Celetuk Khas Suroboyoan dari Anak Kami yang Menyegarkan Suasana

Reflections & Inspirations

photo credit: Daniel J Allen

355
Dalam beberapa peristiwa, kami justru mensyukurinya, anak kami malah menjadi pencair suasana dan membuktikan kehangatan yang bisa dibagikan khas Suroboyo.

Rambutnya tak hitam legam, malah cenderung kecoklatan. Matanya sipit dan kulitnya putih kemerahan. "Cocok jadi anak orang bule," begitu kata beberapa orang. Tapi, jangan heran, begitu ia membuka mulut, orang tak bisa menyangkal, "Ini asli arek Suroboyo!"

Ya, kami tak menyangka bahwa anak kami, Pearl, begitu cepat belajar berbicara dan menangkap kata-kata baru, terutama dalam logat medok Suroboyoan. Dalam beberapa peristiwa, kami justru mensyukurinya, anak kami malah menjadi pencair suasana dan membuktikan kehangatan yang bisa dibagikan khas Suroboyo.


photo credit: Daniel J Allen

Ojok!

Suatu ketika, kami hendak bepergian dengan beberapa saudara. Kami mulai membagi diri masuk ke kendaraan yang ada. Pearl saat itu digendong oleh salah satu sepupu saya, Lizabeth, yang juga adalah tante favorit Pearl! Karena mobil yang saya tumpangi hampir penuh, Lizabeth menyerahkan Pearl pada saya dan berkata, "Pearl sama Mama aja ya. Me (panggilan Pearl kepada Lizabeth) ikut mobil itu," ia menunjuk mobil lain.

"Ojok! Ojok!" tukas Pearl melarang Lizabeth, sambil melambaikan tangan seperti memanggilnya masuk ke dalam mobil.

Sontak seisi mobil meledak dalam tawa!

Baca juga: Buat Arek Suroboyo, Jatuh Cinta itu Mirip Makan Lontong Kupang. Ora Percoyo? Iki 5 Buktine

Suwek

Pagi itu, Pearl diajak Papanya berjalan-jalan di kompleks sekolah tempat Papanya mengajar. Senin pagi merupakan waktu yang dialokasikan khusus untuk kegiatan olahraga. Langkah mereka terhenti di lapangan voli, beberapa orang sedang bermain dan tak sedikit yang sedang ngobrol di pinggir lapangan.

Pearl segera menarik perhatian beberapa siswi yang kemudian mengajaknya bermain dengan bola voli cadangan. Rupanya Pearl menemukan dan menunjuk bagian bola yang terkelupas.

"Iya, Pearl, ini sobek bolanya," kata seorang siswi.

"Ndak! Suwek!" jawab Pearl sambil terus menunjuk bagian itu.

"Oalah, Pearl...kamu medok juga ya!"


Hop!

Kami sedang menanti sebuah mobil keluar dari tempat parkir di depan rumah makan itu. Tak lama, Bapak Jukir mengarahkan agar kami menempati tempat yang kosong itu.

"Yak! Kanan...kanan, Pak!"

Rupanya suami kurang jelas mendengar arahan itu dan memutuskan untuk membuka kaca jendela mobil.

"Bales...bales... polll...."

Ketika mobil sudah menempati posisi dengan baik, Bapak Jukir meniup peluit tanda berhenti.

Tak disangka, Pearl mengangkat tangannya dan berteriak kencang, "HOPPPP!"

Bapak Jukir tak mampu menahan rasa gelinya! Seiring dengan naiknya kaca jendela mobil, Pearl dan Bapak Jukir bertukar senyum dan lambaian tangan.


Wedi

Kami sudah mempersiapkan Pearl untuk kunjungan ke dokter anak. Beberapa minggu sebelum hari imunisasi itu, kami sudah berusaha menolongnya untuk tidak takut ketika diperiksa atau bahkan ketika disuntik.

Di ruang tunggu, Pearl sudah mulai mengingatkan janji kami, jika ia nantinya berani dan tidak menangis.

"Mama, e gim (baca: es krim) ya."

"Iya, kalau Pearl ndak nangis, nanti pulang beli es krim ya. Jadi, Pearl harus...," saya menantikannya melengkapi kalimat.

"Berani!" jawabnya mantap.

Tibalah giliran kami masuk ke ruang periksa. Pearl masuk dengan tenang, walaupun saya tahu ia menyembunyikan rasa takutnya. Ia menyapa Om Dokter, ditimbang berat, dan diukur tinggi tanpa ada tetesan air mata. Hati saya bangga melihatnya konsisten dengan janjinya. Kemudian, dokter mengarahkan kami ke meja periksa.

Saya merasakan tangan Pearl mulai mencengkeram lengan saya.

"Wedi...wedi...," katanya keras.

Dokter dan suster tersenyum mendengarnya.

"Ndak usah wedi, dek," kata dokter, "Di sini dokter dan susternya semua baik kok."

Sesi periksa berakhir dengan tangisan, tetapi kami masih tak bisa menahan tawa karena "wedi".


Baca juga: Mbendol Mburi: Bagaimana Menghindarinya dengan Santun?


photo credit: https://saliha.id/

Pearl, si arek Suroboyo asli, dengan celetukannya yang medok, mengajarkan pada kami bahwa dunia ini haus akan interaksi tulus dan apa adanya. Tak perlu harus mahir merangkai kalimat atau menggunakan diksi yang bombastis. Interaksi yang tulus dimulai dari hati yang terbuka dan rela memahami. Satu kata sederhana dapat membawa kehangatan dan makna yang dalam.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Celetuk Khas Suroboyoan dari Anak Kami yang Menyegarkan Suasana". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar