Hidup setelah Diluputkan dari Kematian: Sebuah Refleksi dari Peristiwa Penyanderaan dalam Angkot Menjelang Paska

Reflections & Inspirations

[Image: wawker.com, kriminalitas.com, grid.ID]

4.8K
Diselamatkan dari ancaman kematian, bukankah itu pengalaman dengan kelegaan yang tidak tergambarkan?

Kasus penyanderaan seorang ibu dan anaknya di dalam angkot pada hari Minggu, tanggal 9 April yang lalu, menjadi sebuah peristiwa yang menyimpan banyak pelajaran kehidupan. Kejadian yang berlokasi di salah satu daerah di ibukota Jakarta itu seolah ingin memperlihatkan sisi gelap kehidupan masyarakat ibukota. Bahwa demi sesuap nasi, banyak yang akhirnya tergoda untuk melakukan cara-cara yang tidak benar.

Baca Juga: Mereka Rela Menjual Nyawa demi Menjadi Kaya. Pesugihan, dari Tuyul sampai Nyi Blorong: Hanya Takhayul dan Cerita Bohong?



Inilah yang terjadi dalam angkot T25 jurusan Rawamangun-Pondok Kopi

Seorang ibu bersama anaknya menjadi korban kriminalitas dari seorang laki-laki bernama Hermawan. Bermodalkan senjata tajam, Hermawan mengancam Risma - yang sedang menggendong anaknya - untuk menyerahkan perhiasan kepadanya. Situasi, sayangnya, tidak berjalan mulus seperti yang ia kehendaki. Di sekeliling angkot tempat peristiwa penyaderaan terjadi, orang-orang berkerumun. Massa meneriakinya agar membebaskan korban.

[Image: detiknews]

“Gawat” menjadi istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang terjadi pada waktu itu. Ketika orang-orang di luar angkot berkeriau, mendesak pelaku membebaskan si ibu dan anak, di dalam angkot si pelaku juga berteriak, mengancam akan membunuh korban. Tidak terbayangkan bagaimana kondisi Ibu Risma dan anaknya ketika itu. Sebuah pisau di tangan seorang Hermawan yang kalap, sekejap saja bisa menghilangkan dua nyawa yang tidak berdaya itu. Meskipun banyak orang berkerumun di sekitar lokasi kejadian, kehadiran mereka tidak membuahkan hasil apa pun. Semua takut, jikalau Hermawan nekat, ia akan menusukkan pisau itu kepada korbannya. Situasi genting kian menegangkan, tetapi tidak ada seorang pun yang berani mengambil tindakan. Takut mengambil risiko, itu sebabnya.

Di tengah situasi yang penuh ketegangan tersebut, seorang polisi bernama Sunaryanto muncul sebagai negosiator. Ia berulang kali menenangkan pelaku dan berusaha membujuknya untuk melepaskan Ibu Risma dan anaknya. Bernegosiasi di tengah krisis tentu bukanlah hal mudah. Di luar angkot masyarakat terus berteriak mendesak, sementara di dalam angkot ia harus menghadapi Hermawan yang tidak bisa diajak kerja sama.

Walaupun demikian, Aiptu Sunaryanto ternyata mampu meredam ketegangan. Dengan ketenangan, ia lontarkan sebuah tembakan, tepat ke arah Hermawan. Alhasil, Bu Risma dan anaknya bisa diselamatkan.

Keberanian Aiptu Sunaryanto menembak Hermawan mendapat banyak apresiasi. Harus diakui, tindakan beliau sebenarnya berpotensi salah tembak, bahkan bisa malah melukai korban sandera. Namun, ketenangannya dalam menghadapi krisis patut diteladani. Kemampuannya menguasai diri dan tetap tenang dalam kondisi genting itu telah berhasil menyelamatkan tidak hanya dua tetapi tiga nyawa sekaligus, termasuk nyawa Hermawan si pelaku.

Baca Juga: The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi



Biasa yang Tidak Biasa, jika Posisi Kita Sandera

Situasi seperti ini tentu saja sudah menjadi hal yang lumrah bagi aparat penegak hukum seperti Aiptu Sunaryanto. Bertemu dengan oknum-oknum seperti si Hermawan, bukan lagi pengalaman yang terlalu baru. Sebagai seorang polisi, tugas untuk menyelesaikan konflik pun telah menjadi makanan sehari-hari. Oleh karena itu, sudah menjadi hal biasa jika beliau mampu menjaga ketenangan diri menghadapi kondisi yang begitu menegangkan itu.

Namun, cara kita melihat Aiptu Sunaryanto akan jadi tidak lagi biasa, jika kita menempatkan posisi kita sebagai tawanan. Jika hal itu yang terjadi, tentu saja kita tidak menganggap Aiptu Sunaryanto sebagai polisi biasa yang mengerjakan tugas biasa pula. Bagi kita, beliau adalah polisi luar biasa. Bahkan mungkin kita juga akan menjulukinya sebagai pahlawan penyelamat. Mengapa? Karena ia telah menyelamatkan hidup kita dari ancaman kematian. Kita merasa berutang nyawa kepadanya. Dan karena itu, nama beliau akan memiliki tempat tersendiri dalam sejarah hidup kita. Ialah penolong, pahlawan, dan juru selamat pribadi kita. Pengalaman tersebut akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

[Image: tribunnews.com]
Diselamatkan dari ancaman kematian adalah sebuah pengalaman dengan kelegaan yang tidak tergambarkan.



Paska: bagaimana hidup setelah diselamatkan dari kematian

Pengalaman seperti ini jugalah yang saya alami dan terus saya refleksikan menjelang Hari Raya Paska. Saya juga memiliki sesosok Pahlawan yang telah meluputkan saya dari ancaman kematian. Ia bahkan rela memberikan nyawa-Nya untuk itu. Menggantikan posisi saya, yang seharusnya menanggung hukuman.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada saya, jika Ia tidak datang ke dunia menyelamatkan hidup saya. Sudah pasti, kebinasaan dan api neraka menjadi bagian saya selamanya. Oleh karena itulah, saya bersyukur memiliki Penyelamat seperti-Nya. Kematian-Nya telah memberi kehidupan bagi saya.

[Image: mountvernonsda]

Hari Raya Paska tinggal menghitung hari. Di sisa waktu yang masih diberikan-Nya ini, hendaknya kita senantiasa menjalani hidup dalam rasa syukur. Janganlah kita menyia-nyiakan pengorbanan-Nya untuk kita. Mari berjuang untuk hidup sesuai dengan kehendak Sang Juru Selamat yang telah membebaskan kita dari ancaman kematian.



*Tulisan ini dipersembahkan bagi umat Kristen dan Katholik dalam rangka menyambut Paska. RibutRukun juga mengharapkan tulisan ini menambah wawasan pembaca yang berasal dari keyakinan yang berbeda. Semoga di hari raya keagamaan lain, ada penulis yang bersedia berbagi keyakinan imannya dalam bahasa yang populer, dalam rangka berbagi wawasan untuk Indonesia yang lebih damai.


Baca Juga:

Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga Ini

Hidup Saleh, Malah Banyak Masalah. Jika Orang Baik Hidup Menderita, Percumakah Percaya kepada Allah?

Hidupmu Berantakan? Coba Periksa, Bisa Jadi Salah Menempatkan Satu Hal Penting Ini Sebabnya

Hanya yang Terluka akan Melukai Orang Lain. Bukan Balas Dendam, Pemulihan Diri adalah Solusi



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup setelah Diluputkan dari Kematian: Sebuah Refleksi dari Peristiwa Penyanderaan dalam Angkot Menjelang Paska". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yunus Septifan Harefa | @yunusharefa

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar