6 Nasihat bagi Generasi Milenial dari Budaya Saprahan Melayu Pontianak

Reflections & Inspirations

[image: detiknews]

199
Budaya saprahan sudah tidak banyak diketahui generasi milenial masa kini, bahkan orang-orang melayu generasi ini pun banyak yang sudah tidak mengenalnya. Padahal, bagi generasi millennial yang sangat dipengaruhi medsos, online game, dan kehidupan individualism, budaya ini mempunyai pelajaran-pelajaran kehidupan yang dapat mereka petik.


Jika ada kota yang memiliki kebersamaan tinggi di tengah beragamnya suku, agama, dan kebudayaan, itu adalah Pontianak. Kota yang disebut Kota Katulistiwa ini, selain terkenal dengan cuaca panasnya–karena dilintasi garis katulistiwa–juga dikenal akan beberapa budayanya. Salah satu budaya yang terkenal adalah budaya makan suku Melayu, yaitu Saprahan.



Mengenal Budaya Makan Saprahan Melayu Pontianak

Budaya makan saprahan sebenarnya adalah budaya melayu Sambas (salah satu kota kecil yang ada di Kalimantan Barat). Makan saprahan biasa identik dengan makan melantai yang menggunakan kain saprah sebagai alas makanannya. Di era sekarang, makan saprahan biasanya juga menggunakan daun pisang sebagai alas. Akan tetapi, inti dari makan saprahan bukanlah tentang makan melantai, tetapi di dalamnya terdapat filosofi-filosofi yang sangat indah.

Biasanya makan saprahan dilakukan di acara-acara tertentu, misalnya pernikahan atau ucapan syukur lainnya. Persiapan-persiapan yang dilakukan untuk kebersamaan ini tidaklah mudah. Budaya ini membutuhkan orang dengan jumlah yang sangat banyak dalam persiapannya. Oleh karena itu, orang-orang Melayu Sambas biasanya bergotong royong dalam mempersiapkan segalanya. Dalam proses makannya juga terdapat aturan-aturannya sendiri, dan ada tata karma yang harus diikuti. Selain gotong royong dan kebersamaan, makan saprahan juga mengandung arti kesetaraan (berdiri sama tinggi, duduk sama rendah), keramahtamaan dan persaudaraan yang erat.



Pelajaran dari Budaya Saprahan bagi Generasi Milenial

Budaya saprahan sudah tidak banyak diketahui generasi milenial masa kini, bahkan orang-orang melayu generasi ini pun banyak yang sudah tidak mengenalnya. Padahal, bagi generasi millennial yang sangat dipengaruhi medsos, online game, dan kehidupan individualism, budaya ini mempunyai pelajaran-pelajaran kehidupan yang dapat mereka petik.



1. Kebersamaan yang indah harus diusahakan

Budaya makan saprahan tidak instan terjadi. Orang-orang yang terlibat membutuhkan waktu setidaknya satu minggu untuk mempersiapkannya. Setelah itu, baru mereka menikmati kebersamaan bersama para kerabat, teman dekat, teman satu kampung, dan lain-lainnya.

[image: youngnet]

Di tengah generasi milenial yang terbiasa dengan hal-hal instan dan praktis, sepertinya kita harus belajar dari budaya ini bahwa kebersamaan tidak instan tetapi membutuhkan usaha.

Baca Juga: Mengapa Relasi Tak Bertahan Lama? Temukan 4 Penjelasannya di Artikel Ini



2. Gotong royong adalah DNA dari kehidupan bersosial

Budaya saprahan adalah budaya dengan gotong royong yang sangat tinggi. Setiap ada orang yang mau mengadakan acara, biasanya seisi kampung akan bahu-membahu dalam acara ini dan tidak menuntut imbalan apa pun. Apa yang mereka lakukan murni dalam rangka kebersamaan. Sepertinya hal ini telah dilakukan turun-temurun dan sudah menjadi DNA bagi suku Melayu Sambas.

Benar, gotong royong adalah DNA dari kehidupan bersosial. Sejak SD, kita juga diajarkan tentang hal ini. Tampaknya, generasi kita benar-benar harus mengembalikan DNA ini dalam kehidupan sehari-hari.



3. Kesetiakawanan menghasilkan relasi yang “kekal”

[image: theway7020]

Kesetiakawanan merupakan barang langka saat ini. Tidak ada kesetiawanan dalam dunia maya, tetapi generasi kita lebih memilih berteman dengan orang-orang dari dunia maya. Belum lagi tingkat kecurigaan yang sangat tinggi. Berbeda halnya dalam budaya saprahan, kesetiakawanan adalah salah satu hal utama yang diwariskan. Sepertinya, kita harus kembali memupuk semangat ini dalam kehidupan anak muda generasi milenial.

Baca Juga: Sahabat Sejati atau Sekadar Kawan? Inilah 10 Tanda yang Menjadi Pembedanya



4. Kesetaraan bagi semua orang

Budaya saprahan mengajarkan tentang kesetaraan bagi setiap manusia. Filosofi berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah menjadi legitimasi hal ini.

Kesetaraan artinya memperlakukan semua orang sama. Keberhargaan diri seorang manusia tidak dinilai dari posisi, uang, atau apa pun itu.

Kesetaraan berarti menilai manusia hanya karena kemanusiaannya, bukan yang lain. Selama dia adalah manusia, maka semua adalah setara.

Akan tetapi, kesetaraan dalam budaya makan saprahan juga bukan kesetaraan yang membabi buta. Di dalamnya terdapat hierarki juga. Misalnya, anak harus menghormati orang tua, kita harus menghargai pimpinan, dan sebagainya. Namun, hierarki tersebut tidak menandakan tinggi rendahnya keberhargaan diri manusia.



5. Sopan santun merupakan sesuatu yang dibudayakan turun-temurun

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang sopan dan santun. Ini adalah ciri khas dan budaya yang diwariskan kepada kita. Aturan-aturan dalam budaya saprahan pun terdapat ajaran mengenai sopan santun. Ya, kita harus belajar sopan santun dari budaya-budaya yang ada di Indonesia yang merupakan kearfian lokal kita sendiri. Salah satunya adalah melalui budaya makan saprahan suku melayu Pontianak.



6. Kebersamaan menghasilkan sukacita

Memang prosesnya cukup panjang untuk budaya kebersamaan ini. Namun, yang pasti budaya ini mengajarkan kita bahwa kebersamaan pasti menghasilkan sukacita.

[image: TTi Trends]

Tentunya harus kebersamaan yang berkualitas, tidak seperti kebersamaan generasi milenial sekarang yang kalau ngumpul malah semua sibuk dengan handphone-nya masing-masing.

Baca Juga: Sahabat adalah Berkat Kehidupan. Inilah 'BLESS' : 5 Kunci Sukses Menjalin Hubungan Persahabatan




Masih banyak pelajaran yang dapat kita petik dari setiap budaya kita. Seperti yang dapat kita temukan dalam budaya makan saprahan ala suku melayu Pontianak ini. Pelajaran-pelajaran ini dapat diterapkan lho dalam setiap kebersamaan kalian.







Baca juga artikel-artikel yang terinspirasi dari kearifan lokal ini:

Mbendol Mburi: Bagaimana Menghindarinya dengan Santun?

Buat Arek Suroboyo, Jatuh Cinta itu Mirip Makan Lontong Kupang. Ora Percoyo? Iki 5 Buktine




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "6 Nasihat bagi Generasi Milenial dari Budaya Saprahan Melayu Pontianak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yogi Liau | @yogiliau

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar