Kecanduan Gadget? Inilah Jurus-jurus Ampuh yang akan Membebaskanmu

Reflections & Inspirations

photo credit: Khaleej Times

4.2K
Gadget alias gawai telah menjadi kebutuhan hidup masa kini. Namun, dalam perjalanan waktu, kita seringkali kehilangan kendali. Kita pun mengalami kecanduan gadget. Inilah jurus-jurus untuk melepaskan diri dari kecanduan yang makin marak ini.

Alkohol dan obat-obatan terlarang merupakan salah satu contoh benda yang dilarang digunakan secara sembarangan. Selain dapat mengganggu kesehatan, benda-benda itu membawa dampak buruk bahkan kematian. Namun, tanpa kita sadari, ada pula satu benda yang tak dilarang namun memiliki efek buruk bagi penggunanya.

GAWAI (Gadget)

Siapa bilang gadget tidak dapat menyebabkan hal buruk bagi penggunanya?

Kemarin, seorang teman bercerita tentang kemarahan ayahnya di pertemuan keluarga. Kemarahan ayahnya dipicu oleh perasaan tidak dihargai oleh saudara dan anak-anaknya. Ia merasa kurang diacuhkan ketika sedang berbicara, karena seluruh keluarga sibuk dengan gadget mereka sehingga tidak fokus mendengarkan.

Akibatnya, di dalam pertemuan keluarga, ayahnya membuat peraturan baru yang mengatakan bahwa setiap kali pertemuan keluarga, seluruh gadget harus disita dan disimpan di suatu tempat. Hal itu dilakukan selama pertemuan berlangsung. Menurut ayahnya, peraturan itu diterapkan agar dapat memfungsikan kembali fungsi berinteraksi di dalam keluarga.

Di lain tempat, seorang pemuda mengeluhkan kelakuan pacarnya kepada saya. Ia menceritakan tentang hasil kencan romantic dinner mereka yang berakhir tidak romantis. Menurutnya itu merupakan romantic dinner tergagal yang pernah ia alami.

Tidak ada percakapan membangun yang terjadi karena kepala sang pacar terlalu sibuk naik-turun memperhatikan gadgetnya selama percakapan berlangsung.


photo credit: Khaleej Times

Kejadian yang sama juga pernah menimpa saya dengan pacar. Acara hang out kami berakhir menjadi pertengkaran hebat hanya karena sebuah gadget. Ia terlalu sibuk memainkan gadgetnya dan tidak memperhatikan percakapan kami. Badannya bersama dengan saya, namun pikirannya tidak di sana. Percakapan kami menjadi kosong dan menjadi tidak nyambung karena dia tidak fokus pada acara hang out itu.

Baca juga: Anak Tidak Bisa Dipisahkan dari Gadgetnya? Orang Tua, Segera Lakukan 5 Hal Penting Ini!

Kisah tragis lainnya juga pernah saya saksikan di sebuah tempat di jalan raya. Sebuah kecelakaan kecil terjadi hanya karena masalah gadget. Seorang penggendara mobil menabrak sepeda motor di sebuah persimpangan jalan. Sang pengendara motor mengalami luka ringan ditangannya. Hal itu terjadi karena sang pengemudi tidak fokus selama perjalanan. Ia sibuk membalas chattingan seorang teman yang mengajaknya bermain futsal. Hanya luka ringan, namun bisakah kita bayangkan jika kecelakaan yang terjadi adalah kecelakaan besar yang merenggut nyawa?

Apakah anda pernah mengalami masalah-masalah yang diakibatkan oleh gadget? Jika pernah, maka, selamat! Anda pun pasti telah menyadari bahwa gadget dapat memberi banyak kerugian, bukan?

Benda kecil itu dapat menyebabkan kematian kerukunan dalam rumah tangga, kematian keintiman bersama pasangan, bahkan menghilangkan nyawa seseorang.

Bukankah daya perusak gadget sama besarnya dengan bahaya merokok, alkohol dan narkoba? Oleh karena itu, sebelum kita terjerumus lebih jauh ke dalam bahaya tersebut, mari kita periksa diri kita:


1. Apakah kita telah terjebak dalam "Generasi Aku"

photo credit: CNBC

Albert Nolan, seorang pastor di Afrika pernah menuliskan kalimat ini:

“Cita-cita kultural dunia industri barat adalah individu-individu self-made, cukup diri, otonom yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan siapa pun (kecuali untuk urusan seks), namun tidak terikat pada apa pun.”

Menurut hemat saya, manusia hari-hari ini telah terjebak dengan cita-cita kultural dunia industri di atas. Kita diarahkan untuk bertumbuh menjadi orang-orang mapan diri sehingga terlepas dari segala hal dan tidak membutuhkan apa dan siapa pun. Kita terjebak untuk menciptakan “Generasi Aku”, di mana orang-orang hidup hanya untuk sibuk dengan dirinya sendiri.

Cita-cita ini tanpa disadari telah ditularkan melalui gadget. Benda kecil yang dapat membuka cakrawala dunia hanya dengan sekali “klik” itu telah membuat orang-orang di zaman ini tidak lagi membutuhkan orang lain. Semua yang mereka inginkan dapat diperoleh dengan mudah melalui gadget. Akibatnya, segala kepuasaan diri telah terpenuhi melalui gadget.

Kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Seperti manusia diciptakan harus makan untuk bertahan hidup, sebesar itu juga kebutuhan manusia untuk bersosialisasi jika ia ingin tetap hidup.

Baca juga: 5 Konsekuensi Tak Terbayangkan dan Tak Terhindarkan dari Kebohongan. Pikirkan Ulang Sebelum Berbohong!

Nolan mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang memenuhi cita-cita kultural industri hanya akan mengalami keterasingan, kesepian, kekurangan cinta, ketidakbahagiaan dan ketidakmampuan menjaga relasi.

Ukurlah dirimu, sejauh mana gadget telah membawamu menjauh dari orang-orang terdekatmu.


2. Apakah mungkin kita telah kecanduan?

photo credit: Nairaland

Kita mungkin merasa lucu mendengar kisah Chang His-Hsum, pria Tiongkok yang memutuskan untuk berahi terhadap boneka Barbie sehingga menikahinya. Kita juga merasa lucu membaca kisah Amy Wolfe yang memutuskan untuk menikah dengan “teman masa kecilnya” yaitu roller coaster. Ada juga Liu Ye yang memutuskan untuk menikahi dirinya sendiri.

Semua kisah itu merupakan kisah yang aneh nan lucu dan akan membuat kita terheran-heran membaca berita itu. Selain tidak masuk akal, mereka menganggap orang-orang itu gila karena bertingkah seperti itu.

Ada lagi satu kelucuan yang tidak kita sadari. Orang-orang yang menikah dengan gadget. Mereka mungkin tidak menggelar pernikahan mereka dengan gadget di media sosial namun perilaku mereka setiap hari telah menunjukkan hal itu.

Ketika kita mulai menghabiskan waktu kita lebih banyak bersama gadget dari pada pasangan kita, maka mulailah bertanya “Sebenarnya siapakah yang kita cintai?” ketika kita lebih perhatian kepada gadget ketimbang pasangan kita, maka mulailah bertanya, “Siapakah yang kita nikahi?”

Gadget membawa kecanduan dan kecanduan terhadap gadget sama besar dengan kecanduan pornografi, rokok, alkohol bahkan narkoba sekalipun. Mulailah berpikir dengan akal sehat. Apakah saya telah kecanduan terhadap gadget?


3. Keseimbangan

photo credit: Khaleej Times

Tentunya pemakaian gadget tidak akan dilarang di dalam masyarakat. Tidak akan ada peraturan pemerintah yang melarang penggunaan gadget atau terbitnya undang-undang mengenai penggunaan gadget. Namun, kita perlu kembali berpikir kritis tentang gadget kita. Hal yang perlu diingat adalah gadget tidak dilarang, namun perlu diseimbangkan penggunaannya.

Baca juga: Inilah 5 Khasiat Pelukan dan Ciuman yang Seringkali Tak Terpikirkan, Padahal Memperkuat Relasi dan Keluarga


Ada beberapa pertanyaan “Gadget’s check-up” yang bisa menolong diri kita untuk mengukur keseimbangan pemakaian gadget:


1. Seberapa sering saya memakai gadget dalam sehari? Jika sehari kita menghabiskan waktu untuk bermain gadget berjam-jam, kita perlu berpikir ulang.

2. Apakah saya terlalu khawatir jika lupa membawa gadget ketika berpergian ke suatu tempat? Rasanya tidak nyaman jika dipisahkan jauh-jauh dari gadget kita.

3. Apakah saya memiliki lebih dari 3 gadget?

4. Apakah saya bisa bergonta-ganti gadget di dalam satu tahun?

5. Apakah di dalam pertemuan-pertemuan penting, misalnya, pertemuan kerja, rapat, atau bahkan ibadah, saya sulit untuk tidak melihat gadget ? Atau tidak tahan untuk segera membalas chat seseorang.

6. Jika ada seseorang yang tidak dikenal duduk di samping saya, apakah saya lebih memilih untuk bermain gadget atau mengajak berkenalan orang tersebut?


Cobalah menjawab pertanyaan di atas dengan jujur dan renungilah hasilnya. Gadget seharusnya tidak menguasai kehidupan kita. Sesuatu yang berlebihan memang tidak selalu membawa dampak yang baik.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kecanduan Gadget? Inilah Jurus-jurus Ampuh yang akan Membebaskanmu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar