How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini

Marriage

[Image: nevadadivorce.org]

2.5K
How to make our families great again? Bukan dengan membangun tembok, namun justru merobohkan tembok-tembok penghalang kebahagiaan. Tembok apa saja yang perlu kita runtuhkan? Lima ini saja!

Ingar-bingar kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat telah usai, namun gegap gempitanya masih kita rasakan, bahkan sampai di Indonesia. Donald Trump mengusung tagline kampanye yang kontroversial “Make America Great Again”. Kesannya, Amerika sedang terpuruk atau pincang - dalam bahasa Trump sendiri - “Crippled America”. Sebenarnya, ada yang lebih penting lagi, yaitu how to “Make Our Families Great Again”.

Salah satu agenda utama Trump adalah membangun tembok raksasa di perbatasan Amerika Serikat - Meksiko. Tujuannya, apalagi kalau bukan, mencegah 'hal-hal buruk' masuk negara adidaya ini. Tentu saja, tekadnya itu menyinggung negara-negara tetangga. Republik Rakyat Tiongkok [RRT] membangun ‘great wall’ dengan tujuan mencegah musuh masuk ke negara tirai bambu itu. Namun, efek sampingnya justru merugikan, yaitu mengisolasi RRT dari dunia luar. Menurut saya, kita tidak perlu membangun tembok yang kuat untuk membuat rumah tangga yang bahagia. Sebaliknya, pagar yang paling kuat justru tetangga yang baik.

‘Blunder’ Trump itu dimanfaatkan baik-baik oleh rivalnya, Hillary Clinton, yang mengusung tagline tandingan “Love Trumps Hate” alias “Kasih Mengalahkan Kebencian”. Saya, yang tidak memilih salah satu dari mereka - karena bukan warga negara AS hehehe - memilih untuk menggabungkan slogan keduanya:

How To Make Families Great Again? Love Trumps Hate!

Kasih mengalahkan kebencian.

Caranya? Runtuhkan tembok-tembok penghalang!

Inilah 5 tembok yang perlu kita runtuhkan:



1. Tembok Asumsi

“Papa minum air es lagi ya?” tanya istri saya dengan nada menghakimi suatu kali saat mendengar saya batuk-batuk. Tentu saja saya menyangkal karena sudah lama saya tidak minum air es. Tuduhan istri terhadap saya itu adalah prasangka. Soalnya, saya memang suka minum minuman dingin.

Asumsi yang salah disebabkan oleh pikiran negatif. Saat kita berpikir negatif terhadap seseorang, bawaan kita akan selalu menyalahkan orang lain.
[Image: ributrukun.com]

Tembok yang satu ini sangat berbahaya. Meski prasangka istri salah, jika saya menghadapi asumsi istri dengan retensi tinggi, tensi kami masing-masing justru sama-sama meninggi. Akibatnya buruk, bukan saja bagi hubungan kami sebagai pasangan suami-istri tetapi juga kesehatan kami.

Pada kesempatan lain, seorang ibu menegur anaknya, “Jangan main hape terus!” Anak yang ditegur menjawab, “Saya sedang membaca, bukan main hape.” Rupanya dia sedang membaca e-book. Ketimbang berasumsi lebih baik minta klarifikasi.

Baca Juga: Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Pasangan, Inilah 5 Bahaya dan 5 Solusinya



2. Tembok Miskomunikasi

“Papa memakai handukku, ya?” ujar istri saya di suatu petang.

Karena badan sedang lelah, saya menjawab dengan nada jengkel, “Aku pakai handukku sendiri!”

“Coba lihat, handuk siapa ini?” teriak istri saya dari halaman belakang.

Setelah saya cek, ternyata memang saya yang keliru. Handuk saya, yang biasa saya taruh di deretan jemuran paling depan, bergeser ke belakang. Karena itu malam hari, mata saya tidak bisa mengenali warna merah muda dan biru muda.

Persoalan selesai. Namun, tidak pikiran saya.

[Image: Huffington Post]
Mengapa harus saling teriak jika kami bisa bicara lebih lembut satu sama lain? Seandainya kita menurunkan sedikit nada suara kita, komunikasi pasti jauh lebih efektif.

Seorang anak akan merasa nyaman jika orangtuanya memanggilnya dengan lembut dan mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Baca Juga: Ketika Pertengkaran Tak Terhindarkan, Ingatlah bahwa Permusuhan adalah Pilihan. Inilah Cara Menyikapi agar Pertengkaran Tak Menghancurkan Relasi



3. Tembok Interupsi

Salah satu penyebab pertengkaran adalah tidak mau mendengarkan orang lain yang sedang bicara.

Mengapa kita kadang suka memotong pembicaraan orang lain sebelum dia menuntaskan ucapannya? Karena kita sok tahu. Akibatnya, kita malah tidak tahu apa-apa.

Jika saja kita mau sedikit bersabar dan mau mendengarkan pasangan, orangtua, atau anak kita bicara, hasil akhirnya pasti beda.

Seorang anak bertanya kepada ibunya, “Ma, apa sih yang menyebabkan perang terjadi?”

“Perang terjadi karena setiap negara egois dan ingin menguasai negara lainnya,” jawab ibunya, “lagi pula …”

“Jangan dengarkan mamamu,” interupsi ayahnya. “Ibumu tidak mengerti apa-apa. Perang itu terjadi karena perbedaan ideologi dan …”

“Papamu ngawur! Dia terlalu obsesif dengan teori konspirasi ...”

“Kamu bisa diam tidak?!” bentak ayahnya kepada ibunya.

“Pa, Ma, stop. Saya sudah tahu bagaimana perang dimulai!” ujar sang anak sambil ngeloyor pergi.

Baca Juga: Inilah Pembunuh Relasi Nomor 1. Simak dan Hindari, Niscaya Hubungan Akan Harmonis Selamanya



4. Tembok Gengsi

Gengsi membuat jarak. Pasangan suami-istri yang sama-sama merasa benar dan tidak mau mengalah biasanya bukan karena memang benar atau memang salah, melainkan karena gengsi untuk mengakui kesalahan.

[Image: Huffington Post]
Sikap mengakui kalau kita salah bukan kalah. Sikap itu justru menunjukkan bahwa kita bisa menang melawan ego kita sendiri.

Karena gengsi inilah ada pasangan suami-istri sampai melakukan perang dingin dan mogok bicara satu sama lain. Alat paling ampuh untuk meruntuhkan tembok yang satu ini adalah saling merendahkan diri. Kata ‘saling’ jelas menunjukkan bahwa kita berinisiatif untuk berdamai.

“Sedapat-dapatnya,” demikian Sabda Sang Khalik, “kalau itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”

Baca Juga: Sering Bertengkar dengan Pasangan? 3 Hal ini Akan Menyelamatkan Hubunganmu dari Dampak Pertengkaran yang Merusak



5. Tembok Intimidasi

“Jika kamu tidak mengaku, Mama akan telpon gurumu,” ujar seorang ibu. Anak yang merasa benar, akan membalas ancaman mamanya dengan ucapan, “Silakan!” Meskipun masalah tampaknya selesai sampai di situ, namun di hati anak ada perasaan bahwa mamanya tidak mempercayainya.

[Image: Huffington Post]

Intimidasi bisa saja membuat anak-anak kita takut saat masih kecil. Namun, lama-lama, ada jarak yang semakin lebar. Anak yang sering diintimidasi lama-lama malas bicara dan hilang kreativitasnya.

Baca Juga: 4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Malah Membuat Anak Makin Menjauh


Runtuhkan 5 tembok di atas dan buatlah keluarga kita hebat kembali!



Baca Juga:

Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis

Kelelahan dan Stres adalah Tanda bahwa Peran Rumah yang Terpenting ini Telah Terabaikan

Mario Teguh, Ario Kiswinar Teguh, dan 3 Pelajaran tentang Realita Hidup Berkeluarga

3 Pelajaran Penting tentang Keutuhan Keluarga: Babak Baru Relasi Mario Teguh dan Ario Kiswinar Pasca Tes DNA



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar