Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah

Parenting

[Image: desiringgod.org]

7.4K
Hanya tiga hal, demikian kata kakek itu, yang perlu dikerjakan oleh seorang ayah.

Sejak mengetahui bahwa istri saya hamil dan kami akan segera memiliki anak pertama, saya dan istri berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri. Buku Kitab Hamil Terlengkap [What to Expect When You’re Expecting] menjadi salah satu penuntun yang memberikan gambaran cukup jelas terhadap jalan di depan ketika kami memasuki trimester kedua, ketiga, hingga proses persalinan terjadi.

Besarnya tingkat akurasi yang dipaparkan oleh buku itu mengatasi kekhawatiran dan ketidakpastian yang muncul selama proses kehamilan. Lewat pelajaran dari penulis Heidi Murkoff, berbagai perubahan bentuk tubuh, hormon, emosi, kebiasaan, selera makan, waktu makan, dan kebutuhan dari seorang ibu hamil dapat kami antisipasi. Sebagai suami yang belum pernah memiliki anak, saya bisa tenang. Selama apa yang terjadi dengan istri saya sejalan dengan apa yang dipaparkan dalam buku itu, maka proses kehamilan ini sedang berjalan dengan baik dan sehat.



Proses menjadi orangtua ternyata tidak selesai dengan lahirnya anak ke dunia

Tidak seperti makhluk lain, anak ini tidak bisa melakukan apa pun. Ia tidak bisa berjalan. Ia tidak bisa melindungi dirinya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Lapar, menangis. Takut, menangis. Ngantuk, menangis. Pipis, menangis. Sakit, menangis. Satu tindakan, seribu arti. Walau demikian, makhluk mungil itu mampu membuat kami jatuh hati dengan kekuatan cinta yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya.

Di sisi lain, kami mendapati bahwa

tidak ada satu buku pun yang mampu memperlengkapi kami untuk menjadi orangtua bagi penguasa kecil yang memiliki kemampuan mengubah dan meluluhkan hati kami hanya dengan satu senyuman saja ini.
[Image: Amanda Simpson Photography]

Oleh karena itu, sebagai orangtua, khususnya sebagai ayah, saya sangat menyadari

pentingnya membuka mata dan belajar dari orang lain yang sudah lebih dahulu melewati hutan belantara misterius dan ganas yang dikenal dengan masa parenting ini.

Baca Juga: Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya



Apakah benar kita harus melakukan semuanya?

Sebagai ayah yang ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, kita akan melakukan semua yang kita bisa. Supaya anak-anak bisa les piano dan biola, kita rela bekerja keras siang malam. Demi ambisi untuk menjadikan mereka sebagai the next masterchef atau the next idol, kita mengorbankan kesehatan kita. Tidak ada harga yang terlalu mahal bila hal itu bisa membuat masa depan anak kita menjadi lebih baik.

Tetapi apakah benar kita harus melakukan semuanya demi anak-anak?
Apakah semua yang kita lakukan itu akan membawa anak-anak kepada masa depan yang tepat untuk mereka?

Bila Anda seperti saya, maka terkadang perjuangan seorang ayah itu terasa seperti seorang perenang yang berusaha menyeberangi sebuah sungai aliran deras. Kita mengerahkan sekuat tenaga, tetapi kemajuan tidak pernah dirasa. Dan ketika kita terfokus untuk melakukan semuanya, kita lupa untuk membuka mata dan melihat bilamana arah yang kita tuju masih ada di hadapan kita. Sering kali, arus sungai ternyata telah mengalihkan arah kita dan setelah semua perjuangan yang kita lakukan sebagai ayah selesai, kita mendapati diri berada di sisi yang salah dari sungai tersebut.

Itulah sebabnya, ketika Woodall, seorang kakek membuka mulutnya dan membagikan pengalamannya berjuang sebagai ayah, saya segera membuka telinga. Terlebih ketika ia berkata bahwa nasihat yang akan ia bagikan ini juga ia dapatkan dari seorang kakek tua, puluhan tahun yang lalu ketika ia baru saja menjadi ayah. Nasihat yang sudah melewati asam garam kehidupan itu sama berharganya seperti batu mutiara yang indah, terbentuk akibat gesekan-gesekan yang timbul dari tantangan kehidupan.

Kepada Woodall, kakek itu berkata bahwa

Sebagai orangtua,
kita tidak harus melakukan semuanya untuk anak kita.

Untuk mempersiapkan seorang anak menghadapi masa depannya, maka kita sebagai ayah perlu memilih beberapa hal untuk menjadi fokus dalam proses pendidikan anak. Bila tidak, maka seperti arus sungai yang akan menerjang keras, kesibukan dan rutinitas sehari-hari akan menyita energi dan membuat kita menyimpang dari harapan untuk anak-anak kita.



Hanya tiga hal yang perlu dikerjakan oleh seorang ayah

Hanya tiga hal, demikian kata kakek itu, yang perlu dikerjakan oleh seorang ayah. Bila dikerjakan dengan baik, maka kita sebagai orangtua akan menuai kebahagiaan ketika melihat anak bertumbuh dewasa kelak.

Dengan segala keterbatasan, Woodall dan istrinya melakukan ketiga hal tersebut. Mendengar ia menguraikan dan menjelaskan tujuan dari masing-masing hal ini, rasa percaya diri saya mulai bertumbuh. Semangat untuk menjadi ayah yang lebih baik kembali membara dalam diri saya. Kepada diri ini saya katakan, saya bisa melakukan ini. Walau bukanlah sesuatu yang baru, ketiga hal ini bisa memperbarui tekad saya sebagai seorang ayah.

Inilah harapan yang ingin saya bagikan kepada para ayah, rekan-rekan seperjuangan saya dalam menjalankan peran kita sebagai ayah. Kamu dan saya bisa menjadi lebih baik tanpa perlu menjadi lebih sibuk. Bila kita bisa dengan konsisten melakukan hal-hal ini, maka kemungkinan anak kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan kita akan naik berlipat ganda.

Tiga hal yang Woodall dapatkan, praktikkan, dan kemudian bagikan untuk generasi ayah zaman ini adalah:



1. Ajarlah anak-anak dengan konsisten

[Image: sheknows.com]
Sadar atau tidak, setiap saat sesungguhnya kita sedang mengajarkan anak kita sesuatu.

Tetapi apa yang sedang kita ajarkan? Bagaimana kita memilih pembelajaran yang kita berikan? Apakah pembelajaran itu muncul sebagai reaksi terhadap kejadian yang mereka alami ataukah secara proaktif dengan tujuan yang jelas?

Bagi Woodall dan istrinya, memiliki jati diri yang tepat merupakan hal terpenting bagi setiap anak. Mereka ingin agar anak mereka mengerti bahwa hidup ini bertujuan dan mengenal apa tujuan itu sangatlah penting. Diawali dengan dasar karakter dan prinsip yang benar, mereka membangun hidup anak-anak dengan mengajak mereka untuk mencari dan memahami jati diri mereka dan untuk apa mereka ada di dunia ini.

Baca Juga: Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak



2. Praktikkanlah dengan ketulusan hati

Berapa besarkah tantangan yang dihadapi oleh seorang ayah dalam usaha untuk memastikan agar anaknya mendengar dan taat terhadap ajarannya? Sebesar tantangan yang dihadapi oleh seorang perokok ketika ia menasihati orang lain untuk tidak merokok.

Seperti kita dahulu, anak-anak memiliki kemampuan merekam luar biasa terhadap apa yang mereka lihat. Ketika nasihat dan larangan kita bisa keluar masuk dari kedua telinga, perbuatan dan kebiasaan kita akan tersimpan rapi di alam bawah sadar mereka untuk kemudian muncul kembali di masa depan mereka.

Ide kedua ini mengingatkan betapa pentingnya perilaku kita. Bila kita ingin anak kita memiliki karakter suka menolong orang lain, maka perkataan saja tidaklah cukup. Sejak kecil, mereka perlu melihat kebiasaan kita dalam memberikan bantuan kepada orang lain, melihat bahwa kita memiliki kepedulian ketika terjadi bencana dan berusaha membantu sebisa kita walaupun itu kecil.


[Image: lifehacker.ru]

Apa yang mereka lihat, itulah yang akan mereka tiru.



3. Doakanlah anak-anak tanpa henti-henti

Bagi Woodall dan keluarganya, relasi dengan Tuhan melebihi formalitas atau keharusan untuk beragama. Mereka benar-benar percaya kepada Tuhan mereka. Dan doa yang tiada putus-putusnya mereka panjatkan untuk anak-anak mereka adalah salah satu perwujudannya.

Mereka menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha hingga satu titik tertentu. Tidak ada jaminan bahwa seorang anak yang bertumbuh dalam keluarga yang baik dan penuh kasih tidak akan berakhir dalam penjara. Sebaliknya, poin ketiga ini memberikan harapan buat anak yang bertumbuh besar dari keluarga yang berantakan.

Ini adalah sebuah idealisme yang tinggi bagi saya. Di tengah kebebasan untuk beragama di tanah air tercinta ini, terkadang saya pun melakukan kesalahan dan menjadikan agama sebagai formalitas belaka. Poin ketiga ini mengingatkan saya sebagai ayah,

[Image: whiteandpristine.com]
Anak adalah titipan Tuhan. Karena itu, perlulah bagi saya untuk terus mengandalkan Dia - yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak kita.

Baca Juga: Hidup setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan kala Gelombang Duka Kematian Menerjang


Itulah tiga hal sederhana nan penting yang bisa dilakukan oleh setiap ayah. Tiga panduan berharga yang berfungsi sebagai penglihatan yang jelas di tengah upaya kita menyeberangi sungai yang deras. Tiga ide yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Tongkat estafet itu kini berada di tangan kita, para ayah.

[Image: Huffington Post]

Mari, hai ayah, jangan putus asa dan menyerah di tengah arus sungai kehidupan yang keras ini. Berikan energi dan perhatian, ikuti ketiga petunjuk ini dan jadilah ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita kelak.



Baca Juga:

Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!

Menjadi Ayah yang Lebih Baik: 3 Pelajaran Penting dari Darth Vader, Seorang Ayah yang Gagal

Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar