Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini

Reflections & Inspirations

[Image: amazingpic.com]

3.3K
Betapa saya gentar ketika memahami, hidup ini bisa lenyap seketika. Laksana bunga rumput, demikianlah hidup, kata Seorang Bijak. Hari ini ada, esok hilang lenyap.

Tak sekali pun pernah saya membayangkan akan mengalami tabrakan. Saya selalu berusaha berhati-hati, mengupayakan sebisa mungkin agar hal mengerikan itu tak terjadi pada saya. Nyatanya, saya harus mengalaminya juga. Dan sebuah tabrakan ternyata jauh lebih mengerikan dari apa yang pikiran saya mampu bayangkan.

Siang itu, setelah seharian dilelahkan dengan urusan kantor dan temu janji dengan seorang teman yang sedang datang berkunjung, saya berniat pergi ke rumah Mama. Kantuk yang datang tanpa diundang coba saya usir dengan permen, sembari memikirkan beberapa hal yang belakangan ini memang sedang menyita banyak perhatian.

Entah berapa lama saya tenggelam dalam pikiran dan lamunan.

Hingga akhirnya saya dibangunkan oleh sebuah suara keras.

BRAKKKKKK!!!!!!!

[Image: Dokumentasi Pribadi Penulis]

Seketika mata saya gelap.

Samar-samar saya melihat asap merayap masuk ke dalam mobil dari lubang AC. Saya mematikan mesin, melepas sabuk pengaman, lalu segera keluar dari mobil. Masih setengah pening, saya lihat mobil lain yang menjadi 'korban' saya. Dan selebihnya adalah sejarah, yang 'mengerikan' bagi saya.



Mengerikan

Ya, ngeri benar. Seketika saya dikepung. Puluhan orang mengelilingi saya. Mereka bukan hanya ingin melampiaskan rasa ingin tahu, memberondong dengan berjuta pertanyaan, tetapi juga memuntahkan caci maki, dan menampakkan raut muka menghakimi. Nalar saya mengatakan, memang saya pantas menerima semua teguran dan koreksi. Namun hati saya terhenyak, "Begini rasanya dirubung dan dihakimi massa."

Tak ada pukulan atau tendangan, tapi setiap tatapan mata seakan menampar keras.

Tak lama, seorang kerabat dari pemilik mobil yang saya tabrak datang. Dia membanjiri saya dengan banyak pertanyaan, "Ngantuk ya? Main hape ya? Kok ga hati-hati? Baru belajar nyetir ya?" Saya mencoba memberi penjelasan, entah berapa kali banyaknya. Namun dia tetap ngotot, saya pasti main hape. Dia bahkan mengatakannya keras-keras kepada banyak orang yang berkerumun di sana.

Tak berhenti di penghakiman sepihak itu. Banyak pengendara yang lewat menghentikan kendaraan mereka untuk sekadar berucap, "Oh, itu yang nabrak, ya?" Sederhana dan tanpa tendensi kelihatannya, tapi nyatanya, kengerian makin menyesaki hati ini.

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh



Mengerikan

Melihat kedua mobil yang rusak parah, masih ada rasa tak percaya bahwa saya menabrak mobil lain. Kejadiannya memang hanya sekian detik, tapi konsekuensinya? Bisa jadi memakan waktu berbulan-bulan hingga selesai. Kedua mobil rusak hingga tak bisa dikendarai, perlu mobil derek untuk membawa keduanya ke bengkel.

[Image: Dokumentasi Pribadi Penulis]

Walau kerusakannya berat, bukan tagihan dan perkiraan biaya yang membuat ngeri. Saya ingat mendengar beberapa orang yang berkerumun saat itu berkata, "Kalau nabrak orang, udah habis itu. Apalagi kalau di palang kereta, amblas wes." Membayangkan itu terjadi, saya ngeri. Bahkan hingga malam, itu terus terngiang, seperti siaran ulang yang tak dapat dihentikan di kepala ini.

Saya tak mengalami luka berat, hanya baret di kedua tangan dan memar di wajah.

Akan tetapi betapa saya gentar ketika memahami, hidup ini bisa lenyap seketika.

Ngeri saya melihat hidup ini. Laksana bunga rumput, demikianlah hidup, kata Seorang Bijak. Hari ini ada, esok hilang lenyap.

Seperti mimpi rasanya, masih bisa hidup dan bernapas setelah tabrakan mengerikan itu. Namun mimpi buruk di siang hari itu justru 'membangunkan' saya, mengajar saya untuk memaknai hidup.

Baca Juga: Kini: Satu-satunya Waktu untuk Mencintai. Esok Mungkin Tak Pernah Ada, Cinta Bisa Pergi Kapan Saja



1. Saya Bukanlah Apa yang Saya Lakukan atau Tidak Lakukan

Saya belajar untuk tidak mencari belas kasihan orang. Tidak juga saya meminta agar orang tidak menghakimi saya. Memang tidak enak rasanya dihujani pertanyaan, peringatan, bahkan penghakiman. Tapi bukankah semua ini konsekuensi dari kelalaian saya? Semua ini harus dihadapi hingga selesai.

Ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, saya masih harus menyelesaikan perkara dengan pemilik mobil korban kelalaian saya.

Percayalah, yang terberat dalam proses penyelesaian ini bukan tentang dana, tapi perihal harga diri.

Menghadapi pemilik mobil yang saya tabrak, malu rasanya. Bersyukur masih ada suami, Mama, bahkan saudara yang setia mendampingi.

Ketika mobil sudah masuk ke bengkel, bahkan nanti ketika segala urusan telah selesai dan tak perlu lagi berhubungan dengan pihak korban, masih ada 'perkara' dalam diri yang harus diselesaikan. Saya bukan korban, saya harus belajar bertanggung jawab, mengakui kesalahan, dan menjadi pribadi yang tetap utuh melewati semua ini.

Saya harus belajar bahwa identitas diri saya tidak ditentukan dari hal yang saya lakukan atau yang tidak saya lakukan.

Bukankah kehidupan ini adalah bukti nyata bahwa Sang Khalik masih memberi saya kesempatan untuk hidup? Karenanya, saya tak perlu terus berkubang dalam rasa bersalah, apalagi kehilangan gairah melanjutkan hari-hari ke depan.

[Image: ohetpuis.com]

Saya masih punya masa depan.

Baca Juga: Kamu Berharga, Apa pun yang Kamu Rasakan tentang Dirimu. Kamu Istimewa, Apa pun yang Orang Lain Katakan Kepadamu. 3 Hal Inilah Buktinya



2. Bukan Seberapa Besar Kesalahan Kemarin, tapi Bagaimana Memperbaiki Diri dan Kuat Menjalani Hari

Salah satu komentar yang tak mungkjn saya lupa adalah, "Habis ini kamu ngga usah nyetir lagi, membahayakan orang lain." Ya, saya memang lalai saat itu, saya pun tak ingin mengalami hal seperti ini.

Lantas, apakah kesalahan satu kali menentukan masa depan seterusnya?

Pastilah beberapa waktu ke depan saya tak akan berani pegang kemudi. Mengetik kata-kata ini saja, tangan masih sedikit gemetar. Namun, suatu saat nanti, saya akan menyetir lagi.

Melewati kejadian ini, saya tak mau menjadi korban trauma dan ketakutan, apalagi ancaman orang lain. Saya akan kembali duduk di belakang kemudi, nanti.

"Wah, masih ga bertobat, ya?" Saya sudah membayangkan akan menghadapi pertanyaan semacam itu. Betul, saya lalai. Namun saya belajar bertanggung jawab atas keputusan saya, belajar lebih hati-hati ketika berada di balik kemudi.

Bukankah pertobatan sejati adalah mengakui kesalahan dan berbalik dari jalan yang salah?
[Image: wallpapercovers.com]

Satu kali kejadian sudah terlalu banyak dalam perjalanan mengemudi ini.

Baca Juga: Belajar dari Agus Harimurti Yudhoyono: Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan



3. Selalu Ada Berkat Tersembunyi yang Bisa Disyukuri

Untung sendirian dalam mobil, tak ada penumpang lain. Untung tidak bersama Pearl, anak saya yang berusia 11 bulan. Entah apa jadinya kalau dia ada dalam mobil. Untung tidak ada luka berat. Untung ... Untung ... Dan begitu banyak untung-untung lain.

Saya percaya semua bukan kebetulan. Sang Kuasa ingin saya belajar, tanpa melukai siapa pun yang lain.

Saya percaya Tuhan menyiapkan semua bantuan yang saya perlu saat kejadian. Lokasi tabrakan hanya 3 menit jalan kaki dari rumah Mama. Tak lama, Mama ada di lokasi. Pertanyaan pertama Beliau, "Kamu ngga apa-apa, kan?" Tak lama, Om saya menyusul datang. Ketika Mama dan Om harus pergi, suami saya datang mendampingi. Saya tak sendiri, suatu hal yang patut disyukuri.

Di tengah kerumunan orang saat itu, memang banyak tatapan setajam silet yang saya terima. Bahkan ada yang berusaha membuat panas situasi dengan ancaman lapor polisi. Namun, tak sedikit yang mengulurkan tangan membantu, mendinginkan suasana dengan mengatur lalu lintas dan meminta orang yang lewat untuk tak ikut campur. Saya bersyukur bisa mengalami Indonesia yang penuh gotong royong.

Dalam kegelapan, saya masih diizinkan melihat secercah terang.
[Image: inspiringwallpapers.com]

Lewat tabrakan mengerikan ini, saya belajar banyak hal. Sebagaimana pesan pendek dari seorang Om untuk saya,

"Ngga apa. Ini kamu belajar. Belajarlah jadi pengemudi yang lebih andal nanti."



Baca Juga:

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah Ini

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang

Biarkan Orang Berkata Apa, Kurangi Ribuan Pertempuran Tak Perlu, Jadilah Bahagia! Ini Teknik Cerdasnya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar