Jokowi Mantu, Setnov Tersangka, WhatsApp Diblokir. Apa yang Anda Baca?

Reflections & Inspirations

1.3K
Ternyata apa yang Anda baca benar-benar menentukan siapa Anda!

Apakah Anda suka membaca berita ringan dan berpindah-pindah dari satu tulisan ‘menarik’ ke tulisan ‘asyik’ lainnya? Atau Anda sekadar membuka GIF dan meme yang menggelitik ‘syaraf senyum’ Anda atau membuka tautan prank untuk melonggarkan ‘syaraf ketawa’ Anda atau lagu-lagu sentimental yang membuat Anda terbuai ke masa lalu?


Ternyata apa yang Anda baca benar-benar menentukan siapa Anda!


Alexa Erickson menulis artikel menarik berjudul “You Are What You Read: Research Reveals The Importance Of What You’re Reading”. Menurutnya, orang-orang yang suka membaca bacaan berat dan dalam akan menjadi pribadi yang lebih cerdas ketimbang orang yang suka bacaan ringan. Bahkan The International Journal of Business Administration yang terbit di bulan Mei 2016 lalu menyatakan bahwa kebiasaan membaca yang ringan-ringan tidak terlalu bermanfaat bagi Anda. Sebaliknya, bacaan yang berat dan dalam, bahkan puisi, merangsang kita untuk berpikir dan membuat kita lebih cerdas dan sehat.

Baca Juga: 5 Genre Buku yang Tak Terlalu Populer tetapi Asyik Dinikmati


Surabaya. Tengah malam.

Saya terbangun dari lelap karena anak sulung saya pindah tidur di sebelah saya. Anehnya, dia tidak segera memejamkan mata. Sebaliknya, dia malah membiakan lampu tetap menyala terang. Rupanya dia masih mau membaca buku. Saat saya lirik—tanpa berusaha mengganggu kenikmatan bacanya—dia membaca buku tebal bersampul hitam. Judulnya Ahok di Mata Mereka. Jujur saja, saya senang. Mengapa? Karena biasanya justru anak bungsu saya yang gila baca.

Saya merenung, apa yang membuat anak saya yang tidak terlalu suka membaca ini tiba-tiba jadi ingin menghabiskan buku tebal itu cepat-cepat? Di tengah malam buta lagi! Ternyata buku itu dia anggap istimewa karena seperti banyak anak muda—dia senang dengan gaya kepemimpinan Ahok—dan ada tanda tangan Ahok di buku itu.



Tolong Anda berhenti membaca sampai di sini dulu ...

Saya meminta Anda untuk berpikir: Apa yang suka Anda baca? Benarkah hasil penelitian di atas bahwa Anda adalah apa yang Anda baca?

Sekarang coba Anda melakukan perjalanan ke belakang melintasi waktu. Apakah yang Anda baca sekarang berbeda dengan apa yang Anda baca dulu? Bagaimana dengan mutu bacaan Anda? Meningkat atau menurun? Mengapa bisa demikian?


Terus terang, mutu dan bobot bacaan yang saya baca dulu dengan sekarang menurun. Dulu saya suka membaca buku-buku tebal. Sekarang pun masih. Bedanya? Dulu saya menghabiskan waktu membaca buku tebal jauh lebih cepat ketimbang sekarang. Bisa saja saya mencari alasan bahwa tugas dan tanggung jawab saya sekarang jauh lebih banyak ketimbang dulu. Boleh dan sah-sah saja. Namun, jika saya tanya ke relung hati saya yang paling dalam, jawaban jujurnya adalah: sekarang saya lebih senang mencari bacaan yang ringan dan cepat selesai ketimbang yang berat dan membutuhkan proses berpikir yang lebih lama.

Akan jadi apa generasi yang akan datang jika selera bacaan menurun drastis secara bobot?



Mengapa terjadi shifting?

Istilah ‘disruption’ dan ‘shifting’ kini semakin sering kita dengar. Perubahan yang begitu cepat bisa memporakporandakan kita di berbagai aspek kehidupan. Saya mendapat kiriman pesan WA dari teman, 10 tahun mendatang ada 10 pekerjaan yang akan hilang dari dunia. Teller bank dan agen asuransi salah duanya he he he. Toko-toko retail raksasa—seperti Goliat—justru tumbang oleh Daud-Daud berupa penjualan online yang dilakukan oleh anak sekolah sampai ibu-ibu rumah tangga, juga oleh Goliat lain bernama online marketing.

Dunia literasi pun mengalami perubahan yang demikian besar. Saat berada di sebuah toko buku di Melbourne, sang penjaga toko membiarkan saya berada di dalam gerai meskipun sudah tutup. Mengapa? Karena saya termasuk potential buyer. Saya sudah menumpuk buku-buku yang hendak saya beli. Toko itu akan tutup untuk selamanya sehingga mengobral buku-bukunya. Kesempatan yang tidak pernah akan saya lewatkan.

Saat kembali ke tanah air, saya melihat kios buku di pojokan jalan yang sering saya datangi hampir melompong. Artinya? Jumlah media massa cetak yang dijual di sana menurun drastis. Sebagian sudah gulung tikar. Yang masih bertahan pun mengimbanginya dengan penerbitan online.

Penyebabnya? Dugaan saya adalah budaya instan. Orang lebih senang segala sesuatu yang gampang didapat dengan cara yang cepat pula, apalagi kalau gratis! Buku-buku cetakan tergerus oleh e-book yang semakin lama semakin banyak yang gratis.



Perlukah kembali ke zaman old?

Kayaknya nggak perlu dan nggak bisa. Yang bisa kita lakukan adalah kembali ke kebiasaan tempo doeloe yang baik.

Biasakan kembali membaca buku-buku bermutu agar otak kita tidak cepat buntu. Ketika diminta untuk menjadi pembicara dalam pelatihan menulis di media daring, salah satu poin saya adalah ini: Saya tetap menulis meskipun merasa tidak akan viral kalau tulisan itu saya rasa penting untuk diketahui pembaca. Termasuk tulisan yang sedang Anda baca ini.



Bagaimana caranya?

Justru inilah yang ingin saya diskusikan dengan Anda. Namun, paling tidak, dari pengalaman empiris, inilah yang saya lakukan.


Pertama, paksa diri.

[Photo credit: Elissa Voss]

Saya memaksakan diri untuk tetap membaca buku bermutu. Tidak harus tebal—meskipun banyak buku bermutu yang tebal—namun memberi gizi yang tinggi bagi pengembangan diri.

Baca Juga: Saya Jadi Gemar Membaca Berkat 5 Langkah Sederhana Ini. Coba Praktikkan, Deh!


Kedua, tentukan target.

Jika dulu buku tebal bisa saya lahap hanya dalam beberapa hari, bahkan saat libur bisa sehari, kini target saya berubah. Bukan untuk membela diri, saya hanya mencoba realistis. Satu atau dua minggu satu buku merupakan target yang baik.


Ketiga, kunjungi toko buku dan perpustakaan.

Meskipun banyak ‘toko buku’ sudah sudah tutup atau beralih fungsi menjadi 'toko penjualan alat tulis, perlengkapan kantor, olahraga dan musik,' mereka toh tetap buka, bukan? Masih ada kok buku-buku baru bermutu yang bisa kita buru.


Keempat, online boleh, asal bermutu.

[Photo credit: Adobe Stock]

Kalaupun tetap membaca di media daring, pastikan untuk membaca juga tulisan-tulisan bermutu yang ada di dalamnya. Kalau jemari kita tergoda dengan clickbait, kita benar-benar akan tergigit dan akhirnya gigit jari [clickbite].

Baca Juga: Dari 10 Tipe Kepribadian Berdasarkan Cara Membaca Media Online Ini, Yang Manakah Dirimu?


Kelima, bagikan pengalaman Anda.

Bagikan pengalaman Anda dalam membaca buku-buku bermutu. Endorsement merupakan cara efektif untuk membuat orang lain gemar membaca juga. Sebagai dosen dan pembicara publik, saya selalu mengimbau mahasiswa dan audience saya untuk membaca buku-buku yang baik agar kaya di berbagai area.

Baca Juga: 5 Cara Praktis yang Membuat Membaca Jadi Menyenangkan


Selamat membaca dan menjadi kaya!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jokowi Mantu, Setnov Tersangka, WhatsApp Diblokir. Apa yang Anda Baca?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar