Hubungan Terasa Jenuh dan Membosankan? Jangan Dulu Menyerah dan Memilih Pisah. Hidupkan Kembali Cinta, Sekali Lagi Saja

Marriage

[Image: elitedaily]

19.7K
Pernikahan yang telah berlangsung 48 tahun, empat puluh delapan tahun, kandas begitu saja.

Mira tak habis mengerti dengan keputusan yang diambil Om-nya untuk bercerai. Usia Om sudah 72 tahun, sementara Tante telah memasuki 68 tahun. Pernikahan yang telah berlangsung 48 tahun, empat puluh delapan tahun, kandas begitu saja. Satu-satunya putra mereka, yang berkebutuhan khusus, meninggal tiga bulan lalu.

“Berapa lama lagi Om masih bisa hidup di dunia ini? “ ujar Mira sengit, ”Mengapa justru pada masa tua yang seharusnya damai, Om memilih bercerai?”

“Om sudah lelah sekali, Mira,” dengan pelan Om menjelaskan keputusannya, “Justru Om ingin setidaknya pada akhir hidup ini, Om bisa merasakan ketenteraman. Meski hanya sekejap, tidak apa.”

“Tapi Om, ini benar-benar bukan teladan yang baik untuk generasi muda. Bukankah Om dan Tante mampu bertahan selama ini? Apa pun alasannya, mengapa tidak dipertahankan saja? Setidaknya demi nama baik keluarga!”

Rupanya perasaan tertekan sudah mewarnai hubungan mereka selama puluhan tahun tanpa diselesaikan. Mereka bertahan hanya karena sang putra. Ketika dia meninggal, keduanya merasa tidak ada alasan lagi untuk bersama.

Baca Juga: Ketika Perceraian Tak Terelakkan, Masa Depan Anak Tak Harus Dipertaruhkan. Memilih Rukun Tanpa Rujuk, Begini Teman Saya Melakukannya

Apa yang bisa dipelajari dari kejadian ini?



1. Hubungan itu berubah seiring waktu berjalan

Ketika awal menikah, kondisi ekonomi mereka masih dalam perintisan. Kini, kehidupan mereka sudah mapan. Tentu ada perbedaan kebutuhan, dulu dan sekarang.

Tante pekerja keras yang ulet, kreatif, dan pintar. Seorang wanita yang dominan dan pemimpin yang tegar.

Di sisi lain, penampilannya sangat sederhana. Ia selalu tampil dengan daster batik kesukaannya.

“Dingin dan nyaman,” ujarnya terhadap kerabat yang menyarankannya tampil lebih cantik.

Sementara Om selalu tampil rapi, tampan, tampak lebih muda dari usia sesungguhnya.

Berubahnya kelompok teman, seiring dengan tingkat sosial ekonomi dan pendidikan lebih mapan, menuntut penampilan yang berbeda pula. Om menginginkan istrinya tampil seimbang. Tante bergeming. Itu salah satu hal kecil yang kerap menjadi bahan pertengkaran. Belum lagi hal-hal lainnya.

Semua tidak pernah diselesaikan. Perasaan tidak suka dipendam bertahun-tahun.
[Image: newsable]

“Daripada ribut,” demikian alasannya.



2. Pertumbuhan adalah bagian dari kebutuhan

Setelah kebutuhan ekonomi tercukupi, manusia membutuhkan pertumbuhan baik rohani maupun intelektual. Seperti ungkapan Wallas De Wattles, hidup tanpa pertumbuhan adalah hidup yang tidak layak dijalani. Setiap manusia perlu aktualisasi diri.

Membaca dan belajar adalah kesukaan Om. Beliau bahkan suka menulis lagu dan membuat cerpen. Sementara bagi Tante, bekerja dan mengembangkan usaha, itu yang terpenting.

Perbedaan prioritas yang tidak pernah dibicarakan maupun diselesaikan membuat jarak yang kian hari kian jauh.
[Image: netdoctor.co.uk]

Masing-masing lebih suka menyibukkan diri dengan kegiatan sendiri bersama kelompok teman yang berbeda.


Lalu, bagaimana solusinya?


1. Bangun komunikasi dan kecocokan

Sesungguhnya nyaris setiap pasangan mengalami apa yang dialami oleh Om dan Tante.

Ibu Dewi Motik berujar,
"Di dunia ini tidak ada pasangan yang cocok.
Yang ada adalah pasangan yang dicocok-cocokkan."

[Image: playbuzz]

That’s true.

Di setiap masa kehidupan, baik diri kita maupun pasangan akan berubah. Kebutuhan dan keinginan masing-masing pun berubah. Pertumbuhan kedewasaan, cara pikir, pola pandang kita dengan pasangan, belum tentu sama lajunya. Satu-satunya solusi adalah mengomunikasikan segala sesuatu sejak awal pernikahan. Setelah itu, saling mencocokkan diri dari waktu ke waktu. Mengusahakan agar dapat tumbuh bersama dan saling memengaruhi agar cocok.

Saya memiliki istilah "membangun mimpi bersama". Pada awal pernikahan, suami saya tidak pernah berpikir liburan keliling dunia. Sementara mimpi saya sejak kecil, ingin berkeliling dunia. Melalui berbagi mimpi, akhirnya liburan menjelajah berbagai negeri menjadi salah satu prioritas kami berdua.

Baca Juga: Ingin Cinta Tetap Manis Sepanjang Usia? Begini Caranya



2. Menjaga jarak dalam waktu terbatas

Ketika hubungan sedemikian panas dalam kurun yang cukup panjang, berpisahlah untuk waktu yang terbatas. Berlibur dengan teman selama 2 atau 3 hari. Mengunjungi saudara di luar kota. Atau ikut retreat. Sekadar contoh ide yang baik.

Tujuannya? Tidak membiarkan situasi menjadi makin panas. Refreshing dan ketenangan akan membuat pikiran jernih. Kita jadi mampu melihat persoalan dari sisi yang berbeda.

Ibarat melihat cahaya lampu terlalu dekat, pandangan kabur dan panas. Sedikit menjauh, nampak keindahan binar cahayanya.
[Image: telegrafi.com]

Inventarisasi kelebihan pasangan, bersyukur, lalu perbarui komitmen. Pernikahan itu one way ticket, hingga maut memisahkan. Doa dan hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan adalah kunci utama hati yang penuh pemahaman serta pengampunan.

Baca Juga: The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi



3. Menyesuaikan diri dengan perubahan

Dalam artikel sebelumnya, saya bercerita tentang kebiasaan baru yang digagas suami saya: duduk dulu 15 hingga 30 menit setelah makan, demi kesehatan. Sebuah perubahan kecil yang memicu pertengkaran kami. Wasting time!

Akhirnya saya mengalah dan kami berdamai.

Uniknya, kebiasaan baru ini perlahan-lahan mulai luntur. Justru ketika saya kesal, suami bersikukuh dengan kebiasaan menjengkelkan ini. Tetapi saat dibiarkan, kebiasaan ini luntur dengan sendirinya.

Pelajarannya:

Gelap malam memang terasa pekat, namun tidak terjadi selamanya. Terangnya pagi akan datang.
[Image: theodysseyonline]

Hubungan itu membutuhkan berbagai macam strategi dan kerelaan untuk saling mengalah dengan ikhlas demi terciptanya keindahan dan kebahagiaan. Ada saatnya sesuatu yang tidak kita sukai luntur, tetapi ada kalanya tidak. Yang terpenting, dengan keikhlasan: Luntur, Puji Tuhan. Namun tidak luntur, juga tidak mengganggu.

Sesungguhnya hidup terlalu berharga untuk dihancurkan oleh hal-hal sepele.


Sebagai penutup, orang bijak berujar,

"A perfect marriage is just two imperfect people
who refuse to give up on each other.
There is no challenge strong enough to destroy your marriage,
as long as you are both willing
to STOP fighting AGAINST each other,
and start fighting FOR each other."

- Dave Willis
[Image: datingwright.com]

Sesungguhnya, pernikahan yang sempurna hanyalah dua insan tak sempurna yang berkeras untuk tak menyerah satu sama lain.

Tak akan ada rintangan yang terlalu besar dapat menghancurkan sebuah pernikahan, asalkan dua orang di dalamnya bersedia berhenti berjuang untuk saling mengalahkan dan mulai saling memperjuangkan satu sama lain.



Baca Juga:

Pernikahan Tidak Bahagia? Setiap Hari 'Sleeping with The Enemy'? Inilah 6 Cara Cerdas Mengatasinya!

3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai

Bukan Perselingkuhan, Namun Tak Kalah Hebat Menghancurkan Hubungan. Atasi sebelum Terjadi!

Wanita, Jangan Lakukan 4 Hal yang Membuat Pria Yakin untuk Memutuskan Cinta Ini!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hubungan Terasa Jenuh dan Membosankan? Jangan Dulu Menyerah dan Memilih Pisah. Hidupkan Kembali Cinta, Sekali Lagi Saja". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar