Karena Warisan, Anak Tega Gugat Ayah yang Berusia Senja. Jangan Harta Memecah Keluarga, Bijak Mewaris, Ini Kiat Orangtua Saya

Parenting

[Image: Warta Kota]

8.3K
Mama beberapa kali berujar, "Pada umumnya, anak-anak cenderung kurang menghormati orangtua yang tidak memiliki apa-apa."

Johanes termenung sedih. Sesekali dia mengusap matanya yang berair. Jaksa menuntutnya hukuman 3 tahun penjara.

[Image: tajuk.id]

Peristiwa tragis ini bermula ketika Johanes mewariskan sebidang tanah di Teluk Gong Utara pada anak angkatnya, Robert dan istrinya, Jessica. Keduanya sudah diangkatnya sebagai anak, disekolahkan hingga ke luar negeri, sampai dinikahkan.

Tanpa pernah dibayangkan, hal buruk bisa terjadi. Tanah yang akan diwariskannya untuk mereka kelak, dibaliknamakan, menjadi atas nama Robert. Menurut logika Johanes, karena dia masih hidup, sertifikat tetap disimpannya. Sertifikat akan diberikan jika dia sudah meninggal. Itu sebabnya dia bersikukuh ketika Robert dan Jessica meminta sertifikat.

"Kan ini warisan ... mestinya ya diserahkan setelah si pemberi meninggal," ujar pria berusia 60 tahun ini.

Tak kurang akal, kedua insan ini melaporkan ayah angkat mereka dengan pasal penggelapan dengan tuntutan ganti rugi sebesar 10 milyar. Keduanya berpikir, jika sudah atas namanya, maka itu sepenuhnya hak mereka. Perbedaan persepsi ini menimbulkan perpecahan.

Membaca kisah ini, saya teringat akan prinsip bijak yang dipegang oleh Papa dan Mama. Kiat-kiat sederhana namun menolong, agar orangtua tetap dihormati dan keluarga rukun.



Harta Jangan Dibagi Hingga Kedua Orangtua Meninggal

Prinsip ini dipegang teguh oleh Papa dan Mama. Bahkan, berdasarkan permintaan Mama, harta peninggalan hanya boleh dibagi setelah lewat 2 tahun Beliau meninggal. Papa dan Mama memiliki beberapa aset berupa toko, rumah, dan gudang. Saya anak tertua dengan 2 adik laki-laki. Sejak awal kami sudah diberitahu bagian masing-masing, tetapi semua masih atas nama salah satu orangtua. Mereka tidak membuat surat wasiat.

[Image: medium]

Mama beberapa kali berujar,

”Pada umumnya, anak-anak cenderung kurang menghormati orangtua yang tidak memiliki apa-apa. Karena itu, warisan hanya boleh dibagi setelah kedua orangtua meninggal.”



Orangtua Jangan Hidup Menumpang

Suatu hari, seorang teman bercerita pada Mama. Ia akan menjual rumah sekaligus toko, satu-satunya harta miliknya. Kemudian, dia akan menumpang di rumah salah satu anaknya di Jakarta. Kebetulan ibu ini memiliki 2 anak yang tinggal di ibu kota.

“Dalam keadaan apa pun lebih enak tinggal di rumah sendiri. Mau pergi, makan atau tidur terserah … tapi di rumah anak, belum tentu. Apalagi di kota besar, tidak mudah kemana-mana. Mau pergi harus menunggu ada yang mengantar. Bisa bosan jadi penunggu rumah. Tidak kurang juga contoh teman yang dijadikan babysitter untuk menjaga cucu di rumah anaknya. Serba sungkan.” demikian nasihat Mama pada sahabatnya,

"Biarpun penghasilan toko tidak seberapa, setidaknya bisa dapat uang jajan tanpa harus minta ke anak."
[Image: bloomberg.com]

“Belum lagi kalau anak sedang bertengkar dengan pasangannya. Posisi kita sebagai orang yang menumpang kan jadi serba tidak enak,” tambahnya.

Sesungguhnya tidak selalu situasinya seperti apa yang dikhawatirkan Mama. Prinsip ini lebih didasari sifatnya yang mandiri dan tidak ingin merepotkan orang lain. Tidak sedikit anak dan menantu yang memanjakan dengan berbagai fasilitas dan memberi kebebasan pada orangtua yang tinggal di rumah mereka.

Pendapat umum lainnya, jarang mertua perempuan bisa rukun dengan menantu perempuannya. Setelah Papa dan adik saya yang tertua meninggal, Mama tinggal berdua dengan menantunya. Adik ipar saya, Ayda, sayang sekali pada Mama dan merawatnya dengan sangat baik. Bahkan saya, putri kandungnya, tidak setelaten Ayda. Puji Tuhan! Tidak semua orang seberuntung Mama yang memiliki menantu-menantu yang baik.

Kesimpulannya, selalu ada perkecualian di sela-sela berbagai pendapat umum.

Baca Juga: Relasi Harmonis Mertua dengan Menantu: Mustahil? Inilah Rahasia yang Terkuak dari Mertua yang Berhasil Menjadikan Menantu-menantunya bak Malaikat



Dibagi Hanya Antarsaudara

Ada sebuah peristiwa yang berkesan di hati saya, yaitu ketika Mama membagikan perhiasan peninggalan nenek. Seorang adik Mama sejak muda sekolah di China. Karena perubahan situasi politik, dia tidak bisa kembali ke Indonesia. Ketika hubungan Indonesia - China membaik, paman itu datang mengunjungi saudara-saudaranya di Indonesia.

Memanfaatkan kesempatan itu, Mama mengumpulkan adik-adiknya dalam sebuah ruangan tertutup. Mama anak tertua dengan 3 adik laki-laki. Pasangan dan anak-anak tidak boleh ikut hadir. Mereka berembuk membagi perhiasan yang ada.

“Kalau hanya antarsaudara itu mudah. Yang kerap kali menimbulkan rasa tidak puas justru pengaruh dari pasangan,” ujar Mama menjelaskan alasannya.

"Dengan saudara sendiri, lebih atau kurang sedikit tidak apa-apa.
Yang penting persaudaraan dan persatuan tetap terjaga,"
ujar paman tertua.
[Image: lifehacker.com]

Sesungguhnya, semua kembali pada nilai-nilai yang dipegang oleh keluarga dan karakter masing-masing anak dan menantu.

Ada yang mengatakan, selama semua anak berkecukupan maka warisan orangtua bukan sesuatu yang diperebutkan. Tetapi jika berkekurangan, itu yang menjadi sumber pertengkaran dan perpecahan keluarga. Ternyata tidak selalu demikian.

Seorang teman mengeluh, dua puluh tahun lalu dia diberi warisan rumah besar di pinggiran kota Surabaya Barat. Sedang adiknya diberi rumah lebih kecil tetapi di pusat kota Surabaya yang jauh lebih mahal harganya. Dengan berjalannya waktu, ternyata Surabaya Barat berkembang pesat sehingga nilai rumahnya melonjak drastis. Sedangkan rumah adiknya cenderung stagnan. Akibatnya jika dinilai saat ini, warisan teman saya jauh lebih besar nilainya. Sang adik sekarang menuntut, meminta bagian dari nilai rumah teman saya dengan alasan pembagian warisan tidak merata.

Baca Juga: Banyak Orang Berpikir seperti Saya: Uang, Rumah dan Mobil adalah Syarat Terciptanya Keluarga Bahagia. Ternyata Saya Salah!



Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Dari pengamatan secara umum berdasarkan pengalaman teman-teman, jika ada figur dalam keluarga, entah itu kakak atau adik yang disegani dan bijak, maka dia bisa menjadi pemersatu agar keluarga terhindar dari perpecahan saat pembagian warisan peninggalan orangtua yang tidak membuat surat wasiat.

Namun, alangkah lebih bijaksana jika orangtua membuat surat wasiat agar tidak menimbulkan keributan di kemudian hari.
[Image: ilmessagero.it]

Apabila suatu peristiwa terjadi di masa depan, yang membuat orangtua berubah pikiran, surat warisan boleh direvisi. Undang-Undang tidak mengatur berapa kali wasiat bisa direvisi. Artinya, bisa berkali-kali, tanpa batas.

Tidak ada salahnya tetap memegang prinsip-prinsip yang baik, demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.


"To give away money is an easy matter in any man's power.
But to decide to whom to give it, and how large and when,
and for what purpose and how,
is neither in every man's power
nor an easy matter."

- Aristotle



Baca Juga:

Bukan Hanya Angpao, Inilah 3 Hal yang Lebih Bernilai yang Harus Orangtua Berikan kepada Anak

Mereka Rela Menjual Nyawa demi Menjadi Kaya. Pesugihan, dari Tuyul sampai Nyi Blorong: Hanya Takhayul dan Cerita Bohong?

Rupanya Ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara Ini sebelum Terlambat!






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Karena Warisan, Anak Tega Gugat Ayah yang Berusia Senja. Jangan Harta Memecah Keluarga, Bijak Mewaris, Ini Kiat Orangtua Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar