Inilah 5 Perilaku yang Mengubah Pria menjadi Ayah yang Hebat. Berubahlah demi Kebahagiaan Keluarga

Parenting

[image: www.mpampades.eu]

6.2K
Semua ayah tidak selamanya layak dipanggil sebagai ayah. Menjadi ayah berarti memberi diri untuk terus belajar dan berubah menjadi baik.

Banyak pria muda yang bingung di awal-awal ketika mereka menjadi seorang ayah. Sering kali ada kekhawatiran yang timbul bahwa kita tidak bisa menjadi ayah yang baik. Kemudian beberapa pertanyaan ini pun muncul dalam pikiran kita.


“Bisakah saya menjadi seorang ayah yang baik?”

“Bagaimana jika gagal?”

“Bagaimana jika tidak bisa?”


Tenanglah, semua pria pernah mengalaminya, walaupun dengan kadar yang berbeda. Lakukanlah 5 hal ini dan dijamin Anda bisa menjadi ayah yang hebat:



1. Jadilah teladan

“Bisanya cuma ngomong doang, tapi tidak bisa melakukan.”

Pernah mendengar kalimat itu dari anak Anda? Atau Anda sendiri pernah mengungkapkan hal itu dalam hati tentang ayah Anda? Ya, kita sering kalinya mudah untuk menyuruh tetapi tidak mampu melakukannya sendiri. Jika demikian halnya, mulai hari ini cobalah untuk selalu melakukan apa yang Anda katakan. Jadilah teladan bagi anak-anak Anda.

[image: www.taktikon.hu]

Ingatlah selalu, anak itu seperti mesin fotokopi paling canggih yang pernah ada. Ia akan meniru segala sesuatunya dari Anda. Cara Anda berbicara, berjalan, tidur, makan, bahkan cara anda tertawa bisa ditiru oleh anak. Bagaimana caranya Anda memperlakukan istri dan orang-orang sekitar, semua itu dilihat serta direkam oleh anak-anak Anda. Bisa dikatakan, mereka adalah representatif dirimu. Siapa dirimu dapat terlihat dari kelakuan mereka.

Karena itu, agar anak dapat meniru hal yang baik, awasilah diri Anda sendiri serta apa yang Anda lakukan. Jadilah teladan yang baik agar mereka melakukan hal yang baik pula. Ketika Anda bisa menjadi teladan yang baik, mereka akan memiliki role model untuk ditiru dan diikuti. Hal itu dapat menjadi bekal untuk mereka sewaktu mereka bertumbuh dewasa.

Baca Juga: Orang Tua Gagap Laku : Bisa Menasihati, namun Gagal Memberi Teladan. Bagaimana Mengupayakan Perubahan?



2. Jangan gampang memukul

Menjadi ayah berarti memegang tanggung jawab terhadap aturan yang ada di rumah. Sudah menjadi tugas Anda untuk mengawasi seluruh anggota keluarga tetap menjalankan aturan yang telah disepakati bersama. Menjadi tegas boleh saja, tetapi jangan gampang memukul. Para ahli tumbuh kembang anak mengatakan, “Satu kali kita memukul anak atau membentak anak, maka ratusan juta sel saraf di otaknya mati.” Dengan demikian, ketika Anda melakukannya, itu berarti Anda sedang menghambat tumbuh kembangnya.

[image: liter.kz]

Hal itu bukan berarti Anda membebaskan anak melakukan apa saja. Justru terlalu membebaskan Anak juga tidak baik.

Ketika anak melakukan suatu pelanggaran, ajaklah mereka untuk berbicara. Berilah mereka pengertian, bukan pukulan.

Hal ini jauh lebih baik, karena jika Anda sering memukul anak, hal itu akan menimbulkan sakit hati pada Anak dan semakin menjauhkan mereka dari Anda. Namun dengan banyak berkomunikasi, hubungan Anda dengan anak pun akan semakin dekat.

Baca Juga: Mengapa Orangtua Marah dan Memukul Anak? Tak Sekadar Soal Kehilangan Pengendalian Diri, Inilah Alasan-Alasan Lain yang Mungkin Tak Pernah Anda Duga



3. Hati-hati menggunakan mulutmu

Seorang ayah biasanya bukanlah orang yang cerewet, ia lebih banyak diam. Namun ketika sedang marah dan tidak dapat mengontrol amarahnya, ia bisa melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati.

[image: www.sciencedaily.com]

Ayah, anak-anakmu melihat, mendengar serta akan meniru semua yang Anda ucapkan. Hati-hatilah menggunakan mulutmu. Nabi Sulaiman yang pintar itu pernah menuliskan, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Apa yang Anda ucapkan akan kembali kepada Anda sendiri, jadi hati-hatilah dengan perkataan Anda kepada anak-anak. Ucapkanlah hal yang baik agar ia pun menjadi baik dan bukan sumpah serapah yang dapat melukai hatinya.

Baca Juga: Tidak Ada Anak yang Bodoh, Kenali Kelebihan Buah Hati dengan 5 Langkah Ini



4. Sediakan waktu untuk keluargamu

Seorang ayah biasanya adalah penopang keuangan utama dalam keluarga, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Namun jangan lupakan untuk apa Anda bekerja. Selain untuk aktualisasi diri, tentu untuk keluarga yang Anda cintai bukan? Akan tetapi, jika Anda jarang berkumpul dengan keluarga, bagaimana mereka bisa mengenal dan menikmati kehadiran Anda?

[image: www.alcedcolombia.org]

Suatu hari di sebuah perpustakaan salah satu kampus di Jogja, saya mendengar seorang ayah berbicara kepada teman saya.

“Bulan ini saya mengundurkan diri dari perusahaan, anak saya sudah berusia 10 tahun dan saya tidak hadir dalam pertumbuhan mereka, saya menyesal sekali”.

Teman saya bertanya, “Lho, kan sayang sekali. Jabatanmu di perusahaan sudah lumayan. Kamu mau kerja apa nanti?”

Lalu si ayah itu menjawab, “Uang bisa dicari. Toh, selama ini uang yang saya dapatkan tidak bisa mendekatkan saya dengan anak-anak. Saya tidak mau menyesal lagi nantinya.”

Setelah ngobrol dengan beliau, saya mengetahui ia bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Kalimantan dan punya jabatan yang cukup baik. Hanya saja ia baru bisa pulang setiap 2 bulan. Setiap kali ia hanya bisa tinggal di rumah selama 1 minggu, dan setelah itu berangkat lagi. Begitu terus selama belasan tahun.

Ya, menyediakan waktu bagi keluarga berarti Anda juga memberi waktu untuk diri Anda sendiri.

Baca Juga: Dari Saya, tentang Menjadi Seorang Ayah: Membangun Kedekatan Emosional dengan Anak Lewat Hal-Hal Sederhana Setiap Hari



5. Tegas tak harus kaku, beri kesempatan pada anak-anak saat melakukan kesalahan

[image: www.tavovaikas.lt]

Anak-anak adalah pribadi yang masih harus banyak belajar. Mereka belajar tentang aturan, apa yang boleh dan tidak boleh. Sekalipun sudah diberitahu, tidak jarang mereka masih saja mengulang kesalahan yang sama. Benar, kesabaran kita sering diuji dengan menjadi ayah.

Anda boleh tegas, menjalankan aturan yang telah disepakati dengan anak, tetapi jangan kaku. Seperti sebuah layangan, tarik ulur dengan anak tidak selalu salah. Misalnya, bangun pagi harus sesuai dengan jadwal yang disepakati itu bagus, tetapi jika anak tidak selalu bisa bangun pagi, janganlah menjadikannya masalah. Berilah mereka kesempatan untuk bangun siang beberapa kali dalam sebulan. Berikan mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ketika mereka melakukan pelanggaran.

Baca Juga: Di Ruang antara Kesalahan Anak dan Respons yang Kita Berikan, Tanyakanlah 3 Hal Ini agar Disiplin yang Diterapkan Berdampak Baik dan Besar pada Anak




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 5 Perilaku yang Mengubah Pria menjadi Ayah yang Hebat. Berubahlah demi Kebahagiaan Keluarga". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Robita Sembiring | @robitasembiring

Public Speaker. Pemerhati Anak. Dosen. Treaner. OWNER Sekolah CROWN SCHOOL yang berdiri di Surabaya. (WA - 0858-8375-9612)

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

mike donald | @LOANFIRM

Hola, ¿Está buscando libertad financiera? ¿Está en deuda, necesita un crédito para iniciar un nuevo negocio? ¿O doblar financieramente, usted necesita un crédito, un coche para comprar o una casa? ¿Alguna vez ha rechazado las finanzas de su banco? ¿Quieres mejorar tu situación financiera? ¿Necesita un préstamo que sus cuentas pagan? No busque más, le damos la bienvenida a una oportunidad para obtener todo tipo de préstamos, a un precio muy asequible 3% de interés para obtener más información, póngase en contacto con nosotros ahora por correo electrónico a: (stevedanielloanfirm@gmail.com)