Jangan Bebani Anak dengan Pelbagai Tuntutan, Renungkan 5 Hal Penting tentang Anak Ini

Parenting

photo credit: Evidence Network

2.4K
Orang tua bisa menceritakan kehebatan anaknya dimana-mana, tetapi di saat yang bersamaan, keluhan anaknya sendiri tidak didengarkan atau tidak dipedulikan.

Ayat hafalannya jangan yang panjang Laushi, kami sudah capek, Laushi!

Begitu kira-kira keluh mereka ketika saya mengajar. Biasanya setelah selesai ibadah, saya menyempatkan diri untuk bermain dengan mereka dan mendengarkan keluh kesah mereka. Banyak dari anak-anak yang begitu stres dengan kehidupan mereka karena kesibukan sehari-hari mereka. Anak-anak itu bercerita bahwa mereka sudah harus bangun pagi sekitar jam 5.30, kemudian selesai sekolah sekitar jam 13.00, setelah pulang sekolah, mereka tidak langsung pulang melainkan mengikuti berbagai les, bahkan sampai malam. Ketika sudah malam, mereka tidak bisa bermain, tetapi harus mengerjakan banyaknya PR yang diberikan oleh guru di sekolah.

Hal ini merupakan hal umum yang dapat ditemui di kota-kota besar. Orang tua sangat bangga dengan kesibukan anaknya. Orang tua bisa menceritakan kehebatan anaknya dimana-mana, tetapi di saat yang bersamaan, keluhan anaknya sendiri tidak didengarkan atau tidak dipedulikan.

Memang benar zaman telah berubah. Zaman kini menuntut anak untuk lebih kompetitif, oleh karena itu dari masa kecil sudah harus bisa berbahasa Inggis, komputer, dan sebagainya. Tetapi kesibukan anak yang demikian bisa jadi bukan disebabkan oleh zaman yang berubah, tetapi karena ambisi orang tua yang tidak memperdulikan perasaan anak-anak mereka.

Artikel ini mencoba mengingatkan orang tua dengan beberapa hal ini.


1. Anak-anak perlu menikmati masa kecilnya

photo credit: HuffPost

Dengan banyaknya kesibukan anak-anak kecil masa kini, saya ragu apakah mereka benar-benar menikmati masa kecilnya. Mereka terlalu sibuk dan tidak sesuai dengan usia mereka. Tak jarang dari mereka yang masih TK, SD kelas 1-3 pun sudah mempunyai kesibukan-kesibukan demikian. Padahal anak seusia itu perlu untuk bermain. Mereka butuh menikmati masa kecil yang pas dengan usia mereka, bukan diisi dengan pelajaran-pelajaran yang belum tentu mereka sukai.

Masih ingat masa kecil kita? masa kecil kita begitu indah. Bermain bersama teman-teman, bermain kelereng, bermain petak umpet dan sebagainya. Anak-anak masa kini, meskipun di tengah zaman yang sudah berbeda, tetapi mereka tetap saja anak-anak yang butuh menikmati masa kecilnya. Masa kecil yang penuh keceriaan, bukan dipenuhi tugas yang menumpuk.


2. Anak-anak butuh waktu yang cukup bersama orang tua

photo credit: Parent 4 Success

Anak-anak butuh waktu yang cukup bersama orang tua mereka. Hal ini tidak akan didapatkan ketika anak-anak begitu sibuk dengan kegiatan setiap harinya. Biasanya setelah selesai aktivitas sehari, anak sudah capek dan segera tidur dan sangat kurang mempunyai waktu bersama orang tua. Padahal dalam masa pertumbuhan, mereka tidak cukup hanya cakap dalam akademis, tetapi mereka harus mempelajari prinsip-prinsip kehidupan yang hanya bisa di ajarkan oleh orang tua mereka.


3. Tidak hanya tentang akademis, anak-anak harus mengembangkan aspek sosialnya

photo credit: CBS News

Saya melihat anak-anak saat ini banyak yang anti sosial. Bukan kesalahan mereka, tetapi memang orang tua yang mengkondisikannya. Anak-anak dituntut belajar terus menerus, dan ditambah dengan les-les yang membanjir. Hal tersebut membuat anak-anak jarang bermain bersama dengan teman sebaya mereka, dan mengakibatkan mereka jadi tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Padahal untuk menjadi seorang manusia yang utuh, sisi kognitif saja tidak cukup, mereka harus mampu bersosial, karena pada kodratnya manusia adalah makhluk sosial.


4. Setiap anak istimewa dan mempunyai keunikan tersendiri

photo credit: Sleep Review

Satu keanehan yang paling sering terjadi pada kita adalah kita memaksa anak-anak untuk bisa segala macam pelajaran yang ada. Misalnya seorang anak tidak pintar matematika, oleh orang tua justru pelajaran itu lah yang diberikan les secara khusus. Padahal seharusnyta, les tambahan harusnya pelajaran yang memang lebih disukai oleh anak-anak.

Anak-anak tidak suka piano, maka jangan berikan les piano, tetapi berikan kepada mereka yang mereka sukai. Permasalahannya, kerapkali orang tua tidak sadar bahwa setiap orang berbeda, setiap anak mempunyai kelebihan yang unik yang berbeda satu dengan lainnya.

Satu perkataan yang terkenal tentang ini, ikan tidak akan bisa dipaksa untuk memanjat, kalau dipaksa maka seumur hidupnya dia akan merasa menjadi yang paling bodoh.

Baca juga: Sering Mengajak Anak-Anak ke Mall? Inilah Bahaya yang Tak Disadari Orangtua

5. Anak-anak bukan alat pemuas ambisi orang tua

photo credit: Acculturated

Biasanya ketika ibu-ibu berkumpul, yang mereka bicarakan adalah prestasi anak mereka.

Ibu A berkata: anak saya pelajarannya semua 100, hanya 1 saja yang 90.

Ibu B: iya anak saya tidak saya biarkan main-main saja kaya anak tetangga, sekarang bahasa inggrisnya sudah lancar.

Ibu C: anak saya saat ini les bahasa mandarin, bahasa Inggris, soalnya masa sekarang, pengusaan bahasa Inggris dan Mandarin memang yang paling penting.

Begitulah kira-kira gambaran besar percakapan orang tua ketika mereka bertemu. Tapi sayangnya, kerapkali anak-anak dipacu sedemikian rupa hanya untuk memuaskan ambisi orang tua, agar mereka dapat dengan bangga menceritakannya kepada orang tua yang lain.

Baca juga: Menjadi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Kekuatan dan Keunikan Kami

Hal yang perlu disadari adalah anak-anak bukan alat pemuas ambisi orang tua. Jika demikian, maka orang tua sedang meniadakan kemanusiaan anak tersebut. Maka, biarlah anak-anak itu menjadi manusia seutuhnya dengan menjadi diri mereka sendiri.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Bebani Anak dengan Pelbagai Tuntutan, Renungkan 5 Hal Penting tentang Anak Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yogi Liau | @yogiliau

Mahasiswa tingkat akhir STT Bandung

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar