Jika Ahok Anak Saya, Bisakah Sekarang Saya Berdoa seperti Doa Buniarti Ningsih, Ibundanya?

Parenting

[Image: detik.com]

62.2K
Sudahlah, Hok. Perbuatan baikmu hanya dibalas air tuba. Setelah ini, mari keluar. Lupakan Indonesia!


"Doakan supaya dia bisa diberikan kekuatan oleh Tuhan,"

demikian ujar Sang Ibunda.


'Ibu Ahok, Buniarti Ningsih, Menitip Doa kepada Masyarakat Indonesia untuk Anaknya.' Headline berita yang saya baca itu seakan langsung menembus, tepat ke titik tengah jiwa saya.

Membacanya, saya ikut merasakan betapa pedihnya hati seorang ibu, menerima kenyataan pahit, anaknya dihukum 2 tahun penjara untuk perkara sebuah video editan 2 menit dari pidato yang panjangnya puluhan menit, di mana makna kata 'oleh' dan 'dengan' pun masih tak dapat dimaknai dengan sebagaimana mestinya.

Titipan doa ibu Ahok sudah disampaikan sejak Ahok mulai menjalani proses hukum atas tuduhan penistaan agama. Dan tentunya doa itu terus mengalir dari bibir dan hati sang ibu dari hari ke hari. Apalagi saat ini, ketika anaknya ditahan di penjara, sudah pasti doa itu mengalir kian deras, tanpa berkurang ketekunannya.

Saya cukup yakin, ada andil didikan orangtua hingga Ahok bisa menjadi pribadi yang demikian mengasihi Indonesia. Orangtuanya telah mengajar dan mendidiknya dengan baik, bagaimana menjadi manusia yang mencintai Tuhan dan negara. Tak hanya mencintai diri sendiri.


Saya membayangkan,
jika Ahok adalah anak saya, setelah menerima vonis hukuman penjara, apa yang akan saya katakan kepadanya?
[Image: benarnews]
"Sudahlah, Hok. Perbuatan baikmu hanya dibalas air tuba. Setelah ini, mari keluar. Lupakan Indonesia!"
Apakah demikian?

Beberapa hari ini, banyak pesan WhatsApp bernada negatif yang saya terima. Salah satu di antaranya berbunyi, "Ahok divonis bersalah dan dipenjara. Kebenaran di Indonesia sudah mati. Jangan pulang ke Indonesia lagi!" Menanggapi pesan-pesan negatif yang mendorong kita untuk 'membuang' Indonesia karena ketidakadilan 'oknum' peradilannya, rasanya tidak sulit bagi kita untuk mengiyakan itu. Apalagi jika pernah mengalami sendiri berbagai pengalaman pahit di Indonesia, besar maupun kecil.

Baca Juga: Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah saya


Akan tetapi, sebentuk cinta pada Indonesia mendorong saya pada pandangan dan tekad yang berbeda. Selain itu, figur orangtua Ahok turut memberi saya sebuah dorongan positif, mengingatkan diri sendiri serta mengajak teman-teman sebangsa dan setanah air melakukan hal-hal berikut:



1. Menyadari bahwa Kebenaran Tak Pernah Mati

Kebenaran adalah milik Tuhan. Mengatakan kebenaran mati sama dengan mengatakan Tuhan itu mati.

Tuhan tak pernah mati! Ia hidup dan segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia ada di dalam kontrol-Nya. Bahkan sehelai pun rambut kita tak dapat rontok tanpa seizin-Nya.

Fenomena ketidakadilan hanyalah sebuah "penundaan" atas datangnya keadilan sejati. Bukankah Tuhan sendiri menjanjikan Dirinya akan datang ke bumi sebagai Hakim yang Adil?

[Image: thejakartapost]
Oleh karena itu, berdirilah teguh dan jangan berhenti berharap.
Sebab sesungguhnya kehilangan harapan adalah kemalangan dan kengerian terbesar bagi manusia.

Baca Juga: Bermata Sembap Namun Tak Hilang Harap. Ini yang Dilakukan Veronica Tan Saat Ahok Dipenjara



2. Mendidik Anak-Anak Kita untuk Cinta Negeri, Tak Hanya Cinta Diri

Budaya postmodernisme dan hedonisme telah membuat banyak di antara kita terlena, mengejar dan mengharapkan keamanan dan kenyamanan diri semata.

Sadar atau tidak sadar, kita dididik [atau bahkan mendidik anak] bahwa hidup adalah untuk bekerja mengusahakan kenyamanan dan kesenangan diri. "Belajarlah dengan baik agar jadi orang pintar dan sukses!", "Bekerjalah dengan tekun agar jadi orang kaya!" Kita juga diajarkan untuk segera 'lari' jika berada dalam kondisi tidak nyaman. Kalau boleh jujur, tak banyak orangtua yang dengan sadar dan sengaja mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai negara dan berkorban bagi negara seperti yang orangtua Ahok ajarkan pada anak-anak mereka.

[Image: viva.co.id]

Jangan salah, bukan berarti kenyamanan itu salah. Sebaliknya, itu adalah kebutuhan dasar manusia.

Akan tetapi, apabila demi mengejar kenyamanan kita rela membuang orang yang kita cintai, bahkan negara kita sendiri, itu yang namanya terlalu mencintai diri sendiri.

Baca Juga: Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!


Cinta tak kebal terhadap luka. Cinta tak otomatis sanggup menutup mulut, menahan rintihan dan jeritan sakit akibat luka.

Cinta justru membuat kita merintih dan menjerit. Tak sekadar melepas emosi. Namun lebih dari itu, mencari solusi. Dalam cinta sejati, kita menjerit untuk membangunkan yang tertidur. Mendatangkan sebuah pertolongan.

Saya percaya, Ibu Ahok, sekalipun hatinya seperti tertusuk pedang melihat kenyataan pahit, namun tetap rela dan bangga dengan integritas dan pengorbanan anaknya.

Bila kita ingin melihat jutaan Ahok lain di wajah Indonesia masa depan, mari menjadi orangtua yang mendidik anak-anak mencintai negeri dan berani berjuang dan berkorban untuk Ibu Pertiwi.

Baca Juga: Mengapa Generasi Muda Tak Bangga Akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, Inilah Hasil Pengamatan Saya



3. Tetap Cinta Indonesia di mana pun Berada

Beberapa tahun lalu saya membaca percakapan perdana menteri Korea dengan para mahasiswa Korea yang sedang studi di Amerika Serikat. Salah seorang mahasiswa bertanya, "Bagaimana sebaiknya cara kami menunjukkan cinta kami pada Korea? Dengan kembali ke sana setelah lulus?" Jawaban perdana menteri tersebut di luar dugaan, "Silakan tetap berkarya di luar negeri bahkan di seluruh dunia, tapi di mana pun kamu berada, selalu buka channel untuk produk korea masuk dan menguasai pasar."

Yang saya tahu juga, orang-orang kaya Korea - baik yang tinggal di dalam maupun luar Korea - banyak menyediakan beasiswa-beasiswa dari kantong pribadi mereka untuk anak-anak muda Korea studi di luar negeri. Luar biasa, bukan? Mungkin itulah beberapa sebab Korea maju pesat belasan tahun terakhir.

Baca Juga: Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru Ketika Studi di Luar Negeri


Cintai Indonesia, di mana pun kita berada saat ini.

[Image: vidio.com]
Jangan hanya sebatas kata. Sesungguhnya banyak cara menunjukkan cinta.

Mungkin sudah saatnya kita mulai menyisihkan dan menabung secara rutin waktu, tenaga, bahkan uang pribadi kita untuk mendukung anak-anak muda yang berotak cerdas dan bernurani tulus untuk mengejar pendidikan tertinggi, lalu masuk ke berbagai bidang kehidupan, - terutama - di bidang pemerintahan di Indonesia.

Mari wujudkan cinta dengan perbuatan nyata. Demi perubahan wajah Indonesia.



Baca Juga:

Pengaruh Tak Bisa Berbohong, Inspirasi Tak Bisa Dipenjara. Yang Terinspirasi Selanjutnya, Mungkinkah Itu Anda?

Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!

Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jika Ahok Anak Saya, Bisakah Sekarang Saya Berdoa seperti Doa Buniarti Ningsih, Ibundanya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar