Bertahun-tahun Menjadi Korban Bullying, 9 Hal inilah yang Menyembuhkan Luka dan Membuat Saya Kembali Menemukan Keberhargaan Diri

Reflections & Inspirations

[Image: crosswalk.com]

5.5K
Tidak peduli masa lalu seperti apa yang kamu hadapi, yakinlah bahwa masa depan yang akan kamu hadapi jauh lebih cerah. Sebesar ketakutanmu, sebesar itu pulalah kamu harus berani bermimpi.

Tidak ada seorang pun yang pernah bermimpi untuk menjadi korban bullying. Namun, kenyataannya, kasus bullying selalu dapat kita temukan di mana pun kita berada. Hadir dalam bermacam bentuk dan ukuran. Dalam berbagai bentuk hubungan, lingkungan, dan juga usia. Dari kasus yang ringan sampai berat. Dari bentuk fisik sampai emosional. Terjadi di sekolahan sampai di dunia maya.

Apa pun kasusnya, kalau kamu pernah mengalami bullying, kamu pasti mengetahui bagaimana dampaknya dapat merasuk sampai ke kedalaman jiwa. Sampai saat ini pun, ketika mendengarkan kisah dan berita tentang penindasan atau bullying, saya masih dapat membayangkan rasa malu, keputusasaan, dan kemarahan yang saya alami ketika semua kejadian itu berlangsung. Rasa tertolak yang harus saya tanggung pada masa-masa itu meninggalkan luka yang membentuk trauma. Yang menetap, meski tahun demi tahun telah berganti.

Namun, kini, semua itu adalah masa yang sudah lama silam. Menjadi korban bullying bukan berarti kita tidak dapat bangkit kembali. Memang prosesnya tidaklah mudah. Juga tidak singkat. Namun bukan berarti tidak mungkin. Bahkan sangat mungkin. Saya berharap apa yang sudah saya lalui dapat membantumu dalam mengatasi apa pun pengalaman buruk yang mungkin pernah atau bahkan sedang kamu alami.


1. Terimalah apa yang telah kamu alami sebagaimana adanya

Butuh waktu lama bagi saya untuk menerima bahwa apa yang telah saya lalui selama bertahun-tahun di masa kecil dan masa awal remaja saya sebagai suatu bentuk bullying. Yang tidak saya sadari adalah, menyangkali kenyataan itu sama saja dengan mengabaikan luka di hati saya. Selayaknya luka, jika tidak segera diobati, luka itu akan menjadi semakin lebar, meradang, dan bahkan bernanah. Luka yang berusaha saya kubur ini kemudian memengaruhi setiap keputusan dan juga hubungan yang saya jalani. Menimbulkan luka-luka baru yang membuat hidup saya terasa semakin salah.

Selama saya, dan juga kamu, menolak untuk memandang luka itu sebagai luka, maka kita pun tidak akan merasa perlu untuk mengambil langkah demi mengobatinya.

Baca Juga: Kejujuran, Satu-satunya Jalan Penyembuhan. Inilah 7 Pengakuan yang Akan Membebaskan Diri dari Rasa Sakit karena Menyimpan Luka Batin



2. Melupakan itu memang sulit, tetapi ampunilah para penindasmu

Kesalahan yang saya lakukan adalah berusaha untuk melupakan masa lalu saya tanpa mengampuni orang-orang yang menyakiti saya. Padahal, kecuali saya mengalami amnesia, mustahil bagi saya untuk melupakan apa yang telah terjadi dalam hidup saya selama bertahun-tahun.

Memang tidak mudah untuk mengampuni dan melepaskan begitu saja apa yang telah dilakukan orang yang menyakiti kita. Terlebih karena mereka telah membuat kita merasa seperti orang yang paling tidak berharga di dunia. Namun selama kita tidak bisa melakukanya, kita tidak akan pernah bisa menjalani hubungan yang sukses. Apa pun bentuk hubungan itu. Baik itu pertemanan, percintaan, bahkan di dalam keluarga sekalipun. Akan selalu ada perasaan insecure yang membayangi. Karena pada dasarnya, luka di dalam hati kita dapat membuat kita merasa tidak mampu untuk memercayai bahwa ada yang sanggup mengasihi kita apa adanya.

Sama seperti kita tidak akan melupakan benda yang kita genggam, demikian halnya dengan menyimpan kesalahan orang lain. Semua perasaan yang mereka timbulkan pun akan terus mengikuti kita ke mana pun kita pergi. Melukai kita lagi dan lagi. Namun, ketika kita melepaskan pengampunan, hati kita akan mulai mengalami pemulihan. Hanya dengan cara itulah, baru kita bisa melupakan. Karena melupakan di sini bukanlah tentang ingatan, tetapi tentang sikap hati.

Baca Juga: 8 Cara Mengampuni Mereka Yang Bersalah Kepada Kita



3. Semua yang terjadi bukanlah salahmu

Kita tidak bisa mencegah para pem-bully untuk mem-bully kita. Apakah kita berdiam, mengasihani diri atau marah serta melawan, penindasan itu tidak akan berhenti. Terkadang, si pelaku sendiri pun tidak benar-benar memahami apa yang tengah mereka lakukan. Terutama bila pelakunya masih anak-anak. Mereka tidak mengerti bahwa yang mereka perbuat itu salah dan merugikan orang lain. Bisa juga terjadi, para penindas tidak merasa bahwa mereka sedang melakukan salah satu bentuk penindasan. Mungkin mereka malah menganggapnya sebagai suatu lelucon untuk ditertawakan beramai-ramai. Mereka tidak mempertimbangkan apakah perkataan atau perbuatan mereka menyakiti orang lain.

Banyak alasan serta motif untuk melakukan bullying. Akan tetapi, berhentilah bertanya-tanya kenapa semua itu terjadi padamu. Hal itu hanya akan melukai dirimu lebih dalam lagi. Kalau suatu saat kamu kebetulan memperoleh kesempatan untuk mengetahuinya, mungkin itu baik. Namun kalau tidak, itu juga bagus. Kita tidak perlu mempertanyakannya. Karena pada akhirnya, apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendirilah yang terpenting.



4. Apa pun yang mereka katakan tentang dirimu, itu bukanlah dirimu yang sesungguhnya

Tidakkah cukup bila ada orang-orang tertentu, yang mungkin sudah menjadi bagian dari masa lalu, yang memandangmu dengan cara yang salah?

Berhentilah memandang dirimu sendiri dengan cara demikian!

Salah satu kesalahan fatal yang pernah saya lakukan adalah membiarkan orang - atau orang-orang - lain mendefinisikan siapa diri saya. Saat itu saya tidak menyadari bahwa apa yang kita percayai tentang diri kita sendiri akan menentukan bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Kemudian hal itu juga akan memengaruhi bagaimana kebanyakan orang bersikap kepada kita. Yang sebenarnya, tentu saja, tidak kita harapkan.

Apa yang kita pikirkan dan percayai tentang diri sendiri bisa disebut sebagai identitas diri atau gambar diri. Ketika mengalami penindasan atau bullying, gambaran ini bisa rusak bahkan hancur. Padahal gambar diri ini sangatlah penting bagi kualitas hidup kita. Kabar baiknya, kita dapat memperbaiki gambar diri ini. Saya pernah menuliskannya dalam artikel tersendiri, kamu bisa membacanya di sini.



5. Kamu berharga, apa pun yang mungkin kamu rasakan sekarang ini

Perasaan terkucil dan tidak berharga wajar ditemukan pada korban bullying. Perlakuan buruk yang diterima secara terus-menerus memang dapat mengikis harga diri seseorang sedemikian rupa sampai dengan nol. Akan tetapi, percayalah, kamu itu berharga. Jangan ambil hati apa yang orang lain katakan tentang kamu. Fokuslah pada potensi yang kamu miliki. Jangan berandai-andai dan membandingkan. Usahakanlah apa yang kamu inginkan untuk terjadi dalam hidupmu.

Bukan orang lain yang dapat menentukan seberapa berharganya kita, tetapi diri kita sendiri. Pada awalnya, mungkin sulit untuk memercayai bahwa kita memang berharga, tetapi cobalah. Karena perasaan berharga sejatinya datang dari penghargaan atas diri sendiri.



6. Berhentilah menolak dirimu sendiri

[Image: allisonfallon.com]

Kamu berhak memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun kamu tidak akan bisa mewujudkannya selama kamu masih menolak dirimu sendiri. Ya, tidak jarang kita melakukannya. Mungkin kita tidak menyadarinya. Hal itu terjadi ketika kita bersikap seperti apa yang kita pikir orang lain harapkan dari kita. Ketika kita berusaha untuk menyenangkan semua orang apa pun caranya.

Inilah ironi itu, kita begitu ingin diterima oleh orang lain, tetapi malah menolak diri kita sendiri.

Bagi orang-orang yang terbiasa tertolak, mencoba untuk berelasi dengan orang lain memang bisa menjadi suatu ketakutan tersendiri. Akan tetapi, menjadi seseorang yang bukan dirimu hanya supaya dapat masuk dalam sebuah lingkungan atau pergaulan bukanlah jawaban. Kamu hanya akan semakin merasa sendirian dan terbuang jika kamu tetap melakukannya.



7. Kamu bisa keluar dari bayang-bayang penindasmu dan bahkan penindasan itu sendiri sebagai seorang pemenang

Kamu bisa memilih untuk membiarkan para penindasmu senang karena kata-kata mereka tentangmu terbukti benar, atau sebaliknya, kamu bisa membuktikan bahwa mereka salah.

Entah kamu menyadarinya atau tidak, tetapi masa-masa penindasan itu sedikit banyak telah memberimu pelajaran berharga. Kita memang tidak bisa membenarkan penindasan, tetapi di kala hal itu terjadi, kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Kalau kita menjadi lemah, kita akan menjadi seseorang yang penuh dengan kepahitan. Namun jika kita behasil melaluinya, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Tidak peduli masa lalu seperti apa yang kamu hadapi, yakinlah bahwa masa depan yang akan kamu hadapi jauh lebih cerah. Sebesar ketakutanmu, sebesar itu pulalah kamu harus berani bermimpi.

Baca Juga: Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



8. Temukan minat dan tujuan hidupmu

[Image: besthealthmag.ca]

Lawan perasaan yang cenderung membuatmu berkecil hati. Jangan terus meratapi nasibmu yang buruk. Atau ketidakmampuanmu. Tahukah kamu apa yang terjadi setelah hujan badai berlalu? Ya, langit biru yang cerah dan pelangi yang indah. Seperti itulah hidupmu seharusnya. Seperti itulah Tuhan akan membuat hidupmu menjadi penuh dengan harapan. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah melakukan bagianmu. Bangkit dan berjuang.

Bejuanglah untuk membangun kembali hidupmu. Temukan apa yang kamu sukai dan lakukanlah. Tidak perlu hal-hal yang besar. Cukup hal-hal kecil sebagai langkah awal. Bisa suatu hobi atau bahkan menjadi sukarelawan. Kamu akan terkejut ketika menemukan ke mana hal-hal kecil itu akan membawamu. Tidak tertutup kemungkinan jika kemudian kamu menemukan tujuan dan panggilan hidupmu ketika sedang berjuang untuk bangkit kembali.

Percayalah. Di dalam dirimu ada potensi-potensi yang menanti untuk ditemukan. Tuhan tak pernah lupa menganugerahkan talenta di dalam diri setiap kita.

Baca Juga: Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, adalah Sebuah Perjalanan



9. Jadilah solusi bagi sekitarmu

Boleh jadi kamu adalah seorang korban. Namun semua kembali lagi pada apa yang kamu inginkan dalam hidupmu. Kita sudah mengetahui bahwa penghargaan datang dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Sekarang saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa hidup bukanlah tentang diri kita sendiri. Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk sosial, tidakkah wajar jika itu berarti kita diharapkan untuk saling membantu dalam hidup ini?

Tahukah kamu bahwa setiap dari kita adalah solusi bagi orang lain? Bahwa kita dapat mengubah hari seseorang menjadi sedikit lebih cerah?

Hal terbaik yang bisa terjadi pada korban penindasan mungkin adalah kesadaran akan betapa berharganya uluran tangan orang lain, sekecil apa pun itu. Bahwa betapa menyenangkannya ketika seseorang bersikap manis kepada kita.

Percayalah, di mana pun kamu berada, kamu bisa menjadi jawaban dan berkat bagi orang lain.


Mengertilah, perubahan dimulai dari dalam diri kita sendiri, bukan sebaliknya. Ingat, untuk segala sesuatu ada masanya. Kalau ada masa-masa di mana kita terjatuh dan terhilang, maka akan ada masanya di mana kita akan bangkit serta menemukan berlian yang tertanam di dalam setiap diri kita.

Kemudian, kesadaran inilah yang membuat saya selalu bangkit, setiap kalinya: Seluruh dunia boleh menolakmu, tetapi Tuhan tetap dan akan selalu mencintaimu. Siapa pun kamu. Apa pun yang telah terjadi padamu. Apa pun yang kamu lakukan. Tuhan tidak pernah berhenti mengasihimu. Tidak akan. It’s a promise.



Baca Juga:

Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal ini yang Menyadarkan Bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah ini

Jangan Biarkan Orang Lain Menjadi Remote Control Hidupmu!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bertahun-tahun Menjadi Korban Bullying, 9 Hal inilah yang Menyembuhkan Luka dan Membuat Saya Kembali Menemukan Keberhargaan Diri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Marlena V.Lee | @marlena

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Valencia Eveline | @valenciaeveline

membaca artikel ini saya mendapat energi pencerahan,mengampuni masalalu yang pedih memaafkan diri sendiri.sungguh jalan penerang inspiratif seolah tulisan yang diwahyukan Tuhan untuk artikel ini.plester bagi korban bullying yang trauma,terluka,remuk danhancur menjadi semangat menjalani hari esok.terima kasih artikelnya