Keindahan yang Terhilang karena Handphone di Tangan. Sebuah Kisah Nyata

Reflections & Inspirations

i.bp.blogspot

977
Saya memandangi handphone saya, dan memikirkan kehidupan anak-anak muda masa kini.

Sambil mendengarkan lagu-lagu tahun 90 an, ingatan saya dibawa terbang ke ruang nostalgia untuk melihat-lihat kembali kenangan-kenangan masa lalu saya. Tidak tahu mengapa, setiap saya mengingat apa yang saya alami di masa lalu, mata saya selalu berkaca-kaca dan ingin sekali rasanya kembali ke masa itu. Saya biasanya bergumam dalam hati, andaikan ada Doraemon yang bisa saya pinjam mesin waktunya. Hehe..

Saya tumbuh dan besar di satu kampung kecil. Satu kampung yang masih sangat asri. Saya ingat sekali banyaknya ikan dan udang di sungai-sungai kecil yang membuat saya tidak akan kekurangan gizi sekalipun di kampung tidak ada pizza, spaghetti, hamburger, dan lain-lainnya

assets.kompasiana

Di kampung kecil itu, saya besar dengan diajarkan sopan santun yang sangat ketat. Yang muda harus menghormati yang lebih tua, dan kita harus menyapa siapa saja yang kebetulan bertemu dengan kita. Kita juga diajari bagaimana berelasi dengan orang yang lebih tua dan bagaimana pula dengan yang sebaya.

Di kampung kecil tersebut juga saya tumbuh besar dengan kegirangan-kegirangan. Saat itu di depan rumah saya ada lapangan bola, dan setiap sore saya akan bermain sepakbola di sana bersama teman-teman. Di masa sekolah dasar juga kami mengenal adanya musim-musim permainan. Ada musim layangan maka semua orang bermain layangan, jika musim main gambar makan semua orang main gambar, jika musim main kelereng maka semua orang main kelereng.

Baca juga: Orangtua, Ajarlah Anak-anak Bermain secara Kreatif dan Imajinatif. Inilah Caranya!

beritadaerah

Di kampung kecil tersebut juga saya mempunyai banyak waktu bersama keluarga.

Pada malam hari, satu-satunya hiburan kami adalah menonton siaran tv bersama keluarga. Tv adalah harta karun yang paling berharga, karena kami merasa melalui tv kami sudah bisa mengetahui seluruh dunia. Biasanya sambil menonton tv, ada goreng pisang, kopi atau makanan ringan lainnya yang disajikan. Sesekali kalau bosan dengan snack, kami bersama masak bubur untuk menemani malam hari kami.

Di kampung kecil tersebut juga, jam tidur warga sangat teratur. Jam 9 malam pastiorang-orang sudah tidur, dan besok pagi jam 5 pasti semua sudah bangun. Kehidupan begitu segar dan bersemangat untuk kembali melanjutkan belajar di sekolah atau kegiatan lainnya.

Baca juga: Menemukan Keindahan dalam Perbedaan lewat Lagu Natal Rudolph the Red Nose Reindeer

Di kampung tempat saya tinggal terdapat satu gereja sederhana. Setiap malam minggu dan hari minggu pagi, saya akan pergi beribadah di gereja. Malam natal tentu menjadi malam yang di tunggu-tunggu karena biasanya ada ibadah yang sangat menyentuh.

Tetapi sayang, tidak ada dokumentasi-dokumentasi yang bisa saya lihat kembali. Dokumentasinya hanya ada di pikiran dan di hati; terpateri di dalam ingatan dan tidak dalam bentuk foto atau video.

Di tengah hayalan dan pikiran tentang masa lalu, tiba-tiba ada bunyi chat WA di handphone. Dan semua ingatan itu kemudian buyar dan saya kembali pada kehidupan saya di masa kini bersama sebuah handphone.

Saya memandangi handphone saya, dan memikirkan kehidupan anak-anak muda masa kini. Saya berkata dalam hati, "Ternyata sebuah handphone telah menggantikan semua keindahan itu!"


Ingin membaca artikel lain yang inspiratif? Klik di sini:

Demi Kebahagiaan Keluarga, Tonton Ulang Film Home Alone di Masa Liburan Ini

Untuk Indonesia yang Lebih Baik : Bakti Bagi Keluarga dan Negeri. Inspirasi dari Kartini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Keindahan yang Terhilang karena Handphone di Tangan. Sebuah Kisah Nyata". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yogi Liau | @yogiliau

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar