Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Parenting

[Image: greatbeginningssurrogacy.com]

6.3K
Dulu, saya pikir menjadi seorang ibu sejati adalah, pertama-tama, tentang cara melahirkan. "Bukan perempuan sejati namanya kalau belum melahirkan secara normal." Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa pada akhirnya saya harus melahirkan bayi saya dengan cara yang tidak normal.

“Bukan perempuan sejati namanya kalau belum melahirkan secara normal,” itulah 'kepercayaan' yang sering terdengar dan tanpa sadar tertanam di pikiran ini. Karena itu, sejak dokter menyatakan saya positif mengandung, saya mati-matian mencari berbagai informasi tentang proses persalinan secara normal. Selain biaya yang lebih ekonomis, konon pemulihan sang ibu juga lebih cepat dibanding jika melahirkan dengan cara operasi.

Pemikiran itu terus saya bawa, saya doakan, dan saya yakini sepenuh hati. Saya berusaha menjaga kondisi kehamilan sesehat mungkin, sesuai dengan berbagai informasi yang saya peroleh dari banyak sumber. Jadwal konsultasi dengan dokter kandungan menjadi waktu favorit saya dan suami untuk menanyakan banyak hal, bahkan untuk sekedar mengonfirmasi mitos-mitos seputar kehamilan yang ada di masyarakat. Tak jarang, waktu konsultasi itu kami manfaatkan pula untuk mengorek informasi tentang berbagai berita seputar kehamilan yang kami ketahui lewat media, juga yang terjadi di sekitar kami.


Kehamilan yang Istimewa

Kehamilan ini memang istimewa. Selain karena saya dan suami sudah menanti selama tujuh tahun untuk anugerah ini, kondisi kehamilan saya juga boleh dikatakan kuat. Bagaimana tidak, memasuki bulan keempat usia kehamilan saya, seorang senior di tim kerja saya jatuh sakit. Hal ini menyebabkan beban tanggung jawab Beliau harus dibagi rata kepada anggota tim yang lain, termasuk kepada saya. Si janin dalam kandungan tampaknya tidak keberatan dan bahkan sangat kooperatif di masa-masa itu, di mana beban pekerjaan saya menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya.

Di bulan Desember, saya dan suami harus berpindah tempat tinggal. Memang hanya berpindah unit dalam satu kompleks. Namun, perut yang semakin membesar harus diakui menjadi faktor pemberat tersendiri, terlebih tempat baru yang kami tempati adalah sebuah unit berlantai dua. Barang-barang telah dipindahkan, tempat tinggal baru sudah ditempati, namun kesibukan belum selesai, karena kami masih harus menata segala sesuatunya di tempat yang baru tersebut.

Dalam keadaan kelelahan karena pekerjaan dan urusan rumah tangga, di bulan Januari, suami saya harus pergi bersama rekan-rekan sekerjanya untuk sebuah outing yang memang telah lama direncanakan, jauh sebelum kami tahu bahwa saya mengandung. Saat itulah, saya baru menyadari bahwa kaki saya membengkak, menjadi besar dan tebal luar biasa. “Ah, bawaan bayi, atau mungkin karena kelelahan,” itu saja yang terlintas di pikiran saya ketika itu.


Pre-Eklampsia?

Seperti sebuah kebetulan, tak lama setelah saya menyadari bahwa kaki saya telah membengkak, sebuah istilah muncul dan menjadi topik perbincangan hangat teman-teman di lingkungan pergaulan kami: pre-eklampsia. Pre-eklampsia adalah komplikasi pada kehamilan, sebuah kondisi medis serius yang ditandai dengan 3 gejala khas, yaitu naiknya tekanan darah secara drastis dan mendadak, pembengkakan anggota tubuh, dan adanya protein dalam air seni ibu. Orang awam memahami pre-eklampsia sebagai "keracunan kehamilan". Pre-eklampsia merupakan penyebab kematian kedua terbesar pada kehamilan di seluruh dunia. Mengetahui tentang fakta-fakta tersebut dan membandingkannya dengan kondisi kehamilan yang saya alami, kami berdua pun mulai merasa khawatir dan takut.

Di pemeriksaan rutin bulanan berikutnya, tepatnya di awal bulan Februari, kami mengorek sebanyak mungkin informasi tentang pre-eklampsia dari dokter. Tidak lupa juga menanyakan perihal kondisi bengkak di kaki saya yang nampak semakin tidak wajar, bahkan menurut saya, mulai menyerupai penyakit kaki gajah. Memahami kekhawatiran kami, dokter menjelaskan dengan detil dan melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan teliti. Berbekal data-data pemeriksaan, dokter meyakinkan kami bahwa kondisi kehamilan saya masih berada dalam kondisi aman. Salah satu indikatornya adalah catatan tekanan darah yang tak pernah menunjukkan angka tinggi, selalu di kisaran normal. Namun, untuk berjaga-jaga, dokter menjelaskan juga beberapa kondisi yang perlu diwaspadai, yang jika terjadi, berarti tanda bahaya, dan kami perlu mengambil tindakan segera.

Tanpa terasa, kehamilan saya telah menginjak minggu ke-34, atau jika menggunakan hitungan bulan, sudah memasuki bulan ke-8. Sekalipun selama kehamilan aktivitas saya tergolong tinggi dan melelahkan, puji syukur saya tak pernah jatuh sakit. Hingga akhirnya hari itu tiba. Hujan turun cukup deras dan udara terasa dingin, tapi entah mengapa, saya rasanya ingin sekali menikmati es kacang hijau. Saya pun memberanikan diri memakannya. Efeknya memang tidak dirasakan langsung, tapi beberapa hari kemudian, Rabu, 24 Februari - satu dari tanggal-tanggal yang mungkin tak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya - saya bangun dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Wah, gejala flu, pikir saya. Lewat pesan singkat, saya menanyakan kepada dokter, obat apa yang boleh saya konsumsi untuk mengatasi apa yang saya pikir sakit flu itu. Selepas makan siang, saya minum obat dan beristirahat. Itulah ingatan terakhir yang terekam di memori saya.


Ingat? Tidak Ingat

Saya tak ingat pernah muntah beberapa kali di kamar. Saya tak ingat pernah dibantu oleh suami dan mama untuk keluar dari kamar kami yang berada di lantai dua, sambil menuruni tangga, mengeluh bahwa pandangan saya buram. Saya tak ingat pernah naik mobil menuju klinik bersalin untuk menemui dokter yang sudah dihubungi terlebih dahulu oleh suami. Saya tak ingat pernah berada di kamar bersalin dan mengalami kejang luar biasa sampai harus dipegangi oleh beberapa suster. Saya tak ingat pernah dibawa dengan ambulans untuk menuju rumah sakit yang lebih lengkap untuk menjalani operasi. Saya tidak ingat pernah berdebat dengan suami di IGD rumah sakit, ngotot untuk melahirkan secara normal, dan menangis keras ketika suami mengatakan bahwa kondisinya tidak memungkinkan, bayi kami harus dilahirkan melalui operasi. Saya tidak ingat apapun.

Saya ingat ada sesuatu di tangan kanan saya, menggelembung dan menekan, kemudian perlahan seperti mengempis. Saya ingat ada selang di hidung yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Saya ingat mata saya gelap, seperti tidak bisa dibuka. Saya ingat suara Bapak Pendeta memanggil saya dan mengajak saya berdoa, namun tak ingat apa isi doa Beliau. Saya ingat bicara pada suami saya. Saya ingat Ia mengatakan bahwa anak kami sudah dilahirkan dan sedang dirawat di NICU. Saya ingat memintanya memberi kabar pada sahabat saya yang ada di Jakarta tentang kelahiran ini.

[Foto: dokumen pribadi penulis]


Dari Pre-Eklampsia ke Eklampsia

Keesokan harinya, saya dipindahkan ke kamar biasa. Dengan pandangan yang masih sedikit buram, saya disambut oleh beberapa kerabat dan saudara di pintu ICU. Malam itu, Jumat, 26 Februari, suami saya menceritakan kembali sedikit demi sedikit apa yang terjadi pada hari Rabu, dua malam yang lalu. Rupanya, bukan hanya mengalami pre-eklampsia, saya sudah mengalami eklampsia.

Eklampsia merupakan akibat yang ditimbulkan oleh pre-eklampsia. Eklampsia ditandai dengan kejang tonik-klonik yang dapat diikuti dengan kehilangan kesadaran atau bahkan koma.

Ternyata, sewaktu berada di IGD di klinik bersalin, tekanan darah saya tercatat mencapai 220/150. Sangat tinggi. Ketika itu, dokter mendesak agar segera dilakukan operasi untuk menyelamatkan saya dan janin di dalam kandungan saya. Risikonya? Jangan ditanya. Dokter berpesan kepada suami saya untuk banyak berdoa. Kemungkinan bahwa Ia akan kehilangan saya dan anak kami yang ada dalam kandungan saya ada di depan mata dan dapat terjadi kapan saja.

Sejak malam itu, hingga saat menulis ini pun, setiap kali mengingat kembali runtutan peristiwa yang saya ketahui dari penuturan suami dan mama yang saat itu setia mendampingi, saya tak bisa membendung air mata. Bukan air mata kesedihan, tetapi air mata syukur. Tak pernah sebelumnya saya membayangkan akan melahirkan buah kasih kami dengan risiko yang sedemikian besar. Bukankah pre-eklampsia adalah ancaman besar bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya? Saya telah melewati pre-eklampsia, kejang, eklampsia itu sendiri, masih bisa bertahan hidup, dan lebih lagi, bisa memeluk bayi mungil yang telah lama kami nanti-nantikan.

[Foto: dokumen pribadi penulis]


Menjadi Seorang Ibu Sejati

Dulu, saya pikir menjadi seorang ibu sejati adalah, pertama-tama, tentang cara melahirkan. Saya pikir, karena melahirkan secara normal memiliki risiko yang lebih tinggi, maka tentulah perempuan yang melahirkan secara normal telah menjadi perempuan sejati, sesuai kodrat. Tak pernah terbayang bahwa saya harus menjalani operasi, menghadapi risiko yang tidak kalah tinggi, untuk tidak saja melahirkan janin yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri saya selama 8 bulan, tetapi juga untuk menyelamatkan nyawa kami berdua.

Untuk semua itu, saya bersyukur boleh melewati sesuatu yang mengubah paradigma berpikir saya. Menjadi ibu sejati bukan tentang melahirkan normal atau tidak. To each its own. Setiap orang tentu memiliki perjuangan dan pergumulannya sendiri. Berbeda bukan berarti yang satu lebih rendah dibanding yang lain. Berbeda itu pasti. Bukankah tidak ada satu pun manusia yang memiliki sidik jari yang identik?

Pada akhirnya, saya yang begitu 'terobsesi' untuk melahirkan secara normal harus mengalami hal sebaliknya, melahirkan bayi perempuan yang sangat saya kasihi dengan cara yang sama sekali tidak normal: melalui pre-eklampsia dan eklampsia, dengan nyawa sebagai taruhan.

Saya baru bisa melihat bayi mungil saya di inkubator pada hari Minggu, lewat 4 hari setelah Ia dilahirkan. Kami berdua kemudian diizinkan pulang dari rumah sakit tepat seminggu setelah hari kelahirannya, dengan membawa serta setumpuk instruksi dan jadwal kontrol dokter, tentunya.

Pre-eklampsia telah mengajar saya bahwa keindahan menjadi ibu bukanlah ketika seorang perempuan bisa melahirkan secara normal seperti yang saya percayai selama ini. Mengalami pre-eklampsia membuat saya memahami bahwa keindahan dan makna sesungguhnya dari menjadi seorang ibu adalah ketika kita bisa melihat keajaiban-keajaiban kecil yang terjadi sepanjang masa kehamilan, bisa memeluk bayi yang kita lahirkan ke dunia - apapun caranya, normal atau caesar -, dan mendapatkan anugerah, kehormatan untuk bisa membesarkan dan berbagi hidup dengannya.

[Foto: dokumen pribadi penulis]



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar