Jika Harta Bertambah, Mengapa Istri juga Bertambah? Mari Belajar Setia dengan 3 Hal ini!

Marriage

[Image: evoke.ie]

10.5K
Bapak A menikah lagi, lho. Mungkin karena penghasilannya terlalu banyak hanya untuk memelihara satu istri.

“Pak Xavier, Bapak A menikah lagi lho,” ujar seorang kepada saya.

Saya bingung dengan ‘berita’ itu. Pertama, saya tidak terlalu mengenal bapak yang dibicarakan itu. Kedua, apa hubungannya dengan saya kalau dia menikah lagi? Namun, ternyata ‘berita’ itu membuat saya bereaksi dengan bertanya, “Mengapa?”

Orang itu lalu bercerita bahwa karier bapak itu meningkat pesat sehingga naik jabatan. Jawaban itu membuat saya merenung lebih keras lagi. Apa hubungannya naik jabatan dengan naik pelaminan [lagi]? Secara bergurau ‘pembawa’ [lebih tepat lagi ‘penyebar’] berita itu berkata,

“Mungkin karena penghasilannya terlalu banyak hanya untuk memelihara satu istri.”

[Image: The Story Side]

‘Memelihara’? Memangnya piaraan?

Di tengah dunia yang semakin egois ini, fenomena ‘harta bertambah, istri bertambah’ menjadi hal yang ‘biasa’. Mari kembali ke rencana awal Tuhan dalam membentuk pernikahan:

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Saya senang dengan Mark Magee’s Translation:

“For this reason a man will LEAVE his father and mother and CLEAVE to his wife, and they will WEAVE their lives into one flesh!”

Satu, satu, satu. Satu suami, satu istri, satu daging. Meninggalkan [leave], bersatu [cleave], menjadi satu [weave].

Nah, tiga hal inilah yang membuat kita tetap setia dengan satu pasangan:



1. Leave

Ketika saya menikah, saya meninggalkan Papa dan Mama saya. Kata ‘meninggalkan’ di sini berarti mandiri.

[Image: Huffington Post]

Pertama, mandiri secara domisili. Jika selama ini saya tinggal bersama mereka - paling tidak sampai SMA karena saya kuliah di luar kota - sejak menikah saya tidak lagi serumah dengan orangtua. Papa dan Mama tinggal di Blitar, Jawa Timur, sedangkan orangtua istri saya tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Begitu menikah, kami tinggal di Jogja. Jadi, saya tinggalkan Jawa Timur, istri tinggalkan Jawa Tengah.

Kedua, mandiri secara keuangan. Meskipun kadang Mama masih memberikan sejumlah uang kepada ‘anak bungsunya’ sekadar uang saku, sejak menikah, saya tidak lagi menerima ‘angpao kasih’ ini.

Ketiga, mandiri secara mental spiritual. Waktu masih lajang saya berada di bawah ‘payung’ mereka, kini tiba saatnya saya membuka ‘payung’ saya sendiri. Bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk istri dan kelak untuk anak-anak saya.

Baca Juga: Tolong! Suamiku Anak Mama. Inilah 5 Cara Mengubah Anak Mama menjadi Pria Dewasa



2. Cleave

Karena sering bepergian, ada saja teman yang memlesetkan nama saya dari 'Xavier' ke 'Musafir'. Kehidupan kerja dan pelayanan membuat saya pernah mencicipi hidup di Madura, Jogja, Perth, Melbourne, Sydney, Singapura, dan Surabaya.

Kehidupan pernikahan bukan seperti musafir atau backpacker melainkan ‘sepeda tandem’.

Kita meninggalkan orangtua masing-masing bukan untuk menggelandang, melainkan membuka ‘ladang’ baru dan mendirikan ‘rumah cinta’ bersama. Sejauh-jauhnya merpati terbang, dia tahu jalan pulang ke kandang ‘kasih sayang’. Itulah sebabnya sejauh mana pun saya terbang - bisa 24 jam penerbangan - kata ‘pulang’ senantiasa menimbulkan suasana romantis yang mengharu biru bagi saya. Rasanya ingin segera masuk rumah dan menemukan sarang saya yang nyaman bersama istri dan anak-anak.

Pernikahan - kalau tidak salah menurut Walter Arthur Trobisch penulis buku I Married You - seperti dua lembar kertas yang dilem menjadi satu. Istilah ‘cleave’ cocok karena artinya dipersatukan. Saat sudah kering dan melekat erat, kita tidak bisa memisahkannya tanpa merusak keduanya.

[Image: woman.at]
Perceraian, senantiasa menimbulkan luka robek yang menyakitkan, bukan hanya bagi pasangan, melainkan bagi anak-anak hasil pernikahan mereka.

Baca Juga: Salah Memilih Pasangan Hidup? Jangan Terburu-buru Bercerai, Pertimbangkan Solusi ini!



3. Weave

Saya senang dengan terjemahan Mark Magee yang bukan saja enak dibaca, tetapi juga puitis. Leave. Cleave. Weave. Apalagi kata ‘weave’ mengandung konotasi yang luar biasa: menenun atau menganyam. Ketika SMA, saya suka membuat kristik. Dibutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu kristik, terutama jika polanya rumit dan ukurannya besar. Yang menarik dari proses pembuatan kristik adalah sisi bawah dan sisi atas yang bukan saja berbeda, tetapi AMAT berbeda.

Saat menjalin helai demi helai benang aneka warna, bagian bawah tampak semrawut dengan sambungan benang di sana-sini. Namun, begitu selesai, kita melihat bagian atasnya. 'Wow.' Tampak lukisan yang indah. Demikian juga dengan pernikahan. Membutuhkan proses yang lama agar dua pribadi yang berbeda bisa ‘dianyam’ dan ‘ditenun’ sehingga membentuk lukisan yang indah dengan bingkai keluarga.

Baca Juga: 30 Tahun Pernikahan Orangtua, 5 Pelajaran Berharga ini Tak Saya Temukan di Tempat Lain

[Image: maureencotton.com]

Jika kita mengikuti rencana Tuhan sebagaimana telah disebutkan di atas, pernikahan akan berjalan dengan baik sesuai dengan Grand Design dari Sang Pencipta Pernikahan! Penulis Kitab Amsal dengan bijak berkata, “Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan istri masa mudamu.”

Catat dan ingat: ‘istri masa mudamu’ bukan ‘istri mudamu'!

Jika kita menghilangkan satu kata saja, yaitu ‘masa’, maka pernikahan yang seharusnya berbahagia menjadi berbahaya dan akhirnya membawa petaka!

Baca Juga: Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya


[Image: pixabay]

“Cinta itu manis saat baru dimulai, tapi lebih manis lagi kalau tidak pernah berakhir.” - NN



Baca Juga:

Rahasia Hubungan Cinta yang Harmonis: Lakukan 10 Hal Sederhana, Dengan atau Tanpa Kata-Kata ini, Setiap Hari

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jika Harta Bertambah, Mengapa Istri juga Bertambah? Mari Belajar Setia dengan 3 Hal ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar