Jangan Sesal Jadi Ujung Suksesmu. Belajar dari Sakitnya Jet Li, Persiapkan Ini Selagi Muda

Reflections & Inspirations

[Image: kungfun.com]

25.3K
"Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa kita bawa sampai mati.”

"Sakit Tak Kunjung Sembuh, Jet Li: Aku Tak Jauh dari Kematian"

"Ini Penampilan Kurus Jet Li Tampil Perdana di Publik Sejak Sakit"

"Sakit Parah, Jet Li Tampik Gunakan Kursi Roda"


Begitu tiga judul teratas saat saya memasukkan kata kunci 'Jet Li Sakit' ke mesin pencari berita. Jet Li selama ini dikenal berkat aktingnya di berbagai film aksi. Namun, siapa sangka jika bintang film The Sorcerer and the White Snake itu kini harus berjuang melawan penyakit di usianya yang ke-53.

[Image: pinterest]

Baru-baru ini publik pun dikagetkan dengan foto-foto terbarunya saat mengunjungi sebuah kuil. Mantan atlet wushu itu terlihat kurus dengan wajah keriput dan rambut yang memutih. Meski memamerkan senyum, namun foto itu menjadi bukti kesulitan yang ia hadapi untuk melawan penyakitnya selama beberapa tahun belakangan ini. Begitu alinea pertama kisah terkini Jet Li yang dilaporkan oleh sebuah situs online.

Selanjutnya situs lain menambahkan. Kabar tersebut mencuat saat Jeti Li dilaporkan menderita kerusakan serius pada tulangnya akibat dari film action yang dibintanginya. Sebelumnya seorang dokter pernah memperingatkan Jet Li untuk berhenti melakukan adegan berbahaya dalam film action, jika dirinya tak ingin hidupnya berakhir di kursi roda.

Berkenaan dengan hal tersebut Jet Li kini memang telah mengurangi peran dalam film action. Beberapa tahun terakhir ini ia dilaporkan fokus pada pemulihan kesehatannya dan meluangkan banyak waktu untuk membaca kitab suci Buddha.

Selain kerusakan tulang, Jet Li pun dikabarkan menderita hipertiroidisme, di mana hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid diproduksi terlalu banyak dan bisa menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.

Selain itu, Jet Li pun disebut menderita penurunan kesehatan jantung, sebagai efek dari obat yang dikonsumsinya sejak didiagnosa menderita hipertiroidisme pada 2013 lalu.



Berita terkini dari dua media daring tentang sakitnya Jet Li ini mengajarkan kita untuk mempersiapkan hal terpenting ini sejak dini:


1. Mengejar karier itu perlu tetapi tidak boleh terlalu

[Image: kungfun.com]

Terlalu ambisius. Terlalu ngotot. Terlalu maksa. Dan terlalu-terlalu lain yang berbahaya.

Ketika saya memimpin live talk show, seorang penonton berkata,

“Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa kita bawa sampai mati.”

Luar biasa!

Saya punya seorang kakak pengusaha. Sejak kecil dia pekerja keras. Begitu kerasnya sampai almarhum papa saya pernah menegurnya. Dia boleh dibilang jarang berlibur. Sebelum Dahlan Iskan dan Jokowi mempopulerkan jargon ini, kakak saya sudah mempraktikkannya: Kerja, Kerja, Kerja.

Suatu kali saat berada di gudang, sebuah karung beras atau gula [saya tidak ingat persisnya] jatuh di punggungnya. Kakak saya terpaksa harus dioperasi. Setelah sembuh, kakak saya menyadari perlunya keseimbangan di dalam hidup. Dia mulai mengajak keluarga inti dan keluarga besar berlibur.

Baca Juga: Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Ini Sebabnya



2. Tubuh tidak selamanya fit

Jika melihat Jet Li berlatih seni bela diri atau bertarung di dalam film-filmnya, kita yang tidak memiliki fisik seatletis dan sefit dia jadi iri. Begitu prima staminanya!

Namun,
umur tidak bisa ditempur. Usia tidak bisa dipaksa.

Karena suka traveling, saya dulu biasa saja naik motor dari satu kota ke kota lain baik diboncengkan maupun setir sendiri. Naik bus Surabaya-Jakarta pulang pergi pun oke saja. Naik pesawat lintas negara bahkan lintas benua pun tidak masalah. Belakangan ini, saat harus terbang jauh, membayangkan saja saya sudah merasa lelah.

Baca Juga: Hidup Ini Singkat. Inilah 3 Bekal Kehidupan dari Kematian Seorang Ibu Usai Melahirkan Anak



3. Penyakit bisa datang tanpa diundang

Seperti Jet Li, kita tidak bisa sehat terus. Bahkan ketika saya menulis artikel ini, rekan saya dan kakak ipar saya meninggal dunia karena kanker. Kakak saya sudah mengusahakan untuk membawanya berobat berulang kali ke Singapura, tetapi Tuhan berkehendak lain. Kakak ipar saya akhirnya dipanggil Tuhan. Demikian juga dengan sahabat saya.

Saya punya pengalaman menarik. Suatu kali, saya ditawari untuk vaksin flu. Meskipun sudah suntik, beberapa minggu kemudian, saya terserang flu. Saat saya tanyakan kepada istri saya yang memang lebih tahu tentang obat-obatan, dia berkata, “Itu vaksin untuk flu yang mematikan, bukan untuk flu lokal!” Saya langsung tersenyum kecut. Masa vaksin yang mahal justru tidak mempan untuk flu lokal? Makanya jangan sedikit-sedikit berpikir untuk memakai produk luar negeri.

Baca Juga: Belajar dari Ketegaran Hati Jupe dalam Menghadapi Kanker Serviks


Saat membaca berita tentang Jet Li, saya merenungkan paling tidak ada 3 hal yang perlu kita lakukan:


1. Selagi masih muda, jangan lupa olahraga

Nasihat itu seperti menampar muka saya sendiri. Mengapa? Sejak muda, saya tidak terlalu suka olahraga. Saya lebih senang olah pikir - sehingga pernah dikirim sekolah untuk pertandingan catur antarsekolah - ketimbang olahraga. Itu sebabnya meskipun di rumah ada peralatan fitness, anak sayalah yang lebih sering memakainya ketimbang saya.

Baca Juga: Tak Sekadar Membesarkan Otot, Saya Mendapatkan 3 Pelajaran Berharga ini di Pusat Kebugaran



2. Saat masih muda, jangan lupa memikirkan usia

[Image: en.yibada]

Suatu siang, saat membaca buku di mobil, sinar mentari menerobos masuk kaca jendela dan mengenai lengan saya. Saat melihat lengan saya, saya baru menyadari bahwa kulit saya tidak sekencang dulu lagi. Waktu curhat kepada istri saya, dia pun berkata, “Kita memang sudah beranjak tua.” Meskipun anak belum menikah, namun saya menyadari, usia tidak bisa berdusta.

Karena setiap orang akan beranjak tua, maka kita perlu bersiap. Suatu ketika fisik tidak lagi prima, maka kita perlu membatasi makanan yang ‘berbahaya’ dan memilih untuk melahap makanan yang lebih sehat.

Sudah berbulan-bulan ini istri saya memakai beras merah untuk asupan kalori kami. Mula-mula terasa aneh di lidah, namun akhirnya biasa juga. “Berat badan saya malah turun, Pa,” ujar anak sulung saya bangga. Waktu pertama kali kembali dari Melbourne, apa saja dimakannya, seperti balas dendam hehehe. Kini dia lebih tahu mana makanan yang lebih sehat. Kalau kami makan penyetan, si sulung lebih memilih penyetan tempe ketimbang daging.

Baca Juga: Diet Anda Gagal? Jangan-Jangan Satu Ini Sebabnya!



3. Senyampang ingatan masih kuat, kita perlu mengingat saat nanti kita berangkat

Saya punya sahabat bernama Dave. Orang Ambon bersuara emas ini sering menyenandungkan lagu yang syairnya sungguh indah:

"Oh Tuhan, pakailah hidupku

selagi aku masih kuat.

Bila saatnya nanti

'ku tak berdaya lagi,

hidup ini sudah jadi berkat"

Nah, senyampang kita masih muda, marilah arahkan mata kita kepada Sang Pencipta. Dia memberi kita batasan usia. Kita gunakan atau tidak, waktu berlalu begitu cepat. Ketika kita memakai waktu kita agar bisa bermanfaat bagi banyak orang, saat kita tidak lagi kuat, tidak usah ada penyesalan. Kita sudah memberi yang terbaik bagi Sang Khalik!


Jet Li,

seperti adegan-adeganmu di dalam film, tetaplah kuat dan bersemangat!

Fisikmu boleh lemah, semangatmu jangan patah!



Baca Juga:

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini

Setelah Menulis Biografi Orang-Orang Sukses, Saya Menemukan Sukses Sejati Hanya Membutuhkan Satu Hal Ini

Jangan Terburu-buru Menyalahkan Orang Lain, Hidup Kita 'Keruh' Bisa Jadi Karena Satu Hal Ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Sesal Jadi Ujung Suksesmu. Belajar dari Sakitnya Jet Li, Persiapkan Ini Selagi Muda". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar