Dukung Anak-Anak Mengikuti Lomba! Mereka akan Mendapatkan Pelajaran Berharga Ini

Reflections & Inspirations

[image: Grist]

585
Tujuan mengantar anakku berlomba sesungguhnya adalah untuk mengajarkan bagaimana menghadapi masalah, kekalahan, dan merayakan keberhasilan. Namun yang terutama adalah bagaimana menemukan dan mengenal dirinya.

Naik kereta api merupakan pengalaman yang mengesankan untuk anakku. Bersama suamiku, kami duduk bertiga dalam satu kursi yang panjangnya kurang lebih 1,5 m. Perjalanan ini akan melelahkan, tetapi tidak melunturkan semangatnya berlomba. Aku pun memeluk anakku yang tertidur.

Aku masih ingat sewaktu kami melihat sebuah alat permainan yang sedang ngetren. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa memainkannya. Hoverboard namanya. Pasti rasanya asyik sekali meluncur di atas alat permainan itu. Tiba-tiba anakku berkata kepada suamiku,

”Pa, aku mau Hoverboard itu.”

“Itu ... mahal sekali, Nak.”

Perkataan suamiku ini jarang sekali bisa dimengerti anak berusia tujuh tahun. Di wajahnya terlihat jelas, anakku begitu menginginkannya. Hoverboard itu terus diimpikan anak kami, tetapi kami tak punya cukup uang untuk membelinya.

Baiklah, sesuatu harus dikerjakan untuk impiannya itu. Sebuah tantangan untuk seorang anak berusia tujuh tahun.

“Nak, selesaikan permainan ini. Kalau kamu bisa, kita beli Hoverboard.”

Di tangan Papa ada mainan Rubik’s Cube. Itu jenis mainan yang dihindari anakku. Namun kali ini dia menganggukan kepala. Dia mengambil Cube itu, lalu mulai mengamat-amati. Papa mulai memberikan instruksi cara bermain, bagian mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Anakku menuruti semua instruksi. Waktu terasa begitu cepat berlalu melihatnya mengutak-atik Cube. Anakku selalu begitu, dia mengejar impiannya sampai dapat.


[image:Urbo]

Dua hari kemudian, anakku meminjam telpon genggamku.

“Mau telpon Papa,” katanya, “Pa, aku sudah bisa. Iya … Iya … Oke.”

Lalu telepon ditutup.

Aku tercenung sejenak. Terlintas dalam pikiranku sebuah Hoverboard dengan label harga enam juta rupiah. Mungkinkah itu berarti uang belanja harus lebih diperketat lagi pengeluarannya? Suamiku pulang dengan senyum di wajahnya, disambut anakku dengan senyum yang jauh lebih lebar dan Rubik’s Cube di tangan. Malam itu, mereka menghabiskan waktu berdua di depan komputer.

Sebelum tidur, anakku berkata, “Ma, aku mau ikut lomba Rubik. Hoverboard-nya sewa di mall saja kalau kepingin main.”

Aihh ... ini pasti pengaruh dari Mbah Google. Anak kami memilih Rubik daripada sebuah Hoverboard.

Baca Juga:Orangtua, Ajarlah Anak-anak Bermain secara Kreatif dan Imajinatif. Inilah Caranya!



Pelajaran dalam Kompetisi

Tiga bulan kemudian, kami berangkat ke kota Blitar untuk lomba pertamanya, Jawa Timur Open Rubik’s Cube Competition. Di dalam ruangan lomba, aku mengamat-amati semua peserta. Besar-besar semua orangnya. Tidak ada anak usia sekolah dasar di sana. Anakku paling kecil. Kecil sekali dibandingkan semua peserta lomba di sana. Aku mengajak anakku berkeliling, dia menyapa beberapa peserta dengan nama mereka.

“Kok sudah kenal, Nak?”

“Iya, Ma. Lihat di internet.”

Di kompetisi pertama ini lebih banyak waktu dipakai anakku bukan untuk berlatih supaya menang lomba, melainkan untuk melihat-lihat, berkenalan, berfoto bersama orang-orang yang dia lihat di Youtube, meminta tanda tangan juara dunia dari Netherland yang kebetulan hadir di Indonesia, dan ... menangis.

Kami tahu bahwa anak kami tidak mungkin menang lomba. Ibarat anak kami baru belajar berlari, peserta yang lain sudah kelas sprinter. Kami tahu diri, tetapi kami punya target dan tujuan yang berbeda.

Target kami adalah dia mencapai waktu terbaiknya sendiri. Ya, berpacu, berlomba dengan dirinya sendiri.

Dia ingin mengikuti semua kategori yang ia bisa. Baiklah, mari ikuti semuanya. Semua berjalan lancar. Satu demi satu kategori ia selesaikan, sesuai target yang kami buat.

Namun, ketika aku memerhatikan dari kejauhan, kulihat anakku menangis. Dia menangis sampai badannya berguncang. Ketika kutanyakan kenapa dia menangis, anakku tidak bisa menjawab. Dia terus menangis. Kemudian kami tahu bahwa peraturan diubah, dan anak kami terkena cut off karena tidak mencapai waktu minimal untuk boleh terus berlomba. Kami membiarkan dia menangis. Kenyataan ini adalah pengalaman hidup untuknya.

[image: globecanterer]

Kutanya bagaimana perasaannya.

“Sedih, Ma. Kok berubah-ubah peraturannya.”

“Kamu kecewa? Marah?”

Dia menggangukkan kepalanya. Sambil membiarkan dia terus menangis, kami jelaskan pelan-pelan padanya. Teman-teman besarnya yang juga peserta lomba datang menghibur. Abang, Oom, Mas, Koko, Mba, menyemangatinya sampai dia mau kembali maju untuk menyelesaikan kategori lomba lainnya.

Baca Juga: Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka



Dalam Kehidupan, Perubahan akan Selalu Terjadi, tetapi Janganlah Menyerah

Bulan-bulan berikutnya, kami mengantarkan anak kami berlomba di berbagai kota. Selalu ada hal yang mengesankan. Selalu ada hal yang harus dipelajari anakku. Bukan semata-mata tentang memenangkan lomba, tetapi banyak hal tentang waktu, budaya, sopan santun, karakter, etiket, etika, teman, sahabat, saudara, kenalan, orang-orang yang dijumpai, dan banyak lagi. Terutama tentang dirinya sendiri.

Apa mimpimu; apa tujuanmu; apa yang ingin kamu capai; apa saja yang harus dilakukan; apa saja yang harus dipelajari.

Kadang-kadang, kami harus memarahi anak kami kalau dia tidak serius. Kadang-kadang, kami menyemangatinya ketika dia mulai terlihat lelah. Kadang-kadang, kami harus merawat hatinya yang masih kecil.

Sebelas bulan kemudian, setelah lomba pertamanya, anakku meraih piala pertamanya sebagai juara pertama di salah satu kategori. Kami senang, kami merayakannya, dan ini waktunya mengajarkan tentang kerendahan hati, tentang memertahankan sesuatu, tentang meningkatkan kemampuan, dan tentang hal yang lebih luas lagi.

[image: Inspire Hypnosis]

Tujuan mengantar anakku berlomba sesungguhnya adalah untuk mengajarkan bagaimana menghadapi masalah, kekalahan, dan merayakan keberhasilan. Namun yang terutama adalah bagaimana menemukan dan mengenal dirinya.

Baca Juga: Ajarlah Anak Bersyukur agar Tak Mudah Putus Asa. Ini Caranya!



Baca juga artikel-artikel inspiratif tentang membantu anak mengenali potensi mereka ini:

Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal ini!

Setiap Anak Istimewa. Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dukung Anak-Anak Mengikuti Lomba! Mereka akan Mendapatkan Pelajaran Berharga Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lina Sugondo | @linachandrasugondo

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar