Just Friends alias Sekadar Teman, Mungkinkah dalam Relasi antara Pria dan Wanita?

Love & Friendship

[Image: cosmopolitan.com.hk]

9K
Just friends. Mungkinkah relasi antar lawan jenis bisa seperti itu?

Saat kuliah, saya punya sahabat yang benar-benar seperti pacar kedekatannya. Dia dengan senang hati membantu mencatatkan apa yang dosen katakan. Sebenarnya ini win-win. Dia tidak mau catatan kuliahnya belepotan penuh coretan di sana-sini, sehingga dia pakai buku saya untuk menulis cepat [jot down]. Buku saya dibawanya pulang dan sesampai di rumah, dia menyalin di bukunya sendiri dengan rapi. Dia senang, saya pun senang. Menang-menang kan? Saya kebetulan orang yang tidak terlalu peduli dengan kerapian catatan saya. Karena toh kalau saya tulis sendiri, jelas lebih buruk ketimbang dia yang tulis. Tulisan tangan saya lebih buruk ketimbang seorang dokter menulis resep.

Ini yang menarik, bahkan saat saya lelah, entah dia ingat atau saya yang ge-er, dia sering memijat-mijat tangan saya. Karena kedekatan inilah maka ada dosen, teman mahasiswa, bahkan keluarga saya yang menganggap saya pacaran dengannya, padahal, sama sekali tidak. Jujur. Dia bukan tipe saya. Saya pun bukan tipe dia. Saat ini dia tinggal di luar negeri, punya suami dan anak. Saya pun punya istri dan anak. Namun, kami masih tetap bersahabat. Bagi saya, persahabatan kami benar-benar tulus.

Just friends.

Mungkinkah relasi antar lawan jenis bisa seperti ini?

Bisa saja, karena toh saya sudah mengalaminya. Demikian juga dengan teman saya, katakan saja namanya Maria. Dia bahkan, sampai saat saya mengetik curhatan ini, sudah puluhan tahun menjalin platonic friendship dengan seorang pria di luar negeri. Sahabat saya ini sudah menikah dan punya anak, sedangkan platonic friend-nya sudah punya pacar.


Bisa Semu

Apa hubungan semacam ini bisa benar-benar terjadi? Sekali lagi, bisa ya, tetapi bisa semu. Yang saya alami jelas asli. Bagaimana dengan yang semu? Seorang pria mencintai seorang wanita, tetapi karena sang pujaan hati menolak dengan halus, maka agar tetap bisa berhubungan, sang pria setuju menjalin platonic friend semu. Mengapa istilah ini terpaksa saya buat? Karena di dalam hati kecilnya, pria ini masih mencintai si wanita, sedangkan yang wanita benar-benar tidak mencintainya dan menganggapnya hanya sebatas teman. Jadi, yang satu asli, yang lain semu. Mengapa pria ini rela ‘menurunkan’ ekspektasinya? Ya agar tidak kehilangan teman yang baik sambil berharap, siapa tahu suatu kali sang wanita bisa jatuh hati kepadanya ... hehehe ... Ngarep.com.

[Image: eumarceu.com.br]

Baca Juga: Mencintai Dia yang Tak Mencintaimu Bukanlah Hal yang Memalukan. 4 Hal ini Akan Menegaskan, Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Bukanlah Akhir Dunia


Bisa Terbalik

Kasus sebaliknya bisa saja terjadi. Artinya, mula-mula salah satu pihak atau keduanya dari opposite-sex friendship naksir yang lain atau sama-sama tertarik. Namun, dalam perjalanan waktu, mereka menemukan lebih banyak perbedaan ketimbang persamaan di antara mereka, sehingga akhirnya memutuskan untuk just friends saja.

Relasi yang ‘menurun’ kualitasnya ini tidak masalah karena kita bisa saling tertarik satu sama lain salah duanya [hehehe] karena tidak adanya commonality dan chemistry di antara mereka. Istilah gaulnya: tidak ‘click’ atau tidak ‘nyambung’.


Bisa Berkembang

Bagaimana jika yang terjadi seperti ini? Mula-mula mereka memutuskan untuk ‘just friends’. Menurut saya, kata ‘memutuskan’ ini terlalu dini. Siapa yang bisa menebak arah angin? Siapa yang bisa mengendalikan arah perasaan? Panah Cupido pun bisa meleset jika tertiup angin kencang!

Lalu, apa salah jika platonic friendships berkembang menjadi romantic lovers? Nggak salah!
[Image: ributrukun.com]

Kita bahkan sering mendengar ungkapan dalam bahasa Jawa “Trisno jalaran soko kulino”. Artinya, cinta bisa berkembang karena seringnya bertemu. Cinlok [cinta lokasi] bisa berkembang menjadi Cinbok [cinta sudah tergembok]. Yang saya maksudkan tergembok artinya terkunci satu sama lain. Jadi, hatinya tidak lagi berpaling kepada yang lain. Ini masalah hati, bukan grafiti! Orang yang suka menulis di dinding dengan tulisan seperti “John love Jean”, bahkan memasang gembok cinta, belum tentu langgeng hubungannya. Kita seharusnya menorehkan kata-kata cinta bukan dengan tinta sementara di atas bata yang gampang pudar, melainkan bertahta di hati dengan tinta abadi.

Baca Juga: Hubungan Cinta yang Harmonis: Lakukan 10 Hal Sederhana, Dengan atau Tanpa Kata-Kata ini, Setiap Hari

Jadi, sah-sah saja kalau cross-sex friendships berkembang menjadi romantic lovers. Bukan TTM - teman tapi mesra - melainkan dari temen jadi demen. Bukankah ada pepatah kuno yang mengatakan ‘best friends make the best lovers’? Mengapa bisa begitu? Karena kimiawinya sudah cocok, bukan cekcok.


5 Berkat Platonic Friendship

Jika Anda sedang menjalin hubungan persahabatan semacam ini, ada 5 keuntungannya:

Pertama, tidak perlu jaim | Sebagai sahabat sejati, sahabat sudah tahu kita luar dalam sehingga kita tidak perlu jaim. Dengan demikian, kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa takut ditinggalkan.

Kedua, bebas curhat | Saya percayai ungkapan ini “A friend in need is a friend indeed". Saya setuju dengan orang paling bijak bernama Salomo yang berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Telinga seorang sahabat bisa panas mendengar curhatan kita di telepon, tetapi hatinya tetap sejuk.

Ketiga, tidak takut disikut | Sejalan dengan yang di atas, karena memercayai sahabat kita, maka kita tidak perlu takut disikut saat menangis di pundaknya. Rahasia kita aman di hati seorang sahabat sejati.

Keempat, tanpa beban | Karena kita benar-benar menganggapnya sebagai sahabat - just friends - kita bisa leluasa bergaul dengannya dan berteman dengan siapa saja tanpa takut membuatnya cemburu.

Kelima, jika jatuh cinta, teruskan! | Jika ternyata di kemudian hari persahabatan ini berkembang ke arah yang lebih serius, jalani saja. Toh kita sudah saling mengenal dengan baik. Mana ada yang lebih baik lagi? Ikuti saja aliran sungai teman semata menuju telaga cinta. Biarkan ‘just friends’ akhirnya menjelma menjadi ‘just married’. Why not?



Baca Juga:

Hubungan Tanpa Status: 7 Langkah agar Status Hubungan Tak Terus Menggantung

5 Cara untuk Berhenti Mencintai Ia yang Tak Dapat Dimiliki

Buat Kamu yang Percaya Jodoh di Tangan Tuhan, 5 Panduan ini akan Menuntunmu ke Orang yang Tepat



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Just Friends alias Sekadar Teman, Mungkinkah dalam Relasi antara Pria dan Wanita?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar