Anak Tunggal Pasti Manja? Belum Tentu! Lakukan 5 Cara Ini agar Anak Tunggal Tumbuh Mandiri dan Cakap Bergaul

Parenting

[Image: media.npr.org]

3.5K
Membesarkan anak tunggal membutuhkan orangtua yang kreatif, dengan berbagai macam kreasi dinamika situasi yang seimbang yang harus diciptakan dalam kehidupan anak sehari-hari.

Membuat keputusan untuk menjadi orangtua adalah keputusan terbesar yang pernah saya dan suami ambil sepanjang umur hidup kami. Keputusan terbesar, karena menjadi orangtua berarti berkomitmen seumur hidup untuk ambil bagian dalam membangun hidup seorang manusia yang nantinya harus punya kemampuan dalam menjalankan panggilan hidupnya sendiri secara bertanggung jawab.

Setelah pernikahan kami menginjak usia 5 tahun, Tuhan menghadirkan seorang anak dalam keluarga kami. Kami kemudian memutuskan untuk tidak akan berusaha untuk menambah anak lagi ke dalam hidup perkawinan kami, kecuali Tuhan menghendaki berbeda. Bagi kami, rasanya untuk membesarkan seorang anak pun, tuntutan kepada kami sebagai orang tua sudah cukup besar.

Dan, sejak saat itu hingga kini, waktu telah berjalan hingga 12 tahun. Atas kehendak Tuhan, kami hanya diberikan kepercayaan untuk membesarkan seorang anak, anak tunggal kami.

Pertanyaan tiada henti kami dengar, “Belum nambah nih?”, “Yakin cuma satu? Ntar tua sepi loh,” namun kami berdua tetap meyakinkan hati. Kami hanya diberi kemampuan untuk membesarkan satu orang anak. Kami pun sudah sangat bersyukur dengan anugerah yang terindah yang Tuhan berikan kepada kami.

Di awal merencanakan hanya mempunyai seorang anak, kami sudah memikirkan baik buruk situasi yang akan kami hadapi sebagai orang tua yang harus membesarkan seorang anak tunggal. Sudah terlalu banyak contoh di hadapan mata, anak tunggal yang tumbuh dengan mental sebagai anak manja, egois, sulit bersosialisasi, tidak mandiri, sulit bertanggung jawab, dan lain sebagainya. Itu memang tantangan yang kami berdua sadari akan kami hadapi ketika kami memutuskan untuk hanya memiliki seorang anak.

Menjawab tantangan seperti itu, sedari anak kami masih bayi, kami sudah mulai mencari informasi bagaimana kami mendapat bantuan untuk membesarkan anak. Karena kami sadari, ini tugas dan tanggung jawab yang besar, dan kami berdua tidak pernah mengambil kuliah dengan jurusan "Menjadi Orangtua". Mau bermodalkan pengalaman masing-masing? Begitu banyak adaptasi yang harus kami pikirkan dan jalani yang belum tentu bisa cocok satu sama lain. Akhirnya kami memutuskan, kami harus membangun sistem baru dalam keluarga kami yang harus diimplementasikan pada pola membesarkan anak tunggal.

Di dalam proses kami membesarkan anak tunggal kami, ada beberapa hal yang kami terapkan yang sampai saat ini, ketika Ia sudah menjelang masa remaja, kami lihat tenyata sangat bermanfaat bagi dirinya. Bermanfaat, terutama menolong anak kami sebagai anak tunggal untuk berkembang lebih baik dalam proses pendewasaan dirinya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua dalam proses membesarkan anak tunggal dari pengalaman kami, antara lain:


1. Menjadi Fasilitator

[Image: i.huffpost.com]

Menjadi orangtua dari seorang anak tunggal, orangtua seringkali harus sibuk menjadi fasilitator. Dalam arti, menciptakan situasi-situasi yang tidak bisa didapatkan oleh anak secara wajar. Misalnya, ketika anak sedang bermain dengan temannya, terutama jika ada teman atau sepupunya yang datang ke rumah, saya seringkali membantu menciptakan situasi di mana mereka harus berbagi. Atau, mengajak mereka bermain di mana ada situasi mereka bertengkar, membuat aktivitas yang mengharuskan mereka untuk kerjasamanya, dan lain sebagainya.

Anak saya termasuk anak dengan tipe “ibu tiri”, dalam arti ketika berinteraksi Ia cenderung untuk memonopoli dan mengatur. Sebagai orangtua, saya harus lebih peka ketika Ia bermain dengan temannya, terutama teman-teman yang bisa dia jadikan “anak tiri”, agar mereka menjadi bulan-bulanannya. Saya senang sekali ketika Ia bisa bermain dengan teman yang sama-sama bertipe “ibu tiri”, karena di saat itulah Ia benar-benar bisa belajar berbagi dan menyelesaikan konflik.

Bermain bersama anak dalam bentuk role play sebagai pengganti bermain bersama teman-temannya juga dapat menjadi sarana yang cukup efektif untuk mengajarkannya banyak hal.


2. Proaktif Menyediakan Komunitas dan Lingkungan yang Sehat

[Image: hdwallpapers.in]

Saya dan suami sangat proaktif mencari komunitas atau kelompok bermain untuk anak tunggal kami. Menyadari kesendiriannya dan bahwa Ia butuh teman bermain seusianya, saya dan suami mendorong anak kami untuk punya komunitas bermain. Di dalam komunitas itu, bukan hanya anak saja yang terlibat tapi saya pun sebagai orangtua terlibat masuk untuk mengenal orangtua dari anak-anak dalam komunitas itu. Saya membiasakan anak saya untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu bermain sendiri dalam kesehariannya. Terkadang sekedar membiarkan Ia main di taman dekat rumah, asalkan Ia bisa bermain dengan teman-teman lain yang seusianya.

Saat ini anak saya memiliki kurang lebih 4 komunitas teman-teman yang berbeda. Lucunya, tiap komunitas memiliki panggilan yang berbeda kepada dirinya. Sehingga, kalau bertemu dengan teman yang memanggilnya dengan nama kecil, kami langsung tahu itu bahwa itu adalah teman masa kecilnya. Memanggil dengan nama depan, pastilah teman dari sekolah. Hal ini terkadang sering membingungkan bagi orang yang tidak dengan jelas mengetahui, karena nama lengkap anak saya memang cukup panjang.


3. Memberikan Pelatihan Life Skill Sesuai Usia

[Image: quickanddirtytips.com]

Saya dan suami tergabung dalam satu komunitas belajar orangtua. Kami sangat terbantu dengan tugas-tugas yang banyak diberikan dan harus dikerjakan, baik oleh kami sebagai orangtua maupun anak saya di rumah. Tugas-tugas tersebut bertujuan untuk melatih dan membangun karakter anak dan harus dilakukan secara kontinu dan konsisten.

Saat anak saya kelas 2 SD, komunitas tempat kami belajar mengadakan retreat di mana anak saya harus menginap selama 3 hari. Salah satu tanggal saat mereka menginap adalah hari ulang tahunnya. Saya ingat sekali betapa saya bergumul untuk memberi izin Ia berangkat. Kalau mengikuti suami saya, pasti anak saya tidak jadi berangkat. Apalagi menjelang pergi, anak saya mengalami diare. Tapi saya mengeraskan hati dan tetap membiarkan Ia berangkat dengan menitipkan bubur dan obat kepada guru yang mengawasinya. Di hari ulang tahunnya, saya sempatkan mengunjunginya ke tempat retreat dengan membawa kue ulang tahun, tapi tidak mengajaknya pulang. Saya melihat genangan air di matanya. Saya tahu, Ia ingin ikut pulang. Tapi saya percaya, itu adalah situasi terbaik baginya untuk belajar mandiri dan tidak selalu bergantung kepada saya.

Di kelas 5 SD, Ia mengikuti retreat dari sekolah. Sepulang dari sana, Ia mendapat banyak pujian atas berbagai hal baik yang tidak disangka gurunya mampu dilakukan anak seusianya, terutama di kalangan teman-temannya, anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional, yang notabene jarang bisa melakukan banyak hal sendiri. Gurunya sempat berkomentar “Tidak sangka anak tunggal tapi bisa mandiri, bahkan mengingatkan temannya, bertanggung jawab, dan bisa bekerja sama dengan baik.”

Beberapa situasi seperti waktu lebaran saat tidak ada “Mbak” sama sekali juga merupakan momen pelatihan yang sangat berharga buat anak saya, di mana Ia harus belajar mencuci baju, menyetrika, dan kegiatan rumahan lainnya. Kebetulan anak saya perempuan, namun tidak tertutup kemungkinan anak laki-laki pun bisa belajar melakukan hal-hal yang perlu dalam keseharian mereka.


4. Menjadi “Saudara” Baginya

[Image: ahaparenting.com]

Dalam keseharian, saya seringkali dengan sengaja tidak membiarkan situasi berjalan tanpa intervensi. Saya terkadang harus berperan sebagai "lawan" baginya. Mengajak anak saya berantem hanya untuk berebut remote TV, hanya untuk menciptakan momen yang tidak dimilikinya, yaitu berantem dan bersaing dengan kakak atau adik. Beradu pendapat soal memilih tempat makan, berebutan waktu mandi, bahkan beradu “keren” benda yang dimiliki, hanya untuk melihat reaksinya ketika Ia harus berhadapan dengan situasi seperti itu. Semua dilakukan dengan kesengajaan untuk memberikan pembelajaran bagaimana Ia harus berespon ketika berada dalam situasi tersebut. Memang tidak maksimal dan terkadang menguras tenaga, namun sedapat mungkin saya berusaha keras membuatnya merasakan dinamika berelasi dengan saudara sebagaimana yang saya rasakan dahulu.


5. Ketega[s]an dalam Menerapkan Disiplin dengan Konsisten

[Image: trbimg.com]

Hal yang seringkali sulit dilakukan oleh orangtua dengan anak tunggal adalah masalah “tega”. Jujur, hal ini pun seringkali muncul di pikiran saya dan suami ketika kami harus menerapkan disiplin. Tanpa mencoba mengatakan bahwa kalau memiliki anak lebih dari satu orangtua bisa lebih tega, namun memiliki anak tunggal seringkali lebih banyak pertimbangan dalam menerapkan disiplin. Sering dengar juga celotehan, bahkan dari mama saya sendiri, “Sudah, jangan terlalu keras. Nanti kalau dia kenapa-kenapa ntar nyesal!" atau "Masak cuma punya anak satu aja galak banget sama anak?” Terkadang hal-hal tersebut jadi pemikiran juga, tapi kami selalu belajar untuk mengevaluasi sampai sejauh mana kami menerapkan disiplin dan menyesuaikannya dengan usia dan situasi yang dihadapinya.

Bersyukur sampai saat ini dengan hikmat bijaksana yang Tuhan berikan, kami bisa “tega” menerapkan disiplin dan bahkan hukuman yang kami tahu akan sangat menolong proses pembentukan karakter anak kami. Penting sekali bagi setiap anak untuk mendapatkan disiplin yang berimbang dengan kasih sayang untuk membentuk kualitasnya sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab. Saat ini, ketika anak kami sudah mulai beranjak remaja, kami sudah mulai menikmati hasil pendisiplinan ini.


Di tengah berbagai usaha yang sudah kami lakukan, tetap saja saya melihat anak saya tetap masih mempunyai beberapa kecenderungan yang dimiliki anak tunggal, terutama dalam hal keegoisan. Begitu sulit buat saya mengajarkan bagian ini bagi anak saya, apalagi dalam konteks tinggal di kota besar seperti Jakarta dengan masyarakat yang cenderung indivisualistis dan tidak saling mempedulikan.


[Image: cloudfront.net]

Membesarkan anak tunggal oleh sebagian orang dipikir adalah hal yang mudah, karena tidak serepot membesarkan 2 atau 3 anak. Namun sebaliknya, dalam menjalankannya ternyata tantangan yang dihadapi lebih besar dan berat.

Membesarkan anak tunggal membutuhkan orangtua yang kreatif, dengan berbagai macam kreasi dinamika situasi yang seimbang yang harus diciptakan dalam kehidupan anak sehari-hari. Karena situasi demikian tidak muncul secara otomatis seperti dinamika membesarkan beberapa anak dalam sebuah keluarga.

Hal yang harus dingat pula adalah jangan terjebak untuk memberikan perhatian yang berlebihan ketika membesarkan anak tunggal. Jika kita tidak waspada, maka Ia akan terus menjadi “anak tunggalku” hingga Ia dewasa.

Di sisi lain, keuntungan membesarkan anak tunggal adalah, jika bisa memanfaatkan dengan maksimal maka orangtua akan memiliki lebih banyak waktu dengan anak. Dan, secara finansial pun orangtua masih bisa punya perencanaan keuangan dengan lebih baik.

Kami sangat menikmati membesarkan anak tunggal kami, apalagi saat ini ketika kami melihat pertumbuhannya yang cukup sehat dalam berbagai aspek sejauh ini. Homework kami belum selesai, dan rasanya tidak akan pernah selesai, tapi paling tidak kami sudah berada di setengah perjalanan dalam menolong anak tunggal kami lebih siap berhadapan dengan kehidupan yang harus Ia hadapi nanti.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Tunggal Pasti Manja? Belum Tentu! Lakukan 5 Cara Ini agar Anak Tunggal Tumbuh Mandiri dan Cakap Bergaul". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Henny Lokan | @hennylokan

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar