Ingin Menolong Pasangan yang Kecanduan Pornografi? Lakukan 3 Langkah ini setelah Anda Menolong Diri Sendiri

Marriage

[Image: verywell.com]

7.5K
Adalah sebuah realita yang pahit bak empedu ketika mendapati orang yang kita percaya akan mengasihi kita sepenuhnya ternyata adalah seorang mencintai pornografi lebih dari kita - pasangannya.

Masalah kecanduan pornografi adalah masalah yang pelik dan memberatkan hati, terlebih jika itu terjadi pada pasangan di dalam pernikahan. Banyak yang merasa terjebak karena setelah menikah baru mengetahui pasangannya ternyata seorang pecandu pornografi. "Saya tidak menyangka. Dia tampak alim juga punya posisi terhormat, ternyata dia menyukai pornografi."

Adalah sebuah realita yang pahit bak empedu ketika mendapati orang yang kita percaya akan mengasihi kita sepenuhnya ternyata adalah seorang mencintai pornografi lebih dari kita - pasangannya.

Tak jarang kita terpaksa diperhadapkan pada sebuah pertanyaan yang amat rumit jawabannya: Bolehkan menceraikan pasangan yang kecanduan pornografi? Bukankah ia telah berzinah dalam pikirannya?

Jujur saja, saya tidak berani menjawab pertanyaan ini begitu saja karena terlalu banyak hal-hal yang perlu dijadikan pertimbangan. Kadar kecanduan, sejauh mana kerusakan moral yang telah dialami, sejauh mana dampak yang sudah ditunjukkan ke lingkungan sosial dan keluarga - apakah itu sudah berwujud kekerasan baik fisik maupun seksual, atau masih berupa upaya bohong dan petak umpet terhadap kecanduan pornografinya?

Akan tetapi, sejauh keterikatan kepada pornografi yang dialami pasangan belum mencapai kecenderungan membahayakan keselamatan anggota keluarga dan orang lain, masih ada hal-hal yang dapat dilakukan. Namun, sebagaimana yang saya paparkan di artikel saya sebelumnya, pertolongan harus dimulai dari menolong diri sendiri yang terluka akibat kecintaan suami pada pornografi.

Baca Juga: Suami Kecanduan Pornografi? Istri, Tugas Pertamamu Bukanlah Menolongnya. Lakukan 5 Hal Penting Ini

Tentunya langkah-langkah pertolongan yang akan saya paparkan di artikel ini adalah dalam kapasitas sebagai pasangan, bukan sebagai terapis profesional. Ini hanyalah langkah awal untuk menuju pada langkah-langkah penting lain yang memerdekakan sang belahan jiwa dari ikatan yang tak semestinya.

Berikut adalah 3 langkah dasar untuk menolong suami atau istri keluar dari kecanduan:



1.Hadirkan Kasih yang Tulus, Singkirkan Debat

Pada umumnya orang berpikir bahwa langkah pertama untuk menolong seseorang lepas dari kecanduan adalah dengan membawanya ke terapis.

Faktanya, membawa pecandu ke terapis adalah langkah pertama yang banyak berujung pada kegagalan.

Saya mendengar kisah seorang sahabat yang berhasil membawa suaminya lepas dari jerat belenggu pornografi. Apa yang dilakukannya? Ini: Ia dan seluruh anggota keluarga lainnya, bersehati untuk menyatakan kasih dan penerimaan pada sang suami. Perhatian kecil maupun besar - yang tidak pernah didapatkan di masa remaja sang suami - dicurahkan padanya, yang kini tentu saja sudah menjadi seorang pria dewasa. Ibarat mengejar ketertinggalan, seluruh anggota keluarga mendukung, mengisi kekosongan hati yang selama ini dipenuhinya dengan kecanduan akan pornografi.

Melalui ketekunan dalam menunjukkan kasih, perhatian, dan penerimaan secara konsisten dari waktu ke waktu, istri dengan dukungan seluruh keluarga berhasil membuat sang suami berbalik 180 derajat. Ia yang tadinya gamang menjadi bersemangat, yang sebelumnya apatis menjadi menaruh percaya pada kepedulian yang diulurkan keluarga.

[Image: Petsy Fink]

Berbeda dengan sebuah keluarga lain yang pernah saya jumpai sebelumnya. Debat dan tudinganlah yang digunakan sebagai senjata "menodong" pasangan yang kecanduan untuk keluar dari ikatannya. Hasilnya nol besar! Alih-alih mengalami pertobatan, pasangan yang kecanduan malah makin intensif terjerumus dalam kecanduannya. Rasa tidak dimengerti dan dibenci, karena senantiasa diserang dan didebat dengan sengit, membuatnya makin menjadikan kecanduan sebagai pelarian. Kondisi hidupnya pun makin rusak.

Kenakan kasih dan hindarilah debat sengit.

Karena hanya kehadiran dari sebuah penerimaan dan kasih yang tuluslah kunci untuk membuka pintu hati dan rasa percaya sang pecandu untuk menerima uluran tangan pasangan dan seisi keluarga.

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Pasangan, Inilah 5 Bahaya dan 5 Solusinya



2. Cari Waktu yang Tepat untuk Bicara, Hindari Kecerobohan

Lisa [bukan nama sebenarnya] terbangun di tengah malam dan mendapati suaminya tidak berada bersamanya di kamar. Tanpa curiga, ia melangkah menuju ruang kerja sang suami. Tidak ingin suaminya terganggu, Lisa melangkah hati-hati, tanpa menimbulkan bunyi. Karena pintu tidak tertutup rapat, ia pun masuk. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sang suami sedang menonton tayangan pornografi. Lisa terbelalak, membatu. Sang suami terkejut dan panik. Tak sempat menutup dan mengganti laman internet, ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berkata ia tidak mengantuk dan baru saja membuka laptop.

Lisa tahu suaminya berbohong. Matanya berkaca-kaca, wajahnya merah menahan marah. Namun ia memilih untuk tidak mengatakan apa pun, apalagi menuding, saat itu juga. Ia kembali ke kamar. Di balik pintu tertutup, tumpahlah air matanya.

[Image: sheknows.com]

Suaminya kemudian menyusul ke kamar tidur. Ia tahu Lisa menyembunyikan tangis. Beberapa hari kemudian, Lisa baru berbicara hati ke hati dengan suaminya.

Membicarakan perihal kecanduan adalah langkah berikut yang perlu dilakukan setelah pasangan menampakkan perasaan aman dan nyaman untuk terbuka sedikit demi sedikit. Obrolan terbuka ini menjadi langkah yang cukup berat dan membutuhkan kehati-hatian karena kondisi si pecandu yang masih belum pulih secara utuh. Jiwa yang masih rapuh dan mudah tersinggung tersebut bisa saja memilih untuk menarik kembali rasa percaya kepada pasangan dan keluarga jika isi pembicaraan dan nada bicara dirasakannya sebagai sebuah 'dakwaan' atas kejatuhannya.

Tujuan pembicaraan adalah sebuah pengakuan dengan kesadaran penuh dari si pecandu bahwa kecanduannya merugikan dirinya sendiri dan bahwa ia butuh pertolongan untuk lepas dari ikatan tersebut.

Untuk mencapai tujuan demikian, adalah bijaksana untuk memikirkan masak-masak apa saja yang akan dibicarakan, pilihan kata yang hendak disampaikan, cara penyampaian, serta situasi apa yang paling tepat dan nyaman untuk ngobrol santai namun serius. Berdoa meminta hikmat Tuhan untuk obrolan penting agar tepat sasaran ini adalah hal yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga: Satu Rahasia Menaklukkan Pria yang Harus Diketahui Wanita



3. Motivasi Pasangan untuk Sebuah Pemulihan, Hindari Memaksa

Keterbukaan dan pengakuan pasangan akan kecanduannya serta konsekuensi yang mengancam tidak berarti ia serta merta siap untuk menjalani konseling untuk pemulihan dari kecanduan pornografinya.

Mendesak pasangan untuk segera menemui terapis tepat setelah mendapat pengakuan terbuka dari hati ke hati berisiko untuk membuat ia kembali menutup diri.
[Image: Huffington Post]

Cara terbaik adalah memotivasinya untuk mengambil langkah penyembuhan, bukan memaksa. Mendorong pasangan mengambil langkah tersebut memerlukan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati.

Baca Juga: Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami


Untuk melakukan ketiga hal di atas, tetaplah bertekun dalam doa dan pengharapan kepada Tuhan.

Percayalah bahwa kasih yang murni memiliki daya yang amat kuat untuk membangun dan memulihkan hidup pasangan.

Akan tetapi, tetaplah memohon hikmat untuk senantiasa mampu melihat dengan objektif kondisi yang terjadi, sejauh mana langkah-langkah untuk mendorong pemulihan masih bisa dilakukan. Tidak bisa dielakkan, ada saja pecandu-pecandu tertentu yang lebih memilih untuk tetap mempertahankan kecintaannya pada pornografi dibandingkan anggota keluarganya hingga mencapai kerusakan moral yang parah. Jika demikian yang terjadi, keselamatan diri Anda dan anak-anak merupakan hal yang paling penting untuk diusahakan.

Baca Juga: Teman Saya Meninggal di Tangan Suaminya. Inilah 5 Pelajaran Berharga agar Kisah Tragis ini Tak Terulang


Bagi Anda yang belum terlanjur menikah dengan calon pasangan yang adalah pecandu pornografi, artikel ini bukanlah sebuah dorongan untuk melanjutkan hubungan Anda. Ketahuilah, terlalu mahal harga yang harus Anda bayar untuk menjalani pernikahan dengan seorang pecandu pornografi. Tak sedikit jumlah mereka yang tak sanggup menanggungnya, jangan pernah berpikir Anda adalah pengecualian!

Selamat menjalani hidup dengan bijak.



Baca Juga:

Lepaskan Diri dari Jerat Pornografi dan Masturbasi dengan 3 Langkah Dasar Ini

Pornografi dan Pengaruhnya terhadap Keintiman Hubungan: 3 Mitos Populer ini ternyata Keliru

Pornografi dan Masturbasi Tak Berbahaya? Salah! Inilah 5 Cara Keduanya Merusak Relasi Suami Istri



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ingin Menolong Pasangan yang Kecanduan Pornografi? Lakukan 3 Langkah ini setelah Anda Menolong Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?