Kalijodo, Jodoh Kali Ya? Inilah 3 Penghambat Utama yang Menyebabkan Jodoh Tak Kunjung Datang

Singleness & Dating

[Image: 4bp.blogspot.com]

6.8K
Bagi beberapa orang, gonta ganti pacar itu hal biasa. Bagi yang lain, tak pernah sekalipun punya kekasih di usia yang tak lagi muda. Bagaimana mau menikah jika tak punya pasangan atau pasangan tak mau diajak menikah?

Beberapa waktu terakhir ini kita dihebohkan dengan peristiwa penggusuran Kalijodo. Kalijodo, sebuah lokasi di Jakarta yang ramai diperbincangkan. Bukan hanya sekadar isu penyakit sosial yaitu pelacuran, atau isu lingkungan hijau, namun juga menyentuh sampai ke ranah politik. Siapa yang nantinya bisa menjadi calon penantang Ahok sebagai gubernur Jakarta tahun 2017? Kita tidak akan bahas semua persoalan itu. Yang akan kita percakapkan adalah masalah hati. Banyak orang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Kalijodo pernah menjadi tempat perjumpaan hati.


Sebuah sumber terpercaya mengatakan:

"Paras Kalijodo di awal tahun 1950-an, masih menawan. Pada masa itu, konon sempat Kalijodo menjadi tujuan wisata yang nyaman. Jauh dari kesan buruk, apalagi dianggap sebagai sarang prostitusi dan markas berkumpulnya preman. Pada era tahun 50-an pula, Kalijodo pernah menjadi tempat yang dianggap romantis, layaknya tepi sungai Thames di Inggris dan sisi Sungai Seine di Prancis, kata para sejarawan. Nama Kalijodo muncul, karena banyak muda mudi yang bertemu di sepanjang sungai, hingga akhirnya berjodoh."


Kalijodo. Sebuah tempat di mana hati berpaut dan cinta bersemi. Kedua insan terpanah dewi cinta, dan mimpi Cinderella pun menjadi nyata. Mimpi bertemu dengan pasangan hidup yang menjadi kerinduan banyak orang. Benar gak? Tentu! Sayangnya mimpi berjumpa pasangan hidup ini tak selalu menjadi nyata.

Inilah tiga hal yang menjadi penghambat utama yang menyebabkan jodoh tak kunjung datang:


1. Takut Ditolak

[Image: thechrismurphy.com]

Dua orang pakar psikologi ternama, Tim Timmons dan Charlie Hedges, pernah menempatkan ketakutan ditolak sebagai salah satu penghambat orang muda untuk mulai berpacaran. Ya! Ketakutan ini bisa muncul dari sebuah peristiwa yang pernah dialami sebelumnya, baik di dalam keluarga atau mungkin dengan teman terdekatnya. Sebagai contoh, sebut saja namanya John. Keluarga John adalah keluarga yang dingin. Tidak ada sentuhan bahkan perhatian yang khusus dari orang tua kepada anak-anaknya. John sebagai salah seorang anak di dalam keluarga ini bertumbuh dengan kesibukan seperti halnya anggota keluarga lainnya. Orang tua John tak pernah bertindak kasar apalagi suka marah-marah. Tidak! Mereka baik-baik saja. Hanya memang mereka cenderung dingin alias tak ekspresif dalam relasi. Pada saat dewasa, John pernah berkata," Saya tidak tahu apa yang salah dengan diri saya. Saya merasa diri saya menjadi beban bagi keluarga, meski mereka tidak pernah bilang begitu, tapi saya merasa demikian." Rasa tertolak muncul ke permukaan.

Kisah John adalah salah satu contoh nyata rasa tertolak yang ada. Penolakan itu bisa terjadi pada siapa saja. Ingat! Seorang nabi, utusan Tuhan, mengalami penolakan dari masyarakat saat itu. Seorang pendiri restoran cepat saji KFC, Kolonel Sanders, mengalami 1008 kali penolakan sebelum akhirnya mengalami kesuksesan. Abraham Lincoln, salah satu presiden Amerika Serikat, pernah mengalami penolakan ketika mencalonkan diri sebagai anggota senat, sampai akhirnya menjadi orang pertama di Amerika Serikat.

Rasa tertolak tentu tidak enak. Perasaan tidak enak itu menjadi bertambah apabila kita tak tahu alasan penolakan itu. Seorang cendekiawan pernah berkata, "Penolakan menimbulkan ketekunan. Ketekunan menimbulkan tahan uji. Dan tahan uji menimbulkan pengharapan."

Penolakan akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh, karena penolakan memaksa kita untuk melakukan introspeksi. Introspeksi memberikan bekal untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik di masa depan.


2. Takut Keintiman

Percaya atau tidak, banyak orang yang mengalami hal ini. Sebut saja Anton. Ia mengatakan, "Saya ingin menikah, tetapi rasanya belum siap untuk berkorban. Saya takut kalau tidak bisa membuat istri bahagia." Anton mewakili banyak pria di luar sana yang terus menerus berpacaran tapi tak pernah berbicara tentang pernikahan. Selalu. Sang pacar pun mulai gelisah karena umur terus bertambah, dan wanita tentu membutuhkan kepastian, sebuah jaminan akan kelanjutan hubungan ke jenjang pernikahan. Sementara di sisi lain, sang pria terus menerus merasa belum siap memasuki pernikahan.

Peristiwa yang terjadi, sadar atau tidak sadar, membentuk cara kita berpikir. Peristiwa yang tak menyenangkan bisa membentuk diri kita. Anton mengungkapkan bahwa ayahnya meninggal pada saat Ia masih kanak-kanak. Anton tahu betul bagaimana kesedihan ibunya dan bahkan Ia sendiri memendam kesedihan yang sama. Anton membayangkan bahwa hal yang kurang lebih sama bisa terjadi dalam pernikahannya kelak. Belum lagi kisah-kisah tentang perselingkuhan yang pernah Anton dengar dari teman-temannya. Ia juga kuatir hal yang sama terjadi dalam pernikahannya kelak. Anton menginginkan kedekatan, namun takut mengalami kehilangan dan pengkhianatan.

Once again, Guys! Hidup adalah pengorbanan. Semua pilihan akan ada risikonya. Risiko itu sebanding dengan cinta yang diberikan orang terkasih pada diri kita.

Hidup ini bukan melulu tentang diri kita. Hidup ini juga tentang orang-orang yang mendukung, mengasihi, dan bahkan berani berkorban bagi kita. Jangan sia-siakan kasih dan pengorbanan mereka. Beranilah mengambil keputusan dengan segala risikonya!


3. Takut Salah

Yang terakhir ini sebenarnya adalah rangkaian dari 2 rasa takut: takut ditolak dan takut keintiman. Beberapa orang tidak berani melangkah karena merasa ada orang yang lebih baik daripada yang saat ini menjadi kekasih mereka. Entah mengapa perasaan seperti itu muncul. "Pacar saya baik sih, tapi kok ada yang sepertinya ada kurang ya?" begitulah kalimat yang menggambarkan rasa takut salah itu. Seiring berjalannya waktu, kita makin menemukan kekurangan dan kelemahan kekasih, dan makin yakin bukan ia bukan orang yang tepat. Uniknya, bisa jadi ini adalah pacar ke-15! Perasaan yang sama selalu muncul. Bahkan mungkin jika karakter baik dari 15 orang itu ada di dalam diri satu orang, kita pun bisa saja merasa masih ada yang kurang.

Pacar kurang ini dan kurang itu . Kita merindukan sosok orang yang mirip dengan malaikat: sempurna. Tanpa cacat cela. Inilah pikiran yang seringkali tanpa sadar menganggu. Kadang, kita sadar betul bahwa tiada orang yang sempurna, tetapi lagi-lagi entah mengapa pikiran kurang ini dan kurang itu muncul dengan sendirinya.

My brothers and sisters, jangan mencari orang yang sempurna, carilah orang yang dengannya kita menjadi sempurna.

"We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.” demikian kata Sam Keen dalam bukunya To Love and Be Loved.

St. Paul pernah menulis dalam suratnya, "Kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."


[Image: cloudfront.net]



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kalijodo, Jodoh Kali Ya? Inilah 3 Penghambat Utama yang Menyebabkan Jodoh Tak Kunjung Datang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar