Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan

Marriage

[Image: relateinstitute.com]

15.3K
Pasangan berubah setelah menikah? Atau, jangan-jangan kita sendiri yang telah berubah?

“Dulu dia romantis sekali, sekarang kok jadi sadis yah?" ujar seorang ibu kepada saya di ruang konseling.

"Kehangatan tampaknya sudah menguap dalam keluarga kami. Saya pun sudah merasa tawar dengannya, Pak Xavier,” ujar ibu yang lain.

Kalimat atau keluhan semacam itu bukan sekali dua kali saya dengar saat mengobrol, baik di warung sego kucing atau pun di ruang konseling. Meskipun mayoritas ibu-ibu, tetapi ada juga seorang bapak lansia yang mengeluhkan hal yang sama.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang salah?

[Image: stylishwife]


The Triangular Theory of Love

The Triangular Theory of Love karya Sternberg [Sternberg and Barnes, 1988] bisa menjadi rujukan yang menarik. Karena dulu hobi fotografi, saya sangat mengenal tripod. Lewat piranti kaki tiga ini, kamera bisa jauh lebih stabil ketimbang dipegangi tangan, apalagi kalau sedang memakai lensa tele.

Sternberg membagi ‘perjalanan cinta’ menjadi tiga tahap krusial, passion [hasrat], intimacy [keintiman] dan decision/commitment [keputusan/komitmen]. Saya senang sekali dengan teori ini karena sangat pas dengan praktik keseharian yang saya hadapi saat mendengar curhatan orang kepada saya.


Hasrat Sesaat, Keintiman Bisa Seabad

Hasrat itu seperti nasi panas yang ditaruh di ceting ([Jawa = tempat nasi], yang sebentar hangat lalu menguap. Sedangkan keintiman seperti nasi yang ditaruh di magic jar, yang bisa tahan sampai malam. Saat sedang jatuh cinta, hasrat kita begitu menggebu-gebu. Inginnya berdekatan terus, ke mana-mana gandengan, lengket terus bagai prangko dan amplop, kata cinta diobral saat berjauhan melalui aplikasi chatting dan sebagainya.

Setelah menikah? Boro-boro gandengan! Pegangan tangan saja hanya pada saat menyebrang jalan. Lebih sering jalan sendiri-sendiri. Suami di depan, istri di belakang. Atau, istri jalan sambil cari barang discount, suami termehek-mehek membawa beberapa kantong belanjaan di belakangnya. Persis seperti nyonya besar yang anggun dengan porter di stasiun.

Baca Juga: Bagaimana Menjadi Romantis? Jangan Salah, Bukan Bunga atau Puisi Cinta, inilah 5 Hal Romantis yang Paling Diinginkan Pasanganmu!


"Will You Marry Me?"

Saat kita menjawab, “Yes!” ada keputusan penting yang telah kita ambil. Apalagi setelah berkata, “I do!” saat ditanya apakah kita bersedia mengasihi pasangan kita tanpa syarat ‘saat suka maupun duka’, ‘saat miskin maupun kaya’, ‘saat sakit maupun sehat’. Kita telah berpindah dari drama yang penuh bunga ke kehidupan nyata yang sarat air mata. Pada saat itulah mimpi berjalan di atas karpet mawar dan wewangian yang menguar berakhir digantikan dengan karpet yang berdebu dan aroma tubuh pasangan yang tak selalu wangi.

Keputusan telah kita ambil. Kita seharusnya tidak boleh melangkah mundur. Tawa dan tangis haru menghiasi wajah kita saat layar opera turun. Kita tersenyum senang saat buku cerita Hans Christian Andersen mengakhiri cerita dengan nada bahagia, “and they live happily ever after”. Setelah itu muncul tulisan “The End.

Padahal the end artinya masa kebahagiaan sudah lewat. Tirai sudah ditutup. Apa yang terjadi di balik layar? Benarkah mereka hidup bahagia selamanya? Itulah salah satu kebohongan terbesar yang kita terima saat kita membaca buku roman dan nonton film picisan.

Baca Juga: Terlalu Banyak Nonton Drama Korea dan Hal-Hal Lain yang Dapat Membunuh Relasi

Mengapa layar diturunkan? Mengapa tirai ditutup? Karena di baliknya ada realita menyakitkan yang akan segera terjadi. Sehabis bulan madu, hari-hari empedu pun mau tidak mau dilalui. Pembuat film, sutradara teater, penulis novel cinta, tidak mau kita melihat realita yang sesungguhnya terjadi behind the scene.

Baca Juga: Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya

Di film, semua itu bisa diulang lagi. Bagaimana dengan kehidupan nyata? Harus dihadapi! Di sinilah komitmen menjadi penentu utama.


Kata ‘Cinta’ adalah Kata Kerja

Di dalam sebuah seminar bertema ‘kebahagiaan’ yang dipimpin oleh pakar kepemimpinan John C. Maxwell, sang istri turut menyertai. Di sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya kepada Margaret, “Apakah suami Anda membuat Anda bahagia?” Good question.

Margaret tampak merenung sejenak, sedangkan sang suami harap-harap cemas. “Tidak,” ujarnya singkat yang membuat ruang seminar langsung hening. Keheningan yang seakan-akan membuat tarikan nafas sang suami terdengar jelas.

“John Maxwell adalah suami yang baik,” begitu dia melanjutkan, “Dia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan maupun berzina. Dia setia. Dia selalu memenuhi kebutuhanku baik jasmani maupun rohani. Meskipun demikian, dia tidak bisa membuatku bahagia. Mengapa?"

"Karena tidak ada seorang pun di dunia yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku kecuali diriku sendiri!”

Nah, jika terjadi perbedaan antara masa pacaran dan saat memasuki pernikahan, yang terkadang jurangnya begitu dalam, kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk membuat jembatan. Orang lain bisa saja menyediakan bahannya dan ‘how to do it’ -nya namun pada akhirnya, kita sendirilah yang mengeksekusinya. Caranya?


1. Mencoba memahami pasangan lebih dulu

Pahami baik kelebihan maupun kekurangannya ketimbang meminta pasangan untuk berubah. Alangkah baiknya jika kita yang mengubah diri kita sendiri lebih dahulu. Saya pernah melontarkan cuitan lewat twitter bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.


2. Diskusi dan kompromi ketimbang adu mulut

Memang tidak semua hal bisa dikompromikan, tetapi sedikit mengalah - asal tidak patah akan lebih berguna dari pada sama-sama kalah. Di rak buku saya, ada buku favorit dari Richard Carlson berjudul Don’t Sweat the Small StuffAnd it’s all the small stuff yang sering saya rujuk. Untuk apa menguras keringat, apalagi sampai mencucurkan darah, untuk sesuatu yang remeh temeh? Bukankah lebih produktif jika kita fokus kepada tujuan bersama yang lebih mulia.

Jika pernikahan yang berbahagia layak dikejar, mengapa tidak kita perjuangkan?


3. Kita sudah tidak bisa mundur lagi. Perceraian bukan solusi

[Image: oversixtly]

Apalagi menikah lagi!

Apakah kita bisa menjamin bahwa pasangan kita nanti lebih baik daripada yang sekarang? Agama mana pun secara prinsipiil tidak menghendaki perceraian. Ketimbang mengakhiri perjalanan cinta kita dengan harakiri, bukankah lebih baik jika kita memperbaiki diri sendiri? Daripada mengejar ambisi dan egoisme pribadi, mengapa tidak memperjuangkan nilai-nilai yang hakiki dan ilahi?



Baca Juga:

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Semakin Kokoh

2 Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

Rahasia Hubungan Cinta yang Harmonis: Lakukan 10 Hal Sederhana, Dengan atau Tanpa Kata-Kata ini, Setiap Hari




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar