Kamu Berharga, Apapun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apapun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya

Reflections & Inspirations

[Image: www.psycall.com]

8.7K
Seberapa seringnya kita mengacaukan hidup kita karena kita tidak melihat diri kita secara tepat?

Apa yang saat ini kamu rasakan tentang dirimu sendiri? Apakah kamu merasa pintar atau bodoh? Lemah atau kuat? Apakah menurutmu kamu itu gemuk atau kurus? Apakah kamu memandang dirimu cantik atau kurang cantik, bahkan buruk rupa? Apakah kamu merasa dicintai? Diterima? Tertolak? Terhina? Sukses? Hebat? Gagal?

Setiap orang pastinya memiliki pandangan tentang dirinya masing-masing, apa yang mereka pikirkan dan percayai tentang dirinya sendiri, entah itu positif maupun negatif. Itulah yang dinamakan gambaran diri.

Sama seperti penghargaan diri, penerimaan diri atau kepercayaan diri, bagaimana cara kita memandang diri kita sendiri dapat menentukan kualitas hidup kita. Sadar atau tidak, apa yang kita percayai tentang diri kita sendiri sangat menentukan bagaimana kita bersikap dan mengambil tindakan.

Lihatlah ke sekeliling kita. Ketika kita membaca berita di koran, membuka laman website, atau media sosial, kerap kali kita menemukan kabar-kabar menghebohkan yang kemudian menjadi perbincangan panas ke mana pun kita menengok. Tidak, saya tidak sedang membicarakan tentang peperangan di Timur Tengah, kejutan perpolitikan Indonesia, atau tentang kabar hari kiamat menyangkut bunyi sangkakala misterius dan gerhana matahari total kemarin ini. Tidak, yang saya maksud adalah hal-hal individual. Hal-hal yang lebih dekat. Yang bisa saja terjadi dalam hidupmu dan juga saya.

Saya tidak mau menyebutkannya sebagai "drama kehidupan". Namun sebagian orang menyebutnya demikian. Misalnya saja, pola kehidupan kawin-cerai yang nge-hits di kalangan para selebriti, gonta-ganti pacar semudah mengganti kaos kaki, KDRT, LGBT, pedofilia, bullying, trend seks bebas di kalangan anak bawah umur, dan yang baru-baru ini menjadi viral, foto selfie mesum bersama pasangan. Selayaknya sebuah drama, kasus-kasus ini diangkat sedemikian rupa dan dipoles serta dikemas agar semakin menarik perhatian publik. Akan tetapi, di balik setiap drama ini, ada suatu kejujuran pahit yang layak untuk direnungkan.

Apa sih yang membuat setiap dari mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan? Apa yang membuat mereka nekad mempertaruhkan reputasi dan nama baik mereka? Apa yang mereka coba untuk buktikan? Atau, mungkin lebih tepatnya, apa yang mereka rasakan ketika mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu?

Alice Mathews, seorang penulis dan pembicara publik menulis demikian, “Seberapa seringnya kita mengacaukan hidup kita karena kita tidak melihat diri kita secara tepat?” Jika saja kita mau merenungkannya, betapa kita akan menemukan kebenaran dalam kalimat tersebut.

Memang, tidak semua permasalahan dalam hidup kita adalah hasil dari kesalahan kita sendiri. Namun, tidak jarang reaksi dan pilihan kitalah yang membuat permasalahan itu semakin tidak terkendali. Benar, bukannya menyelesaikan masalah, kita cenderung untuk memperparahnya.


We are Our Biggest Problem

So, this is the hard truth. We are our biggest problem. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, kita akan menyadari bahwa kitalah masalah terbesar dalam hidup kita, bukan orang lain, atau berbagai situasi yang kita hadapi. Permasalahannya, seringkali kita tidak menyadari hal ini.

Seperti kita tidak menyadari bahwa jika kita merasa tidak cantik atau rupawan seperti gadis atau pemuda ideal dalam iklan–mungkin wajah kita tidak semulus kulit bayi, mata kita sesipit bulan tersabit, rambut kita seperti habis terkena ledakan bom atom, atau kita hanya sedikit lebih tinggi dari hobbit – maka kita akan merasa minder dan cenderung menutup diri. Kemudian kita menjadi tidak berani untuk mengemukakan pendapat kita dalam beberapa kesempatan. Toh, kita bukan siapa-siapa. Rasanya kok lancang kalau kita menonjolkan diri kita sendiri. Jangan-jangan, jika kita berani tampil ke depan, orang-orang akan semakin menyadari betapa tidak menariknya penampilan kita. Jangan-jangan mereka malah akan membicarakan kekurangan kita. Ah, biarlah orang-orang yang cantik, ganteng, dan rupawan populer itu yang semakin bersinar. Akhirnya, kita akan selalu memilih untuk menjadi bukan siapa-siapa. Meski ada bagian dari dalam diri kita yang ingin diakui sekitar kita, tetapi kita tidak berani untuk melakukan apa pun juga tentang itu.

Mungkin, mungkin sepanjang hidup kita, kita selalu mengingat bahwa kita adalah orang tertolak. Di rumah, orang tua kita tidak pernah memberikan kasih sayang, di sekolah teman-teman mengucilkan kita, di kantor pun kita tidak dihargai oleh orang lain. Tentu kita ingin untuk menemukan suatu tempat di mana kita bisa diterima. Kita pun melakukan segala macam cara untuk itu. Termasuk melakukan apa saja untuk menyenangkan orang lain. Akhirnya bukannya merasa diterima, kita malah merasa dimanfaatkan. Kemudian timbulah kemarahan serta kekecewaan-kekecewaan yang membuat kita takut untuk berelasi.

Atau contoh lainnya adalah kita merasa sebagai orang gagal. Prestasi kita tidak menonjol, bahkan anjlok di beberapa tempat. Kata orang-orang sih, kita ini bodoh. Buktinya, kita memang tidak mampu dan selalu mengacaukan apa pun yang kita kerjakan. Ya sudahlah, buat apa belajar, buat apa berusaha, toh kita memang orang gagal. Bagai kutukan, apa yang kita percayai tentang diri kita sendiri akhirnya menjadi kenyataan di sepanjang hidup kita.

Teman, apa pun hal negatif yang saat ini sedang kamu rasakan dan pikirkan tentang dirimu sendiri, berhentilah! Berhentilah menolak dirimu sendiri! Berhentilah merusak gambar dirimu lebih jauh lagi.

Ya, setiap orang terlahir dengan suatu gambar diri yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Hanya saja ketika kita bertumbuh dan semakin dewasa, banyak hal yang kita jumpai yang kemudian merusak gambaran ini. Kita harus tahu bahwa gambaran asal kita tidak akan pernah berubah, hanya terpengaruh oleh orang-orang di sekitar kita dan juga lingkungan di mana kita tinggal. Tertimpa oleh berbagai pengalaman hidup kita.


Memenuhi Standar Publik?

Sebagai makhluk sosial, wajar jika kita memiliki kebutuhan emosional dan juga praktis untuk berelasi. Kita butuh untuk merasa dicintai dan diterima. Kita butuh untuk dimengerti. Kita butuh untuk merasa berguna bagi orang lain. Kita butuh untuk menemukan suatu tempat di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Kita butuh untuk menjadi bagian dari sesuatu.

Namun sayangnya, dalam bermasyarakat ada yang namanya standar publik. Standar yang menentukan, memberi batasan dan mendeskripsikan apa yang disebut dengan pandai, cantik, ganteng, sukses dan baik itu. Di luar dari semua ketentuan tersebut, maaf dikata, maka bisa dibilang kita itu bodoh, jelek, gagal, dan jahat.

Sekali lagi, karena kita makhluk sosial, tanpa disadari kita pun menyesuaikan diri dengan pendapat publik. Kita menjadi terlalu peduli dengan apa kata orang dan selalu membandingkan diri dengan orang lain. Akhirnya kita merasa tertolak dan menolak diri sendiri. Kita selalu merasa ada yang salah dan ada yang kurang tentang diri kita sendiri. Kemudian, dari waktu ke waktu gambar diri kita pun semakin rusak.

Meski demikian, kamu masih bisa memperbaikinya. Saat kamu menyadari bahwa selama ini kamu telah memiliki gambaran yang salah tentang dirimu sendiri; saat kamu menerima bahwa kamulah kontributor terbesar dari permasalahan hidupmu, saat itulah kamu bisa membangun dirimu kembali. Kali ini dengan cara yang benar. Selayaknya sebuah kesalahan, kita baru bisa memperbaikinya ketika kita sudah menemukan letak kesalahannya, bukan?

Pikirkanlah 3 hal di bawah ini dan buktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa berubah. Bahwa kamu memang spesial!


1. Kunci kebahagian ada di dalam dirimu sendiri, bukan di tangan orang lain

[Image: wallpaperbuzz.com]

Mulai saat ini juga, jangan pedulikan lagi apa kata orang. Yang mengetahui tentang kamu yang sebenarnya adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Apa yang kamu pikirkan, apa isi hatimu, mereka tidak dapat menilainya. Mereka hanya dapat melihat apa yang tampak di luar.

Percayalah, apa yang ada di dalam dirimu jauh lebih berharga daripada apa yang terlihat dari luar. Ya, nilai kita bukanlah ditentukan oleh apa yang kita miliki atau apa yang dipikirkan orang tentang kita. Nilai kita adalah apa yang ada di dalam lubuk hati kita.

Bukan pada apa yang saat ini bisa kamu lakukan, tetapi pada apa yang rindu untuk kamu lakukan. Bukan pada keahlianmu, tetapi pada potensimu.

Kamu mampu melakukan sesuatu karena kamu MELAKUKANnya. Kamu bisa menjadi ahli kalau kamu terus melatih potensimu. Ini bukanlah soal kemampuan, tetapi kemauan.

Kalau kamu mau, maka percayalah bahwa kamu bisa melakukannya. Meski kamu merasa sulit untuk memercayai dirimu sendiri, setidaknya Tuhan memercayaimu. Karena Dia yang membentukmu sejak sebelum kamu dilahirkan. Dia tahu untuk apa kamu dirancangkan. Untuk apa pun itu, yang pasti Dia merancangmu untuk suatu hari depan yang penuh dengan harapan. Benar, sejak awal Tuhan telah meletakkan kunci kebahagiaan dan masa depanmu di dalam dirimu sendiri, bukan di luar, apalagi di tangan orang lain.


2. Kamu bukanlah batu di pinggiran jalan, kamu adalah berlian yang belum terasah

[Image via: spiritrockshop.com]

Terkadang rasanya lebih mudah untuk memercayai bahwa kita adalah sebuah batu yang tidak berharga. Namun, pada kenyataannya, Tuhan menciptakan setiap dari kita sebagai berlian. Hanya saja, mungkin saat ini kita masih tersembunyi di dalam batu. Ya, bahkan berlian yang sangat indah itu ditemukan di dalam bebatuan.

Ketika ada sebuah berlian di dalam bongkahan batu, hal yang paling wajar untuk dilakukan adalah mengeluarkannya. Bukan malah dibungkus dengan kertas kado yang menarik atau dilukisi dengan cat berwarna-warni. Bisa jadi hasilnya terlihat indah, tetapi selama masih berada di dalam batu, berlian tidak akan pernah bisa menjadi berlian.

Untuk menjadi berlian, kamu harus keluar dan mulai bersinar. Lakukan apa yang kamu percayai sebagai sinarmu.

Seperti ada perkataan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Tuhan”. Menuruti kata-kata bijak ini, cara bersinar yang paling indah dan tepat adalah dengan berbuat baik. Bagaimana pun juga, sebagai makhluk sosial, kita tidak hidup untuk diri kita sendiri bukan? Jangan terus memerhatikan kekuranganmu atau sibuk menutupinya. Ada hal-hal yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Yang lebih berharga dari sekadar kecantikan dan harta. Mulailah hidup untuk membuat perubahan bagi orang lain dan lingkungan sekitarmu. Perlahan-lahan, kamu akan bersinar dengan sendirinya, layaknya berlian yang telah selesai diproses.


3. Kamu adalah maha karyaNya Tuhan

[Image: www.interlinkrct.org.uk]

Jika ada sebuah karya seni yang rusak, tentu hanya perancangnyalah yang paling mengetahui bagaimana caranya untuk menangani kerusakan yang telah terjadi. Demikian juga, sebagai Maestro kehidupan yang menciptakan kita, hanya Tuhanlah yang mengetahui setiap detail dari diri kita. Hanya Dia yang tahu seluk-beluk hati kita. Hanya Dia yang mengerti apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Ya, melebihi semua usaha dan perjuangan kita, yang sebenarnya paling kita butuhkan adalah Tuhan. Sebagai pencipta kita, hanya Dia satu-satunya yang dapat menyempurnakan gambar diri kita yang sudah rusak. Selain Tuhan, tidak ada yang dapat memulihkan hidup kita secara sempurna. Sehebat apapun motivasi yang dapat diberikan oleh motivator terbaik sekalipun.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua pengajaran dan motivasi yang kini dapat ditemukan dengan mudah di berbagai media cetak dan online adalah salah. Semua itu baik, hanya sampai pada titik tertentu. Sampai suatu batasan, semua bentuk motivasi diri tersebut dapat membantu kita untuk merasa lebih baik. Kembali bersemangat. Menemukan kembali harapan. Bahkan memberi kita kekuatan untuk kembali bangkit. Akan tetapi, saya menemukan bahwa semua itu tidaklah berlangsung lama.

Entah kenapa, ketika saya semakin mengandalkan pikiran dan juga kekuatan saya sendiri, pada akhirnya saya malah terjatuh semakin dalam. Bahkan ketika saya berusaha untuk menggantungkan harapan saya kepada orang-orang yang saya pikir dapat saya percayai, saya malah semakin merasa tertolak dan sendirian. Mereka hanya dapat membantu saya sampai pada titik tertentu. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah manusia biasa, yang memiliki keterbatasan mereka sendiri.

Hanya di dalam Tuhanlah, saya memperoleh dorongan dari dalam hati saya untuk tidak pernah menyerah. Hanya bersama Tuhan saya menemukan kekuatan untuk terus melanjutkan hidup saya. Dia telah menunjukkan kepada saya, bahwa selama saya masih bernafas, Dia masih bisa melanjutkan karya-Nya di dalam hidup saya. Bahwa Dia sanggup memperbaiki gambar diri saya, bahkan menyempurnakannya suatu hari kelak.

Kalau kamu mengizinkannya, Tuhan juga dapat dan akan terus berkarya di dalam hidupmu.

***

Memperbaiki gambar diri memang tidak mudah. Perjalanannya panjang dan berbatu-batu. Terkadang saat kita sudah mulai mendapatkan gambaran yang benar, memercayainya, dan melakukan berbagai tindakan demi mewujudkannya, kita akan berbenturan dengan situasi yang membuat kita mundur kembali. Atau ketika orang-orang di sekitar kita, yang sudah lama mengenal kita, malah mencemooh perubahan kita. Penilaian mereka dan bagaimana mereka bersikap kepada kita seakan menolak diri kita yang baru.

Seringkalinya, sisi diri kita yang cenderung mendengarkan kata orang membuat kita kembali melemah. Kita pun kehilangan semangat untuk terus melangkah. Kita tersandung. Terjatuh kembali. Terluka kembali.

Pada saat itu terjadi, hanya satu hal yang dapat kita lakukan: Jangan menyerah!

Jangan pernah menyerah mengusahakan dirimu sendiri. Jangan penah menyerah memperjuangkan apa yang kamu percayai. Jangan mau terintimidasi oleh orang lain, terutama orang-orang yang tidak sungguh-sungguh peduli kepada kita.
[Image: mixinfitup.com]

Pada saat kamu ingin menyerah, berdiam dirilah. Halau rasa kecewa, sakit hati dan kemarahan yang mungkin timbul. Usir pikiran-pikiran negatif dari dalam kepalamu. Tenangkan dirimu dan coba dengarkan suara yang timbul dari dalam hatimu. Tanyakan kepada dirimu sendiri. Apakah manfaatnya bila kamu berhenti sekarang? Apakah kamu rela untuk menyerah? Apakah Tuhan mau kamu menyerah?

Saya percaya, apa pun yang terjadi, Tuhan tidak menginginkan agar kita menyerah. Kuatkanlah hatimu dan jangan biarkan semangatmu melemah. Karena Tuhan pun tidak pernah menyerah terhadap kamu. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu di tengah jalan. Kalau Dia bisa memberimu kemauan untuk memulai, maka Dia juga yang akan memberimu kekuatan untuk menyelesaikan perjalananmu.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kamu Berharga, Apapun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apapun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Marlena V.Lee | @marlena

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar