Hidup setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang

Reflections & Inspirations

[Image: matthewcornell.com]

7.8K
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Beberapa minggu setelah anak kedua kami meninggal, seorang rekan meminta kami membagikan pengalaman dan duka yang kami alami dengan harapan bisa membantu keluarga lain yang juga sedang berduka atau menderita.

Hal tersebut tidaklah mudah.

Setiap kali kami berdiam diri dan memikirkan hal-hal seputar kematiannya, maka hati kami kembali hancur dan air mata kembali mengalir.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang tak tergantikan dalam hati kami.

Waktu ternyata tidak membuatnya menjadi lebih mudah untuk dibicarakan. Delapan bulan kemudian, kami mendapat undangan untuk membagikan perjalanan kami dalam sebuah talk show tentang kematian yang diadakan oleh rekan kami. Kami pun mempersiapkan diri. Kembali, hati ini menjadi berat dan rasa rindu muncul mendominasi emosi.

Bukankah respons demikian adalah hal yang aneh, menyadari bahwa kematian itu pasti datang kepada setiap kita? Tidakkah kita semua tahu bahwa hal itu tak terelakkan?

Akan tetapi, ketika ia datang, sengatnya ternyata meninggalkan luka yang dalam pada diri orang-orang yang ditinggalkan. Terkadang luka itu bisa menjadi racun yang mematikan bila tidak ditangani dengan baik. Seperti yang kita semua pernah alami, tidak ada teori atau pengetahuan apa pun bisa mempersiapkan seseorang untuk menghadapi kematian orang yang ia kasihi.

Yang menghancurkan hati kita adalah ketika gelombang kesedihan itu memakan korban baru: orang-orang yang masih hidup.

Bukankah kita pernah mendengar dan melihat bagaimana orang-orang yang ditinggalkan akhirnya tenggelam dalam kedukaan ketika arus kesedihan yang tiba bersama air mata itu datang menerjang?

Masalah relasi yang belum terselesaikan akhirnya menjadi kanker yang menggerogoti semangat hidup mereka yang ditinggalkan.

Hidup mereka berubah menjadi lebih buruk setelah kematian orang yang dikasihi. Dan mereka tidak pernah bisa bangkit kembali hingga akhir hidup mereka.

Sobatku, itu bukanlah satu-satunya jalan yang tersedia untuk kita yang sedang berduka. Ada jalan lain. Sesungguhnya pelampung pengharapan tersedia untuk melindungi jiwa kita ketika badai hidup menerpa.

Lewat artikel ini kami ingin membagikan beberapa pelampung pengharapan yang kami gunakan tatkala awan gelap melingkupi hidup ini dan semua makanan terasa sama pahitnya.



1. Tuhan

Anugerah Tuhan berupa kekayaan alam untuk kita yang hidup di bumi Nusantara sepatutnya menyadarkan kita akan besarnya kuasa Sang Pencipta. Sejak kecil, kita dididik dalam pengenalan akan Tuhan. Kita mendapatkan banyak teori dan pengajaran yang membawa kita mengenal dan mendasarkan pengharapan hidup kepada Dia. Kita tahu keberadaan dan kebesaran-Nya.

Kedukaan, penderitaan, dan kematian merupakan waktu di mana semuanya itu diuji: iman percaya kita.
[Image: crosstowntocoa]

Deklarasi iman percaya yang kita ucapkan ketika keadaan baik-baik saja baru akan terlihat kebenarannya di saat-saat seperti itu.

Buat kami yang terus belajar untuk menggantungkan pengharapan hidup kepada Tuhan, peristiwa pahit seperti kematian ini membawa kami semakin dekat kepada Tuhan. Janji-janji penyertaan-Nya kami ingat kembali untuk kemudian menjadi obor-obor terang yang memberikan kehangatan di lorong gelap yang sedang kami lewati.

Iman yang kuat akan bisa menjadi pelampung pengharapan di tengah kedukaan dan air mata.



2. Teman dan Keluarga

Mendapatkan tempat untuk bisa menceritakan apa yang kita rasakan menjadi sangat penting pada masa-masa duka. Di saat-saat itu, kami sangat membutuhkan telinga yang mau mendengar serta bahu tempat bersandar dan menangis. Kami tidak butuh nasihat ataupun pengajaran. Kami butuh kehadiran orang yang mengasihi kami untuk mendengarkan omelan, tangisan, kata penyesalan atau bahkan amarah kami.

Masa kesedihan adalah masa yang amat rawan. Saat itu, benteng pertahanan kita seakan runtuh. Semua omongan dan perkataan orang akan dengan mudah masuk ke dalam diri kita.
[Image: pinterest]

Itulah sebabnya sangat penting untuk kita mengelilingi diri dengan orang-orang yang mampu memperkatakan kehidupan dan kekuatan kepada kita. Bila tidak, maka jiwa kita yang sedang rapuh itu akan diracuni dengan kata-kata negatif, penyesalan, dan kritikan yang dikeluarkan oleh teman yang salah.

Kami bersyukur atas kehadiran orang yang tepat yang bisa menyimpan dan merahasiakan curahan hati kami. Mereka menjadi pelampung pengharapan kami yang sangat berharga.



3. Diri Sendiri

Penyesalan karena kematian adalah hal yang wajar. Terlebih bila pada waktu ia meninggal kita memiliki masalah relasi yang belum terselesaikan dengan dirinya. Kita mungkin sedang memarahi dia atau menghukum dia. Kita mungkin baru melakukan kesalahan dan belum meminta pengampunan darinya. Kita mungkin juga merasa bahwa masih banyak yang ingin kita lakukan baginya. Atau kita lupa mengatakan kata-kata cinta kepadanya. Atau kita berharap seandainya kita mengikuti saran dokter. Atau mencari dokter yang lain.

Apa pun sumber penyesalan itu, kematiannya menyadarkan kita bahwa semuanya sudah terlambat. Jam kehidupannya sudah berhenti dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Dan kita meratapi diri dan hidup yang tidak adil ini?

[Image: lifeasalexia.com]

Apa yang bisa kita lakukan? Semuanya sudah terlambat, bukan?

Baca Juga: Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja


Pertama-tama, tentukanlah batas waktu untuk menyesali dan mengasihani diri sendiri. Walau nasihat ini terdengar dingin dan tidak sensitif, tetapi memiliki kebenaran, sama seperti obat pahit yang berguna untuk menyembuhkan seorang yang sedang sakit.

Hidupmu bukan hanya untukmu saja. Yang mengasihimu bukan hanya dia yang telah pergi. Tentukanlah batas waktu untuk menyesal, dan setelah itu, bangkitlah untuk hidup kembali.

Ketika keputusan itu kita ambil, maka pelampung pengharapan berikut akan bisa berguna.

Pelampung pengharapan itu adalah kesadaran bahwa

walaupun kedukaan dan penyesalan yang kita alami ini terasa sangat personal dan rumit, kenyataannya adalah itu tidak benar.

Kita bukanlah orang yang pertama yang mengalami kesedihan, kemarahan, atau penyesalan karena seseorang yang kita kasihi meninggal. Sudah banyak orang yang pernah berada pada posisi kita dan mengerti pergumulan kita. Kita tidak sendirian. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.

Bagi saya, mendengarkan dan membaca buku-buku tentang pergumulan menghadapi kesedihan, penyesalan, dan kematian sangatlah membantu. Melalui tulisan-tulisan itu, saya bisa melihat keputusan-keputusan yang salah yang pernah diambil dan konsekuensi yang panjang yang harus diderita oleh keluarga yang masih hidup. Saya juga bisa mendapatkan kekuatan tatkala pribadi-pribadi yang menurut ukuran manusia mengalami tragedi yang begitu menyeramkan bisa bangkit dan memberkati hidup orang lain.

Luka dan penyesalan masing-masing kita berbeda. Kita perlu mencari cara untuk menyelesaikan urusan dengan diri kita sendiri.

Namun ketahuilah, telah tersedia pelampung pengharapan untuk kita pakai.



Kita Bisa Memilih, Kita Harus Memilih

W.S. Rendra pernah menulis demikian:

Seringkali aku berkata,

ketika semua orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan.


Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya


Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?


Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.


Ketika aku berdoa, ku minta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,

Ingin lebih banyak mobil,

Lebih banyak popularitas, dan

Kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:


Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.


Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih


Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",


Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku


Lewat kematian, kami diingatkan bahwa hidup ini adalah titipan. Benar, hidup ini tidak akan pernah sama lagi. Benar, bahwa akan datang saat-saat di mana rasa rindu itu begitu hebatnya hingga menyesakkan dada. Benar, kita tidak bisa mengubah lagi kesalahan dan penyesalan masa lalu.

Benar, air mata akan kembali mengalir keluar.

Akan tetapi kita memiliki pelampung pengharapan untuk hidup kembali. Ada waktu, tanggung jawab, dan keluarga yang masih dititipkan Sang Ilahi kepada kita.

[Image: Annie Spratt]
Dan kita bisa memilih, kita harus memilih,
bagaimana kita akan memperlakukan titipan-Nya itu pada hari ini.


[Image: surfyourwayout.com]
Hiduplah,
dan jangan sia-siakan penderitaan masa lalumu!



Baca Juga:

Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal ini Menyadarkan Bahwa Hidup Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan

Memilih Mempertahankan Kandungan Meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

mike donald | @LOANFIRM

Hola, ¿Está buscando libertad financiera? ¿Está en deuda, necesita un crédito para iniciar un nuevo negocio? ¿O doblar financieramente, usted necesita un crédito, un coche para comprar o una casa? ¿Alguna vez ha rechazado las finanzas de su banco? ¿Quieres mejorar tu situación financiera? ¿Necesita un préstamo que sus cuentas pagan? No busque más, le damos la bienvenida a una oportunidad para obtener todo tipo de préstamos, a un precio muy asequible 3% de interés para obtener más información, póngase en contacto con nosotros ahora por correo electrónico a: (stevedanielloanfirm@gmail.com)