LGBT dari Sudut Pandang Saya, Seorang Manusia Biasa yang Sering Dijadikan Tempat Curhat oleh Mereka

Reflections & Inspirations

[Image: wallpapersinhq.com]

11.9K
Saya menuliskan artikel ini sama sekali bukan sebagai manusia “super” yang berhasil menolong setiap mereka yang datang curhat kepada saya. Yang membuat hati saya bergetar dan tidak bisa menolak untuk memberi telinga adalah karena mereka adalah orang-orang yang saya kenal cukup dekat. Hal ini membuat hati saya menangis bersama mereka.

Saya bukan seorang konselor profesional di bidang LGBT, juga tidak pernah menempuh pendidikan formal lanjutan khusus di bidang tersebut. Namun entah mengapa, tahun demi tahun saya terjun dalam pelayanan di antara remaja, pemuda, dan siswa, saya didatangi dan diberi kepercayaan untuk mendengar kisah mereka yang tergolong sebagai LGBT. Jumlah mereka yang langsung menemui saya ini tidak banyak, tidak sampai 10 persen dari seluruh orang yang pernah saya layani, baik di kelas maupun di ruang konseling. Namun, yang membuat hati saya bergetar dan tidak bisa menolak untuk memberi telinga adalah karena mereka adalah orang-orang yang saya kenal cukup dekat. Hal ini membuat hati saya menangis bersama mereka.

Akhir-akhir ini , topik LGBT makin sering dibicarakan di media. Berbagai komentar diberikan kepada mereka yang tergolong sebagai LGBT dan perilaku mereka tersebut. Ada yang mendukung, hingga membentuk petisi untuk membela kelompok LGBT, ada juga yang menentang keras. Di media sosial saya sendiri, saya lebih banyak melihat komentar pedas dan penuh kebencian terhadap mereka.

Hal ini membuat saya berpikir, haruskah berespons dengan lontaran kalimat penuh kebencian? Apa sebenarnya yang diharapkan dengan komentar-komentar semacam itu? Apakah agar mereka yang tergolong sebagai LGBT bertobat dan kembali pada perilaku normal setelah membaca cacian dan gertakan tersebut?

Saya sama sekali bukan pendukung LGBT. Saya tak bersedia menandatangani petisi yang tujuannya membuat LGBT menjadi sesuatu yang sah. Saya juga tidak akan “membenarkan” perilaku mereka. Saya tetap menilai sesuatu yang menyimpang sebagai menyimpang, dan akan tetap menyebutnya dengan sebutan "menyimpang" agar tidak disalahartikan. Namun, saya tidak mau menaruh kebencian pada diri mereka.

Yang saya inginkan hanyalah agar para pembaca memahami apa yang terjadi di balik terbentuknya perilaku LGBT dan bagaimana jalan hidup mereka yang tergolong sebagai LGBT itu sesungguhnya tak seindah yang mereka harapkan pada awalnya.

Keinginan itulah yang membuat saya amat tergerak untuk membuat tulisan ini. Saya memasukkan tulisan ini dalam kategori 'curhatan', karena informasi mengenai apa yang saya tulis ini memang bukan sesuatu yang saya dapat dari buku atau sumber-sumber keilmuan, tetapi dari apa yang saya dengar dan lihat langsung dari kehidupan serta penderitaan yang mereka hadapi selama menempuh langkah sebagai seorang gay, lesbian, biseksual, dan mereka yang identitas gendernya tak sesuai dengan jenis kelamin (transgender).

Ketika seorang manusia dilahirkan, ada beberapa hal yang tidak bisa dihindarkan dan harus diterima, salah satunya adalah ketetapan akan jenis kelamin. Seseorang tidak sejak lahir menjadi lesbian, gay, biseksual, atau menjadi pribadi dengan mentalitas yang berlawanan dengan jenis kelaminnya (biasa disebut "waria"), ini keyakinan saya. Keyakinan ini diperkuat oleh pengakuan mereka, LGBT dan mantan LGBT yang saya kenal, secara pribadi kepada saya.

Dalam pengalaman saya yang amat terbatas bersama mereka, saya menemukan ada beberapa latar belakang yang saling berhubungan yang membawa mereka menjadi lesbian, gay, biseksual, atau transgender. Inilah 5 hal yang menjadi latar belakang perilaku mereka yang tergolong sebagai LGBT :


1. Kehilangan Figur Orangtua dengan Gender yang Sama Seperti Dirinya

Mayoritas mereka yang mengaku dirinya gay, lesbian, atau transgender adalah orang-orang yang tidak memiliki atau kehilangan figur orangtua yang sama gender dengan dirinya. Wanita yang mengaku lesbian kehilangan figur ibu, sedangkan pria yang mengaku gay kehilangan figur ayah. Kematian, perceraian orangtua, ataupun absennya peran orangtua dengan gender yang sama, sekalipun orangtua tersebut hadir secara fisik dalam keluarga, sejak mereka kecil atau bahkan sejak lahir, menjadi latar belakang keberadaan mereka yang demikian.

"Apa yang kamu ingat tentang orangtua yang sama gendernya denganmu?" tanya saya pada mereka. Inilah jawaban mereka:

“Ayah saya meninggal ketika saya masih balita, sejak itu Ibu hidup dari belas kasihan orang lain. Kadang-kadang keluarga Ibu membantu, tapi lebih banyak tetangga yang menolong Ibu. Ibu berulang kali bekerja namun gagal dan berhenti. Ibu sering sakit. Ibu..ibu ..ibu.. “ Gambaran ibu yang lemah dan sangat bergantung pada belas kasihan dan kemurahan hati orang lain itu diceritakan seorang pemuda kepada saya. Pemuda itu adalah seorang laki-laki yang gagah secara fisik. Saya tidak menyangka kalau Ia adalah seorang gay sampai Ia sendiri mengaku bahwa dirinya gay, aktif secara seksual, dan berperan sebagai “wanita” dalam relasinya tersebut. Secara mental, Ia menyerap mentalitas kepribadian ibunya dan menjadi orang yang sangat bergantung pada kemurahan hati dan belas kasih orang lain.

“Saya tidak punya memori sama sekali tentang Papa. Kata Mama, Papa meninggal ketika kami (anak-anak) masih kecil. Penyebab meninggalnya juga saya tidak tahu, Mama tidak pernah bercerita,” demikian pengakuan seorang remaja putra yang baru menginjak sekolah menengah. Kisah selanjutnya yang keluar dari mulutnya adalah semua hal tentang mamanya. Mamanya yang rajin bekerja, yang bertanggung jawab terhadap penghidupan seluruh keluarga. Remaja ini sangat bangga dan mengasihi sang mama. Tanpa Ia sadari gerak-geriknya menjadi persis seperti wanita, seperti Mamanya. Semakin bertambah usia, semakin banyak kritik dan sindiran muncul, mengatakan bahwa Ia sebenarnya lebih mirip wanita daripada pria. Ia pun mulai meragukan identitasnya sebagai pria. “Mungkinkah saya ini seorang wanita yang terperangkap dalam tubuh pria?” demikian pemikiran yang kemudian muncul.

Sisanya adalah mereka yang tidak mau menjawab sesuai pertanyaan, tetapi malah bercerita panjang lebar tentang orangtua yang berbeda gender dengan mereka. Sebagian mereka menjawab dengan satu kalimat pendek saja sebelum bercerita tentang orangtua yang gendernya sama dengan mereka: ”Ibu sibuk,” “Mama selalu diam,” “Papa tak pernah di rumah.”

Figur orangtua dengan gender yang sama dengan anak mempunyai pengaruh besar dalam identitas seksual anak ketika ia beranjak dewasa. Setiap orang membutuhkan teladan untuk diikuti termasuk dalam identitas seksualnya. Mereka yang kehilangan figur orangtua yang sama gender dengan mereka cenderung bingung dengan identitas seksual mereka, dan dalam kasus yang ekstrim, jatuh dalam kehidupan sebagai lesbian, gay, atau ingin berpindah gender.

Akan tetapi, tidak semua anak yang kehilangan figur orangtua dengan gender yang sama jatuh dalam kehidupan LGBT saat mereka beranjak dewasa. Ada jauh lebih banyak orang yang, sekalipun kehilangan figur orangtua dengan gender yang sama, tetap memiliki identitas dan perilaku seksual normal. Hal ini dikarenakan hadirnya figur pengganti orangtua dengan gender yang sama dengan mereka ketika mereka masih berada di masa anak-anak atau remaja.

Hadirnya anggota keluarga lain sebagai pengganti figur orangtua yang hilang untuk mendidik dan memberikan kasih sayang pada anak memberikan pengaruh positif pada perkembangan identitas dan perilaku seksual yang wajar dan semestinya pada anak tersebut ketika bertumbuh dewasa. Tak hanya anggota keluarga, yang saya temukan, khususnya di lingkungan gereja, kehadiran figur pengasuh rohani dengan gender yang sama juga memberikan sumbangsih positif terhadap perkembangan identitas dan perilaku seksualitas anak-anak yang kehilangan figur orangtua dengan gender yang sama.


2. Perlakuan Orangtua yang Salah

“Saya dididik untuk menjadi anak laki-laki oleh Bapak. Beliau sangat menginginkan anak laki-laki, tapi sayangnya, semua anak yang lahir di keluarga kami perempuan,” demikian pengakuan seorang pemudi yang bergaya amat tomboy. Kalimat ini disampaikannya kepada semua orang yang bertanya padanya tanpa malu-malu. Saat bercerita tentang Bapaknya, pada umumnya Ia memang tampak tegar, tapi sebenarnya, ada rasa bangga dan tertekan yang bercampur baur dalam ekspresinya.

Ia bangga dapat mempelajari berbagai skill anak laki-laki, seperti karate, panjat gunung, memperbaiki sepeda motor, dan olahraga-olahraga 'keras' lainnya. Walaupun skil-skill tersebut sebenarnya tak bisa dikatakan sebagai milik khusus kaum pria, karena di zaman ini wanita pun dapat mempelajari dan melakukannya tanpa harus berganti identitas dan gender, namun pemudi ini menelan konsep yang ditanamkan ayahnya bahwa semua itu khusus untuk kaum pria.

Dari kisah yang disampaikan dan perilakunya yang saya amati, pemudi ini tak bisa menutupi tekanan jiwa karena perlakuan yang amat keras, termasuk menerima pukulan fisik bila Ia melakukan kesalahan. Tubuhnya gempal dan warna kulitnya gelap karena dijemur matahari, wajahnya garang, menggambarkan kerasnya perlakuan yang Ia terima dari Sang Bapak. Sang Bapak mengajarkan bahwa laki-laki itu lebih baik dan hebat daripada perempuan, dan Ia percaya ajaran bapaknya itu. Karena begitu inginnya Ia menjadi seorang laki-laki, kekaguman pada teman wanita diakuinya sebagai perasaan jatuh cinta. Ia pun mulai mendekati temannya tersebut layaknya seorang pria mendekati wanita yang ditaksirnya sebelum akhirnya Ia ditolak dan temannya melaporkan kelakukannya kepada keluarganya.

Perlakuan yang salah dari orangtua, tak hanya karena orangtua menginginkan anak dengan gender tertentu. Sikap yang terlalu keras terhadap anak yang menimbulkan luka batin dan kebencian terhadap orangtua juga menghasilkan penyimpangan perilaku dan kebingungan identitas seksual.

Seorang pemudi mengaku ingin menjadi laki-laki yang baik karena perilaku ayahnya yang tak pantas untuk dijadikan teladan. Sejak menikah dengan ibunya, ayahnya tak pernah bekerja dan selalu bergantung dengan usaha ibunya. Ia juga melihat sendiri bagaimana ayahnya sering memukul ibunya bila ibunya tak bersedia memberikan simpanan barang berharga mereka kepada sang ayah untuk dijadikan modal berjudi. Pemudi ini ingin sekali menjadi pelindung bagi wanita lemah dengan mengambil peran dan identitas sebagai laki-laki.


3. Pengalaman Menjadi Korban Pelecehan Seksual di Masa Kecil

Pengalaman menjadi korban pelecehan seksual di masa kecil turut menjadi latar belakang yang memicu kecenderungan dan penyimpangan perilaku, khususnya untuk menjadi lesbian atau gay. Beberapa dari mereka yang bercerita kepada saya mengaku mengalami sodomi oleh tetangga maupun kenalan di masa kecil selagi ibu mereka pergi bekerja. Dalam kasus pemudi yang mengalami perlakuan orangtua yang salah yang telah saya ceritakan di atas, Ia juga pernah mengalami pelecehan seksual oleh seorang saudara laki-laki ibunya. Hal itu menimbulkaan kebencian yang makin mendalam terhadap laki-laki dan mendorongnya untuk “melawan" dan melindungi kaum wanita dengan menjadi "laki-laki" juga agar seimbang.


4. Tidak Mendapatkan Pengetahuan yang Benar Tentang Konsep Seksualitas Sejak Dini

Hampir semua yang datang dan menceritakan keberadaan diri mereka sebagai lesbian, gay, atau (calon) transgender mengaku tidak pernah mendengar atau membaca tentang konsep seksualitas yang benar ketika kecil hingga remaja. Budaya masyarakat kita yang tabu untuk membicarakan persoalan seks, menjadi hambatan besar bagi para orangtua di rumah, guru di sekolah, bahkan bagi para pemimpin agama di rumah ibadat untuk mengajarkan topik yang berkaitan dengan grand design Tuhan atas seks yang diciptakanNya.

Tak heran jika belakangan ini tersebar sebuah pesan untuk berhenti menyebut-nyebut istilah LGBT. Sebuah ketakutan besar akan munculnya pertanyaan di benak anak-anak tentang LGBT muncul seiring dengan ketidaksiapan para orangtua untuk memberikan jawaban. Para orang tua cenderung mengalihkan perhatian atau sekedar menyuruh anak untuk tutup mulut dan berhenti bertanya, dan tentunya ini menimbulkan dampak negatif ketika kelak anak berusaha mencari informasi dari orang yang salah. Bisa-bisa anak malah terjerumus di dalamnya.

Sebenarnya, keramaian ini bisa menjadi momen bagi para orangtua dan guru untuk mengajarkan konsep seksualitas yang benar pada anak-anak dan remaja. Penjelasan tentang kecenderungan perilaku dengan disertai penanaman dasar-dasar nilai moral dan keagamaan tentang seksualitas yang dirancang Tuhan, dapat diberikan pada saat menjawab pertanyaan anak. Sebuah konsep seksualitas yang benar dan mendasar akan menjadi alarm bagi seseorang ketika Ia mendapat informasi yang bertentangan dengan konsep dasar yang dimilikinya. Ketika seorang anak diberikan konsep seksualitas yang benar sejak dini, orangtua dapat merasa sedikit lebih tenang dan tidak terlalu panik menghadapi ide-ide “baru” tentang seksualitas yang menyimpang dari seksualitas yang normal.

Konsep seksualitas yang benar sejak dini adalah sebuah perisai dan filter bagi seorang anak untuk menilai apakah sebuah trend dan ajakan yang ditawarkan kepadanya itu benar, patut, atau tidak.

Keputusan dan perilaku LGBT yang sudah saya ungkapkan di poin-poin pertama tulisan ini sebenarnya punya kemungkinan untuk dicegah seandainya mereka sudah memiliki konsep seksualitas yang benar. Apakah memelihara dendam dan kebencian di dalam hati itu benar dan berkenan pada Tuhan atau tidak, misalnya, akan dinilai juga dari konsep seksualitas yang ditanamkan dengan nilai-nilai kitab suci.

Tanpa konsep, orang akan bingung setiap kali menerima informasi baru, dan cenderung menelan mentah-mentah apapun yang disampaikan oleh seseorang atau sekelompok pribadi yang Ia sukai atau dapat memenuhi kebutuhannya, terlepas dari benar atau tidaknya informasi tersebut.


5. Kekurangan Kasih dan Penerimaan dalam Keluarga

Dari antara mereka yang bercerita kepada saya, hanya dua orang yang mengaku tahu mengenai konsep seksualitas dari tempat ibadahnya, yaitu ketika mereka sudah memasuki usia kuliah di tahun-tahun terakhir. Meskipun demikian, mereka tetap memilih untuk menjadi lesbian dan gay. Bahkan, salah seorang dari antara mereka akhirnya memutuskan untuk mengubah identitasnya menjadi seorang biseksual (tertarik secara seksual baik kepada pria maupun wanita).

Ada 2 alasan utama mengapa mereka tidak bisa menolak tawaran untuk menjadi lesbian dan gay. Pertama, karena “pasangan” yang menarik mereka dapat memenuhi “kebutuhan" mereka. Perasaan bahagia mendapatkan perhatian, seperti ditraktir di café mewah, dibelikan barang-barang berharga, didengarkan, diakui, “dihormati” (sebuah tindakan pura-pura di awal hubungan yang belakangan ternyata lenyap sama sekali), bahkan hingga sentuhan fisik yang tidak pernah mereka dapatkan dalam keluarga, menjadi alasan mereka untuk turut masuk dalam seksualitas yang tak wajar tersebut.

Alasan kedua adalah penerimaan yang mereka dapatkan jika mereka menuruti kemauan orang yang mengajak mereka tersebut. Seorang diantara mereka bahkan memutuskan untuk menjadi biseksual agar bisa diterima di dua "dunia”, di dunia kaum gay dan dunia kaum 'straight'.

Sebuah topeng, dengan menjalani kehidupan ganda, pun dipakai demi sesuatu yang mereka sebut sebagai “penerimaan” yang tak mereka dapatkan dari orangtua dan keluarga di mana mereka dibesarkan.

Pada akhirnya, konsep seksualitas yang benar, kasih dan penerimaan dari keluarga, teman, dan yang terpenting, dari Tuhan menjadi kunci utama untuk mencegah kejatuhan anak-anak, generasi penerus masa depan kita, ke dalam perilaku LGBT. Bukan hanya keluarga, komunitas yang sehat di luar keluarga pun turut berperan membangun identitas dan perilaku seksualitas yang wajar dan normal tersebut. Sebagian dari mereka yang curhat tentang hal ini pada saya, terselamatkan dan kembali kepada identitas dan perilaku seksual yang benar berkat penanganan yang sungguh dengan penanaman konsep dan penerimaan dari komunitas yang sehat.


Menerima tidak sama dengan membiarkan. Sebagian tulisan yang saya baca di media, meminta agar masayarakat dan komunitas keagamaan menerima dan membiarkan para LGBT apa adanya tanpa harus mengkritisi perilaku mereka. Alasan yang dikemukakan adalah Tuhan pun menerima mereka apa adanya.

"Tuhan memang menerima Anda apa adanya, tapi Ia terlalu menyayangi Anda untuk membiarkan Anda terus menjadi 'apa adanya'" Bila kita bicara tentang Tuhan, maka karakteristik Tuhan yang menerima dan mengampuni itu tidak bisa dilepaskan dari karakterNya yang juga benar dan mau memulihkan manusia. Pemulihan dimulai dari sebuah pengakuan bahwa apa yang sudah dilakukan para LGBT tersebut adalah salah dan menyimpang, diiringi penerimaan dan rehabilitasi.

Selain itu, fakta yang saya temukan adalah mereka yang tetap bersikukuh menjadi bagian dari LGBT terus menerus berusaha menarik teman-teman di sekitarnya untuk menjadi sama dengan mereka. Ini membuat kita mesti berhati-hati dengan sikap “membiarkan” dengan dalih menerima mereka apa adanya.


Saya menuliskan artikel ini sama sekali bukan sebagai manusia “super” yang berhasil menolong setiap mereka yang datang curhat kepada saya. Di tahun-tahun awal pelayanan saya, ada diantara mereka yang akhirnya menghilang tanpa jejak, tak bisa lagi dihubungi, karena respons saya yang tidak tepat saat itu.

Dalam dan pedihnya penderitaan mereka yang alami akibat diabaikan dan tidak terlindungi dalam keluarga hingga menjadi korban pelecehan, tergantung secara emosi dan ekonomi kepada pasangan LGBT, serta manipulasi dan pengkhianatan dari “pacar” mereka, menimbulkan rasa terkejut yang besar di hati saya, disamping rasa kasihan yang juga sama besarnya. Keinginan untuk menolong saya lakukan secara spontan dengan buru-buru “mengirim” mereka pada konselor profesional, tetapi ternyata yang mereka butuhkan hanyalah agar saya mendengarkan mereka. Ya, mendengarkan sampai mereka cukup lega dan bisa menerima nasihat dan rekomendasi.

Respons yang salah membuat mereka “lari” karena merasa ditolak. Hilangnya mereka membuat tangis di hati saya tak pernah selesai buat mereka hingga saat ini. Harapan saya, semoga Anda dapat menjadi perespons yang lebih baik daripada saya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "LGBT dari Sudut Pandang Saya, Seorang Manusia Biasa yang Sering Dijadikan Tempat Curhat oleh Mereka". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar