Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Penting Ini Sebabnya

Reflections & Inspirations

[Image: pixabay]

3.7K
Betapa kita sering salah menempatkan yang satu ini. Padahal, tanpa yang satu ini hidup kita bisa hancur berantakan. Apa itu?

Surabaya. Pagi hari.

Saya baru saja masuk ruang kantor saya saat seorang mahasiswi mengetuk pintu. “Bisa konsultasi sebentar, Pak Xavier?” ujarnya di depan pintu.

Rupanya dia ingin minta kejelasan tugas baca yang harus dia selesaikan. Dia masih bingung dengan kata ‘refleksi pribadi’ di tugas paper-nya.

Setelah berbincang-bincang sejenak, tiba-tiba dia nyeletuk, “Pak Xavier, kok uang kuliahnya mahal sekali?”

“Oh ya?” ujar saya. “Kok rasanya lebih mahal biaya potong rambut Anda,” tambah saya sambil tersenyum.

Ucapan saya itu disambut oleh gelak tawanya yang meriah. Saya tahu persis, mahasiswi ini masuk kelompok menengah ke atas. Dalam perbincangan santai sebelum perkuliahan dimulai, dia pernah nyeletuk, ongkos potong rambutnya di salon mencapai satu juta rupiah.

Rupanya jawaban saya menyentuh langsung persoalannya. Saya memang tidak suka basa-basi. Mengapa? Daripada terjadi asumsi dan berlanjut ke miskomunikasi.

Dari perbincangan dengan mahasiswi itu saya merenungkan,

Betapa kita sering salah menempatkan yang satu ini.
Padahal, tanpa yang satu ini hidup kita bisa hancur berantakan.
Apa itu?
[Image: makeuseof.com]
Menempatkan prioritas yang benar dalam hidup kita.

Jika mahasiswi itu merasa bahwa uang ratusan ribu untuk sekali datang kuliah pascasarjana dianggap mahal, lalu kok dia begitu ringan mengeluarkan satu juta rupiah untuk potong rambut yang kurang dari satu jam? Mana yang lebih bertahan lama, ilmu atau model rambut?

Saya tidak bisa membayangkan jika mahasiswi itu mengikuti kelas eksekutif yang dipatok 3 ribu dolar per 10 kali pertemuan. Apakah tidak uring-uringan? Wkwkwk.

Kita perlu merenungkan dalam-dalam bahwa jika kita salah menempatkan satu hal ini, hidup kita bisa berantakan. Sebaliknya, jika kita bisa menempatkan prioritas di tempat yang utama, maka yang lain akan berada di tempat yang seharusnya.

Paling tidak ada dua prioritas mahapenting yang perlu kita tempatkan di tempat yang utama.

Sang Guru Agung berkata,

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Inilah two in one yang sebenarnya, karena hukum yang pertama sama dengan hukum yang kedua.



1. Mengasihi Tuhan

Saat menulis Inilah 5 Kriteria Pasangan Hidup yang Tak Boleh Ditawar Lagi demi Kebahagiaan Pernikahanmu Kelak di RibutRukun.com, saya menceritakan tentang Young Professional Camp di Phillip Island yang saya pimpin. Di dalam camp itu, seorang gadis menuliskan kriteria utama calon suaminya. “Calon pasangan hidupku haruslah orang yang lebih mencintai Tuhan ketimbang diriku,” tulisnya ketika itu.

Saya kagum. Angkat topi. Kalau bisa, angkat keempat jempol saya sekaligus. Mengapa? Karena gadis ini telah menempatkan prioritas yang benar dalam hidupnya. Dia seakan-akan paham dengan apa yang Salomo katakan, “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Apa yang Salomo maksudkan dengan ‘segala lakumu’? Ini:

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” - Saint Paul

Sikap menempatkan Tuhan di tempat yang utama ini mengingatkan saya terhadap kisah seorang dosen yang mengajar mahasiswanya tentang skala prioritas. Di bangku dosen, ada toples. Di sampingnya, ada batu besar, kerikil, pasir dan air. Mula-mula dosen itu memasukkan batu-batu besar sampai penuh. “Sudah penuh?” tanyanya. “Sudah!” jawab mahasiswanya serentak.

Guru besar itu lalu memasukkan kerikil yang ternyata bisa masuk di sela-sela batu besar itu. “Sudah penuh?” tanyanya lagi. “Sudah!”

Sambil tersenyum, profesor itu memasukkan pasir yang sekali lagi ternyata masih bisa masuk ke sela-sela batu besar dan kerikil yang lebih dulu masuk. “Sudah penuh?” tanyanya sekali lagi yang dijawab dengan koor, “Sudah.”

Kali ini sambil tersenyum lebar, dosen itu menuangkan air sampai memenui toples itu. Sekarang toples itu benar-benar penuh.

[Image: Big Rock Ideas]

“Jadi, tempatkanlah hal yang utama di tempat yang utama, maka hal yang lain akan tersusun dengan sendirinya,” ujarnya menyimpulkan.



2. Mengasihi Sesama

Ada perintah menarik dari Guru Agung. Kita diminta untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Apakah mengasihi diri sendiri tidak sama dengan narsis? Sama sekali tidak! Coba simak cerita yang disampaikan sahabat saya yang tinggal di Vancouver, Kanada.

Di sebuah gereja, ada seorang bapak yang saat duduk di mana pun, jemaat lain selalu menghindar, sehingga ada semacam ‘lubang’ di sekeliling tempat duduknya. Mengapa? Karena bau badannya menyengat. Artinya? Kalau kita tidak mengasihi diri sendiri - dengan tidak mandi, misalnya - maka kita tidak mengasihi sesama. Mereka jadi tidak betah duduk di dekat kita. Untung di gereja itu ada seorang yang baik hati. Setelah ibadah usia, dia mengajak bapak itu mengobrol. Dari perbincangan itu dia tahu bahwa bapak itu ke gereja dengan berjalan kaki, sehingga meskipun sudah mandi, keringat kembali membasahi tubuhnya.

Minggu berikutnya, tubuh jemaat itu tidak lagi bau. Apa yang terjadi? Teman yang baik hati itu menjemputnya di rumah dengan mobilnya sehingga dia tidak perlu jalan kaki.

Tindakan sederhana bersuara lebih keras ketimbang ribuan nasihat kosong tanpa perbuatan.

Yang menarik, jika kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tetapi membenci sesama, itu sama dengan bohong.

Jika kita tidak bisa mengasihi sesama yang jelas kelihatan, bagaimana kita bisa berkata kita mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan?

Baca Juga: It's OK to Not Be OK, Kasihilah Dirimu Sendiri Tanpa Syarat. Sesungguhnya Mengasihi dan Dikasihi Bermula dari Itu Saja



Mata Uang Universal

Mata uang, di mana pun, selalu memiliki dua sisi. Biasanya di sisi yang satu tertulis nilai nominal uang itu, sedangkan sisi lainnya ada gambar, entah pahlawan maupun gambar lainnya. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama merupakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Yang luar biasa, mata uang yang satu ini berlaku di negara mana pun.

Saat kita memilih prioritas yang benar, yaitu mengasihi Tuhan yang sama dengan mengasihi sesama, maka pikiran, tindakan dan ucapan kita lainnya mencerminkan kedua hal itu. Contoh sederhana, jika kita mengasihi Tuhan, kita otomatis mengasihi keluarga, sahabat, orang yang baru kita kenal.

Saat kita mengasihi Tuhan dan sesama, saya percaya, hidup kita akan berlimpah dengan kasih.

Seorang guru musik menggantung sebuah garpu tala. Di sebelahnya, dia gantung garpu tala lain. Ketika dia memukul salah satu garpu tala, garpu tala lainnya ikut bergetar. Keduanya saling memengaruhi. Dan ajaib … getaran dari kedua garpu tala membuat suaranya semakin kencang.

Demikian juga dengan kasih.

Saat kita mengasihi sesama, kasih itu akan berbalik kepada kita.


[Image: tumblr]

“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.”

- Guru Agung



Baca Juga:

Setelah Menulis Biografi Orang-Orang Sukses, Saya Menemukan Sukses Sejati Hanya Membutuhkan Satu Hal Ini

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Penting Ini Sebabnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar