Stop Buka-bukaan di Depan Kamera, Be Smart and Respect Yourself!

Reflections & Inspirations

[Image: everydayfeminism.com]

4.1K
Tidak seorang pun akan meletakkan sejumlah berlian di tempat terbuka untuk bisa dimanfaatkan bahkan diambil orang lain, bukan? Demikian juga dengan bagian tubuh kita yang privat, lindungi dan perlakukanlah dengan hati-hati! Satu langkah yang salah dapat berakibat kehancuran reputasi, bahkan kehancuran hidup.

Dunia pornografi semakin hari semakin ganas. Bukan hanya frekuensinya yang semakin banyak muncul di berbagai situs internet dan media sosial, ataupun kuantitasnya yang semakin berlipat ganda, yang lebih meresahkan adalah bahwa kini, siapapun bisa dijadikan sebagai model pornografi tanpa sepengetahuan dari pribadi yang ada di gambar (foto) itu sendiri.

Selain itu, cara pengunduhan pornografi, di dunia maya khususnya, bisa bikin kita pusing tujuh keliling. Mulai dari tag, send foto atau video langsung ke inbox atau email orang-orang, sampai ke cara-cara yang dapat dikatakan sebagai tidak bisa difilter lagi oleh pemilik akun.

Hal yang paling menyedihkan dan mengagetkan adalah ketika kita melihat orang yang kita kenal, atau bahkan diri kita sendiri menjadi 'fotomodel' pornografi. Entah foto itu sungguh-sungguh asli atau hasil editan Photoshop, tetap saja membawa dampak buruk bagi banyak orang yang melihat. Terlebih-lebih bagi sang 'model' yang wajah dan tubuhnya terpampang di foto. Rasa malu terhadap keluarga, teman, dan kenalan, ketakutan terjerat hukuman karena adanya undang-undang pornografi pornoaksi, hingga relasi yang memburuk dengan orang-orang di sekitar, dialami oleh mereka yang fotonya dijadikan model pornografi oleh pengunggah yang tak terlacak siapa orangnya.

Ada beban berat dan harga yang amat mahal yang harus ditanggung para korban yang fotonya dijadikan model pornografi oleh pengunggah gelap.

Untuk menghindari hal tersebut, kamu dapat melakukan 3 langkah ini:


1. Hindari Berpose Seksi dengan Perangkat Apapun

[Image via: i.huffpost.com]

Ada banyak alasan seorang wanita berpose seksi, baik dengan cara selfie melalui ponsel pribadi, difoto oleh teman atau pacar dengan ponsel mereka, ataupun melalui webcam. Sebagian dari mereka hanya iseng, ada juga yang begitu mengagumi dan ingin mengabadikan bentuk tubuhnya sendiri yang dianggap indah. “Toh hanya untuk disimpan di file pribadi, bukan “pameran” di muka umum,” demikian pembelaan diri mereka. Ada pula yang berpose seksi demi “menyenangkan” hati atau menuruti permintaan pacarnya.

Apapun alasannya, mengabadikan diri dengan pose seksi sangat berisiko tinggi. Seringkali terjadi, foto seksi yang tadinya hanya dimaksudkan untuk koleksi pribadi, malah menyebar ke ponsel teman-teman bahkan guru yang bersangkutan. Dan saat ini, yang lebih sering terjadi, foto tersebut diunggah (upload) di internet dan kemudian muncul di berbagai media sosial.

Hal ini sangat mungkin terjadi akibat “keisengan” teman yang memeriksa ponsel atau file laptop pribadi dan menyebarkan foto tersebut. Ada pula yang dengan sengaja melakukannya untuk merusak citra teman di dalam foto tersebut, seorang korban pernah menceritakan kalau ia menjadi korban “dendam” mantan pacarnya. Dan, masih banyak alasan lain yang mungkin tak terduga oleh kita.

Bagaimana kalau ponsel dan laptop dilindungi dengan password? Ternyata, setting password pun tak menjamin foto pribadi dengan pose seksi aman dari tangan yang tak bertanggung jawab. “Saya sudah set password di ponsel, kok masih ada saja yang bisa masuk dan kirim foto saya?” ungkap remaja yang panik karena fotonya menyebar.

Bila memang tak ingin ada foto seksi dirimu yang menyebar, jalan yang paling aman adalah jangan pernah memotret diri sendiri dengan pose seksi!

Lalu bagaimana jika berfoto dengan mimik wajah yang menggoda atau seksi, tapi tidak berpakaian minim? Bolehkah? Saya tidak akan bicara boleh atau tidak boleh untuk hal ini karena hanya akan jadi bahan debat kusir yang tak ada ujungnya. Namun, saya ingin mengajak kita semua berpikir dan menilai sendiri kasus yang akan saya sharingkan berikut ini.

Beberapa waktu lalu, sebuah foto wanita dengan pakaian minim dan pose vulgar masuk ke bagian review Facebook saya. Bagian review adalah bagian filter di mana saya harus memutuskan terlebih dahulu, apakah sebuah tag boleh muncul di timeline profil Facebook saya atau tidak. Wanita dalam foto itu mirip sekali dengan mantan murid saya. Sambil berharap bahwa Ia bukan orang yang ada di foto itu, saya memerhatikan dengan lebih seksama wajah di foto tersebut. Rasanya hampir bisa dipastikan bahwa itu Dia. Tapi, ada keanehan di foto itu. Bahu wanita tersebut sangat bidang dan tubuh di foto itu sangat atletis, tangannya terlihat kekar untuk ukuran wanita. Murid yang saya kenal memiliki tubuh yang kecil dan bahunya sama sekali tidak seperti itu. Selain itu, ada beberapa kejanggalan-kejanggalan lainnya, seperti warna wajah dan leher yang berbeda, serta warna yang berbeda antara background bagian kepala dan background tubuh. Saya cukup yakin bahwa foto itu adalah hasil editan seseorang yang ingin merusak reputasi wanita itu. Maka, dengan sengaja kirimkan foto tersebut ke mantan murid saya, termasuk ke mantan gurunya. Si pengunggah gelap berhasil menemukan ekspresi wajah yang tepat untuk diedit dan dijadikan foto porno.

Pertanyaannya, apakah semua orang yang menerima foto akan berpikir dan mengevaluasi dengan hati-hati foto porno yang diterimanya? Tentunya tidak. Dan bagi si korban, hal ini tentu akan sangat memalukan dan mengganggu. Tidak tanggung- tanggung, pin Blackberry dan nomor handphone mantan murid saya tersebut ikut dicantumkan di foto itu. Dengan segera teror dari pria-pria nakal akan masuk tanpa mempertimbangkan apakah foto tersebut asli atau hasil editan. Belum lagi penilaian dan cibiran dari orang-orang sekitar yang pasti akan berdatangan.

Intinya, hindari berpose seksi, apapun bentuknya dan di perangkat manapun!


2. Tolak dengan Tegas Permintaan untuk Memamerkan Bagian Tubuh Pribadimu

[Image: i2.wp.com]

Pernah mendengar kisah nyata tentang Amanda Todd? Amanda Todd adalah seorang remaja yang mengalami bully gara-gara foto seksinya tersebar di internet, khususnya di sosial media. Penderitaannya berawal dari chat melalui webcam dengan seorang pria yang baru ia kenal. Setelah dibujuk rayu dengan pujian bahwa Ia cantik, memukau, dan sebagainya, Ia diminta untuk menyingkapkan pakaiannya dan menunjukkan dadanya di depan webcam dalam salah satu chat dengan pria tersebut. Amanda menuruti permintaan tersebut, pikirnya hanya beberapa detik saja, tak jadi masalah. Namun ternyata satu tahun kemudian foto dirinya di momen beberapa detik itu tampil sebagai sebuah foto porno yang menyebar di dunia maya.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah total. Amanda dijadikan bahan olok-olok, dibenci, dan dijauhi teman-temannya. Amanda benar-benar merasa malu dan kesepian, Ia tak lagi punya teman. Selain itu, teror pun berdatangan. Seorang pria yang tak dikenal yang tahu identitasnya, alamatnya, sekolahnya, mengirim pesan, mendesaknya untuk menunjukan “lebih” dari foto yang sudah ada dengan ancaman akan melaporkan Amanda ke polisi jika Ia menolak permintaan tersebut. Amanda menolaknya. Dan benar, polisi datang ke rumahnya dengan membawa foto porno dirinya. Bukan hanya teror dari pria saja, ada wanita yang turut meneror Amanda, bahkan sampai meninjunya di sekolah di hadapan teman-temannya karena Ia berteman dekat dengan pacar wanita tersebut. Tak cukup sampai di situ, sekalipun akhirnya Amanda pindah sekolah dan pindah kota, teror tetap datang di dunia maya, foto pornonya dijadikan foto profil sebuah page dengan nama dirinya. Amanda menderita depresi berat. Ia berusaha mengungkapkan kepedihan hidupnya dengan share pengalaman di Youtube, tapi sayang, sebulan kemudian Ia mengakhiri hidupnya.

Di Indonesia pernah terjadi hal yang mirip tapi tak sama. Sekelompok siswa SMP saling “memamerkan” bagian privat tubuh mereka. Lalu, ada seseorang yang “menjepret” ketika tiba giliran salah seorang di antara mereka, dan kemudian foto itu menyebar di ponsel banyak siswa siswi di sekolah itu bahkan sampai kepada siswa sekolah lain.

Satu langkah yang salah dapat berakibat kehancuran reputasi, bahkan kehancuran hidup. Ingatlah bahwa bagian tubuh pribadi, diciptakan Tuhan untuk kebahagiaanmu dalam pernikahan yang sah. Sikap yang bijaksana, yaitu sejak awal menolak dengan tegas permintaan memamerkan bagian privat tubuhmu, akan menyelamatkanmu dari target para pengunggah gelap pornografi.


3. Berhati-hati dengan Cara Berpakaianmu

[Image via: moreexcellentme.com]

Zaman semakin modern, masyarakat makin “berani” dalam memilih mode pakaiannya. Berpakaian sangat minim dan seksi di tempat-tempat umum seperti mal, kafe, tempat wisata sepertinya sudah menjadi hal yang biasa, khususnya untuk masyarakat kota besar. Tapi, apakah karena dianggap biasa dan banyak wanita yang berpakaian demikian berarti aman dari incaran orang-orang yang berpikiran kotor dan berniat jahat?

Seorang ibu muda sangat kaget ketika melihat fotonya dengan pakaian seksi dan nama lengkapnya muncul di sosial media. Padahal sehari-hari Ia berpakaian biasa dan sopan. Namun, sehubungan dengan acara liburan di Bali bersama keluarga, Ia pun bergaya pakaian seperti kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke sana. “Ada banyak orang yang berpakaian seperti itu, mengapa saya yang difoto diam-diam dan disebarluaskan?” keluhnya.

Kita tak pernah tahu siapa dan apa maksud sesungguhnya dari si pemotret dan pengunggah gelap. Mengapa si pengunggah gelap memilih si A dan bukan yang lain. Kita juga tak bisa mengontrol tindak tanduk orang lain, apalagi jika tidak diketahui siapa orangnya. Namun ada satu hal yang bisa kita lakukan: menjaga diri kita baik-baik. Berhati-hati dalam berpakaian di tempat umum juga merupakan langkah bijak untuk mencegah diri kita dari target pengunggah gelap foto porno.

Pada akhirnya, bagaimana kita menghargai diri kita sendiri, akan sangat berpengaruh dalam keputusan dan perlakuan kita terhadap tubuh kita yang berharga. Tidak seorang pun akan meletakkan sejumlah berlian di tempat terbuka untuk bisa dimanfaatkan bahkan diambil orang lain, bukan? Demikian juga dengan bagian tubuh kita yang privat, lindungi dan perlakukanlah dengan hati-hati!







Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Stop Buka-bukaan di Depan Kamera, Be Smart and Respect Yourself!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar