Mood Kerja Hilang setelah Liburan? Yuk Kembali Semangat! Ini 4 Caranya

Work & Study

[Photo credit: attitudemag.com]

7K
Masuk kerja setelah libur Lebaran? Rasanya tubuh lebih memilih untuk memperpanjang liburan.

“Aku benci Senin!”

Pernah dengar ungkapan itu? Apakah Anda merasakan hal yang sama? Setelah liburan [ada yang Minggu saja, ada yang Sabtu plus Minggu bagi yang punya privilege five days work], rasanya malas sekali untuk bangun pagi dan berangkat bekerja. Apalagi Senin tanggal 3 Juli ini!

[Photo credit: vijesti.me]

Masuk kerja setelah libur Lebaran? Rasanya tubuh lebih memilih untuk memperpanjang liburan.



“Kok rasanya cepat sekali pulang ke rumah, ya?”

ujar istri saya saat menuju Bandar Udara Kingsford-Smith, Sydney, untuk terbang ke Surabaya via Singapura. Padahal, hampir dua minggu kami berada di Aussie. Minggu pertama saya ada tugas bicara sekaligus launching buku terbaru saya, 100 Inspiring Stories for Greater Success, di Adelaide. Minggu kedua memimpin seminar keluarga di Sydney.

Setiap kali terbang jauh - terutama yang berwaktu tempuh lebih dari 20 jam, seperti Amerika dan Kanada - kata ‘pulang’ jadi multitafsir. Meskipun senang bertugas sekaligus berlibur ke mancanegara, kata ‘pulang’ bisa berarti ‘waktu untuk bekerja kembali’ atau - yang lebih romantis dan filosofis - ‘rasa kangen yang membuncah terhadap kampung halaman’.

Arti kedua itu yang seringkali menghinggapi saya saat mau pulang. Begitu tiba di rumah dan istri membelikan nasi pecel dengan lauk apa adanya - karena masih banyak warung dan resto yang tutup - rasanya nikmat sekali. Anak bungsu saya sampai hampir menghabiskan nasi jatah untuk kami berempat. Wkwkwk. Maklum selama di Aussie kami hampir tidak menyentuh sama sekali menu Indonesia. Apalagi waktu berada di Kangaroo Island. Menu yang kami santap setiap hari hanyalah burger dan fish and chips! Rasa saus tartar yang mula-mula cetar dan menggelegar di lidah jadi terasa datar!

Baca Juga: Asal Kita Peduli, Bermartabat di Mata Dunia Bukanlah Mimpi. Untuk Indonesia yang Hebat, Bangkit!


Begitu menginjak ‘kampung halaman’, pekerjaan menumpuk. Halaman yang kotor, rumah yang berantakan dan mobil yang tidak bisa distarter karena akinya soak hanyalah ‘puncak gunung es’ dari pekerjaan yang seakan tidak pernah ada habisnya.

Baru pada libur Lebaran kali inilah saya mencuci baju mulai jam tujuh pagi sampai hampir jam enam sore. Rekor baru bagi saya. Maklum, kami pergi saat winter sehingga jumlah pakaian kotor yang harus dicuci berlipat dibandingkan jika kami pergi di saat summer. Jika pergi di musim dingin - apalagi ke tempat bersalju - kami harus membawa long john, sweater, jaket tebal yang semuanya membuat koper menebal dan cucian menggunung.

[Photo credit: Huffington Post]

“Di-laundry saja, Ma!” usul anak sulung yang sangat saya setujui.

Namun, gelengan istri - yang pandai berhemat - membuat kami harus berkeringat. Maklum, sejak PRT pulang untuk menikah, kami belum ada pengganti sampai hari ini.

Belum lagi badan bisa beristirahat karena semalaman terbang dan transit di negara orang plus jet lag, anak bungsu saya lapor, “Ini kita diajak kumpul keluarga besar di Tree Tops, Trawas!” Anak remaja saya ini masih tetap bersemangat meski badan penat. Sebaliknya, kami yang lebih ‘dewasa’ ... hehehe ... memilih untuk istirahat.

“Nanti malam saja kumpulnya,” jawab istri saya yang kami timpali dengan koor "Setuju!".

Kembali ke ungkapan “Aku benci Senin!” yang mewakili keengganan kita untuk bekerja kembali setelah liburan. Bisakah kita menyulapnya menjadi “Aku cinta Senin!”? Bisa! Inilah cara yang saya pratikkan selama ini.



1. Tiap Hari Baik

Saat mau menikah dulu, saya tidak ambil pusing ‘mencari hari’ segala. Bahkan, akhirnya kami menikah di bulan yang menurut banyak orang merupakan bulan yang tidak baik. Namun, bagi kami, dan keluarga besar, justru sebaliknya. Di bulan orang menghindari pesta pernikahan, sewa gedung, MC, band, makanan, semuanya jatuh jauh lebih murah ketimbang ‘hari ramai’.

Demikian juga hari Senin. Senin sama saja dengan Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Jadi, cintai hari Senin seperti hari lainnya. Untuk apa menganaktirikan hari Senin? Toh kita tidak mengandung, melahirkan, apalagi membesarkannya! Wkwkwk.

Baca Juga: Sahabat Saya Meninggal, Konon Ia Kena Kutuk. Ramalan, Kutukan, Santet, Feng Shui, Bagaimana Menyikapinya?



2. Awali dengan Baik

[Photo credit: Huffington Post]

“When your morning is right, your day will be bright!”

Begitu motto pertemuan “Morning Worship” yang saya ikuti setiap Rabu pagi. Meskipun saya harus bangun jauh lebih pagi dari biasanya, saya mengikutinya dengan antusias. Mengapa? Karena saya bertemu dengan orang-orang yang antusias. Antusiasme itu menular.

Berangkat dengan semangat

Kerja dengan giat

Pulang dengan selamat

Begitu motto sebuah perusahaan furniture premium yang sering mengundang saya untuk membekali para karyawannya!



3. Kumpulkan Uang untuk Liburan Mendatang

[Photo credit: inc.com]

“Enak ya jadi Pak Xavier. Setiap tahun liburan keluar negeri,” begitu ujar seorang ibu setengah baya saat menjamu kami sekeluarga di Hurricane’s Grill, Circular Quay, Sydney.

Sebenarnya kata ‘liburan’ tidak 100% tepat. Memang benar tiap tahun kami selalu keluar negeri, tetapi bukan semata untuk liburan. Saya ada undangan bicara entah memimpin camp atau seminar. Karena meninggalkan tanah air cukup lama - biasanya sekitar sepuluh hari sampai dua minggu - maka saya pakai kesempatan ini untuk berlibur bersama keluarga.

Bagi saya, jika dilihat dari gaji, berlibur keluar negeri sebenarnya merupakan kemewahan yang tidak selalu bisa saya jangkau. Untuk itu, saya perlu mengingatkan diri saya untuk bekerja dengan rajin - mengais rupiah demi rupiah - agar bisa pergi bersama keluarga. Bukankah yang diundang bicara adalah saya? Jadi, pengundang membayari tiket dan akomodasi saya. Bagi keluarga? Akomodasi bisa saja nunut, tetapi biaya tiket dan lain-lain, kan, tetap harus saya perjuangkan!

Ada yang menganggap liburan sebagai pemborosan. Bagi saya, liburan adalah menjaga keseimbangan.

Tidak ada yang murah, apalagi gratis, untuk mempertahankan keseimbangan hidup. Jika tidak seimbang, kita bisa tumbang! Saya pernah menulis di RibutRukun tentang kakak saya yang baru sadar pentingnya liburan setelah mengalami kecelakaan.

Baca Juga: Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Ini Sebabnya



4. Kerja itu Ibadah

Masih ada saja orang yang menganggap bahwa kerja adalah kutukan Tuhan. Mereka menyalahartikan pengusiran Adam dan Hawa dari Taman Eden karena melanggar perintah Tuhan. Jika membaca Kitab Suci dengan teliti, kita tahu bahwa Tuhan sudah meminta kita untuk bekerja sebelum kita jatuh dalam dosa.

Jadi, kerja adalah berkah, bukan sumpah serapah.
Jika kita memaknai kerja sebagai ibadah, kita akan memandang pekerjaan itu indah.

Konsekuensi logisnya, cintai pekerjaan Anda. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Steve Jobs, The only way to do great work is to love what you do”.

[Photo credit: 30life.org]

Sikap mental demikianlah yang membuat kita tidak ogah-ogahan saat harus bekerja kembali sehabis liburan.

Baca Juga: Tak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya



Baca Juga:

Jenuh dengan Pekerjaan? Jangan Buru-Buru Resign, Coba Lakukan Dulu 3 Hal Ini!

Jangan Sesal Jadi Ujung Suksesmu. Belajar dari Sakitnya Jet Li, Persiapkan Ini Selagi Muda

Stres dalam Pekerjaan: Sadar atau Tidak Sadar, Ini 3 Pemicunya. Kenali dan Atasi demi Kebahagiaan Diri



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mood Kerja Hilang setelah Liburan? Yuk Kembali Semangat! Ini 4 Caranya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar