Kala Badai Menerpa dan Kamu Merasa Telah Kehilangan Segalanya, Ingatlah Ini Saja

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Desiring God]

1.9K
Kita memang jauh dari Badai Irma yang melanda Florida. Namun, bisa jadi ada badai-badai lain yang sudah atau sedang memporak-randakan kehidupan kita, bukan?

Ketika badai melanda Amerika, saya teringat kisah seorang ibu yang memilih untuk bangkit kembali setelah ditinggalkan putri tercinta.

Saat itu badai Katrina melanda negeri Paman Sam. Di saat duka semacam itu, saya membaca kisah yang membuat saya ikut terhanyut oleh empati terdalam.



Setelah Badai yang Begitu Menghancurkan, Mematikan

Seorang ibu shock mendapati anaknya meninggal tertimpa bangunan. Dia ‘protes’ kepada Tuhan, putri satu-satunya dipanggil Tuhan saat masih balita.

[Photo credit: Tina Sosna]

Begitu berat kesedihan yang menimpanya sehingga wajahnya murung. Tidak mau makan. Tidak mau bicara. Siapa pun yang mencoba menghibur tidak dihiraukannya.

Begitu lelah dan sedihnya ibu muda ini sehingga dia tertidur. Ketika bangun, dia segera mandi, berdandan, lalu menuju gedung gereja yang runtuh dan menimpa putri tercintanya. Istri pendeta ini segera saja mengatur agar tempat ibadah itu bisa dibangun kembali.

Orang-orang di sekitarnya tentu heran sekali. Ibu yang kemarin tampaknya mengalami depresi, sekarang bisa dengan penuh semangat memimpin kembali pembangungan gedung gereja. Seorang wartawan lokal bertanya,“Saya ingin tahu, apa yang membuat ibu begitu bergairah untuk bangkit setelah kemarin begitu hancur?”

Dengan senyum mengembang ibu itu bercerita,

“Semalam, karena kecewa, sedih dan hancur, saya sampai tertidur di sofa. Tiba-tiba saya merasa ada yang membawa saya ke bekas bangunan gereja telah menjadi reruntuhan. Di sana saya tidak lagi melihat gadis mungil saya berlumuran darah. Sebaliknya, putri saya memakai pakaian putih gemerlapan. Dia menari-nari bersama teman-teman sebayanya. Begitu melihat saya, dia menyunggingkan senyumnya yang paling manis sambil ‘kiss bye’. Seketika saya terbangun dan menyadari bahwa putri kesayangan saya sudah berbahagia di surga sana bersama Tuhan saya. Semua sudah terjadi. Putri saya tidak mungkin kembali. Mengapa saya tidak bangkit dan membangun rumah Tuhan yang diporak-porandakan oleh badai? Bukankah hidup harus terus berjalan dan diisi dengan penuh ucapan syukur?”

Baca Juga: Hidup Setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang



Move On, Bahkan March On!

Kita jauh dari Badai Irma yang melanda Florida. Namun, bisa jadi ada badai-badai lain yang sudah atau sedang memporak-randakan kehidupan kita.

Jika itu yang terjadi, seperti istri pendeta di atas, kita bisa belajar untuk ‘move on’, bahkan ‘march on’ dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya menderita.


1. Sadari, setiap orang punya 'badai' sendiri dalam hidup

Rumput di halaman tetangga memang kelihatannya lebih hijau, bukan berarti benar-benar hijau. Tiap orang mempunyai masalah yang berbeda-beda.

Mari kita fokus kepada badai yang melanda hidup kita agar kita bisa membangun rumah kehidupan kita yang sempat porak poranda.

Baca Juga: Tak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya



2. Fokus pada keadaan sekarang

Faktanya, badai sudah melanda. Tugas kita adalah beres-beres agar kehidupan kita bisa tertata kembali.

Terpuruk dalam kesedihan tidak akan menyelesaikan masalah. Kita bahkan bisa tidak ke mana-mana karena sibuk dengan penyesalan.

Baca Juga: Tentang Kekecewaan dan Kemampuan Kita untuk Merangkulnya



3. Belajar untuk badai yang akan datang

Kita yang pernah diserang penyakit dan berhasil sembuh, biasanya lebih kuat di dalam menghadapi penyakit yang sama di masa mendatang.

Ketika badai menerpa, kita berusaha keras untuk survive. Ketika keadaan mulai tenang kembali, mari membuat rencana.

Agar ketika badai datang lagi, kita sudah memiliki persiapan yang jauh lebih baik.

Baca Juga: Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



4. Ketika rumah kehidupan kita tidak terkena badai, kita bisa menjangkau keluar.

Ramai dibicarakan di media sosial, ada tempat-tempat tertentu yang menutup pintu gedung sekaligus pintu hati mereka terhadap korban. Entah terbuat dari apa pintu gedungnya, terlebih pintu hatinya, sehingga tidak bisa disentuh oleh ketukan hati nurani dan kemanusiaan.

Dengan menolong meringankan beban orang lain, kita sebenarnya sedang menanamkan benih kebaikan yang suatu kali kelak buahnya ikut kita nikmati.

Sang Khalik meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan tempat kita berpijak. Dengan menuruti-Nya, kita tidak hanya membangun peradaban, tetapi juga masa depan yang lebih baik.


[Photo credit: Elisa Voss]



Kisah Mereka, yang Juga Menang atas Badai:

Ketika Hanya Bunuh Diri Satu-satunya Opsi, Begini Perjuanganku Bertahan Hidup

4.5 Tahun Menantikan Kehamilan, Terenggut Begitu Saja karena Kecerobohan Seseorang




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kala Badai Menerpa dan Kamu Merasa Telah Kehilangan Segalanya, Ingatlah Ini Saja". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Jika itu yang terjadi, seperti istri pendeta di atas, kita bisa belajar untuk ‘move on’, bahkan ‘march on’ dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya menderita. Harga Emas Hari Ini