Inilah Pembunuh Relationship Nomor Satu. Simak & Hindari, Niscaya Hubungan akan Harmonis Selamanya.

Love & Friendship

[Image: flirt.com]

17.5K
Banyak relasi berakhir karena pasangan tak mampu mengalahkan pembunuh relasi nomor satu ini. Apakah itu dan bagaimana cara mengalahkannya?

Kedekatan hubungan membuat kita merasa bebas mengungkapkan isi hati dan kritikan, tanpa tedeng aling-aling. Ini berlaku, terutama, terhadap pasangan dan orang-orang terdekat. Bahkan, dengan dalih kejujuran, bahasa yang kita gunakan kadang jadi cenderung vulgar. Seenaknya. Tanpa perasaan. Benar?

Jarang disadari, bahwa sesungguhnya tujuan kritik adalah untuk membawa perubahan. Yang sering terjadi, pada kenyataannya, kita melontarkan kritik dengan tujuan melampiaskan uneg-uneg, rasa marah, tersinggung, atau ketidaksukaan kita terhadap tindakan, sikap, atau perkataan orang lain. Lebih kepada sikap 'buang sampah', bahkan pelampiasan dendam. Nada dan kata yang digunakan sarkastik, penenakan pada kemarahan atau rasa tidak suka, sehingga si pendengar - yang menerima kritik - merasakan sekali kebencian yang tersimpan di dalamnya.

[Image: odysseyonline.com]

Di balik perkataan, "Saya kasih tahu, biar kamu mengerti bahwa sesungguhnya kamu ini bla bla bla ... Orang lain tidak ada yang berani mengatakan hal ini kepadamu. Sadari itu!" yang diucapkan dalam keadaan emosional, biasanya cenderung melebihkan apa yang terjadi, memberi label tanpa perasaan: pemalas, pelupa, pemboros, tidak berguna.

Ketika orang berbuat salah karena lupa, kita lalu memberi kritik dengan penekanan: "Kamu memang SELALU pelupa. Tidak bisa diandalkan." Padahal tahun ini, orang itu baru lupa sekali, tetapi yang diingat kesalahan bertahun-tahun lalu, diungkit-ungkit kembali.

Hidup bersama puluhan tahun, jika kesalahan lama tak pernah dihapus, perbaikan tak diapresiasi, bagaimana mungkin bisa terjalin relasi yang harmonis?

Niat yang 'kelihatannya' baik, dibalut dengan nada tinggi, kebencian, kemarahan di dalam tiap pilihan kata, malah tidak menunjukkan kebaikan dalam kalimat yang diucapkan. Penuh penghakiman dan penolakan. Bagaimana mungkin orang tertarik untuk berubah dan memperbaiki diri?

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Pasangan, Inilah 5 Bahaya dan 5 Solusinya



Mari berhenti sejenak dan renungkan kembali,

Tujuan kita menyampaikan kritik adalah agar terjadi perubahan dan perbaikan demi terjalinnya hubungan yang makin harmonis dan menyenangkan. Dengan cara kita mengkritik yang 'seperti itu', orang yang menerima kritik bukannya menyadari, merenungkan, lalu memperbaiki kesalahan. Sebaliknya, akan sibuk merasakan pahitnya penolakan, penghakiman, lalu secara natural, akan mendirikan 'benteng' dan melawan balik, entah melalui jawaban atau justru dengan diam - tetapi menyimpan luka mendalam.

Inilah penghancur relasi terbesar yang kerap kali tidak disadari oleh mereka yang memiliki otoritas: Merendahkan.

Tujuan tidak tercapai, justru timbul gap - jarak tak kasat mata. Daniel Golemann, pakar emotional intelligence mengungkapkan, pembunuh relasi nomor satu adalah sikap merendahkan yang diikuti dengan perasaan jijik.

Baca Juga: Relasi Bukanlah Permainan Apalagi Pertandingan. Tak Ada Menang atau Kalah, Hanya Kehancuran, bila Kita Mempermainkannya

Hal ini pula yang seringkali menjadi penyebab perselingkuhan dalam rumah tangga, serta anak yang memilih menjauh dari orangtua hingga terjerat narkoba. Teman-teman di luar sana lebih menghargai sehingga mereka merasa aman serta diterima, sementara di rumah penolakan tersamar dan penghakiman terus berlangsung tanpa henti. Kasih bersyarat. Tidak ada orang yang suka jika kesalahan lama terus diungkit-ungkit.

Inilah tips cerdas untuk memberikan kritik membangun yang membawa perbaikan:


1. Sampaikan kritikan saat hati tenang

[Image: ributrukun.com]

Jangan pernah berkata apa pun ketika emosi. Meski kalimat yang diucapkan itu benar, emosi akan mengubah artinya. Pendengar akan merasakan penolakan dan penghakiman saat kalimat diucapkan dengan emosi negatif.



2. Batasi kritikan pada apa yang terjadi saat ini

Berhenti mengaitkan kesalahan hari ini dengan kesalahan di masa lalu. Jangan melebih-lebihkan kejadiannya dengan memberi label 'SELALU'.

Hari ini memecahkan piring. Dua tahun lalu pernah memecahkan piring. Tidak berarti dia SELALU memecahkan piring, bukan? Masih banyak peristiwa ketika dia membawa piring dan tidak pecah. Toh piring sudah pecah. Apa gunanya menggunakan kata hiperbola agar kelihatan lebih heboh jika itu membuat orang yang bersalah menjadi makin terpojok?

Baca Juga: Kasus Kopi Sianida: Rekam Jejak Seseorang adalah Penentu Masa Depannya. Renungkanlah 3 Hal ini Demi Meraih Kesuksesan



3. Hargai perbaikan sekecil apa pun

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, demikian ungkapan orang bijak. Ketika kita mengungkit kesalahan-kesalahan lama, sesungguhnya itu bagaikan menyebar ‘fitnah’. Jika 3 tahun lalu, selama setahun kesalahan yang sama terjadi sebanyak 10 kali dan tahun ini hanya terjadi 3 kali, apakah kita bisa menghargai usaha dan perbaikan yang telah dilakukan?

[Image: familyandcouplecounseling.com]
Sesuatu yang mendorong orang ingin menjadi lebih baik adalah apresiasi. Puji untuk perbaikan sekecil apa pun.

Baca Juga: Tolong! Suamiku Anak Mama. Inilah 5 Cara Mengubah Anak Mama Menjadi Pria Dewasa



4. Kritik disampaikan dengan strategi cerdas dan bijak

Siapa bilang kritik harus disampaikan dengan kata-kata yang menyakitkan? Orang yang bijak dan cerdas akan membungkus kritik sedemikian rupa sehingga yang menerima kritik akan dengan senang hati mengubah diri dan merasa bangga dengan perbaikan yang dicapainya. Ibarat obat, sisi luarnya dibungkus kapsul sehingga bubuk di dalamnya dapat tertelan tanpa terasa pahitnya.

Bagaimana caranya? Inilah tips cerdas untuk menyampaikan kritikan dengan teori sandwich:


1. Mulai dengan Pujian

Dimulai dengan memberikan pujian atau menunjukkan hal-hal positif yang dimiliki orang yang hendak dikritik. Sampaikan dengan ketulusan hati. Orang lain bisa merasakan apakah kita bersungguh-sungguh atau tidak dengan apa yang kita ungkapkan.

Baca Juga: Pujian: Tulus, Basa-basi atau Akal Bulus? Inilah Cara Membedakannya


2. Pilih Kata yang Membangun

[Image: lifehack.org]

Sampaikan kritik yang membangun dengan pemilihan kata yang tidak terlalu menyakitkan. Daripada menggunakan kata ‘ceroboh’, lebih manis pakai kata ‘kurang hati-hati’. Daripada kata “goblog/bodoh’, ini lebih baik: "lebih cerdas/bijak jika kamu …” Artinya sama, tujuannya tercapai, tetapi tidak kasar dan menyakitkan.


3. Tutup dengan Pujian

Tutup pembicaraan dengan pujian atau menunjukkan hal-hal positif orang yang kita kritik. Jika memungkinkan, beri tepukan di punggung atau pelukan ringan yang menyiratkan, meski ada hal-hal yang kurang kusukai namun aku tetap mengasihi dan mendukungmu.


Sesungguhnya fondasi dasar dari semua relasi adalah rasa hormat atau menghargai. Jika kita hormat atau menghargai seseorang, bahkan dalam menyampaikan kritik, kita akan berhati-hati dan memastikan semuanya disampaikan dengan penuh penghormatan.

Baca Juga: Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis


Siap menjadi pribadi cerdas yang mampu membangun relasi harmonis selamanya?

Selamat mencoba!



Baca Juga:

Bertengkar dengan Pasangan? Inilah 5 Hal yang Perlu Dilakukan untuk Memperkokoh Hubungan Lewat Pertengkaran

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

2 Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah Pembunuh Relationship Nomor Satu. Simak & Hindari, Niscaya Hubungan akan Harmonis Selamanya.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar