpikir, cara kerja, bahkan beda pilihan pun tetap akan ada, selama apapun sebuah hubungan telah dijalani. Seiring dengan berjalannya waktu, semuanya itu akan bisa kita atasi, by progress. Yang paling penting adalah bagaimana mindset kita dalam menyikapi perbedaan itu. Bukan sekadar merasa cocok atau tidak, namun lebih kepada menyatukan perbedaan yang ada.

Jangan pernah bermimpi bahwa nanti setelah menikah semuanya akan jadi serba cocok, yang ada adalah lebih banyak ketidakcocokkan dan kecekcokan dalam berbagai hal.

Pada dasarnya, yang paling diperlukan adalah penguasaan diri. Semakin baik kita mampu menguasai diri, relasi kita dengan siapapun juga akan terbentuk semakin baik.

Baca juga: 4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

Pandanglah ketidakcocokkan, bukan sebagai bumerang dalam hubungan, namun jadikanlah itu sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memang senantiasa diperlukan untuk mendewasakan kita.


3. Build a Work Team

[Image: wired.com]

Permainan blok lego adalah permainan kesukaan anak-anak saya. Ketika saya mengamati mereka bermain menyusun balok-balok itu, anak saya yang lebih besar terlihat mampu membuat kreasi bangunan yang sophisticated sementara adiknya yang lebih kecil hanya bisa menyusun blok-blok tersebut ala kadarnya. Meskipun mereka memiliki kemampuan kreativitas yang berbeda, mereka tidak habis akal, mereka menyatukan hasil kreasi mereka masing-masing dan hasilnya, jadilah sebuah castle yang indah (menurut imajinasi mereka, tentu). Good job, Kids!

Dari permainan anak-anak ini kita bisa belajar satu hal: Ketika kita ingin membangun sebuah "menara" bernama keluarga yang indah sesuai imajinasi kita, maka janganlah kita hanya berandai-andai saja, but DO that! Bersama dengan pasangan hidup kita, mari kita kerjakan bersama “proyek” yang sudah Tuhan percayakan kepada kita dengan terus menerus menyusun balok-balok keintiman sehingga semakin hari semakin bertumbuh menjadi bangunan yang semakin indah.

Meskipun saya dan suami sama-sama wirausahawan, kami memiliki bidang bisnis yang berbeda. Namun demikian, bukan berarti juga saya kerja sendiri dan dia kerja sendiri. Sekalipun terkadang saya sering ga “nyambung” dengan masalah urusan pekerjaan suami, setidaknya saya cukup paham seperti apa kondisi usaha suami saya, demikian juga sebaliknya. Suami saya adalah supporter nomor 1 saya. Ia men-support bisnis saya dengan tenaga dan waktu yang tak terbatas sekalipun. Begitu juga dengan masalah anak. Seperti juga kebanyakan pasangan muda yang baru menikah (atau baru merencanakan untuk menikah), kami kuatir dengan banyak hal tentang anak. Mulai dari takut ga bisa punya anak, kalau sudah punya anak takut ga bisa mencukupi kebutuhan anak, kalau kebutuhan anak sudah tercukupi takut ga bisa mendidik anak dengan baik, dan banyak sekali ketakutan dan kekhawatiran kami lainnya. Belum dilakoni, tapi sudah gentar duluan. Suami saya amat supportive dalam hal mengasuh anak, dan saya berterima kasih kepadanya untuk hal itu. Tugas untuk “ngopeni“ anak bukan saja terletak di tangan seorang ibu, namun seorang ayah yang bertanggung jawab mempunyai bagian tugas juga untuk membantu anaknya belajar banyak hal. Suami saya terlibat langsung mempersiapkan bahan untuk mengajari anak berhitung dengan cara yang mudah diingat, bahkan untuk urusan perbekalan makan untuk anak disekolah pun, Ia tidak kalah hebat dengan juru masak kami di rumah lho!

Baca juga: 3 Cara Suami Mengatakan "I Love You" yang Seringkali Tak Terdengar oleh Istri

Akhir kata, saya hanya ingin memberikan spirit bagi semua pasangan muda yang sedang mempertimbangkan tentang dunia pernikahan dan membangun keluarga. Pertama, jangan khawatir. Pengalaman saya menunjukkan bahwa kekhawatiran-kekhawatiran kita seringkali tidaklah ada artinya jika kita memiliki semangat untuk berjuang mencapai impian dengan kekuatan dari Tuhan. Kedua, putuskan dengan bijak!

Jangan khawatir dan putuskan dengan bijak, Tuhan memberkatimu!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Ingin Terjebak dalam Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lany Inawati | @lanyinawati

seorang ibu rumah tangga yg sedang berbagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak sembari menulis agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang #bighug

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar