Hard Skill vs Soft Skill: Mana yang Lebih Berguna ketika Melamar Pekerjaan Pertama Kali?

Work & Study

[Image: The New York Post]

8.7K
IPK tinggi atau kemampuan organisasi baik?

Pilihan yang sulit.

Saat kuliah kita sering mendengar istilah hard skill dan soft skill. Bagi teman-teman yang bergelut di organisasi, soft skill adalah segalanya. Mereka selalu menjual berbagai keuntungan memiliki kemampuan organisasi yang baik ketika kuliah. Namun, seringkali hard skill jadi terlupakan dan dianggap nomor dua.

Sebenarnya, apa itu hard skill dan soft skill?

Hard skill adalah kemampuan teknis yang terukur di suatu bidang. Sedangkan soft skill adalah kemampuan intrapersonal, bakat, kemampuan berorganisasi. Kemampuan non teknis, intinya.



"Untuk apa nilai bagus tapi tidak bisa bekerja sama?"

Memang benar kalimat ini. Untuk apa nilai bagus tapi tidak bisa bekerja sama, tidak bisa berorganisasi, apalagi memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam dunia kerja, semua kemampuan itu sangatlah dibutuhkan. Kerja di kantor tentu butuh bekerja sama dengan rekan-rekan kerja yang lain. Kerja sendiri pun, pasti perlu bertemu dengan orang lain. Kita butuh kemampuan komunikasi yang baik untuk dapat ‘menjual’ apa yang kita miliki. Intinya, soft skill sangat diperlukan dan karenanya harus terus diasah.

Akan tetapi, ketika kita melamar kerja, apakah kemampuan berorganisasi menjadi faktor yang pertama kali dilihat oleh perusahaan? Sayangnya tidak!

Ketika melamar pekerjaan, nilai akademis justru menjadi faktor seleksi pertama.

Dengan nilai tinggi, kita akan lebih mudah untuk maju ke tahap seleksi berikut. Ketika nilai kita rendah, kesempatan bersaing ada, hanya jadi lebih kecil saja. Bagaimana jika nilai kita di bawah standar? Pintu kesempatan tertutup bagi kita!

Dengan demikian, hard skill amat penting, bahkan menjadi tolok ukur penilaian kemampuan kita. Jadi, usahakan untuk tetap memiliki pencapaian akademis yang baik.

Baca Juga: 5 Perilaku Menyebalkan Si 'Public Enemy' dan Rahasia Tragis di Baliknya



"Terlalu banyak organisasi, nilai jadi buruk."

Oh belum tentu! Begini kiat-kiat saya untuk mempertahankan nilai bagus sambil tetap aktif berorganisasi:


1. Cari teman yang rajin dan pintar

Punya teman yang rajin dan pintar memberi manfaat yang sangat besar. Minta mereka untuk belajar bersama dan mengajari kita pelajaran yang belum dipahami. Dekat dengan teman yang rajin juga memotivasi kita untuk ikut rajin belajar dan memiliki nilai yang bagus.

[Image: alphagamma.eu]

Baca Juga: Apakah Persahabatan Anda Membangun atau Menghancurkan? Periksalah 7 Hal Ini


2. Selalu mengikuti pelajaran di kelas

[Image: USA TODAY college]
Don't skip class!

Walaupun kita punya jatah bolos saat kuliah, manfaatkan jatah bolos tersebut jika benar-benar terdesak saja. Maksimalkan kehadiran kita di kelas untuk mengikuti pelajaran. Bagaimanapun, mendengarkan penjelasan dosen sangat membantu kita mengerti pelajaran. Bonusnya, dosen jadi mengenal kita sebagai mahasiswa yang rajin dan bertanggung jawab.


3. Tidak mengambil semua tawaran

Kegiatan dalam organisasi memang menyenangkan. Tawaran bagus juga tidak selalu datang dua kali. Meskipun demikian, tentukan prioritas dan pilihlah dengan bijak.

[Image: AARP]
Bagaimanapun, tanggung jawab utama kita sebagai pelajar adalah untuk belajar dan menuntaskan kegiatan akademik sebaik mungkin.



Jadi, Hard Skill atau Soft Skill?

Idealnya, kedua kemampuan ini harus seimbang.

Hard skill yang baik tanpa soft skill yang mendukung membuat kemampuan utama kita kurang menonjol. Akan tetapi soft skill yang baik tanpa hard skill yang mumpuni pun membuat orang lain ragu akan kemampuan yang sebenarnya kita miliki.

Dari pengalaman berkuliah dan kini bekerja, saya semakin yakin, dua kemampuan ini sama pentingnya. Di awal masa kuliah, saya sempat terlalu terfokus pada soft skill. Akibatnya, nilai saya jadi kurang begitu memuaskan. Untungnya, saya cepat menyadari kondisi ini. Saya terpacu untuk belajar lebih giat, tanpa mengurangi waktu-waktu mengasah soft skill. Hasilnya, saya lulus dengan nilai memuaskan dan langsung diterima kerja di lamaran pertama saya.

[Image: theatlanta100.com]


Di tempat kerja, saya menemukan banyak surat lamaran masuk dengan nilai akademis yang kurang baik. Tak kalah banyaknya, bertumpuk pula lamaran dengan pengalaman berorganisasi yang minim atau kurang mumpuni.

Tahukah kalian? Lamaran-lamaran demikian langsung dilewatkan begitu saja. Diabaikan, tidak diproses ke seleksi berikutnya.

Karenanya, sungguh sayang jika waktu 4 tahun [atau lebih] di dunia perkuliahan tidak dimanfaatkan dengan baik untuk mengembangkan kedua kemampuan tersebut.

Baca Juga: Terlambat Lulus Kuliah Bukan Akhir Dunia! Sebagai Mahasiswa, Kamu Masih Memiliki 7 Keuntungan Ini


Akal budi diberikan Tuhan bukan untuk disia-siakan. Kita bertanggung jawab untuk memaksimalkan kemampuan kita dan menjadi unggul di bidang yang kita geluti. Karena harus diakui, keunggulan di bidang akademis [hard skill] terkadang membuat orang lebih cepat mengakui kemampuan kita yang lain [soft skill].



Bacaan Penting untukmu yang Akan Melamar Pekerjaan untuk Pertama Kali:

Mencari Pekerjaan, Kehilangan Kesempatan dan Terpaksa Harus Menganggur, Pengalaman Saya Mengajarkan 3 Hal Berharga Ini

How to Sell Yourself: Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup

Bagaimana Cara Agar Sukses Menaklukkan Wawancara Kerja? Simak Bocoran dari Seorang Pimpinan HRD Perusahaan Besar di Indonesia




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hard Skill vs Soft Skill: Mana yang Lebih Berguna ketika Melamar Pekerjaan Pertama Kali?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nyssa Chandra | @nyssachandra

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar