Jangan Terlalu Cepat Mengatakan Benci, karena Cinta Bersemi Ketika Kita Membuka Diri

Reflections & Inspirations

photo credit: playtech

3.4K
“Kalau kamu nggak suka, ya jauh-jauh aja.” Tapi prinsip itu alih-alih idealis, sebenarnya hanya perwujudan ego dan kemalasan kita. Ego yang menolak kemungkinan kita salah berasumsi, dan kemalasan untuk menguji asumsi tersebut.

Anda mungkin telah mengalami bahwa saat jatuh cinta, Anda jadi merasa rela untuk berusaha. Tapi sebelum itu, pernahkah Anda berusaha justru untuk jatuh cinta? Katanya, perasaan cinta adalah rasa yang datang tiba-tiba dan di luar kuasa kita, mengapa justru butuh berusaha terlebih dulu?


Analogi Klasik: Serigala mana yang kamu beri makan?

Ada sebuah analogi yang terkenal, tentang serigala baik dan buruk dalam diri setiap orang. Hanya ada satu serigala yang akan menang dan tetap hidup, dan itu adalah serigala yang terus diberi makan. Begitu pula dengan perasaan kita. Antara suka dan tidak suka, antara pahit atau mengampuni, antara menerima atau mengeluh, semua tergantung pasokan makanan yang terus kita suapkan.

Siang tadi saya menyadari fakta ini: bahwa jatuh cinta itu butuh usaha.

Bahwa ‘jatuh cinta’ harus diberi makan, tak ubahnya serigala baik yang terus kita pertahankan hidup dengan tak jemu menyuplai nutrisi.


photo credit : wolfword

Pelajaran berharga di kelas memasak

Pesan soal jatuh cinta ini tak instan saya pahami. Saya bersyukur, murid-murid yang saya ajar di sekolah justru menjadi tenaga pengajar terbaik saya dalam mengolah dan menelan pesan ini.

Sebagai wali kelas, tahun ini adalah masa yang menantang. 29 anak yang saya hadapi tergolong tak mudah. Memang ada kasih, namun sedikit. Ada ketulusan, namun enggan dibahasakan. Pasalnya, setiap hari selalu muncul tingkah satu hingga enam anak yang membuat gemas hingga geram. Dari teledor mengenakan seragam yang salah, lupa memakai sabuk, hingga PR yang luput dikerjakan.

Saya kemudian menyimpulkan “mereka memang susah membuat saya jatuh cinta”. Sebuah angan berbalut amarah.

Baca juga: Cinta Diam-Diam, Ungkapkan atau Biarkan Terpendam? 6 Pertanyaan yang Menolong untuk Mengambil Pilihan Tepat

Persepsi itu membuat saya akhirnya menarik diri dari waktu hangat bersama mereka di luar kelas. Sekali lagi, ‘wali kelas’ hanya menjadi jabatan tanpa banyak arti. Tanpa sadar, saya sedang memberi makan perasaan tidak suka kepada mereka.

“Miss, nanti kami masak, datang ya!” begitu kata salah seorang dari mereka dengan raut antusias. Walaupun awalnya durasi jam kosong itu ingin saya dedikasikan untuk melakukan hal lain, saya memaksa diri saya untuk hadir. Beberapa kelompok sudah siap dengan perlengkapan dan bahan mereka masing-masing. Ada yang hendak membuat capcay, burger, hingga onigiri. 80 menit berjalan dengan berbagai makanan nikmat. Satu hal yang membuat saya berbesar hati adalah kala mendapati mereka menyediakan jatah khusus untuk wali kelasnya ini. Saya bahagia, bukan saja karena banyak makanan enak namun melihat bahwa mereka tidak seburuk yang saya pikirkan. Bahkan, memiliki berbagai bahasa kasih yang melampaui ekspektasi. Kesan menjengkelkan yang saya pelihara, sirna seketika.


Melompat keluar dari jeratan persepsi

photo credit: Reader's Digest
Ketika ada seseorang atau sesuatu yang seakan begitu menyebalkan, dekati saja!

Memaksa diri itu tidak nyaman, tapi itu kerap jadi gerbang berbagai pengalaman rasa yang berharga. Kedewasaan juga harusnya mengajarkan kita bahwa bukan waktunya lagi untuk bergerak semata karena suka atau tidak suka.

Kita selalu dapat memilih memberi makan serigala cinta atau serigala benci. Akan sangat disayangkan jika kita melewatkan kesempatan untuk mencintai hanya karena mengandalkan asumsi yang dangkal pengenalan. Tidak ada yang salah dengan berusaha dekat bahkan mengenal orang yang membuat kita tidak cocok. Awalnya, saya menilai tindakan semacam ini sebagai sebuah kemunafikkan.

“Kalau kamu nggak suka, ya jauh-jauh aja.” Tapi prinsip itu alih-alih idealis, sebenarnya hanya perwujudan ego dan kemalasan kita. Ego yang menolak kemungkinan kita salah berasumsi, dan kemalasan untuk menguji asumsi tersebut.

Jika saja saya tadi tidak melangkah keluar ruang guru untuk menemani mereka para murid memasak, jika saja saya memilih sibuk dengan dunia saya sendiri, dan jika saja saya hanya mengandalkan persepsi 'mereka mbencekno' maka saya akan membuang momen untuk merasa dicintai dan jatuh cinta.


Pastikan, rasa cinta harus menang!

photo credit: fullframe

Bukan hanya pada orang-orang tertentu, hal ini juga berlaku pada sesuatu. Sesaat sebelum saya menulis ini, seorang rekan bertanya bagaimana saya dapat selalu punya waktu untuk menulis.

Jawaban saya sederhana, “Kita selalu punya waktu untuk apa yang kita cinta.”

Namun kalimat itu hanyalah versi indah dan sederhana yang menutupi tumpukan gejolak. Misalnya, saat muncul perasaan bahwa tulisan saya payah seberapapun saya berlatih, atau iri dengan pencapaian orang lain di dunia menulis. Perasaan negatif itu hadir, dan peperangan dimulai. Di saat begitu, yang saya lakukan hanyalah memastikan bahwa rasa cinta saya akan menang. Bahwa saya akan jatuh cinta, lagi dan lagi.

Baca juga: Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja

Saya memilih untuk tetap membuka laptop, saya memilih tetap menggunggah tulisan itu, saya memilih untuk tetap berani membagikannya, dan saya memilih untuk terus dikelilingi oleh orang-orang yang membuat saya tetap berani jatuh cinta pada hobi ini.

Saya memilih, untuk TIDAK MEMBERI MAKAN keminderan apalagi rasa iri, namun memberi makan secercah keberanian di dalam diri.

Kita perlu meluangkan waktu, bukan hanya untuk melakukan apa yang kita cinta, namun untuk berusaha jatuh cinta.

Kita perlu mengeluarkan tenaga ekstra bukan hanya untuk membuktikan cinta, namun juga untuk membuktikan bahwa banyak sekali hal di sekitar kita yang tidak seburuk dugaan kita.

Kita, terkhusus orang dewasa, rajin memberikan prasyarat akan cinta yang harusnya gratis dan sederhana. Memang, cinta adalah sebuah perasaan, tapi tak berarti itu adalah sesuatu yang di luar kendali kita. Dengan tidak terburu menghakimi dan berkenan membuka diri, maka akan banyak alasan untuk jatuh cinta. Dengan para partner kerja, polisi di jalan raya, hobi bermusik, dan hidup secara keseluruhan.



Kini, apa dan siapa yang membuatmu enggan? Dekatilah, berusahalah jatuh cinta, atau setidaknya membuka diri kepada cinta. Berilah makan serigala di hatimu dengan tepat.

Selamat jatuh cinta!


Tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi dalam relasimu :

Tanya-Jawab 9 Detik : Bagaimana Mengupayakan agar Cinta Bertambah Kuat dalam Relasi?

Cinta yang Tak Teruji, Tak Layak Dijalani. Inilah 5 Pertanyaan untuk Menguji Ketulusan Cinta

Tentang Cinta yang Tak Selalu Indah: Sebuah Kenyataan, yang Tidak Muluk-Muluk, Apa Adanya


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Terlalu Cepat Mengatakan Benci, karena Cinta Bersemi Ketika Kita Membuka Diri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar