Inilah Kisah Perjuangan Hidup Sahabat Saya: Seorang Anak Pemulung yang Berhasil Menyelesaikan Studi D3

Reflections & Inspirations

[Image: lifeinspiredthought.wordpress.com]

2.4K
Ada hal-hal tertentu dalam hidup ini yang bisa kita pilih. Ada hal-hal yang harus kita terima, termasuk lahir dari latar belakang keluarga seperti apa. Namun, ada satu hal yang selalu ada dalam diri kita: kebebasan memilih sikap.

Nama saya Juni. Dua puluh tiga tahun lalu saya dilahirkan ke dunia, tanggal 29 Juni 1993 tepatnya. Sulung dari 4 bersaudara, lahir dan besar di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dengan bangga saya katakan, saya adalah anak seorang pemulung. Dan inilah kisah kehidupan saya.


Masa Kecil yang Penuh Kebahagiaan

Jika bisa memilih, rasanya semua orang tentu akan memilih untuk dilahirkan di keluarga yang tidak hanya cukup, tapi berkelimpahan dalam hal materi. Tak ada orang yang tak mau makan enak setiap hari. Tak ada yang akan menolak tinggal di rumah yang aman, terlindung dari panas akibat terik matahari atau dingin karena derasnya hujan. Hidup yang nyaman, itulah yang didambakan setiap manusia. Termasuk juga saya.

Namun ternyata, Tuhan punya pertimbangan dan rancangan sendiri. Ayah saya adalah seorang pemulung. Makan enak? Saya bahkan tak bisa makan nasi putih setiap hari. Apalagi makan ikan. Jalanan kasar dan berbatu adalah sahabat saya. Saya biasa bertelanjang kaki. Sepatu adalah sebuah kemewahan bagi saya. Pekerjaan ayah, yang hanya seorang pemulung, tidak menjadikan kami miskin. Sebaliknya, kami adalah keluarga yang kaya. Kaya dalam hati yang berbalas kasih dan kebersamaan.

Saya tak pernah kenal playgroup, juga tak pernah bersekolah di taman kanak-kanak. Masa kecil saya habiskan dengan bermain-main di dekat pantai setiap hari. Alam adalah ruang kelas tempat saya mengenyam pendidikan usia dini.

Baca Juga: Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita



Masa Sekolah yang Penuh Perjuangan

Saya beruntung masih bisa bersekolah. SD, SMP, dan SMA dapat saya jalani dengan baik. Masa-masa remaja saya lalui sambil membantu ayah bekerja. Sepulang sekolah, saya ikut ayah mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas yang sudah dibuang orang. Bagi mereka mungkin barang-barang itu hanyalah sampah yang tak berharga, namun bagi keluarga kami, itu amat besar nilainya. Dari situlah saya dan ketiga orang adik saya bisa makan dan bersekolah.

Selepas SMA, sebenarnya saya telah memutuskan untuk tidak berkuliah. Saya tak tega melihat ayah. Bekerja menghidupi istri dan anak-anaknya sehari-hari saja sudah berat, apalagi jika ditambah dengan membiayai kuliah saya. Apa tidak membuat beban di pundaknya semakin berat saja? Saya ingin membantunya bekerja, agar 3 orang adik saya bisa melanjutkan pendidikan mereka setinggi-tingginya. Ayah adalah seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Ia tak pernah berkecil hati dengan pekerjaannya, meski mungkin dipandang sebelah mata oleh orang banyak. Sepanjang tidak mencuri atau meminta, baginya pekerjaan itu adalah pekerjaan yang layak untuk dikerjakan. "Mengapa harus malu?" katanya, toh semua ia lakukan dengan dasar kasih sayang untuk istri dan anak-anak. Ayah adalah sosok laki-laki yang tegar dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Bagi saya, Ialah teladan.

Meskipun saya berkeras, ayah tak mengizinkan saya berhenti hanya sampai di jenjang SMA. Saya harus berkuliah, berapa pun biayanya akan ia carikan, begitu katanya. Saat itu, penerimaan mahasiswa baru sedang dilaksanakan di beberapa kampus. Ada sebuah akademi yang juga membuka pendaftaran. Ayah mendorong saya untuk masuk ke akademi tersebut. Ia bahkan mengantar dan menemani saya mendaftar. Akhirnya saya berkuliah juga.

Kebutuhan hidup keluarga kami semakin hari semakin meningkat. Pengeluaran terbesar tentunya adalah biaya kuliah saya. Oleh karena itu, masa-masa kuliah saya jalani dengan belajar dan bekerja, membantu ayah memulung setiap hari. Walaupun tak setiap hari makan nasi, rumah kami senantiasa hangat oleh canda tawa. Jagung bose dan ikan asin serta sambal lawar, asal dimakan bersama-sama, itu saja sudah lebih dari cukup untuk keluarga kami. Bukan berarti kami tak pernah sedih. Masa-masa tersedih dalam keluarga kami adalah ketika ibu mengalami tekanan darah tinggi saat mengandung si adik bungsu. Adik bungsu kami harus lahir dalam kondisi prematur, ketika usia kandungan ibu baru 8 bulan. Ayah juga sempat mengalami kecelakaan sepeda motor. Hati saya hancur melihat ayah dan ibu harus mengalami kesakitan.

Dengan segala perjuangan, saya dapat tetap survive hingga akhirnya lulus kuliah. Wisuda adalah momen yang begitu membanggakan bagi kedua orangtua saya. Saya bahagia, melihat senyum penuh kelegaan terukir di bibir ayah dan ibu. Tunai sudah kewajiban memberikan bekal kehidupan untuk anak pertama mereka.

Saya, seorang anak pemulung, bisa sekolah. Lulus D3, dengan IP tertinggi.

Namun, perjuangan belum selesai. Kini saatnya saya, walaupun tak pernah diminta oleh ayah, berbagi beban dengannya: bekerja untuk keluarga.



Masa Depan yang Penuh Pengharapan

Lulus dengan nilai terbaik memberikan beberapa keuntungan. Salah satunya adalah tidak perlu terlalu pusing melamar pekerjaan. Karena di Kupang, untuk mereka yang lulus dengan nilai terbaik, pekerjaanlah yang akan datang melamar. Terbukti. Malam itu juga, kakak rohani saya datang ke rumah menemui ayah. Ia menyampaikan kabar, ada sebuah pekerjaan menanti saya. Tidak selesai sampai di situ, karena lanjutannya amat mengejutkan untuk keluarga kami: pekerjaan itu ada di kota Surabaya. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya, apalagi ayah dan ibu, bahwa saya harus pergi jauh meninggalkan mereka. Oleh karena itu, respons pertama ayah adalah tidak setuju. Ia tidak akan pernah melepaskan anak gadisnya pergi ke tempat asing tanpa tahu pekerjaan macam apa yang akan saya kerjakan nanti. Akan tetapi, setelah mendapatkan penjelasan dari kakak rohani saya, ayah akhirnya mengizinkan juga saya mengambil tawaran pekerjaan itu.

Setelah wawancara melalui telepon, saya dinyatakan diterima dan diharapkan untuk dapat mulai bekerja di Surabaya di waktu yang mereka tentukan - bulan Januari waktu itu. Ini membawa permasalahan tersendiri. Untuk pergi ke sana, saya membutuhkan biaya transportasi. Saya juga butuh koper untuk membawa pakaian dan perlengkapan lain, butuh sepatu, dan yang tak kalah penting, butuh biaya hidup selama saya belum menerima gaji. Dan saat itu, semuanya belum ada!

Ayah, nampaknya mengetahui kekhawatiran saya, berkata, "Selama ini Tuhan sediakan biaya kuliahmu, Ia akan sediakan juga keperluanmu untuk pergi ke Surabaya." Lalu Ia mengajak kami berdoa bersama.

Suatu sore, seperti biasa ayah sedang memulung mencari barang bekas. Tiba-tiba, di tumpukan sampah, ia melihat ada sebuah bungkusan. Ia mencoba mengambil untuk melihat apa isi bungkusan itu. Betapa terkejutnya ayah, bungkusan itu ternyata adalah sebuah koper dalam kondisi masih baru. Koper yang saya butuhkan untuk membawa pakaian dan perlengkapan saya ke Surabaya. Hari itu ayah pulang dengan tergesa-gesa sambil berteriak-teriak memanggil kami semua, "Lihat apa yang kita doakan!"

Waktu keberangkatan semakin dekat, satu per satu kebutuhan saya terpenuhi. Mulai dari koper, hingga sepatu, Tuhan jawab dan genapi. Namun, biaya untuk ke Surabaya belum kunjung terkumpul. Bagaimana saya bisa pergi, jika tak punya tiket? Bagaimana membeli tiket, bila tak ada uangnya? Di tengah kekhawatiran, Tuhan lagi-lagi memberikan kejutan, siang itu saya menerima kabar dari perusahaan tempat saya bekerja, tiket pesawat ke Surabaya telah mereka sediakan untuk saya. Luar biasa! Seumur hidup, saya belum pernah naik pesawat terbang. Kali ini, tiketnya disediakan untuk saya. Luar biasa Tuhan menolong saya!

Tepat di tanggal keberangkatan, saya duduk di bangku pesawat. Saya begitu terharu hingga tak sadar menitikkan air mata. Terbayang kembali seluruh perjuangan, terutama kerja keras ayah yang telah mengantarkan saya hingga detik saya duduk di bangku pesawat terbang itu. Dalam hati saya berjanji, "Saya akan membantu meringankan beban ayah. Mulai saat ini beban itu dibagi, saya pindahkan sebagian ke tangan saya."

Walaupun sempat takut karena baru pertama kali terbang, akhirnya saya tiba dengan selamat di Surabaya. Sekali lagi Tuhan menunjukkan pemeliharaannya, karena ternyata di sana saya tak perlu bingung mencari tempat tinggal. Tempat kost telah disediakan oleh perusahaan. Lalu, bagaimana dengan biaya hidup? Saya diperbolehkan untuk mengambil gaji di muka, meskipun belum bekerja.



Sekarang, saya berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Dari pengalaman hidup saya, satu hal yang saya yakini: Tuhan tak pernah setengah-setengah bekerja.

Jika di masa lalu banyak hal telah Ia tolong, maka di masa yang akan datang pun, Ia pasti juga akan menolong.

Tak perlu takut menghadapi masa depan. Asalkan saya tetap mengandalkan Tuhan, mujizat-mujizat akan Ia berikan tepat pada waktunya.



Baca Juga:

Tak Diharapkan Lahir oleh Ibu, Tak Dicintai Bahkan oleh Diri Sendiri. Saya Pulih, Bangkit dan Menata Masa Depan Karena 5 Hal ini

Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal ini yang Menyadarkan Bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah Kisah Perjuangan Hidup Sahabat Saya: Seorang Anak Pemulung yang Berhasil Menyelesaikan Studi D3". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Elisa Aprilia | @elisaaprilia

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar