Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, Ini Penting Untukmu!

Singleness & Dating

170.4K
Sudahkah kamu menjadi orang yang dicari oleh orang yang kamu cari?

Dalam acara jambore nasional dengan rekan-rekan muda beberapa waktu lalu, saya mendengar bagaimana dinamika dalam dunia pacaran sudah sangat berubah dari sewaktu saya pacaran beberapa tahun yang lalu. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan komunikasi yang tidak terbayangkan bahkan pada 10 tahun lalu.

Kepada mereka, saya bercerita bagaimana sulitnya melakukan pacaran jarak jauh dengan zona waktu yang berbeda. Ia berada di Surabaya dan saya di Makassar. Saat itu belum ada smartphones dan jaringan internet pun sangat terbatas. Oleh karena itu, bila ingin berbicara dengan sang kekasih, maka satu-satunya cara adalah dengan melakukan telepon interlokal. Dan untuk menghemat biaya, maka telepon itu dilakukan diatas jam 11 malam, ketika biaya telepon menurun banyak.

Rekan-rekan ini tertawa ketika saya berkata bahwa kesulitan itu menjadi makin besar karena kami berdua memiliki waktu melek yang berbeda. Saya merupakan orang pagi dan pacar saya merupakan orang malam. Akibatnya, pada masa-masa itu, tidak jarang pembicaraan kami tidak optimal, karena saya berada dalam keadaan setengah tidur dan hanya menjawab “Iya ...”, atau “Hmmm ...” Saya bersyukur pacar saya bisa mengerti dan kami mampu melewati masa-masa itu dengan terus membangun komunikasi dan relasi diantara kami.

Tetapi, terlepas dari perbedaan gaya pacaran yang ada antara saya dan rekan-rekan ini, banyak kesamaan yang juga terlihat. Masalah cemburu, bingung mencari hadiah, bahkan bagaimana menghadapi orangtua si pacar masih menjadi tantangan dalam setiap relasi. Demikian juga kerinduan untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan si dia, dimana kita dengan kreatifnya bisa menemukan topik pembicaraan baru agar waktu untuk berpisah itu bisa diundur.

Di saat itu, saya teringat sebuah kisah nyata yang menggambarkan sebuah prinsip yang sangat penting buat setiap kita, baik yang sedang pacaran, ataupun yang masih single. Lewat kisah ini, kita akan mengangkat dan menghancurkan sebuah mitos yang sangat kental dalam dunia pacaran, yaitu mitos Jodoh yang Tepat.


Jodoh yang Tepat

Bila kita bertemu dengan teman-teman yang sedang pacaran dan bertanya bagaimana mereka tahu kalau pasangan mereka itu adalah pasangan yang tepat, maka kebanyakan dari mereka akan menjawab salah satu dari versi jawaban berikut ini:

  • Ketika saya bersamanya, hati saya berdebar-debar.
  • Pagi, siang dan malam, di pikiranku hanyalah dia.
  • Kami bisa terus bercerita siang malam tanpa henti.
  • Hidup ini jadi lebih berarti sejak ada dia.
  • Bersamanya, semua masalah hilang.
  • Ia menerima saya apa adanya.
  • Saya merasa ada chemistry bersamanya.
  • Tidak ada orang lain yang bisa membangkitkan perasaan seperti ini.

Kita bisa mengamati bahwa kebanyakan dari jawaban itu berhubungan dengan perasaan saja. Kita merasa cocok dengan dia. Kita merasa bahwa dia itu paling mengerti saya. Kita merasa bahwa dia tercipta untuk saya.

Bila kekuatan perasaan itu menjadi satu-satunya landasan dalam keputusan untuk memulai satu rumah tangga, maka kita sudah terperangkap dalam mitos Jodoh yang Tepat ini. Mitos ini tidak berkata bahwa hanya ada satu jodoh yang tepat buat kamu. Itu mungkin saja terjadi. Tetapi Mitos ini berkata bahwa bila kita menemukan jodoh itu, maka semuanya akan beres. Bila kita menemukan pasangan yang tepat itu, maka hidup kita akan bahagia hingga akhir. Happily ever after.

[pinterest]
Orang yang memercayai mitos ini akan menjalani hidup tanpa berusaha untuk mengubah dirinya, karena ia percaya bahwa ketika waktunya tiba, akan datang seseorang yang bisa mengerti dia. Jodoh itu akan mampu melengkapi dia dan menutupi kekurangannya. Jodoh itu akan menerima dia dengan segala kekurangannya.

Bersamanya, orang ini akan menemukan surga di dunia. Mereka akan membangun keluarga yang ideal dan bebas dari masalah karena dialah jodoh yang tepat. “Kalau dia memang jodohku, dia pasti akan menerima aku apa adanya,” demikian argumentasi yang dikeluarkan ketika sahabat-sahabatnya menasehati dia untuk berubah. Mereka berkata, "bukankah dia tercipta untuk melengkapi aku?"

"Bukankah dia tercipta untuk melengkapi aku?"

Perangkap dari mitos ini akan menjerat setiap orang yang percaya padanya. Dan seringkali, perangkap itu muncul dalam bentuk masalah.

Karena ketika masalah muncul, maka yang pertama kali terkena dampak dari sebuah relasi adalah perasaan. Ketika persoalan datang, maka perasaan dan chemistry yang pertama kali lari meninggalkan relasi itu.

Kecuali kita memiliki Mesin Harapan yang bisa mengabulkan semua keinginan kita seperti yang dimiliki oleh Doraemon, kita akan selalu menemukan tantangan dalam relasi yang membutuhkan dasar yang lebih kuat dari sekadar perasaan semata untuk diselesaikan.

Pasangan yang membangun relasinya hanya berlandaskan perasaan akan segera menyadari kerapuhan dari relasi tersebut. Mereka yang hanya mengandalkan perasaan semata akan segera terbangun dari mimpi happily ever after dan mengetahui bahwa perlu ada fondasi yang kuat untuk membangun keluarga yang sehat, fondasi yang lebih dalam dari sebatas perasaan saja.

Jadi, hal apa yang bisa kita lakukan untuk tidak terjebak dalam mitos Jodoh yang Tepat ini? Apakah ada hal yang bisa saya lakukan saat ini dalam masa pacaran agar bisa membangun fondasi yang kuat untuk relasi ini? Dan bagaimana dengan kita-kita yang masih single, apakah ada hal yang bisa kita lakukan saat ini ataukah kita harus menunggu sampai ketika kita berpacaran sebelum kita bersiap diri?


Sebuah Pertanyaan

Inilah kisah yang saya bagikan kepada rekan-rekan saat itu. Kisah ini dituliskan oleh Andy Stanley dalam bukunya The New Rules for Love, Sex, and Dating. Ia bercerita tentang Denise, seorang wanita muda yang cantik dan pintar yang ia temui.

Denise adalah seorang wanita karir dengan masa depan yang bagus. Ia mudah bergaul dan rajin bekerja. Ia bertumbuh di keluarga yang baik, dimana nilai-nilai moral ditanamkan sejak kecil. Sebagai keluarga yang percaya Tuhan, Denise diajarkan nilai-nilai moral, seksualitas, dan betapa berharganya kekudusan diri seseorang. Dan tentu saja, seperti kebanyakan anak perempuan yang lain, ia pun bertumbuh besar dengan daftar syarat dan harapan akan seorang pria ideal yang ia inginkan untuk menjadi pasangan hidupnya suatu hari nanti.

Tetapi seiring berjalannya waktu, nilai-nilai tradisional itu mulai terasa kuno dan ketinggalan jaman. Seperti kebanyakan teman-temannya, ia memasuki masa muda mengikuti gaya hidup seks bebas. Ia mulai berpacaran dengan mengikuti kata hatinya. Ia menghabiskan banyak waktu dengan pesta dan bersenang-senang. Mottonya adalah: Selama saya merasa cocok, selama ada chemistry, maka saya akan jalan dengannya. Yang penting senang, yang penting bahagia. Dan hal itu ia lakukan selama bertahun-tahun, hingga ia masuk ke dunia kerja.

Buatnya, pasangan yang cocok akan datang dengan sendirinya dan oleh karena itu, dia menikmati gaya berpacaran yang populer dan berharap cowok ideal itu akan muncul dalam salah satu pertemuan. Ketika hal itu terjadi, ia akan mengetahuinya dengan segera dan akan melangkah masuk ke dunia pernikahan. Ketika pria itu datang, semuanya akan menjadi sempurna dan ia akan menemukan happily ever after.

Dan suatu hari, seperti sebuah hadiah utama undian berhadiah dari bank yang tiba-tiba saja datang menghampiri kita, Denise bertemu dengan cowok idealnya.

Dalam sebuah acara sosial yang diadakan oleh temannya, ia diperkenalkan kepada pria tersebut. Setelah berbincang-bincang dan mengenal pria itu, Denise menjadi begitu terkagum-kagum. Ia merasa bahwa inilah sang pangeran yang selama ini ia nantikan. Ia pulang dengan hati yang berbunga-bunga.

Pada akhir minggu berikutnya, Denise mengambil waktu untuk bercerita kepada ibunya tentang pria ini. Denise bercerita bagaimana pria itu sangat sesuai dengan daftar pria ideal yang ia miliki sejak kecil. Pria itu ganteng, memiliki karir yang baik. Ia tidak mata duitan. Pria itu memiliki integritas yang tinggi. Bahkan, ia mendapatkan fakta unik tentang pria itu, yaitu bahwa pria ini sungguh-sungguh hidup sesuai dengan keyakinan imannya. Ia menjalankan apa yang ia yakini. Ia bahkan masih menghargai kekudusan dan keintiman dari seks. Pria yang aneh dan langka, tetapi sesuai dengan impian Denise. Pria yang selama ini hanya bisa dibayangkan, karena rasanya mustahil untuk ditemukan itu, kini muncul dihadapannya.

Dengan bersemangat Denise bercerita akan kerinduannya untuk mendapatkan pria itu sebagai pasangannya. Ia berkata “Ma, orang seperti dialah yang selama ini saya cari.” Ibunya kemudian meletakkan pekerjaannya, memandang Denise dengan lembut dan berkata “Sayangku, masalahnya adalah, pria seperti itu tidak mencari wanita seperti kamu.”

Dan begitu mendengar kalimat itu, Denise jatuh tersungkur dan menangis dengan kerasnya. Ia menyadari kebenaran yang begitu menyakitkan dalam kalimat ibunya.

Denise memandang masa pacaran sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia berpikir bahwa kesuksesan dalam berpacaran itu hanyalah tergantung pada perasaan semata. Ia membayangkan bahwa ketika sang pangeran datang, maka orang itu akan mengubah hidupnya dan apapun yang ia lakukan saat ini tidak akan berdampak pada relasi itu. Denise telah terjebak dalam mitos Jodoh yang Tepat.

Lewat kisah Denise ini, kita bisa belajar untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh lebih baik, sebuah pertanyaan yang bisa membawa kita kepada keberhasilan dalam masa-masa pacaran. Pertanyaan ini telah mengubah hidup Denise ke depannya dan saya percaya, pertanyaan ini juga mampu mengubah hidupmu ke arah yang lebih baik. Inilah pertanyaan yang perlu terus kamu pikirkan dan tanyakan:

"Sudahkah kamu menjadi orang yang dicari
oleh orang yang kamu cari?"

Ketika Denise menemukan orang yang ia cari, ia menyadari bahwa ia bukanlah orang yang dicari oleh orang itu. Tidak terpikirkan sebelumnya olehnya bahwa ia pun perlu membangun diri agar menjadi orang yang dicari oleh orang yang ia cari.

Sebagian kita akan bertanya bagaimana kita tahu orang tipe apa yang dicari oleh pria/wanita ideal kita. Caranya mudah. Bila kita memiliki daftar tentang apa-apa saja yang kita cari dari seorang pasangan ideal, maka yang perlu kita pikirkan adalah:

Mungkinkah pasangan yang seperti itu, yang memenuhi persyaratan kita, mencari orang seperti kita? Bila kita menemukan seseorang yang memenuhi semua persyaratan yang kita ajukan dan harapkan dari seorang pacar, apakah kita juga memenuhi persyaratan dan harapan darinya?

Bila jawabannya adalah "Belum", maka maukah kamu memulai proses untuk mengubah dirimu? Seperti Denise yang mengubah hidupnya mulai dari saat itu untuk menjadi orang yang dicari oleh orang yang ia cari, kita yang masih single ataupun sudah berpacaran perlu terus mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang seperti itu.

Buat teman-teman yang masih single, kalian memiliki keuntungan karena kalian bisa bersiap-siap sejak sekarang ini. Daripada percaya pada mitos Jodoh yang Tepat dan duduk diam berharap akan datang seseorang yang mampu menutupi semua kelemahanmu dan membuat kamu bahagia, ajukan pertanyaan ini kepada dirimu, dan buka matamu sebelum semuanya terlambat.

Saat ini, bahkan ketika kita masih single, kita sudah bisa berusaha untuk menciptakan kesuksesan ketika kita pacaran nanti.

Buat teman-teman yang sudah berpacaran, maka inilah waktunya untuk kalian menanam fondasi yang lebih solid dan kokoh untuk masa depan kalian. Pertanyaan ini, bila dijawab dengan serius oleh kalian berdua, maka akan mengangkat relasi kalian mendekati idealisme dan harapan yang kalian miliki.

[quotesgram.com]

Tulisan ini merupakan harapan saya agar kalian menikmati masa pacaran yang indah, yang akan membawa kalian kepada pernikahan yang bahagia. Saya percaya bahwa pertanyaan ini bisa membantu kalian untuk menikmati relasi yang lebih baik dan bahagia. Ajukanlah pertanyaan ini pada diri kalian dan jadilah pribadi yang lebih baik!

"Sudahkah kamu menjadi orang yang dicari oleh orang yang kamu cari?"



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kamu yang Masih Menunggu Jodoh yang Tepat, Ini Penting Untukmu!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar