Hidup Tak Mudah, Tapi Kamu Dapat Mengukir Sejarah. Jadilah Pahlawan bagi Orang Tercinta

Reflections & Inspirations

photo credit: Anas Ebrahem

776
Menjadi pahlawan bukanlah hal yang mudah, namun mungkin. Bahkan di masa kini.

“Dad, plays like a kid, gives advices like a friend, and protects like a bodyguard.”—NN


Ketika mempersiapkan materi untuk mengajar FatherWise, saya sempat bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah saya menjadi ayah yang bijak bagi anak-anak saya?” Semakin saya mendalami FatherWise, semakin kencang jawabannya, “Belum!” Bagi saya, menjadi ayah yang bijak adalah pelajaran seumur hidup.

Kita tidak mungkin lulus menjadi ayah yang bijak. Kalau lulus, siapa yang menguji? Siapa yang memberi penilaian? Absahkah penilaian itu? Menjadi ayah yang bijak lebih merupakan perjalanan ketimbang tujuan, karena untuk menjadi ayah yang bijak setiap hari selalu ada tantangan baru yang harus kita hadapi.

Nah, saat saya berbincang-bincang dengan istri saya yang juga pernah menjadi pembina MotherWise, dia pun merasa belum lulus menjadi ibu yang bijak. Masih banyak kekurangan yang harus kami pelajari bersama-sama untuk menjadi orang tua yang bijak.

Saat merenungkan seperti itu, saya mendapatkan email dari Elizabeth. Judulnya: “Ayah yang Luar Biasa”. Mau tahu isinya? Ini: Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab.


Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritik yang dialamatkan kepadamu?

photo credit: Mac Wallpapers

Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru.Jangan putus asa! Bangkitlah! Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari, demikian juga dirimu. Kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu.


Masihkah sering marah ketika kamu melihat orang lain berhasil?

Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain? Bukankah tuhan sudah menyediakan suksesmu sendiri? Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya. Matamu tidak terfokus kepada rancangan-Nya yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karya-Nya yang luar biasa atas hidup orang lain. Jadilah seperti air. Selalu mengalir melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan, tetapi kalahkan keadaaan!

Baca juga: Tentang Aku, yang Menghabiskan Sebagian Besar Waktu Hidup Membenci Bapakku


Masihkah merasa sakit hati ketika ditegur?

Padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik. Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman. Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu! Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan, ataupun dikhianati oleh sesamamu. Bukankah untuk itu kau hidup? Untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanyalah Tuhanmu. Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi tuhanmu.


Menyambut Hari Pahlawan, saya pun merenungkan hal ini:

photo credit: ScienceDaily

Pertama, saya tidak ingin anak saya mengidolakan saya. Kata ‘idola’ berasal dari kata ‘idol’ yang berarti ‘berhala’. Saya ingin anak saya meninggikan Tuhan seumur hidupnya.

Kedua, saya merasa saya bukan pahlawan bagi anak-anak saya. Jauh. Terlalu jauh. Saya hanya ingin menjadi suami yang baik bagi istri saya dan ayah yang baik bagi anak-anak saya. Cukup. Ketika memimpin upacara di sekolah, saya membawa beberapa gambar superhero. Saya angkat satu per satu dan saya tanyakan kepada murid-murid saya, “Apakah kalian ingin seperti ini?” Superman, Batman, Ironman, Spiderman. Saya lupa membawa Wonder Woman, apalagi Catwoman. Gambar terakhir yang saya angkat adalah gambar ayah dan ibu. Saya katakan kepada mereka, “Inilah yang seharusnya menjadi pahlawan kalian. Papa dan Mama!”

Ketiga, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya untuk menjadi ‘pahlawan-pahlawan’ kecil yang berkontribusi di tempat yang paling dibutuhkan, khususnya di rumah sendiri.

Keempat, saya ingin anak-anak saya maupun murid-murid saya bisa menjadi diri mereka sendiri, bangga akan hal itu dan berprestasi di bidang masing-masing. Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya bukan hanya berperilaku baik di rumah tetapi juga santun di tempat umum.

Baca juga: Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah


Kelima, saya ingin anak-anak saya bisa menghargai orang lain bukan berdasarkan Suku, Agama, Ras dan Antar golongan, tetapi hati nurani yang murni dan buku pekerti yang luhur. Masa depan milik generasi muda. Apa jadinya anak-anak kita jika kita para orang tua mengumbar hate speech dan melempar api permusuman di mana-mana? Saya rindu anak-anak zaman now bisa menjiwai dan menjalani mimpi Martin Luther King, Jr. yang dia daraskan pada 28 Agustus 1963, yang kebenarannya semakin kita butuhkan di masa kini:


I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: "We hold these truths to be self-evident; that all men are created equal"

I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.

I have a dream that one day every valley shall be exalted, every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plains, and the crooked places will be made straight, and the glory of the Lord shall be revealed, and all the flesh shall see it together


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup Tak Mudah, Tapi Kamu Dapat Mengukir Sejarah. Jadilah Pahlawan bagi Orang Tercinta". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

mencatat keuangan dengan aplikasi keuangan