Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri

Reflections & Inspirations

[Image: kainustravel.com.au]

2.3K
Pernah merantau di luar negeri tidak membuat saya tenggelam dalam kecewa akan nusantara. Dari kejauhan negeri seberang, saya justru jadi mampu melihat kilau ibu pertiwi dengan cahayanya yang menyala, terang. Saya bangga menjadi orang Indonesia.

Beberapa minggu lalu, saya dan keluarga berlibur ke negeri tetangga. Kebetulan saya dan suami pernah tinggal di sana selama beberapa tahun dalam upaya menimba ilmu. Liburan sambil bernostalgia, mungkin begitulah tepatnya kegiatan kami di sana. Terlebih, kini kami kembali bukan hanya berdua, tetapi dengan membawa serta satu anggota tambahan.

Menapaki kembali jejak-jejak kenangan kami, satu hal ini muncul dalam benak: benar tempat ini pernah menjadi rumah. Namun, betapapun nyaman, rumah ini persinggahan semata. Indonesialah tanah air, rumah sejati, ke mana kami akan selalu pulang kembali.

Memang, dengan jujur kami mengakui, kehidupan di sana sangatlah teratur dan penuh dengan kemudahan-kemudahan. Tapi entah mengapa, hingga kini saya dan suami selalu lebih memilih untuk pulang ke Indonesia ketimbang menetap di sana.

Institusi tempat kami belajar dulu membuka kesempatan bagi kami untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai negara dan bangsa. Banyak kesan dan kisah positif tentang Indonesia yang kami dapatkan dari teman-teman semasa kuliah. Lewat itu, saya kembali diingatkan dan diyakinkan, sudah sepatutnya saya bangga bertanah air Indonesia.


Kekayaan Budaya dan Seni

Salah satu program tahunan yang menjadi keistimewaan di institusi tempat kami belajar adalah International Night. Program ini dimulai di sore hari, di mana siswa dari setiap negara akan mempresentasikan objek-objek seni dan makanan khas daerah asal mereka. Kami selalu menikmati bazar ini. Di situ kami bisa mencicipi cita rasa berbagai makanan, belajar hal baru dari presentasi di tiap booth, bahkan tak jarang kami dapat pula mencoba berbagai baju atau kostum daerah. Sore hari itu, selasar kampus kami akan menjadi sangat berwarna, ramai, dan hangat. Kehangatan yang datang tak hanya dari mangkuk-mangkuk makanan yang disajikan, tapi juga dari jalinan percakapan nan bersahabat yang tercipta di sana.

Booth Indonesia selalu menjadi yang terfavorit. Berpuluh-puluh porsi makanan yang kami siapkan senantiasa ludes di jam-jam awal. Jangan bayangkan makanan mahal atau makanan daerah yang memerlukan persiapan yang lama, yang kami sajikan hanyalah makanan sederhana dalam porsi yang kecil. Sayur pecel dan es selasih, dua menu kesayangan yang selalu habis tak bersisa. Saya tak akan pernah lupa.

[Dokumentasi Mr. Lee Chi Hau]

Tak berhenti di situ saja, setelah puas menikmati bazar, malam harinya kami akan berkumpul menyaksikan penampilan dari tiap-tiap negara. Kami, tim Indonesia, selalu saja mendapatkan serbuan pertanyaan: apa yang akan kami tampilkan kali ini? Semasa beberapa tahun studi, saya dan teman-teman berkesempatan menampilkan berbagai kesenian dari berbagai daerah di Indonesia. Kami pernah menarikan tari Saman dari Aceh, menyanyikan lagu daerah Batak, menuturkan kisah suku di Papua, pernah pula mementaskan sebuah kisah drama dengan format wayang orang dari Jawa. Para dosen bercerita, pernah suatu kali teman-teman Indonesia menyanyikan lagu Dangdut is the Music of My Country dan mengajak seluruh yang hadir untuk berjoget bersama.

[Dokumentasi Mr. Joni Wang]

Indonesia memiliki kekayaan budaya serta karya seni yang unik dan beragam. Seorang teman dari benua lain pernah mengungkapkan kekagumannya akan kekayaan budaya Indonesia. Ia bahkan secara khusus mempelajari bahasa suku dari sebuah daerah karena terpikat dengan keindahannya.

Kekayaan ini perlu kita hargai dan lestarikan. Menuntut kemajuan dalam kualitas hidup bukan berarti meninggalkan dan melupakan warisan budaya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai budaya kita sendiri?



Kekayaan Cita Rasa

Salah satu hal yang membuat saya dan suami selalu kangen rumah adalah makanan. Di hari-hari awal perantauan, kami harus berjuang untuk dapat menikmati makanan yang rasanya cenderung hambar bila dibandingkan dengan makanan sehari-hari di rumah. Kami berusaha mencari makanan dengan cita rasa yang mirip dengan makanan Indonesia. Namun sayangnya, pencarian kami berujung sia-sia. Tak ada sup yang dapat menandingi rawon dan soto Jawa Timur. Gudeg Jawa Tengah? Tak juga berhasil kami temukan gantinya. Di waktu-waktu itu saya seringkali melamunkan, seandainya saja gerobak siomay si abang bisa lewat di depan kompleks asrama.

Tahu dan tempe yang hampir selalu mampir di menu makanan sehari-hari membuat kita jadi kurang menghargai makanan sederhana semacam itu. Tinggal di perantauan membuat kami menyadari betapa berharga dan kaya masakan nusantara, baik keberadaan maupun nilainya. Seporsi tempe penyet dengan rasa biasa saja di luar negeri harganya bisa sebanding dengan tiga porsi tempe penyet paling enak di Surabaya. Di rumah makan sederhana yang menyajikan makanan Indonesia langganan kami di sana, sepiring gado-gado sama mahalnya dengan sepiring steak di food court terkenal di mall.

Teman-teman selalu meminta kami mengajak mereka makan di restoran Padang atau depot penyetan ketika mereka berkunjung. Mereka juga memesan agar kami membawa sambal khas Indonesia, keripik singkong, dan bumbu-bumbu masak khas Indonesia ketika kami pulang berlibur.

Orang asing sangat menghargai kekayaan cita rasa nusantara. Sudah saatnya juga kita bangga dan menghargai cita rasa yang kaya dan istimewa dari daerah kita.



Kekayaan Hati dan Relasi

Salah seorang dosen yang amat saya hormati pernah menceritakan sebuah temuan sosiologi. Beliau mengatakan, Indonesia adalah bangsa yang sangat menghargai orangtua dan orang yang lebih tua. Tatanan sosial di Indonesia sangatlah unik, terlihat dari cara orang memanggil orang yang lebih tua. Laki-laki yang lebih tua kita sebut “Bapak”, tanpa memandang ada atau tidaknya hubungan saudara. Kita memperlakukan mereka dengan hormat - sama seperti kita menghormati ayah kita. Demikian pula halnya dengan sebutan "Ibu" untuk perempuan yang lebih tua. Kita menghormati mereka sama seperti kita menghormati ibu kita sendiri, terlepas dari ada atau tidaknya hubungan saudara. Tak heran, kedekatan menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indonesia.

Tahun-tahun merantau di negeri orang, kami berkali-kali ditolong oleh teman-teman sebangsa yang memberikan bantuan tanpa pamrih. Sebaliknya, kami pun tak sungkan menawarkan bantuan bagi teman-teman setanah air. Itulah gotong royong, tak sekadar slogan kosong tanpa makna, namun sebuah semangat jiwa yang benar kami alami dan rasakan. Bukan hanya mendapat dan memiliki sahabat-sahabat dekat, lebih dari itu, kami menemukan keluarga saat kami jauh dari keluarga.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Kesantunan dan kesopanan, dua karakteristik bangsa Indonesia yang diakui masyarakat dunia. Peristiwa yang dicatat oleh media asing ini salah satu contohnya. Ketika itu terjadi kebakaran hutan yang cukup parah di pulau Sumatera. Asap akibat kebakaran hutan itu turut mengungkung negeri seberang, mengakibatkan penduduk setempat mengalami banyak kesulitan dan kerugian. Indonesia bahkan sempat dijuluki sebagai negara pengekspor asap karenanya. Ikut merasakan kesusahan penduduk setempat, hati nurani dua mahasiswa asal Indonesia tergerak. Mereka membuat sebuah papan berisikan permohonan maaf dan membawanya ke tengah kota. Tak hanya membawa papan permohonan maaf, mereka juga membagikan masker kepada orang-orang yang mereka temui. Bukan mereka yang membakar hutan, bukan mereka yang menyebabkan banyak orang mengalami kerugian. Namun, kesantunan mereka dipuji dan dielukan oleh media.

Selain kesantunan, keberagaman juga menambah keindahan dan kehangatan relasi. Saya dapat dikatakan termasuk golongan minoritas di Indonesia. Walaupun demikian, ketika berkuliah di sebuah universitas swasta di Surabaya, tak satu pun teman yang bersikap tidak baik terhadap saya - dengan segala perbedaan hadir di antara kami. Saya sungguh menikmati persahabatan yang terjalin dengan teman-teman yang berbeda warna kulit, berbeda agama, dan latar belakang. Saya mensyukuri dan akan selalu mengenang betapa indahnya hidup saling melengkapi dan menghargai dalam perbedaan.


Seperti kata pepatah, "Tak ada gading yang tak retak," bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang sempurna. Bangsa kita sedang terus berjuang untuk meraih kehidupan yang lebih baik, masih berupaya keras untuk terus bangkit dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Sebagai sebuah bangsa, masih banyak hal yang perlu kita perbaiki bersama. Namun, jangan lupakan berbagai warisan berharga yang membuat bangsa ini bercahaya di tengah ribuan bangsa di muka bumi ini. Sesungguhnya ada begitu banyak hal yang patut kita banggakan sebagai bangsa Indonesia.

Pernah merantau di luar negeri tidak membuat saya tenggelam dalam kecewa akan nusantara. Dari kejauhan negeri seberang, saya justru jadi mampu melihat kilau ibu pertiwi dengan cahayanya yang menyala, terang. Saya bangga menjadi orang Indonesia.
[Image: ributrukun.com]

Benar adanya, Indonesia sungguhlah bangsa yang kaya. Mari jaga, lestarikan, dan kembangkan kekayaan yang kita miliki. Mari terus memacu diri untuk memajukan negeri yang kita cintai ini!



Baca Juga:

Waspadalah, 7 Mitos ini Bisa Membuyarkan Impianmu Studi Lanjut di Amerika Serikat

Punya Impian Studi Lanjut ke Luar Negeri? Jawab Dulu 5 Pertanyaan ini sebelum Kamu Mengejar dan Mewujudkan Mimpimu!

Bukalah Duniamu dengan Merantau! Bekali Diri dengan 6 Hal ini agar Kamu Dapat Menaklukkan Kerasnya Hidup di Perantauan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar