Kaesang Pangarep pun Dilaporkan. Hidup Damai Ternyata Sesederhana Ini!

Reflections & Inspirations

[Photo credit: instagram @kaesangp]

3.7K
“Peace is not absence of conflict, it is the ability to handle conflict by peaceful means.” - Ronald Reagan

Pohon yang tumbuh semakin tinggi akan mendapatkan hantaman badai yang paling keras. Hal inilah yang sekarang menimpa Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi. Dia dilaporkan karena dianggap menggunakan kata-kata yang tergolong hate speech dalam salah satu vlog-nya.

[Photo credit: youtube]

Sejak pilpres dan pilkada rasa pilpres, bangsa Indonesia terbelah. Saling hujat. Saling mengkafirkan. Saling melaporkan. Segala ujaran kebencian dengan mudah terlontar dari mulut anak bangsa maupun unggahan di media sosial. Indonesia yang selama ini dikenal sebagai negara yang damai terusik.



Negara Kita sedang Meriang

Saya coba cek tingkat kedamaian Indonesia lewat Global Peace Index [GPI]. Ternyata GPI, produk dari Institute for Economics and Peace [IEP] yang berkantor pusat di Australia, menempatkan Indonesia di urutan ke-52. Satu level di atas Timor Leste yang berada di urutan ke-53, tapi masih di bawah Perancis yang nangkring di urutan ke-51. GPI Indonesia tahun 2017 ini jauh di bawah negara tetangga seperti Australia [urutan ke-12], Singapura [urutan ke-21] dan Malaysia [urutan ke-29].

Apa penyebabnya? Kura-kura dalam perahu!

Dari kasus saling melaporkan ke aparat saja kita tahu,

Dulu, setiap kali saya keluar negeri, pertanyaan yang diajukan penduduk setempat yang tahu Indonesia senantiasa positif: “Bagaimana Bali? Masih tetap indah, kan? Saya sudah 8 kali lho ke negaramu!”, “Wah, saya kangen sama nasi gorengnya!”, “Saya suka dengan senyum setiap orang yang saya jumpai di negaramu!”

Mendengar kalimat-kalimat bersahabat seperti itu, hati saya sejuk. Saya bahkan sempat merasakan euforia saat pemuda asal LA menghampiri saya dan menawarkan diri untuk jalan-jalan memakai mobilnya secara gratis. Saat saya tanya, “Why?” jawabannya sungguh menyejukkan, “Saya pernah belajar bahasa Indonesia di Bali. Kita ngomong Indonesia, ya, sepanjang jalan!” Wow! Dapat tumpangan gratis dari pemuda ganteng sekaligus menambah teman.

Ketika rakyat Indonesia mulai berkonflik secara terbuka, pertanyaan mereka berubah. “Gimana kasus si A? Kok begitu saja bisa jadi besar, ya?”, “Gimana kelanjutan kasus di B? Apa memang dia bukan anak kandungnya?”

Seorang sahabat saya yang melanjutkan S3 di luar negeri ditanya teman bulenya,

“Kok sesama saudara bisa saling bantai, ya?”

“Kalau sikonnya seperti sekarang, saya kok jadi malas pulang Indo,” ujar seorang sahabat saya di Sydney saat saya ke sana belum lama ini.

Bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat internasional, lebih khusus lagi rasa aman dan damai di antara penduduk Indonesia sendiri? Jika Kaesang Pangarep saja dilaporkan karena vlog-nya, bagaimana kita bisa hidup damai berdampingan satu sama lain?

Saudaraku, hidup damai ternyata sesederhana ini:



1. Bergantung kepada kita sendiri

[Photo credit: Annie Spratt]
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” - St. Paul

Perdamaian dimulai dari diri kita sendiri. Jika kita bisa menahan diri, hasil akhirnya pasti beda.

Seorang pengusaha naik taksi bersama temannya. Sopirnya tidak ramah sama sekali. Omongannya nyelekit dan nyolot! Ketika turun, pengusaha itu berkata, “Terima kasih karena telah mengantar kami dengan selamat sampai tujuan.”

Mendengar kalimat yang menyejukkan seperti itu, temannya heran dan bertanya, “Kok bisa-bisanya you berkata seperti itu? Dia jelas-jelas menjengkelkan dan membuat emosi!”

Dengan tetap tenang dan kalem. “Dia itu truk sampah. Jika dia melontarkan sampah ke arahmu, apakah kamu mau membawa sampah itu ke mana saja?”

“Tentu saja tidak, apa hubungannya?” tanya temannya.

“Jika kita tidak mau menerima sampah darinya, artinya sampah itu tetap ada padanya. Jika aku membalas dengan cara sampah seperti itu, aku pun jadi truk sampah!”

Baca Juga: The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi



2. Jangan membalas

“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” - St. Paul

Seorang sahabat menulis kisah sejati yang menarik. Seorang karyawan baru dimusuhi oleh seseorang. Lebih parah lagi, orang itu mengajak orang lain untuk memusuhinya. Meskipun setiap hari dia diteror dengan kata-kata provokasi dan aura kebencian, karyawan itu berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Ketika teror tidak juga reda, dia ajak ‘musuhnya’ itu makan bersama. Meskipun heran dan canggung, ajakannya diterima.

“Saya mengajak Anda makan untuk minta tolong,” ujar karyawan itu.

“Minta tolong apa?” ‘musuhnya’ menjawab dengan keheranan.

“Saya punya musuh besar yang terus-menerus meneror saya.”

Mendengar kalimat seperti itu, sang provokator mulai tegang. Dia merasa dijadikan sasaran tembak. Dengan menelan ludah dia bertanya, “Siapa musuhmu?”

“Diri saya sendiri. Saya harus mengalahkan musuh saya ini karena saya sering kali tidak sabar, mudah tersinggung dan gampang emosi.”

Wajah ‘musuhnya’ yang mula-mula tegang berangsur-angsur mereda. Dengan terbata-bata dia berkata, “Pak, maafkan saya. Tanpa sebab selama ini saya memusuhi Bapak.”

Baca Juga: Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya



3. Bumerang itu bernama introspeksi

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” - Yesus Kristus

Seekor anjing yang diajak majikannya jalan-jalan di taman hiburan terlepas dari ikatannya. Dia girang bukan main, sehingga lari ke sana kemari. Bebas! Dia memuaskan segala keinginannya. Mengendus ke sana kemari. Lama-lama dia sadar, majikannya tidak ada. Rasa lapar mulai menggerogoti perutnya. Mula-mula panik, lama-lama marah. Dengan kemarahan yang menyala-nyala dia lari ke sana kemari. Tiba-tiba dia masuk sebuah ruangan yang aneh. Dia melihat banyak anjing di situ. Wajah mereka mirip dengannya. Karena ingin menunjukkan wibawa, dia menggeram dan kemudian menyalak kencang. Semua anjing di ruangan itu balas menggeram dan menyalak tak kalah galak. Karena kalah jumlah, hatinya kecut juga. Dia mulai melembek. Ekornya tergantung di antara dua kakinya. Dia mencoba bersikap ramah. Aneh, tiba-tiba saja semua anjing dalam ruangan itu tampak ramah. Dia gembira dan menyalak riang. Anjing-anjing di sana pun menyalak riang seolah menyambut kedatangannya. Dia merasa damai sekali.

Wahana yang anjing itu masuki bernama “Rumah Cermin”.

Jika kita tidak mau ditampar, jangan menampar orang lain. Apalagi jika orang yang kita tampar itu melakukan tugasnya sesuai dengan Standard Operating Procedure. Meskipun kita merasa terganggu karena diminta ini itu, tetapi kalau itu memang prosedur keamanan, mengapa tidak melakukannya?


[Photo credit: unsplash]
Jika kita ingin merasakan kehidupan yang damai,
pancarkan cahaya kedamaian itu,
sehingga sinarnya kembali ke kita.

Aku Indonesia. Aku cinta damai!



Baca Juga:

Biarkan Orang Berkata Apa, Kurangi Ribuan Pertempuran Tak Perlu, Jadilah Bahagia! Ini Teknik Cerdasnya

Jangan Biarkan Orang Lain Menjadi Remote Control Hidupmu!

Jangan Terburu-buru Menyalahkan Orang Lain, Hidup Kita Keruh Bisa Jadi Karena Satu Hal Ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kaesang Pangarep pun Dilaporkan. Hidup Damai Ternyata Sesederhana Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar