It's OK to Not Be OK, Kasihilah Dirimu Sendiri Tanpa Syarat. Sesungguhnya Mengasihi dan Dikasihi Bermula dari itu Saja

Reflections & Inspirations

[Image: dailywomen.co.id]

5.3K
Apakah mengasihi diri sendiri itu selalu merupakan tindakan egois?

Suatu kali, seorang kawan menyampaikan keluh kesahnya kepada saya. Sudah beberapa lama ini ia memutuskan untuk memiliki sebuah hari khusus untuk dirinya sendiri. Di hari yang ia tetapkan sendiri itu, ia dapat melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Apakah itu membeli paket perawatan di spa, berbelanja, atau sekadar makan - di mana dan apa saja yang ia mau. Namun, untuk pilihannya itu, ternyata ia harus berhadapan dengan komentar sumbang dari keluarganya sendiri. "Hedon!" "Boros!" Begitu kecam mereka.


Di dunia ini, begitu banyak orang - tanpa mereka sadari - menuntut orang lain untuk memberi dan terus memberi diri.

"Ambil saja contoh satu hari dalam kehidupanku," kawan saya mencoba menjelaskan posisi. Ia kemudian menguraikan aktivitasnya sehari-hari. Meski bangun paling pagi di rumah, ia tetap saja harus bergegas, mempersiapkan segala sesuatu untuk suami dan anak-anak. Memastikan mereka pergi bekerja dan sekolah dengan badan bersih dan perut terisi. Untuk membantu ekonomi keluarga, ibu ini ngantor juga. Di kantor, tentu ada target yang harus dipenuhi. Ia juga harus menghadapi tuntutan klien dan tekanan dari atasan. Pulang kantor, ia kembali siap melayani anak-anak dan suami.

Bayangkan ini berulang setiap hari, terus menerus, selama bertahun-tahun. Apa yang akan terjadi? Jenuh, bukan?

"Ya, akhirnya aku mencapai titik itu. Aku berubah menjadi orang yang berbeda," lanjutnya. Ia yang biasanya lemah lembut dan sabar, berubah menjadi pemarah dan mudah tersinggung. Semua bingung dengan perubahan ini. Betapa sedihnya, tak seorang pun menyadari, ia terlalu lelah, mengalami kejenuhan. Bahkan mungkin, sudah masuk fase depresi.

[Image: parentingupstream.com]

Singkat cerita, ia bisa keluar dari depresi. "Aku tak mau kembali jatuh ke lubang gelap itu," ucapnya tegas. Itulah sebabnya ia mengambil sebuah hari untuk diri sendiri. Menikmati apa yang bisa dinikmati, selagi ia masih punya kesempatan menikmatinya.

Baca Juga: Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal ini Menyadarkan Bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan


Kisah kawan saya itu menunjukkan sebuah kenyataan pahit, bahwa ketika orang bicara 'menikmati hidup', seringkali dianggap sama dengan sedang bertindak egois. Bahwa orang yang 'baik' adalah orang yang bisa menahan kesenangan diri sendiri dan lebih banyak memberi kepada orang lain.

Benarkah demikian?



Tiga Aspek dalam Mengasihi dan Dikasihi

Perihal mengasihi dan dikasihi, ada tiga aspek yang tak dapat dilepaskan satu sama lain. Ketiga aspek tersebut saling terhubung pada garis yang sama panjang, seperti segitiga sama sisi.

Tiga aspek tersebut adalah Allah, diri sendiri, dan sesama manusia.

Relasi ketiganya saling memengaruhi. Jika seseorang tidak bisa mengasihi dirinya sendiri [dengan segala kelemahan dan kelebihan], dapat dipastikan ia tak akan bisa mengasihi Allah dan sesamanya dengan benar. Demikian pula sebaliknya.

Manusia memerlukan kontemplasi, demikian ungkap Peter Scazzero, penulis buku Emotionally Healthy Spirituality. Kontemplasi menuntun manusia berelasi dengan Allah. Relasi ini yang bersentuhan dengan kesehatan emosi. Pada saat yang sama, kontemplasi bukan sekadar relasi kita dengan Allah.

Kontemplasi, lebih daripada itu, merupakan cara kita memandang dan memperlakukan diri kita sendiri dan orang lain.

Relasi kita dengan Allah bagaikan dua sisi dari sebuah koin. Kontemplasi, yang merupakan kesatuan kasih kita dengan Allah seharusnya menghasilkan kesatuan kasih kita dengan orang lain. Relasi dengan Allah, sebagaimana telah disebutkan di atas, akan menuntun manusia pada kesehatan emosi. Kesehatan emosi membuat manusia berdosa mampu memperlakukan manusia lain dengan hormat dan layak. Kesehatan emosi memampukan manusia untuk mengenali manusia lain sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Sang Pencipta, bukan sekadar sebagai objek untuk dimanfaatkan.

Untuk dapat mengasihi kita memerlukan emosi yang sehat. Untuk dapat memiliki emosi yang sehat, kita perlu memiliki kesadaran diri. Kita perlu menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri. Kontemplasi.



Kontemplasi: Menjadi Diri Sendiri, Apa Adanya

Emosi yang sehat adalah faktor utama dan terutama yang memampukan kita untuk dapat mengasihi dan dikasihi. Relasi dengan Tuhan menjadi kunci untuk mencapainya.

Bukan sembarang relasi, melainkan relasi yang otentik.

Bukannya 'merohanikan' perasaan. Menutupi apa yang sebenarnya kita rasakan, cenderung enggan menyatakan kekecewaan atau kemarahan kepada Tuhan. Menganggap itu sebagai dosa besar, merasa kita akan kena kutuk bila melakukannya. Akhirnya, kita mengasihi Tuhan sebatas lip service aja. Kita terus menyatakan, "Allah itu baik," padahal memendam kecewa karena merasa doa kita tak dijawab.

Tuhan mau kita hadir tanpa topeng di hadapan-Nya.

Relasi yang otentik menyatakan seluruh keberadaan sehingga kita tidak terjebak dalam rutinitas. Kepalsuan dalam beribadah kepada Tuhan justru membunuh jiwa dan kerohanian kita.

Demikian pula dalam relasi kita dengan sesama. Relasi yang sehat adalah relasi yang dibangun dengan dasar kemurnian, authenticity. Dalam tiap relasi, penting bagi para pihak untuk bebas mengekspresikan diri, bukan hanya melulu menyenangkan orang lain.

Adalah mustahil untuk bisa menyenangkan semua orang. Kita hanya akan melelahkan diri sendiri jika mencoba melakukannya.

Kita perlu sadar, setiap orang memiliki pendapat dan selera yang berbeda-beda. Kita akan kehilangan identitas jika mengikuti apa kata dan kemauan setiap orang. Sesungguhnya, kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri.

Kita boleh kecewa, marah, atau tidak setuju dengan orang lain. Hanya, sampaikan itu semua dengan cara yang tepat. Yang membangun orang lain menjadi lebih baik, bukannya merusak. Sampaikan dengan lembut, tak perlu membentak. Jangan juga membicarakan di belakang, sedangkan di depannya berbaik-baik seakan tak terjadi apa-apa.

Jangan menyiksa diri. Berkata "Aku nggak kenapa-kenapa," padahal di dalam hati sibuk memendam nestapa.


Mengasihi diri sendiri sama sekali bukan tidakan egois.

[Image: hHuffington Post]

Sebaliknya, itu justru adalah tindakan kasih terpenting yang bisa dilakukan oleh setiap orang yang rindu mengasihi dan dikasihi sepenuh-penuhnya.



Baca Juga:

Perempuan, 7 'Tuntutan' ini Tak Perlu Membuatmu Merasa Tersudut dan Melupakan Kebahagiaanmu Sendiri

Kamu Berharga, Apa pun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apa pun yang Orang Lain Katakan kepadamu. 3 Hal Ini Buktinya

Biarkan Orang Berkata Apa, Kurangi Ribuan Pertempuran Tak Perlu, Jadilah Bahagia! Ini Teknik Cerdasnya




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "It's OK to Not Be OK, Kasihilah Dirimu Sendiri Tanpa Syarat. Sesungguhnya Mengasihi dan Dikasihi Bermula dari itu Saja". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Elizabeth Nathania | @elizabethnathania

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar