How to Sell Yourself: Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup

Work & Study

[Image: shutterstock.com]

3.2K
Apapun yang tersimpan dalam hati dan pikiran seseorang akan terpancar melalui bahasa tubuhnya. Lalu, dalam jangka panjang, hal tersebut akan membuat kita mengambil keputusan, apakah orang tersebut layak dipercaya dan dihormati?

Sebagian besar orangtua, termasuk saya, sibuk mencari sekolah terbaik untuk anak-anak. Dengan melakukan hal tersebut, kita berharap untuk mempermudah masa depan mereka; agar mereka kelak dapat menjadi pribadi yang terbaik, sukses dan bahagia. Pendidikan dan lingkungan yang baik adalah modal utama untuk mencapai keberhasilan hidup, demikian keyakinan sebagian besar orangtua. Pertanyaannya: benarkah demikian?

Baru-baru ini, Amy Cuddy, seorang psikolog dan profesor dalam bidang business administration dari Harvard University, mengungkapkan hasil penelitiannya. Ternyata, hal utama yang mendukung kesuksesan seseorang adalah:

1. Apakah dia pribadi yang bisa dipercaya?

2. Apakah dia pribadi yang pantas dihargai?

Cuddy mengatakan bahwa kebanyakan orang, terutama dalam konteks profesional, percaya bahwa kompetensi adalah faktor yang lebih penting. Itulah sebabnya, kebanyakan orang ingin membuktikan bahwa mereka pintar dan cukup berbakat untuk menangani sebuah bisnis atau suatu perusahaan. Namun, pada kenyataannya justru kehangatan atau kepercayaan yang merupakan faktor yang paling penting dalam bagaimana seseorang menilai kita. Menarik, bukan?


Kepercayaan dan Respek

"Dari perspektif evolusi," kata Cuddy, "lebih penting bagi kelangsungan hidup kita untuk mengetahui apakah seseorang dapat dipercaya, trustable. Ibaratnya, saat sekumpulan manusia masuk ke dalam gua, lebih penting untuk memastikan bahwa rekan kita tidak akan membunuh dan mengambil harta kita, dibandingkan kemampuannya menyalakan api dengan baik untuk menyusuri gua dengan selamat."

Hebohnya nilai yang diraih seseorang di sekolah, yang dianggap berbanding lurus dengan kecerdasannya, ternyata bukanlah faktor utama. Kebanyakan perusahaan besar justru lebih memilih seseorang yang bisa dipercaya - meski prestasinya semasa sekolah tidak terlalu luar biasa - untuk menduduki jabatan CEO, dibandingkan dengan seseorang yang prestasi akademiknya luar biasa tetapi dari hasil tes psikologi mencerminkan karakter yang belum tentu bisa diandalkan, baik loyalitas maupun integritasnya.

Warren Buffett, orang terkaya ke tiga di dunia, berujar, dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi seseorang tetapi hanya dibutuhkan waktu 5 menit untuk menghancurkannya.

Kembali pada nilai-nilai dasar kehidupan manusia, bahwa integritas menunjukkan pribadi sejati seseorang. Nilai-nilai ini tetap menjadi nilai yang paling berharga, meski zaman sudah berkembang menjadi sedemikian canggihnya, di mana cara manusia bersosialisasi telah berubah dengan adanya teknologi internet yang menghilangkan begitu banyak batas serta hambatan. Dan, selamanya akan tetap berlaku hukum, bahwa integritas adalah sesuatu yang harus diusahakan serta dibangun seumur hidup, sementara sebuah kesalahan dapat meruntuhkan semuanya dalam sekejap mata.

Hal penting lainnya yang menjadi dasar pemilihan seorang pemimpin adalah, apakah dia seseorang yang layak dihormati? Respek dan penghargaan diperoleh seseorang karena caranya bersikap dan membawa diri. Apa yang diucapkan selaras dengan apa yang dilakukan, senantiasa bisa diandalkan serta bertanggung jawab. Dalam jangka panjang, hal-hal tersebutlah yang akan menentukan kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain, memimpin, dan menghasilkan pencapaian yang diharapkan. Jika seseorang yang ingin dipengaruhi tidak memercayai si pemberi pengaruh, apa pun yang dilakukan, tidak akan bisa berjalan terlalu jauh. Justru akan selalu timbul kecurigaan dan perasaan khawatir akan ditipu. Sebaliknya, orang yang hangat dan tulus, akan memancarkan aura positif yang akan menarik orang lain untuk menyukainya, merasa aman, kagum, dan timbul rasa percaya. Kepercayaan ini menjadi kekuatan, bukan lagi ancaman. Orang tersebut akan lebih mudah untuk memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya.

Respek dan kepercayaan diperoleh seseorang sebagai pancaran nilai-nilai, keyakinan dan beliefs yang tertanam di dalam hatinya. Sesuatu yang memancar dari dalam hati, lalu terungkap secara alami melalui body language -bahasa tubuh- tanpa disadari. Bahasa tubuh, dalam banyak kesempatan, berbicara lebih keras daripada kata-kata yang kita ucapkan.

Pernahkah kita memperhatikan saat kita tertarik atau bersimpati dengan seseorang? Sesungguhnya perpaduan antara aura, sikap, dan bahasa tubuh orang tersebutlah yang membuat kita tertarik dan bersimpati kepadanya. Sebaliknya, saat seseorang memandang kita dengan pikiran menuduh atau menghakimi, meski dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, secara naluri kita tidak menyukainya. Insting, demikian orang kerap menyebutnya. Sulit dijelaskan tetapi sangat memengaruhi keputusan seseorang: apakah dia akan menyukai orang lain atau tidak, percaya atau tidak, respek atau malah menganggap orang tersebut munafik. Hukum ini sama nyatanya dengan hukum gravitasi. Tidak kasat mata, tetapi nyata.

Ini bukti bahwa apa pun yang tersimpan dalam hati dan pikiran seseorang akan terpancar melalui bahasa tubuhnya. Lalu, dalam jangka panjang hal tersebut akan membuat kita mengambil keputusan, apakah orang tersebut layak dipercaya dan dihormati? Hal yang sama dirasakan pula oleh calon pimpinan, rekan-rekan bisnis kita, mereka yang pada akhirnya akan menentukan apakah kita mendapat promosi, dianggap layak untuk menduduki suatu jabatan, dipercaya menangani proyek besar dan berbagai pencapaian lainnya atau tidak.


How to Sell Yourself?

Dengan memahami prinsip-prinsip di atas, tentunya kita bisa menata kembali nilai-nilai hidup kita secara bijak. Memilih nilai-nilai yang baik lalu menghidupinya. Memprogram kebiasaan-kebiasaan baru agar dapat membangun sikap, kata-kata, dan cara pandang yang benar serta bijak dalam meresponi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup sehingga menjadi bekal untuk menjadi seorang pemimpin yang bijak dan bisa diandalkan.

Hidup yang baik, bahagia dan sukses bisa diciptakan. Asalkan kita bersedia memprogram ulang cara berpikir dan mengisi hati kita dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang kekal, tak lekang oleh waktu.

Get close to God first, before getting close to anyone else. God Without a man is still God, but a man without God is nothing.

Kebenaran sejati itu bagaikan hukum gravitasi, percaya atau tidak, akan tetap terjadi. Kita boleh percaya atau menolak memercayai hukum gravitasi, tetapi setiap benda yang jatuh akan selalu jatuh ke bawah dan bukannya ke atas. Hal tersebut membuktikan, gaya gravitasi itu ada.

Belajar dari prinsip-prinsip di atas, maka sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan siapa dia sesungguhnya. Orang bisa berpura-pura untuk sementara waktu, namun akan datang waktunya ketika kebenaran tentang siapa dirinya akan terbuka dengan terang benderang.

Jadi, trik yang tidak mungkin gagal untuk 'menjual' diri sendiri -sell yourself- adalah memurnikan nilai-nilai dalam diri kita lalu menghidupinya dengan ketulusan hati.

Kalaupun kita belum bisa menghidupinya secara sempurna, katakan pada diri sendiri dengan bersuara, niat kita untuk bersikap jujur, berani, memegang integritas lalu terapkanlah melalui hal-hal kecil dalam kehidupan. Ketika mulut berucap dan telinga mendengar, tumbuh dalam nurani kita kesadaran serta dorongan untuk memenuhinya.

Membayar uang parkir dengan jujur, meski tidak resmi. Mengembalikan uang kembalian yang kelebihan. Menepati janji. On time. Minta maaf saat melakukan kesalahan. Berjalan extra miles - bekerja melebihi yang diharapkan. Nampaknya sederhana, namun saat kita melakukannya dengan konsisten, akan menumbuhkan rasa percaya diri, menaikkan reputasi dan integritas, serta menarik orang lain untuk memercayai dan menghargai kita. Semakin banyak orang memercayai dan menghargai kita, semakin kita mengasihi serta bangga dengan diri sendiri, serta merasa nyaman juga bahagia. Perasaan bahagia ini akan menarik banyak orang-orang yang bahagia dan sukses untuk tertarik kepada kita. Like attracts like. Demikian siklus ini akan terus berputar, membuat lingkaran pengaruh yang makin membesar, membawa kesuksesan dan kebahagiaan. We sell ourself successfully. Tinggal tunggu waktu, maka jabatan idaman, prestasi spektakuler, kesuksesan, akan jatuh ke pangkuan kita.

Make sense?

Selamat mencoba!



Baca Juga:

Sudah Lama Bekerja namun Tak Kunjung Mendapat Promosi Jabatan? Cobalah 'Karir Maju', 9 Formula untuk Melesatkan Kariermu!

Bagaimana Cara agar Sukses Menaklukkan Wawancara Kerja?

Yunang: Kekuatan untuk Mengubah Impian menjadi Kenyataan




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "How to Sell Yourself: Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar