Hanya yang Terluka akan Melukai Orang Lain. Bukan Balas Dendam, Pemulihan Diri adalah Solusi

Reflections & Inspirations

photo credit: Newsday

2.1K
Kita harus menjadi agen pemutus rantai kejahatan tersebut karena sudah sepantasnya kita memperlakukan orang lain seperti diri kita sendiri ingin diperlakukan. Jika kita sendiri tidak ingin disakiti, maka janganlah kita menyakiti orang lain.

Suatu hari di sebuah kota panas namun asri, saya bertemu dengan seorang remaja yang biasanya menjadi seseorang yang kuat dan garang, sedang menangis tersedu-sedu karena akan kehilangan pekerjaannya. Ia terlihat bergumul dengan pikirannya sendiri karena bingung setengah mati dengan kehidupannya nanti. Ia hanya seorang lulusan SMP. Ia juga tidak punya ayah ataupun ibu lagi. Ia juga tidak memiliki kakak ataupun adik.

Pacar adalah satu-satunya orang yang mau mengasihinya. Pacarnya sempat memaksa dirinya melakukan hubungan intim dengannya, tetapi ia menolak. Pacarnya pun perlahan mulai beralih menggoda wanita lain. Dalam keterpurukannya, justru banyak godaan untuk kembali ke kehidupan lamanya. Mencoba untuk melamar pekerjaan ke mana-mana tidak ada yang menerimanya.

Ketika ia bergumul untuk kembali berpegang erat kepada Tuhan, justru masalah bertubi-tubi yang ia dapati. Ia depresi dan ingin bunuh diri. Berdoa setiap malam dengan berlinang air mata terasa sia-sia.

Baca Juga: Berani Berkata Tidak! Godaan Bisa Datang dalam Bentuk Rasa Segan dan Kasihan. Sebuah Kisah Kehidupan


Mereka yang 'menindas' bisa jadi yang paling terluka

phtoto credit : medical

Saya tak mampu berkata apa-apa. Saya hanya bisa mendekap dan menangis melihat pergumulannya. Suatu malam akhirnya, ia tak kuat lagi.

Ia pergi bersama teman dari kehidupan lamanya dan ia diperkosa. Ia hamil dan melakukan aborsi demi kelangsungan hidupnya. Dari sana, ia justru kembali menjadi wanita pemuas kebutuhan para pria hidung belang. Obat-obatan terlarang menjadi barang dagangannya setiap hari.

Hidup ini terasa tidak adil baginya. Dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keluarga yang akhirnya membuangnya. Ketika ada keluarga yang mengadopsinya justru mereka memperlakukannya dengan buruk dan akhirnya membuangnya. Alhasil ia memiliki banyak kepahitan dan kemarahan terpendam serta tidak memiliki rasa aman saat berelasi dengan orang lain. Semua kekacauan yang ia buat justru merupakan akibat dari ketidaktahuannya menghadapi orang lain dan bagaimana harus mengasihi orang lain dengan tepat. Seringkali kekacauan yang ia buat justru merupakan bentuk rintihan dari jiwa yang sepi dan membutuhkan perhatian serta kasih sayang.

Dalam kehidupan kita, kita menemui orang yang seperti buldozer yang seperti gemar menindas orang lain. Atau juga seperti landak karena ketika kita berada di dekatnya justru kita merasa tidak nyaman dan tersakiti. Seringkali orang-orang tersebut membuat kita menjadi bingung bagaimana harus berhadapan dengan mereka dan akhirnya cenderung ingin menjauhi mereka. Mereka bisa jadi kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang-orang tersebut mungkin adalah atasan kita, guru, dosen, rekan kerja kita, teman, orang tua, mertua, pasangan, atau bahkan anak kita sendiri.

Baca juga: Kanker Payudara Memulihkan Keluarga Saya. Sebuah Kisah Nyata tentang Kepahitan dengan Akhir yang Indah

Contohnya, seorang anak yang setiap hari bertemu dengan ayah yang sering memukulnya dan ibunya. Ternyata setelah ditelusuri, ayah tersebut juga diperlakukan sama oleh kakeknya. Ia tidak tahu cara yang tepat harus memimpin keluarganya. Akhirnya ia mencontoh teladan yang telah ayahnya lakukan.

Contoh lain dari seorang senior yang memukul dan memperlakukan juniornya dengan semena-mena. Setelah ditelusuri, dia dulu juga diperlakukan sama oleh seniornya. Seorang atasan yang selalu menekan dan meneriaki bawahannya, serta memperlakukan bawahannya dengan seenaknya, ternyata memiliki kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Ia selalu ditekan dan tidak dihargai oleh istrinya. Namun, ia tidak bisa membalas apa yang dilakukan istrinya kepadanya.


Setiap orang yang terluka cenderung akan melukai orang lain jika luka tersebut tidak dipulihkan

photo credit: CNN

Sistem ini berjalan seperti mata rantai kejahatan yang tidak akan ada habisnya. Kita perlu memutusnya. Bukan hanya memandang diri menjadi korban dari mata rantai, yang justru mendorong kita untuk meneruskan mata rantai kejahatan yang ada. Kita perlu untuk menjadi orang yang berpikir mengapa ia menyakiti saya. Merangkul, mengasihi, serta memberi perhatian kepada orang tersebut. Menjadi agen pemutus rantai kejahatan tersebut.

kita harus menjadi agen pemutus rantai kejahatan tersebut karena sudah sepantasnya kita memperlakukan orang lain seperti diri kita sendiri ingin diperlakukan. Jika kita sendiri tidak ingin disakiti, maka janganlah kita menyakiti orang lain.

Jika sudah tersakiti jangan kita menyakiti orang lain, karena apa bedanya kita dengan orang yang menyakiti kita jika kita juga menyakiti orang lain.

Jika kita tidak suka kepada orang yang menyakiti kita maka janganlah kita menjadi seperti dirinya. Justru sebaliknya kita harus menjadi orang yang mengasihi dan mengampuni.


Marilah kita menjadi agen pemutus rantai kejahatan

photo credit: Freepik

Tentu tidak mudah untuk menjadi agen pemutus rantai kejahatan tersebut. Ada luka akibat pengalaman tidak menyenangkan orang lain yang siap menyakiti kita. Setiap orang di dunia yang tidak sempurna ini pasti pernah memiliki luka tersebut. Sulit bagi yang terluka untuk bisa mengerti, menolong, atau bahkan untuk menyembuhkan.

Tapi, sulit bukan berarti mustahil. Jika diri kita dipenuhi dengan kasih yang sejati maka kita pasti dimampukan untuk menyatakan kasih betapa sulit pun keadaannya.

Kasih sejati tersebut hanya bisa didapatkan dari pribadi yang tidak tercemar oleh segala kejahatan di dunia ini. Pribadi yang merupakan kasih tersebut. satu-satunya pribadi yang mampu memuaskan kita dengan kasih-Nya yang sempurna. Kasih-Nya yang tidak dipengaruhi oleh apa pun dan tidak lekang oleh waktu. Ia adalah satu-satunya pribadi yang bukan hanya bisa menyembuhkan luka kita dan memampukan kita untuk memutus rantai kejahatan. Ia juga adalah pribadi yang mau dan peduli dengan segala luka pedih kita. Ia adalah Sang Pencipta Kehidupan yang tak pernah melepaskan tangan pemeliharaan-Nya. Jika IA mencintai burung di udara, bunga di taman, bukankah hidup manusia jauh lebih berharga?

Baca Juga: Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya

Marilah kita menjadi agen pemutus rantai kejahatan. Bukan hanya menghakimi dan memberi label serta menjauhi orang yang bisa menyakiti kita. Dengan kekuatan yang dari atas dan bukan hanya dengan kekuatan yang kita miliki. Tidak ada yang mustahil bersama-Nya untuk menciptakan surga yang penuh kasih di dunia yang penuh sadis.


Buat kamu yang sedang menata hidupmu, tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi :

Bukan Gemuk atau Kurus, tapi Satu ini Masalahnya, jika Kamu Merasa Hidupmu Tak Bahagia



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hanya yang Terluka akan Melukai Orang Lain. Bukan Balas Dendam, Pemulihan Diri adalah Solusi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Elizabeth Nathania | @elizabethnathania

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar