Kanker Payudara Memulihkan Keluarga Saya. Sebuah Kisah Nyata tentang Kepahitan dengan Akhir yang Indah

Reflections & Inspirations

[Image: En Marche - Hospitaux]

10.5K
Rambut di kepala saya gundul, kuku jari kaki saya terlepas karena reaksi chemotherapy. Saya menderita kanker payudara sekaligus getah bening stadium 3B.

“Pa, apa kamu tidak malu punya istri seperti saya?”

tanya saya dengan perasaan hancur kepada suami saat berada di ranjang di ruang operasi.

Saya baru saja menjalani operasi mastectomy [pengangkatan seluruh payudara]. Rambut di kepala saya gundul dan kuku jari kaki saya terlepas karena reaksi chemotherapy.


Saya menderita kanker payudara sekaligus getah bening

[Image: medscape.com]

stadium 3B.


Saya tidak kuat, tidak siap mendengar jawaban suami saya. Saya pejamkan mata. Saya tidak menduga, pendamping hidup saya belasan tahun ini menjawab, “Tidak, Ma. Saya tidak malu. Bagi saya, Mama sekarang jauh lebih baik daripada dulu waktu masih cantik. Dulu Mama masih cantik seperti model, tetapi hatinya seperti setan. Saya senang sekarang. Saya tidak malu!”

Jawaban pria yang sudah memberi saya anak-anak yang cantik-cantik ini langsung meluruhkan kebencian yang menumpuk sekian tahun kepadanya.

Demikian kisah seorang ibu yang hidupnya mengalami kepahitan demi kepahitan setelah menikah. Saya mendengarkan setiap ucapan bibirnya dengan serius karena kisahnya mengajarkan tentang kehidupan.



Pahit yang Mengajar tentang Hidup

Kepahitan pertama, ujarnya, suaminya adalah orang yang kasar. Dia merasa tidak bahagia hidup bersama suaminya yang temperamental. Dia merasa hidup dan tidur dengan setan.

Kepahitan kedua, mertuanya mengharapkan ia bisa melahirkan anak laki-laki. Perasaan benci dan trauma itu muncul saat ibu ini masih berbaring habis melahirkan anak kedua. Mertua perempuannya datang dan berkata, “Kasihan kamu tidak punya anak laki-laki!” Ucapan yang sungguh menyakitkan.

Kepahitan ketiga, sang mertua sangat membedakan sikap dan perilakunya terhadap cucu-cucu perempuan dan cucu-cucu laki-laki. Setiap kali ulang tahun, kado yang diterima berbeda. Saat Imlek pun angpao untuk cucu laki-laki lebih banyak ketimbang yang diberikan kepada cucu perempuan. Saat cucu-cucunya berenang bersama, ketika ibu itu hendak membilas dan memandikan anaknya, dia bertemu dengan mertuanya yang sedang mengantar cucu laki-laki kebanggaannya. Di depan kamar mandi kolam renang, mama mertuanya berkata kasar, “Keluar dulu. Anak laki-laki duluan!”

Mendengar ucapan diskriminatif seperti itu, ibu itu langsung membungkus anaknya dengan handuk dan mengajaknya pulang untuk mandi di rumah. Sejak itu dia tidak pernah mengizinkan anaknya berenang bersama cucu laki-laki lainnya. Begitu bencinya dia terhadap mertuanya sehingga nomor hape mertuanya pun dia delete.

Rupanya aura dan hawa kebencian itu mau tidak mau dirasakan dan - celakanya - menular ke anaknya. Anaknya merasa jijik jika dicium oleh oma yang satu ini. Hal yang berbeda terjadi jika dia dicium oleh oma dari pihak mama.

Kebencian bukan hanya menguar, namun juga menular.

Karena merasa dihina dan disepelekan oleh mertua, ibu ini punya cara untuk ‘balas dendam’. Setiap kali acara keluarga, ibu ini tidak pernah memakai barang yang sama. Baju, tas, sepatu selalu baru. Dia ingin menunjukkan, walaupun dibenci mertua, dia tetap eksis. Mertuanya tambah membencinya. Yang menyakitkan, saat dia memberitahu suaminya tentang perilaku mamanya yang tidak adil, suaminya malah berkata, “Bekas istri ada. Bekas mama tidak ada.” Tantangan cerai itu langsung disambarnya. Dia merasa masih cantik dan bisa menikah lagi. Ternyata, meskipun diwarnai pertengkaran, perceraian tidak terjadi.

Baca Juga: Relasi Harmonis Mertua dengan Menantu: Mustahil? Inilah Rahasia yang Terkuak dari Mertua yang Berhasil Menjadikan Menantu-menantunya Bak Malaikat

Kepahitan demi kepahitan itulah yang menurutnya menjadi akar timbulnya kanker yang menggerogoti tubuhnya. Chemo demi chemo, radiasi demi radiasi secara cepat mengubah penampilannya. Ibu yang dulunya langsing, putih dan cantik kehilangan daya tariknya. Karena kuku jarinya yang menghitam dan lepas, dia tidak lagi bisa memakai high heel dengan ujung terbuka.



Pertobatan Selalu Berbuah Manis

Namun, ucapan suaminya yang merasa tidak malu berdampingan dengannya tiba-tiba mengubah suasana hatinya. Hatinya sejuk seperti disiram air dingin. Ibu ini mulai melakukan ziarah batin. Introspeksi. Air mata menggenang saat dia menyadari bahwa dirinya pun ikut andil dalam neraka yang tercipta di keluarganya. Sifatnya yang keras dan tidak mau kalah salah satunya.

Tidak ada manusia sempurna. Suaminya tidak. Mertuanya tidak. Dirinya pun tidak!

Pertobatan selalu berbuah manis. Dia mulai belajar untuk mengasihi suaminya apa adanya. Puncaknya terjadi saat dia bersedia pai kui [bersujud] untuk menghormatinya. “Seketika itu juga ada perasaan plong yang luar biasa. Kebencian saya terhadap mertua mulai menguap,” ujarnya. Keajaiban terjadi, kankernya disembuhkan. Yang lebih luar biasa, hubungannya dengan mertua dan suaminya dipulihkan.


Apa yang bisa kita pelajari dari kisah di atas?



1. Kebencian itu Merusak

Anggota keluarga yang menebarkan benih kebencian akan menumbuhkan ilalang dan rumput duri yang, jika dibiarkan, akan merusak seluruh taman keluarga. Seperti kebun, rumah tangga perlu dirawat.

[Image: sheknows.com]
Aliran air cinta, tambahan pupuk kasih dan siraman mentari sayang, membuat bunga kembali bermekaran dan tanaman kembali berbuah.

Baca Juga: 4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh



2. Kepahitan itu Membuat Tubuh Menjadi Sakit

[Image: mcwhiterlaw.com]

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” - Salomo

Ketika kita disakiti dan hati terluka parah sehingga mengalami kepahitan, kesehatan tubuh kita ikut terganggu. Daya tahan tubuh melemah sehingga memberi kesempatan kepada penyakit untuk menyerang. Bukan hanya itu, bibit penyakit yang selama ini dorman bisa tiba-tiba meloncat dan menyerang seperti doberman kelaparan.

Baca Juga: Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya



3. Pengampunan Membuat Tubuh Membalikkan Prosesnya

[Image: usnewshealth.com]

“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” - Salomo

Saat pengampunan dilepaskan dan kepahitan dibuang, sukacita kembali datang.

Keajaiban terjadi. Proses kesembuhan dimulai. Ibu itu kini terbebas dari kankernya. Saat mengobrol dengan saya, rambutnya kembali tumbuh subur. Kuku kakinya bertumbuh kembali. Wajahnya kembali merona. Kini dia dengan percaya diri berani lagi memakai sepatu dengan ujung terbuka, menunjukkan kuku kakinya yang dirawat dengan baik dan dicat secara menarik. Kecantikannya mulai kembali. Namun, menurut saya, kecantikan batiniahnya yang sekarang jauh lebih memancar keluar.



Baca Juga:

Bahagia, Meski Menderita Kanker dan Tak Berlimpah Materi. Bahwa Bahagia Sejatinya Perkara Hati, Keluarga Ini Membuktikannya

How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini

Menjadi Istri Kesayangan dan Kebanggaan Suami, Ini 4 Rahasianya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kanker Payudara Memulihkan Keluarga Saya. Sebuah Kisah Nyata tentang Kepahitan dengan Akhir yang Indah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?